Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Detak Jantung dan Debu Mestre
Satu hari penuh telah berlalu sejak ketegangan maut di Poveglia, dan bunker medis di bawah gudang tua Mestre itu kini terasa lebih seperti sebuah tempat perlindungan daripada sekadar ruang persembunyian. Sinar matahari pagi yang pucat berusaha menyelinap melalui ventilasi kecil di langit-langit, menciptakan pilar cahaya yang menari di atas lantai semen yang dingin. Di dalam ruangan itu, waktu seolah membeku, memberikan kesempatan bagi Elena Moretti dan Matteo Valenti untuk menjadi manusia biasa, bukan pion dalam perang antar dinasti.
Matteo sudah tidak lagi terbaring lemah. Meskipun perban masih melilit bahu dan perutnya, pria itu sudah bisa duduk di tepi tempat tidur, mencoba menggerakkan otot-ototnya yang kaku. Elena berdiri di dekat jendela kecil, memandangi debu yang beterbangan di udara, namun pikirannya tertuju pada suara napas Matteo di belakangnya. Elena berbalik, melihat Matteo yang sedang berusaha mengenakan kemeja bersih namun tampak kesulitan karena luka di bahunya.
Elena mendekat tanpa suara. Dengan gerakan yang lembut, Elena mengambil alih kemeja tersebut dari tangan Matteo. Jemari Elena bersentuhan dengan kulit Matteo yang hangat, menciptakan getaran yang sudah lama tidak mereka rasakan dalam kondisi tenang. Elena membantu Matteo memasukkan lengan kirinya, lalu dengan sangat hati-hati menarik kain kemeja itu melewati bahu kanan yang diperban.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Elena," bisik Matteo, namun suaranya sama sekali tidak mengandung penolakan. Pria itu justru menatap wajah Elena dengan intensitas yang membuat Elena sedikit gugup.
"Tentu saja kau bisa," balas Elena sambil mulai mengancingkan kemeja Matteo dari bawah ke atas. "Kau adalah seorang Valenti yang keras kepala. Tapi hari ini, kau adalah pasienku."
Matteo menangkap jemari Elena tepat saat Elena sampai di kancing bagian tengah. Matteo menarik tangan Elena, membawanya ke dadanya, tepat di atas jantungnya yang berdegup stabil. "Dengarkan itu, Elena. Itu berdetak untukmu sejak malam pertama aku melihatmu di air kanal sepuluh tahun lalu. Tidak pernah sekali pun detak ini meragu, bahkan saat aku harus menodongkan senjata ke arahmu."
Elena merasakan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun Elena menahannya dengan keras. Elena mencondongkan tubuh, menyandarkan dahinya ke dahi Matteo. Aroma antiseptik bercampur dengan bau maskulin khas Matteo menyelimuti indra penciumannya. "Aku selalu membencimu karena kau terlalu baik dalam menyembunyikan kebenaran, Matteo. Tapi hari ini, aku menyadari bahwa aku lebih membenci fakta bahwa aku hampir kehilanganmu tanpa sempat mengatakan betapa berartinya kau bagiku."
Matteo melepaskan tangan Elena hanya untuk merangkul pinggang wanita itu, menariknya duduk di pangkuannya dengan sangat perlahan agar tidak menyakiti lukanya sendiri. Elena melingkarkan lengannya di leher Matteo, merasakan napas pria itu di ceruk lehernya. Di ruang bawah tanah yang sunyi ini, tidak ada suara ledakan, tidak ada deru drone, hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan.
"Satu hari ini adalah milik kita," gumam Matteo di telinga Elena. "Hanya hari ini."
Siang harinya, Elena membawa Matteo keluar dari ruang medis menuju area kecil di belakang gudang yang tersembunyi oleh pagar seng tinggi dan tumpukan peti kayu tua. Di sana terdapat sebuah taman kecil yang terbengkalai, dipenuhi oleh tanaman merambat dan bunga-bunga liar yang entah bagaimana bisa bertahan hidup di tengah kerasnya lingkungan industri Mestre.
Elena menyiapkan sebuah meja kecil dengan dua kursi lipat. Marco telah menyediakan beberapa potong roti segar, keju gorgonzola, dan sebotol anggur merah dari wilayah Valpolicella—sebuah penghormatan kecil untuk tanah kelahiran mereka di Verona. Elena menuangkan anggur ke dalam gelas kaca, lalu memberikannya kepada Matteo.
"Untuk masa depan yang belum tertulis," ucap Elena singkat.
Matteo menyesap anggurnya, matanya memandang ke arah langit biru yang cerah. "Ayahku dulu sering berkata, bahwa seorang pria tidak akan pernah tahu untuk apa dia hidup sampai dia menemukan sesuatu yang membuatnya berani mati. Selama sepuluh tahun aku hidup untuk melindungimu dari bayang-bayang, tapi sekarang... aku ingin hidup untuk melihatmu tertawa setiap pagi."
Elena tersenyum, sebuah senyuman yang benar-benar mencapai matanya. Elena mengambil sepotong kecil keju dan menyuapkannya ke Matteo, sebuah interaksi domestik yang terasa sangat asing namun sangat manis. "Kau tahu, jika orang-orang di Verona melihat pemimpin Valenti disuapi keju oleh seorang Moretti, mereka akan menganggap kiamat sudah tiba."
"Biarkan saja mereka berpikir begitu," sahut Matteo sambil tertawa kecil, meskipun tawa itu membuatnya sedikit meringis menahan nyeri di perutnya. "Kiamat bagi mereka adalah awal yang baru bagi kita."
Mereka menghabiskan berjam-jam di taman kecil itu, berbicara tentang segala hal kecuali perang. Elena menceritakan tentang masa kecilnya saat dia sering bersembunyi di perpustakaan ayahnya untuk membaca buku-buku tentang sejarah kuno, sementara Matteo bercerita tentang betapa sulitnya dia belajar mengendalikan amarahnya di bawah bimbingan ayahnya yang keras. Ada kedamaian yang aneh dalam cara mereka saling mengenal kembali; seolah-olah sepuluh tahun yang hilang sedang dikompres menjadi satu hari yang penuh makna.
Saat senja mulai turun dan warna langit berubah menjadi jingga keunguan, Elena membimbing Matteo kembali ke dalam bunker. Suhu udara mulai mendingin, dan kelelahan fisik mulai menyerang Matteo kembali. Elena membantu Matteo berbaring di tempat tidur, namun kali ini, Elena tidak pergi ke kursi di sudut ruangan.
Elena ikut berbaring di samping Matteo, merebahkan kepalanya di lengan Matteo yang tidak terluka. Mereka saling menatap dalam remang cahaya lampu minyak yang dinyalakan oleh Luca di luar ruangan.
"Elena," bisik Matteo, suaranya kini terdengar lebih serius. "Jika di Roma nanti keadaannya menjadi sangat buruk... jika kau harus memilih antara menyelamatkan ibumu atau menyelamatkanku..."
"Aku tidak akan membuat pilihan itu, Matteo," Elena memotong dengan tegas. Elena menatap mata Matteo dengan sorot mata yang tak tergoyahkan. "Aku akan menyelamatkan kalian berdua. Aku tidak akan membiarkan Isabella mengambil apa pun lagi dariku. Tidak ibuku, tidak juga pria yang kucintai."
Matteo menghela napas panjang, ia membelai rambut Elena dengan lembut. "Kau jauh lebih kuat dari ayahmu, Elena. Dan kau jauh lebih berani dariku."
Elena menarik wajah Matteo dan menciumnya. Ciuman itu bukan lagi tentang gairah yang membara seperti di bawah kanal Venesia, melainkan sebuah janji kesetiaan yang tenang namun mengikat. Ciuman itu adalah sebuah sumpah bahwa apa pun yang terjadi di Roma, mereka akan menghadapinya sebagai satu kesatuan.
"Tidurlah, Matteo," bisik Elena setelah melepaskan ciumannya. "Besok, dunia akan kembali memburu kita. Tapi malam ini, biarkan aku menjagamu."
Matteo memejamkan matanya dengan senyum tenang di bibirnya. Dalam waktu singkat, napas Matteo menjadi teratur dan berat tanda dia sudah tertidur lelap. Elena tetap terjaga untuk beberapa waktu, mendengarkan detak jantung Matteo yang menempel di dadanya. Elena menyadari bahwa satu hari romantis ini bukan sekadar pelarian; ini adalah fondasi yang mereka butuhkan. Mereka butuh sesuatu yang nyata untuk diperjuangkan, sesuatu yang lebih indah daripada sekadar dendam darah.
Di kejauhan, Elena mendengar suara Marco dan Luca yang sedang memeriksa mesin mobil SUV mereka untuk perjalanan besok. Elena tahu bahwa besok pagi, ia harus kembali mengenakan jaket kulitnya, mengisi magasin senjatanya, dan menjadi Elena Moretti yang mematikan. Namun, di bawah selimut ini, ia hanyalah seorang wanita yang baru saja menemukan kembali dunianya yang hilang.
Satu hari telah berlalu. Luka fisik mungkin belum sembuh sepenuhnya, namun jiwa mereka telah pulih. Mereka sudah siap untuk meninggalkan persembunyian ini dan menuju jantung kekuasaan di Roma. Isabella mungkin memiliki pasukan dan kekuasaan, namun Elena dan Matteo memiliki satu hal yang tidak pernah dimiliki oleh anggota Dewan Tujuh mana pun: mereka memiliki alasan untuk pulang.
Malam di Mestre ditutup dengan keheningan yang suci. Elena akhirnya memejamkan matanya, membiarkan kegelapan membawanya menuju istirahat singkat sebelum matahari Roma menyambut mereka dengan badai yang akan menentukan takdir seluruh Italia.