Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KEKUATAN YANG TERBANGUN
Dojang 5 terletak di bagian paling belakang kompleks akademi, dekat dengan hutan kecil yang digunakan untuk latihan survival. Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu dan batu, berbeda dengan gedung-gedung modern lainnya. Saat Min-jae mendorong pintu kayu beratnya, ia disambut oleh aroma kayu tua, tanah, dan keringat.
Di dalam, ruangan luas dengan lantai matras. Seorang pria—Guru Han—sedang melakukan serangkaian jurus lambat dan penuh konsentrasi. Gerakannya mengalir, setiap perpindahan berat badan terlihat sempurna. Meski usianya sudah lanjut, tubuhnya padat berotot dan penuh keseimbangan.
Min-jae berdiri di dekat pintu, menunggu. Ia tidak ingin mengganggu.
Setelah menyelesaikan rangkaian jurus, Guru Han berbalik, napasnya tetap stabil. "Kamu datang."
"Ya, Guru. Terima kasih atas undangannya."
Guru Han menganggak, matanya memindai Min-jae dari ujung kepala sampai kaki. "Kamu terlihat seperti orang yang baru belajar berjalan di dunia yang penuh pelari. Tubuh dan pikiranmu tidak selaras."
Itu tepat. Min-jae merasa seperti mengemudikan mobil yang bukan miliknya—semua kontrol terasa asing.
"Kenapa Guru mengajak saya ke sini?" tanya Min-jae langsung. "Saya hanya siswa Remedial."
"Karena aku melihat sesuatu di simulasi kemarin," jawab Guru Han, duduk bersila di atas matras. Ia memberi isyarat pada Min-jae untuk duduk di hadapannya. "Kebanyakan siswa dengan kemampuan psikis lemah cenderung panik. Mereka mencoba memaksa, mengeluarkan semua energi sekaligus. Tapi kamu… kamu diam. Mengamati. Lalu menyerang dengan presisi kecil yang tepat sasaran. Itu bukan cara pemula. Itu cara orang yang terbiasa menganalisis sebelum bertindak."
Min-jae terdiam. Itu adalah kebiasaan lamanya sebagai editor—selalu menganalisis struktur cerita sebelum menyentuhnya.
"Kemampuan psikismu masih seperti bayi yang baru lahir," lanjut Guru Han. "Tapi insting bertarungmu… lebih tua. Kontradiksi itu menarik."
"Insting bertarung?" Min-jae mengerutkan kening. Ia tidak merasa punya insting itu.
"Bukan bertarung fisik. Tapi insting *bertahan*. Kamu tidak berpikir untuk menang. Kamu berpikir untuk tidak kalah. Itu pola pikir yang berbeda." Guru Han menatapnya tajam. "Aku ingin tahu, Min-jae. Apa yang membuatmu seperti itu?"
Min-jae merasa ditelanjangi. Ia tidak bisa menjawab yang sebenarnya. "Mungkin… karena kecelakaan. Saya belajar bahwa dunia bisa berubah dalam sekejap."
Guru Han menghela napas, seolah tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak mendesak. "Baik. Alasanmu urusanmu. Yang penting sekarang: jika kamu ingin bertahan di dunia Hunter, kamu harus menyelaraskan tubuh dan pikiran. Kemampuan psikis adalah perpanjangan dari kehendak. Jika kehendakmu kacau, kekuatanmu juga kacau."
Ia berdiri. "Pertama-tama, kita latihan pernapasan dan fokus. Duduk seperti ini."
Selama satu jam berikutnya, Guru Han melatih Min-jae teknik pernapasan dasar yang digunakan Hunter untuk mengendalikan aliran Mana—atau dalam kasus Min-jae, energi psikis. Tekniknya sederhana: tarik napas dalam, tahan, hembuskan pelan sambil memusatkan kesadaran pada titik tengah di antara alis.
Awalnya sulit. Pikiran Min-jae terus melompat ke berbagai hal—misi mendatang, Ouroboros, ingatan yang bertabrakan. Tapi Guru Han bersabar, membimbingnya berulang-ulang.
"Jangan melawan pikiranmu. Biarkan mereka lewat, seperti awan di langit. Fokusmu adalah langitnya, bukan awannya."
Perlahan-lahan, Min-jae mulai merasakan perbedaan. Saat ia berhasil tenang, ia bisa merasakan 'arus' halus di sekitarnya—energi psikisnya sendiri, yang mengalir lemah tapi stabil.
"Bagus," puji Guru Han. "Sekarang, coba gunakan sensing-mu pada benda di ruangan ini. Tapi jangan cuma merasakan keberadaannya. Rasakan *keadaannya*."
Min-jae mencoba. Ia memusatkan perhatian pada sebuah pedang kayu yang tergantung di dinding. Ia merasakan bentuknya, beratnya, tekstur kayunya. Lalu, ia mencoba lebih dalam—retakan kecil di dekat gagang, kelembapan di udara yang diserap kayu, bahkan sisa bekas pegangan dari tangan Guru Han.
"Ada retakan kecil di dekat gagang. Dan… bekas pegangan yang sudah lama," lapor Min-jae.
Guru Han mengangguk, terkesan. "Kemampuan sensing-mu lebih tajam dari yang kuduga. Itu bisa jadi senjata yang bagus. Di Gerbang, mengetahui kondisi lingkungan dengan detail bisa menyelamatkan nyawa."
Setelah latihan pernapasan, Guru Han mengajaknya ke halaman belakang dojang. Ada sebuah area dengan beberapa batu besar dan tiang kayu.
"Telekinesismu masih lemah untuk mengangkat batu. Jadi kita tidak akan memaksanya. Kita akan melatih *presisi*," kata Guru Han. Ia mengambil segenggam kerikil dan menaburkannya di atas sebuah batu datar. "Pilih satu kerikil. Angkat dengan pikiranmu, lalu pindahkan ke batu sebelahnya. Lakukan berulang-ulang. Satu per satu."
Latihan itu melelahkan secara mental. Setelah sepuluh kerikil, kepala Min-jae sudah berdenyut-denyut. Tapi ia terus berusaha. Guru Han mengawasi dengan cermat, sesekali mengoreksi caranya bernapas atau posisi tubuhnya.
"Saat menggunakan psikokinesis, tubuhmu harus rileks. Ketegangan hanya akan menghalangi aliran."
Sore itu, Min-jae pulang dengan tubuh lelah tapi pikiran lebih jernih. Ia merasa memiliki pegangan baru terhadap kekuatannya. Ia juga mendapatkan nasihat berharga dari Guru Han tentang dunia Hunter.
"Hunter bukan hanya soal kekuatan, Min-jae. Banyak Hunter kuat mati karena bodoh. Yang bertahan adalah yang pintar, yang tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Dan yang paling penting: yang tahu batas dirinya sendiri."
Keesokan harinya di akademi, Min-jae dan timnya—Ji-woo dan Seo-yeon—dipanggil oleh Guru Choi untuk briefing misi. Mereka bertemu di ruang kecil di dekat gedung administrasi.
"Greenwood Cave adalah Gerbang F-rank yang sudah dipetakan dengan baik," mulai Guru Choi, menunjukkan peta holografis di atas meja. "Monster utamanya adalah Goblin dan beberapa Slime. Jarang ada varian berbahaya. Lingkungannya adalah gua dengan lumun bercahaya, jadi tidak perlu penerangan tambahan. Tugas kalian sederhana: masuk, ambil tiga sampel 'Luminous Moss' dari dinding bagian dalam, dan keluar. Tidak perlu membasmi semua monster, kecuali jika menghalangi."
Ia menatap ketiganya. "Ini adalah misi pengenalan. Tujuannya adalah agar kalian mengalami atmosfer Gerbang tanpa tekanan tinggi. Tapi ingat: meski F-rank, Gerbang tetaplah dunia asing. Hukum alam bisa berbeda. Selalu waspada."
"Apakah kami akan ditemani, Guru?" tanya Seo-yeon.
"Ada dua Hunter rank D yang akan berjaga di luar Gerbang sebagai pengawas. Mereka tidak akan masuk kecuali keadaan darurat. Kalian harus mengandalkan diri sendiri di dalam."
Ji-woo mengangguk penuh semangat. "Kami siap, Guru."
"Minggu depan, kalian akan diberi peralatan dasar: senjata tumpul untuk Ji-woo, kit pertolongan pertama untuk Seo-yeon, dan…" Guru Choi memandang Min-jae, "untukmu, Min-jae, karena kemampuanmu belum ofensif, kami akan sediakan pelindung dada ringan dan alat komunikasi. Juga, jika kamu bisa, bawa senjata jarak jauh sederhana seperti ketapel."
Min-jae setuju. Ketapel lebih masuk akal baginya daripada pedang.
Setelah briefing, mereka berencana bertemu di akhir pekan untuk merencanakan strategi. Min-jae menyarankan formasi sederhana: Ji-woo di depan sebagai perisai, Seo-yeon di tengah, dan dirinya di belakang sebagai pengintai dan pendukung.
"Kekuatan sensing-ku bisa membantu mendeteksi monster dari jauh," jelas Min-jae. "Jadi kita bisa menghindari pertempuran yang tidak perlu."
"Bagus!" puji Ji-woo. "Aku akan jadi dinding yang melindungi kalian berdua."
Seo-yeon tersenyum. "Aku akan menjaga stamina dan kesehatan kita. Aku juga bawa beberapa ramuan pemulihan energi dasar."
Semuanya tampak berjalan lancar. Namun, saat Min-jae berjalan sendirian menuju perpustakaan untuk mempelajari lebih lanjut tentang Luminous Moss, ia kembali bertemu dengan Song Min-hyuk.
"Min-jae! Dengar-dengar kamu dapat misi praktik. Selamat," kata Min-hyuk dengan nada yang terdengar tulus, tapi senyumnya tetap membuat Min-jae tidak nyaman. "Gerbang F-rank cocok untuk pemula. Jangan sampai tersesat di dalam, ya."
"Terima kasih atas perhatiannya," jawab Min-jae kering.
"Oh, iya. Aku dapat kabar menarik dari keluarga. Katanya Ouroboros sedang sangat aktif belakangan ini. Mereka bahkan mendekati beberapa siswa berbakat di akademi untuk program penelitian." Min-hyuk memandang Min-jae. "Kamu sudah dapat tawaran, kan? Sebagai putra Dr. Kang."
Min-jae memilih diam. Ia tidak ingin memberikan informasi.
"Ah, maaf. Aku terlalu banyak omong." Min-hyuk mengangkat tangan. "Pokoknya, berhati-hatilah. Kadang, perhatian dari organisasi besar itu seperti pisau bermata dua. Bisa membantu, tapi juga bisa melukai." Ia berbalik pergi, tapi melemparkan kalimat terakhir: "Semoga misi pertamamu berjalan mulus. Aku akan perhatikan."
Ancaman terselubung itu jelas. Min-jae merasa semakin yakin bahwa Min-hyuk bukan sekadar rival akademis biasa. Ada sesuatu yang lebih dalam.
Malam harinya, Min-jae berlatih lagi di kamarnya. Kali ini, ia mencoba menggabungkan pernapasan dengan sensing. Ia duduk di tengah kamar, mata tertutup, dan memperluas jangkauan sensornya. Perlahan, ia bisa merasakan seluruh lantai dua rumah—ruang kosong di kamar tamu, perabotan di ruang baca, bahkan pergerakan udara dari AC.
Lalu, ia mencoba sesuatu yang lebih sulit. Ia fokus pada sebuah buku di rak yang tertutup. Bukan hanya merasakan keberadaannya, tetapi mencoba 'membaca' judulnya melalui sensor psikis.
Ini jauh lebih rumit. Ia harus merasakan tinta di sampul, bentuk hurufnya, dan menyusunnya dalam pikirannya. Kepalanya mulai sakit, tapi ia bertahan.
Perlahan, huruf demi huruf muncul dalam benaknya: **"Teori Dasar Mana dan Aplikasi Lapangan."**
**[Kemampuan berkembang: Psionic Reading (Dasar). Kontrol psikis: 3.2%]** Sistem memberi konfirmasi.
Min-jae tersenyum lelah. Kemajuan kecil, tapi nyata. Kemampuan ini suatu hari nanti bisa berguna—membaca dokumen tanpa menyentuhnya, atau mengenali objek dari kejauhan.
Namun, kegembiraannya terputus oleh dering ponsel. Nomor tidak dikenal lagi.
Ia mengangkatnya dengan hati-hati. "Halo?"
"Min-jae-ssi, ini Dr. Lee. Mohon maaf mengganggu di malam hari." Suara di seberang terdapat datar. "Director Oh meminta saya menyampaikan bahwa kami menemukan beberapa catatan lama ayah Anda yang mungkin menarik bagi Anda. Tentang 'fenomena psikis pasca-trauma dimensi'. Jika Anda tertarik, kami bisa mengatur pertemuan minggu depan."
Min-jae mengerutkan kening. Ini jelas umpan. Mereka ingin bertemu langsung, mungkin untuk mengamatinya lebih dekat atau bahkan melakukan tes.
"Terima kasih, tapi saya sibuk dengan persiapan misi akademi," jawabnya. "Mungkin lain waktu."
"Tentu, kami mengerti." Ada jeda singkat. "Oh ya, tentang misi ke Greenwood Cave. Hati-hati. Meski F-rank, ada laporan tentang aktivitas tidak biasa belakangan ini. Mungkin hanya angin, tapi lebih baik waspada."
Mereka tahu tentang misinya. Tentu saja mereka tahu. Min-jae merasa semakin diawasi.
"Terima kasih atas peringatannya," katanya, lalu menutup telepon.
Ia duduk di tempat tidur, perasaan tidak enak di dadanya. Ouroboros mengawasinya. Min-hyuk mengawasinya. Guru Han mungkin juga mengawasinya. Ia merasa seperti tikus di dalam labirin, dikelilingi oleh banyak mata.
Tapi ia tidak boleh panik. Panik akan membuatnya membuat kesalahan.
Ia mengambil napas dalam-dalam, menerapkan teknik dari Guru Han. Tenang. Fokus.
*Mereka mengawasi, tapi aku juga bisa mengamati*, pikirnya. *Aku punya kemampuan sensing. Aku punya pikiran analitis. Dan aku punya sistem yang masih misterius tapi sejauh ini membantuku.*
Misi minggu depan bukan hanya ujian kemampuan. Itu juga kesempatan untuk keluar dari pengawasan ketat, masuk ke lingkungan yang tidak bisa sepenuhnya mereka kontrol—Gerbang.
Mungkin, di dalam Gerbang, ia bisa bernapas lebih lega. Dan mungkin, di sana, ia bisa menguji batas kemampuannya tanpa takut dilihat.
Dengan tekad baru, Min-jae kembali berlatih. Kali ini, ia tidak hanya melatih sensing dan telekinesis, tetapi juga mencoba merasakan 'sistem' di dalam kepalanya. Ia memusatkan perhatian ke dalam, bertanya di dalam pikirannya: *Siapa kamu? Apa tujuanmu?*
Tidak ada jawaban verbal. Tapi sebuah gambaran muncul: dua buah lingkaran cahaya yang saling mengitari, lalu perlahan menyatu menjadi satu. Dan sebuah perasaan: **Keselamatan.**
Apakah sistem itu diciptakan untuk menyelamatkannya? Atau untuk sesuatu yang lain?
Pertanyaan itu belum terjawab. Tapi untuk sekarang, Min-jae memutuskan untuk mempercayainya—karena sejauh ini, sistem itu telah membantunya bertahan.
Hari-H berjalan semakin dekat. Persiapan terus dilakukan. Ji-woo melatih ketahanan fisiknya. Seo-yeon menyiapkan ramuan dan perban. Min-jae melatih sensing dan presisi telekinesisnya, serta mempelajari peta Greenwood Cave sampai hafal.
Malam sebelum misi, ketiganya berkumpul melalui panggilan video singkat.
"Kita sudah siap," kata Ji-woo dengan percaya diri.
"Aku sedikit gugup, tapi aku yakin kita bisa," tambah Seo-yeon.
"Kita akan hati-hati dan bekerja sama," simpul Min-jae. "Ingat, tujuan utama kita adalah sampel, bukan pertarungan. Hindari konflik jika bisa."
Mereka mengakhiri panggilan dengan semangat.
Min-jae memeriksa lagi tas kecilnya: pelindung dada, ketapel dengan amunisi karet (untuk latihan, tapi bisa menyakiti Goblin), alat komunikasi, senter, dan beberapa batang energi. Ia juga menyelipkan kartu kontak darurat dari paman Dae-hyun dan sebuah pisau lipat kecil—jika semua gagal.
Saat ia berbaring untuk tidur, pikirannya kembali ke mimpi tentang ayah Min-jae dan gerbang hijau. Kali ini, dalam mimpinya, ia berdiri di depan gerbang itu sendiri. Cahaya hijaunya berdenyup seperti jantung. Dari dalam, terdengar suara bisikan tak jelas.
Dan sebuah suara, mungkin ayahnya, berbisik: **"Jangan takut pada cahaya. Takutilah kegelapan yang bersembunyi di baliknya."**
Min-jae terbangun tepat sebelum fajar, jantung berdebar. Mimpi itu terasa seperti peringatan.
Hari ini adalah hari-H. Misi pertamanya ke Gerbang.
Dengan napas dalam, ia mempersiapkan diri. Apapun yang menunggu di dalam Greenwood Cave, ia akan menghadapinya. Tidak hanya sebagai Kang Min-jae, siswa Remedial. Tapi sebagai seseorang yang bertekad untuk menguasai takdirnya sendiri.
Dan mungkin, di dalam gua yang penuh lumun bercahaya itu, ia akan menemukan lebih dari sekadar sampel. Mungkin ia akan menemukan petunjuk tentang dirinya, tentang kekuatannya, dan tentang dunia yang masih penuh misteri ini.