"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Invasi
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berjalan tanpa tujuan di lorong-lorong mansion yang berkelok-kelok. Mungkin tiga puluh menit, mungkin satu jam. Cukup lama bagi pelajaran Mr. Abernathy untuk berakhir dan jadwal berikutnya dimulai.
Rumah ini terlalu besar, namun entah kenapa terasa sesak. Setiap sudut dipenuhi oleh suara-suara yang membuat kepalaku berdenyut.
Dari arah ruang musik di sayap barat, terdengar suara denting piano yang kaku. Lily sedang berlatih, atau lebih tepatnya, dipaksa berlatih. Nadanya sumbang, terputus-putus, dan ragu. Suara itu mengingatkanku pada ketidakmampuan kami beradaptasi. Kami adalah instrumen rusak yang dipaksa memainkan simfoni Mozart.
Dari arah ruang tamu utama, suara tawa melengking terdengar. Isabella dan teman-teman sosialitanya sedang berkumpul. Suara mereka tinggi, tajam, dan penuh kepalsuan. Mereka tertawa seperti hyena yang sedang memakan bangkai, saling memuji gaun satu sama lain sambil diam-diam menilai harga perhiasan yang dipakai.
"Dia benar-benar memakai sepatu last season? Ya Tuhan, kasihan sekali..."
Potongan percakapan itu membuat perutku mual.
Aku berbelok ke lorong yang lebih sepi, menjauh dari keramaian itu. Aku butuh hening. Aku butuh tempat di mana aku tidak dinilai. Aku butuh tempat di mana aku tidak merasa bodoh atau miskin.
Langkahku membawaku ke bagian rumah yang jarang dilewati pelayan. Karpet di sini lebih tebal, peredam suara yang sempurna. Dindingnya dilapisi panel kayu oak gelap yang memberikan kesan maskulin dan berat.
Di ujung lorong itu, ada sebuah pintu ganda yang kokoh.
Pintu itu sedikit terbuka, hanya celah selebar dua jari, tapi dari celah itu mengalir udara dingin yang berbau familiar.
Aku berhenti, hidungku mengendus pelan.
Aroma itu.
Sandalwood. Tembakau manis. Kertas tua. Dan sesuatu yang tajam seperti tinta mahal.
Itu aroma Ciarán.
Tanpa sadar, ketegangan di bahuku sedikit mengendur. Aroma itu, meski milik monster yang paling kutakuti, entah kenapa memberikan efek menenangkan yang aneh. Mungkin karena aroma itu konsisten. Ciarán adalah satu-satunya hal yang konstan di rumah gila ini. Dia jahat, ya, tapi kejahatannya stabil. Tidak seperti kebaikan Eleanor yang membingungkan atau kekejaman Isabella yang fluktuatif.
Aku mendekat perlahan, seperti ngengat yang tertarik pada api.
Aku mengintip lewat celah pintu.
Ruangan di dalamnya gelap, tirai-tirainya ditutup rapat menghalau matahari siang. Hanya ada satu lampu meja yang menyala di sudut jauh, menerangi tumpukan berkas.
Ruang kerja Ciarán.
Dan ruangan itu... kosong. Atau setidaknya, terlihat kosong dan sunyi. Jauh dari suara piano sumbang Lily. Jauh dari tawa hyena Isabella.
Tanganku terulur, mendorong pintu berat itu sedikit lebih lebar. Engselnya tidak berbunyi.
Aku melangkah masuk.
Begitu aku berada di dalam, kesunyian menyelimutiku seperti selimut yang nyaman.
Ruangan ini adalah gua seorang pertapa. Dinding-dindingnya tertutup rak buku yang menjulang sampai ke langit-langit, berisi ribuan buku bersampul kulit yang tampak berat dan serius. Tidak ada vas bunga, tidak ada lukisan warna-warni, tidak ada bantal hias yang "norak" seperti di ruang tamu.
Hanya ada meja kerja besar dari kayu hitam, kursi kulit bersandaran tinggi, dan sebuah sofa kulit chesterfield tua di sudut ruangan yang menghadap perapian mati.
Aku menghirup udara dalam-dalam. Wangi ruangan ini sama persis dengan wangi Ciarán. Rasanya seolah-olah aku sedang berdiri di dalam rongga dadanya.
Aku berjalan menuju sofa kulit di sudut. Aku duduk di sana, menenggelamkan tubuhku ke dalam bantalannya yang keras namun menopang.
Di meja kecil di sebelah sofa, tergeletak sebuah buku tebal berjudul 'The Wealth of Nations'. Aku mengambilnya. Aku membukanya secara acak di tengah.
Huruf-hurufnya kecil dan rapat. Isinya tentang ekonomi makro yang sama sekali tidak kupahami. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya butuh sesuatu untuk dipegang. Aku hanya butuh alasan untuk berada di sini.
Aku berpura-pura membaca, membiarkan mataku menari di atas kata-kata yang tidak bermakna bagiku, menikmati keheningan absolut ini.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit.
Lalu, pintu terbuka lebar.
Langkah kaki tegas masuk. Cepat. Efisien.
Aku tidak mendongak, tapi aku bisa merasakan perubahan tekanan udara di ruangan itu.
Ciarán masuk sambil melonggarkan dasinya dengan satu tangan, tangan lainnya memegang tumpukan berkas. Dia berjalan lurus menuju mejanya, melempar berkas itu ke atas meja dengan bunyi buk yang keras.
Dia menghela napas panjang, lalu berbalik hendak menuang minuman dari decanter kristal di bufet samping.
Saat itulah dia melihatku.
Gerakannya terhenti. Tangan yang memegang gelas kristal itu membeku di udara.
Matanya menyipit. Dia menatapku yang duduk meringkuk di sofa sudutnya, memegang buku ekonominya dengan wajah datar.
Untuk sedetik, aku melihat kilatan keterkejutan di matanya. Ini adalah wilayah pribadinya. Benteng dalam benteng. Tidak ada yang berani masuk ke sini tanpa diundang. Bahkan ibunya.
"Keluar," katanya.
Satu kata. Datar. Dingin. Tanpa diskusi.
Jantungku berdegup kencang, tapi aku tidak bergerak. Aku tidak menutup bukunya. Aku tidak berdiri.
Perlahan, aku mengangkat wajahku dari buku, menatapnya lurus-lurus.
"Tidak," jawabku.
Alis Ciarán terangkat sedikit. Sangat sedikit. "Maaf?"
"Aku bilang tidak," ulangku, suaraku tenang meski tanganku sedikit gemetar memegang buku tebal itu. "Di luar berisik. Adikmu berisik. Tutorku berisik. Di sini tenang."
Aku kembali menatap halaman buku, pura-pura membaca lagi. "Aku tidak akan bersuara. Anggap saja aku perabot baru."
Keheningan yang menyusul sangat mencekam. Aku bisa merasakan tatapannya membakar ubun-ubunku. Aku sedang bermain api. Aku sedang menantang singa di dalam kandangnya sendiri. Dia bisa saja menyeretku keluar. Dia bisa saja memanggil satpam.
Tapi aku bertaruh pada satu hal: Ciarán tidak suka keributan. Dan menyeretku keluar akan menciptakan keributan.
Detik demi detik berlalu.
Aku mendengar suara gelas diletakkan kembali ke meja. Lalu suara langkah kaki mendekat.
Dia berdiri di depanku. Bayangannya jatuh menutupi buku yang kupegang.
Aku menahan napas, menunggu hukuman.
Tapi kemudian, dia mendengus pelan. Bukan tawa, tapi suara pendek dari hidung yang menyiratkan... hiburan?
"Kau memegang bukunya terbalik," katanya datar.
Panas menjalar ke pipiku. Aku melirik ke bawah. Sial. Dia benar. Aku begitu gugup sampai tidak sadar huruf-hurufnya terbalik.
Cepat-cepat aku memutar buku itu.
"Ini teknik membaca cepat yang baru," dalihku asal, wajahku merah padam tapi daguku tetap terangkat menantang.
Ciarán menatapku selama tiga detik lagi. Tatapan yang menelanjangi. Dia melihatku duduk di sofanya, memakai baju yang dibelinya, di ruangan miliknya, mencoba terlihat pintar meski gagal total.
Lalu, dia berbalik.
Dia berjalan kembali ke meja kerjanya. Dia duduk di kursi kulitnya yang besar, menyalakan lampu meja, dan menarik tumpukan berkas yang tadi dibawanya.
Dia tidak mengusirku lagi.
Dia mulai bekerja. Suara pena yang menggores kertas terdengar ritmis di ruangan sunyi itu.
Aku menyandar ke sofa, menghela napas lega yang panjang tanpa suara.
Aku tidak diusir.
Aku menatap punggungnya yang lebar dari kejauhan. Pria itu sibuk menguasai dunia dengan tanda tangannya, dan di sini aku duduk, hanya beberapa meter darinya, diizinkan bernapas di udara yang sama.
Ini bukan sekadar tempat duduk. Ini adalah teritori. Dan hari ini, aku berhasil menancapkan bendera kecilku di tanah jajahan sang monster.
Ini adalah kemenangan pertamaku.