NovelToon NovelToon
Ainomaru

Ainomaru

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Berbaikan
Popularitas:888
Nilai: 5
Nama Author: Jauhadi

"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.

Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.

"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...

Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Bab 16

Arina duduk di taman rumahnya, dia tengah makan cemilan sambil melihat kakaknya yang sedang berlatih bela diri dengan teman polisinya. Arina bertepuk tangan ketika sang kakak berhasil membuat lawannya jatuh. Tion lalu mengisyaratkan Arina agar pergi ke arahnya. Arina segera berlari ke arah sang kakak. Tion mengisyaratkan lengan yang terbuka, tanda dia ingin memeluk Arina. Tapi Arina menolaknya, di sebabkan Tion yang berkeringat.

"Kamu berkeringat, mandi dulu baru aku mau kau peluk kak." Ujar Arina. Arina, dan Tion pun tertawa bersama, begitu juga Sandi, teman polisi Tion yang tergelak melihat kebersamaan kakak, dan adik itu.

"Tion, lain kali carilah lawan lain, jangan gue terus yang lu jadiin samsak." Ujar Sandi sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor terkena tanah.

"Iya mau gimana lagi, cuman kamu yang mau nemenin aku latihan San." Ujar Tion dengan bajasa yang lebih sopan pada Sandi.

"Oh ya, aku dengar adikmu yang membantu menangkap orang itu, siapa namanya?" Ujar Sandi lupa dengan nama penjahat yang baru mereka tangkap.

"Antonio Sean." Balas Tion.

"Kamu hebat adik kecil." Ujar Sandi pada Arina.

"Kakak juga hebat, mau gak duel sama Arina?" Tanya Arina pada Sandi.

Tion menggelengkan kepalanya, dia tahu jika kemampuan Arina bahkan bisa mengalahkan tiga pria sekaligus. Arina bahkan imbang sengan Tion, yang selalu menang melawan Sandi. Sandi pikir Tion takut adiknya terluka, jadi dia menenangkan Tion. Padahal sebenarnya Tion takut Sandilah yang terluka, karena meremehkan kekuatan seorang Arina Andrews.

Sandi yang melihat ada Arina di sana pun mulai mengubah cara bicaranya.

"Tenang saja Tion, aku akan bersikap lembut pada adikmu." Ujar Sandi. Arina jadi tersinggung mendengar itu. Dia merasa di remehkan oleh lawannya. Apa Sandi tidak sadar? Bagaimanapun juga Arina lah yang trlah membekuk seorang Antonio Sean, dia seharusnya waspada dengan fakta itu.

"Jangan segan terhadapku kak Sandi, aku juga tidak akan mengalah kalau jadi kakak." Balas Arina. Sandi yang mendengar itu hanya ingin tertawa, tapi dia menahannya, dia tidak ingin terkesan meremehkan Arina.

Tak lama berselang, mereka duel, alias sambung, baik Arina, maupun Sandi sudah memasang ancang-ancang. Awalnya Arina hanya mengjindar saja sambil melihat gerakan-gerakan Sandi. Tapi meski begitu kini Sandi sadar jika Arina memperhatikan dirinya.

"Kenapa tidak melawan, ayo Arina." Ujar Sandi memanas-manasi adik sahabatnya itu.

"Arina, semangat." Ujar Tion.

Arina tidak mengjiraukan Tion sama sekali, dia masih fokus melawan Sandi, dan kini Arina mulai menyerang Sandi, dia tidak lagi memperhatikan Sandi. Dia sudah paham gerakan-gerakan Sandi. Arina akhirnya bisa merubuhkan Sandi. Dia memukul sandi berkali-kali hingga akhirnya pria itu tumbang.

"Aduh, sudah-sudah berhenti. Aku sudah tidak tahan." Ujar Sandi pada Arina. Dan Bruk... Sandi terjengkal ketika Arina menjatuhkan Sandi dengan kakinya.

Sandi kini menyesal sudah meremehkan Arina. Dia tidak menyangka kekuatan Arina nyaris sama dengan Tion.

"Aku tidak menyangka kamu sama Monster nya dengan kakakmu, si Tion." Tukas Sandi.

Arina masih cuek saja dengan respon Sandi. Dia melihat Tion membantu sahabatnya itu berdiri.

"Aduh, aku tidak mau melawan kalian berdua. Bisa-bisanya kalian menjadikan aku samsak. " Keluh Sandi.

Tion hanya tertawa mendengar utaraan sahabatnya itu, dia kini merasa Sandi perlu latihan lagi. Sebab Arina yang belum mengerahkan seluruh kemampuannya saja bisa merubuhkan Sandi dengan mudah.

"Kamu harus latihan lagi Sandi, Arina tadi belum mengerahkan seluruh kemampuannya, lagi pula kamu terlalu meremehkan Arina, jangan kira dia perempuan lalu kamu meremehkannya." Balas Tion. Sandi hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak menyangka jika itu hanya sebagian kecil kemampuan Arina Andrews. Dia tidak menyangka di kalahkan dengan mudah oleh seorang remaja berusia tujuh belas tahun.

"Arina siapa gurumu, ku rasa aku harus berguru padanya." Gurau Sandi. Arina langsung menunjuk ke arah Tion, Sandi mundur seketika.

"Dia? Dia gurumu? Bisa mati aku jika jadi muridnya." Ujar Sandi mengeluh lagi. Kini Arina tersenyum saja pada Sandi, dan Tion. Dia jadi ingat dengan Rania, dia dan Rania juga sering bercanda satu sama lain.

Sandi masih mengaduh-aduh kesakitan, dia kesal sekali di pukuli oleh Tion, sekarang harus di pukuli oleh Arina. Apa dua bersaudara itu monster? Mereka berdua seperti tidak bisa di kalahkan, Sandi kini merasa dia harus lebih sering berlatih. Dia tidak ingin kalah lagi dari Arina, dan Tion. Dia malu sekali di kalahkan oleh seorang gadis. Arina beranjak dari duduknya, dia lalu beranjak pergi ke kamar. Dia akan menelpon Rania, melihat Tion, dan Sandi membuat Arina rindu pada Rania.

"Mau kemana Arin?" Tanya Tion pada adiknya itu.

"Mau ke kamar." Balas Arina.

Tion lalu mengangguk, dia lalu melanjutkan latihannya dengan Sandi di kantor polisi, tapi kali ini mereka tidak saling duel. Mereka hanya akan melatih gerakan-gerakan baru, dan berlatih menembak.

"Arin, kakak akan pergi ke kantor polisi dengan kak Sandi. Kamu di rumah saja ya." Titah Tion pada adik semata wayangnya itu.

"Ya pergilah. Aku akan ada di ruang baca." Ujar Arina.

Tion kembali mengangguk, dan mulai pergi ke ruang tamu mengambil kunci. Setelah itu dia pun pergi ke garasi, dan mengeluarkan mobil miliknya.

"Kau tidak akan memukulku lagi kan di kantor polisi?" Ujar Sandi meringis kesakitan. "Sudah cukup aku di pukuli adikmu juga Tion."

"Aku tidak akan mengajakmu duel, kita latihan menembak saja." Ujar Tion pada Sandi. Sandi menganggukkan kepalanya senang, dia akhirnya tidak harus menjadi samsak latihan Tion. Mereka berdua masuk ke dalam mobil, dan pergi ke kantor polisi.

Arina melihat kepergian kakaknya dari balkon lantai dua. Dia lalu merebahkan dirinya sambi memainkan ponselnya. Arina menekan beberapa nomor yang kemudian membentuk sebuah nomor telepon. Tak di sangka Rania langsung mengangkat telepon tersebut.

"Arina." Ujar Rania dalam telepon.

"Ran, aku rindu padamu." Ujar Arina pada Rania.

"Aku juga kangen sama kamu." Balas Rania. Arina merasa bersalah, karena tidak bisa datang ke panti asuhan hari ini, untuk belajar bersama Rania.

"Ran, aku minta maaf tidak bisa belajar denganmu hari ini, kakakku Tion menyuruhku untuk tetap di rumah saat ini?" Ujar Arina pada Rania.

Rania di seberang telepon menganggukkan kepalanya paham, dia tahu Arina pasti tidak bisa datang, sehingga dia yang akan datang menemui Arina.

"Biar saja, tidak apa-apa lah, aku saja yang ke sana. Nanti hari Sabtu giliran kau yang ke sini. Aku rindu padamu Arin." Ujar Rania di seberang telepon.

"Aku juga. Kemarilah jika kau ingin, menginap juga boleh. Hehe" Tukas Arina.

"Ah....sayangnya aku tidak bisa menginap, ibu akan marah padaku jika tahu aku menginap lagi di tempatmu, mungkin lain kali." Ucap Rania pada sahabatnya.

"Baiklah sampai jumpa lagi nanti, aku sayang padamu." Balas Arina.

"Aku juga sayang padamu." Ujar Rania.

Kini rasa rindu Arina terobati, di tidak sabar untuk pergi ke ruang baca rumahnya untuk bersenang-senang dengan Rania. Arina tidak sabar menunjukkan koleksi buku-buku barunya pada Rania. Rania pasti akan senang jika melihat novel kesukaan nya sudah Arina beli.

1
ℛᵉˣ🍾⃝ɴͩᴀᷞᴜͧғᷠᴀᷧʟ🤎ˢ⍣⃟ₛ🦁
sukses selalu
𝑫𝒆𝒘'𝒂
sukses uha
↳。˚ 🖇️')auh∆di♪♪⁠┌┘⁠♪: makasih kak wawa
total 1 replies
Raja
/Ok/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!