kisah seorang anak laki laki yang memiliki keistimewaan dari lahir yaitu mata batin. bukan hanya bisa melihat mahkluk gaib namun bisa menyembuhkan dan mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan hal gaib. perjalanannya bahkan sampai ke alam gaib untuk membantu jin yang sedang kesulitan. bukan hanya manusia saja yang bisa di obati bahkan mahkluk tak kasat mata juga di obati. ikuti terus kisahnya dan petualangannya, semoga kalian terhibur dengan karya kami ini.
terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfrelen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
" kakak ini prosesnya sedikit sakit, kakak harus tahan ya " ucap Azam
" iya dek, kakak tahan sakitnya, kakak juga pengen sembuh " kata Santi
Azam meminta bibinya untuk mendudukan Santi, agar nanti pada saat proses penyembuhan Santi bisa memuntahkan muntahannya ke baskom.
Azam kemudian memulai prosesnya, Azam memegang kepala Santi dengan telapak tangannya. Lalu dari telapak tangan azam mengeluarkan cahaya.
" arrgghhh,,, sakit " pekik Santi
" tahan ya kak, karena banyak mahkluk dari gunung yang bersemayam di dalam tubuh kakak " ucap Azam
Santi berteriak kesakitan, keringat Santi bercucuran. ibunya Santi juga cemas melihat anaknya yang kesakitan, ibunya sangat gugup melihat proses penyembuhan.
tiba tiba santi mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, lalu memuntahkannya ke baskom yang sudah di siapkan.
uuwwekkk,,,
uuwwwekk,,,
uuwweekkk,,,
Santi sampai tiga kali muntahnya dan aroma muntahan Santi sangat bau dan menyengat. setelah muntah Santi langsung terbaring. Azam lalu meminta air putih kepada bibinya.
" Bi azam minta air putihnya " pinta Azam
" ini zam air putihnya " di serahkan oleh Rahma
Azam menuangkan air tersebut ke telapak tangannya lalu di usapkan ke wajah Santi setelah itu membasuh kedua tangan dan kakinya.
" Bi satu lagi yang harus di usapkan ke kak Santi " ucap Azam
" di usapkan kemana zam ? " tanya Rahma
" yang satu lagi di usapkan ke dada kak santi Bi " ucap Azam
Rahma menuangkan airnya ke tangannya lalu di usapkan ke dada Santi.
" terus selanjutnya apa nak Azam ? kalau ada keperluan yang lain lagi biar ibu siapkan " ucap Ibu Lela
" oh iya satu lagi Bu, tolong ambil air putih lagi bu " kata Azam
Ibu lela kemudian pergi untuk mengambil air putih lagi. " ini nak air putihnya " Ibu Lela menyerahkan ke Azam
Azam menerimanya lalu Azam meminum air putih tersebut. Rahma dan Ibu Lela melongo melihat Azam minum air putih tadi. mereka terus memandangi Azam.
" loh kok liatin Azam gitu, emang kenapa ? " heran Azam
" i...itu kamu kenapa minum air itu zam, maksudnya apa " Rahma gak tau maksud dari tindakan azam.
" Azam haus Bi, proses kak Santi udah selsai kok, kan capek juga banyak nguras tenaga " ucap Azam
" oalah,,,bibi kira masih belum. bibi pikir airnya buat Santi untuk lanjut prosesnya, kamu ini bikin orang bingung aja, kenapa gak bilang kalau udah selesai " kata Rahma
Ibu Lela dan juga Santi tertawa melihat tingkah Azam dan juga Rahma. mereka sempat berpikiran sama juga dengan keheranan Rahma tadi.
" namanya juga haus Bi, kebetulan tadi ibu bilang kalau ada perlu tinggal bilang aja, ya udah azam minta air " ucap Azam
" ya Allah zam, kamu itu lucu banget sih nak. kalau kamu haus kan bisa ibu bikin yang seger seger " kata Ibu Lela
" hehehe, azam segan Bu, gak mau ngerepotin ibu " nyengir Azam
Ibu lela menghampiri Azam lalu memeluk Azam sambil menitikan air mata. " terima kasih ya nak, atas pertolongan kamu yang membuat Santi bisa sehat kembali, ibu takut sekali kalau Santi kenapa kenapa karena santi sakitnya lama "
" iya bu sama sama. bukan Azam yang nolong, tapi Allah yang tolong kak Santi " ucap Azam
ibu Lela makin erat memeluk Azam, karena Azam yang masih kecil ucapannya sangat bijak seperti orang dewasa.
" dek terima kasih ya,,,kakak akhirnya bisa tenang. kakak sebenarnya udah pasrah. Sekali lagi terima kasih dek Azam " ucap Santi yang sambil berlinang air mata.
Rahma yang melihat Santi dan Ibunya yang menangis tidak kuasa menahan harunya. Rahma juga menitikan air matanya.
Santi kemudian beristirahat dan tertidur karena selama ini Santi emang kurang tidur karena adanya mimpi buruk itu, sekarang santi tidur dengan pulas.
" kalian jangan pulang dulu ya ibu tadi ada masak, kita makan dulu ya " ucap Ibu Lelal menawari
" gak usah Bu, jangan repot repot. kami langsung pulang aja bu karena ibunya Azam udah nunggu kami bu " kata Rahma menolak secara halus
ibu Lela terlihat kecewa karena mereka tidak mau tinggal sebentar lagi, tapi ibu Lela juga tidak memaksa.
" ya udah kalau begitu tunggu sebentar ya " ibu Lela pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu.
" Rahma dan nak Azam tolong terima ini ya, ini ungkapan terima kasih ibu untuk kalian " sambil menyodorkan amplop ke Rahma
" ini apaan bu ? gak usah bu pake beginian segala, kami ikhlas bu ! emang tujuan kami kemari untuk membantu santi " kata Rahma menolak pemberian amplop
" tolong jangan di tolak, ibu juga ikhlas. ambil lah, rezeki gak boleh di tolak " ucap Ibu Lela memaksa
" tapii bu..."
" udah ambil jangan di tolak lagi, kalau gak ibu akan marah " dengan wajah di buat merengut
Rahma mau gak mau menerima amplop itu. lalu mereka pamit pulang. dalam perjalanan mereka hanya diam saja, lalu azam berbicara. " kenapa bibi terima tadi "
" kan kamu tau sendiri kalau di tolak nanti ibunya Santi marah zam, bibi pun serba salah jadinya " ucap Rahma
" nanti di marahi ayah bibi, kan ayah udah bilang jangan terima kalau kita nolong orang " kata Azam
Rahma cuma tersenyum kecut aja, karena emang seharusnya jangan di terima. namun tiba tiba Azam meminta berhenti.
" Bi berhenti sebentar, Azam mau turun dulu di sini sebentar " ucap Azam
" kenapa zam kok tiba tiba berhenti di sini " heran Rahma sembari menepikan motor
" bi, tolong buka amplopnya, Azam minta selembar uang merah " pinta Azam
Rahma bingung kenapa keponakannya minta selembar uang dari amplop yang di kasih. Rahma membuka lalu mengambil selembar dan di berikan ke Azam.
Azam kemudian turun lalu pergi menuju ke arah kakek kakek yang lagi duduk sendirian di pinggir jalan.
kakek itu duduk sendirian dengan pakaian lusuh dan membawa tas kecil. azam lalu menghampiri kakek tersebut.
" Assalamualaikum kek " ucap Azam
" walaikumsalam...iya cu " jawab Kakek
" ini kek, Azam mau kasih kakek uang untuk kakek " sambil memberikan uang tersebut
" Alhamdulillah terima kasih ya cu, kamu emang anak yang istimewa cu " kata Kakek tersenyum
" ya udah Azam pamit dulu ya kek "ucap Azam
" tunggu sebentar cu, ini kakek ada hadiah buat kamu " sambil memberikan hadiah
kakek itu memberikan Azam sebuah kalung dengan gantungan sebuah batu permata warna biru yang sangat indah.
" kakek ini bagus banget kalungnya, beneran buat azam kek " ucap Azam
" iya cu, ini buat kamu untuk orang yang istimewa, sering lah berbuat kebaikan ya cu " kata kakek itu dengan tersenyum
" terima kasih kek, kakek hati hati ya sama jaga kesehatan. Azam pamit pulang dulu " sambil menyalami dan mencium tangan kakek tersebut.
Azam lalu berbalik pergi meninggalkan kakek tersebut. namun tiba tiba kakek tersebut tersenyum ke arah Azam dan menghilang dalam sekejap.
" kamu habis ngapain zam, terus uangnya kamu kemanain ? "tanya Rahma
" tadi Azam lihat kakek kakek duduk sendirian, terus uangnya azam kasih ke kakek itu " ucap Azam
Rahma melihat sekitaran pinggiran jalan tapi dia tidak melihat ada kakek kakek yang di sebutkan Azam.
" Ayok bi kita buruan pulang, udah lapar azam. nanti di marahi ibu kalau kita telat pulang " ucap Azam
" iya zam, kita pulang sekarang " kata Rahma yang masih keheranan
Kemudian mereka melesat pergi untuk segera pulang dan makan siang.