Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Langkah kaki terdengar pelan saat seorang laki-laki yang berusia sekitar 28 tahunan berjalan keluar dari halaman rumahnya.
langkah kaki itu milik seorang laki-laki kurus yang bernama wandri saputra, ia sedang menuju rumah tetangganya yang bernama reza agraha.
saat itu reza tengah menikmati secangkir kopi hangat dengan matahari pagi di teras rumah nya.
''lagi ngopi za'' sapa wandri sambil menghampiri reza.
reza tersenyum ke arah ke arah wandri sambil berkata ''tentu aja,ada apa wan''
saat wandri ingin membuka mulutnya ingin berbicara reza segera menyela
''mau mijam duit lagi wan,yaelah wan yang kemaren-kemaren juga belum lu balikin,gini ya saran aku mending lu buka usaha dari pada main judol terus,gak ada gunanya,gua yakin lu gak bakal menang wan!'' sarkas reza pada wandri.
''alah gak usa sok suci lo za, pake nasehatin gue segala,gue juga tau lu tu makan yang begituan kan!'' jawab wandri tak kala sarkas.
mendengar jawaban wandri reza tersenyum seolah dialah yang menang di sini.
dia kemudian menatap pohon di sampingnya sambil berkata ''eh wan gue meskipun suka mengkonsumsi itu gak kayak lu, gue kaya brayy!, punya duit buat beli tu barang, daripada lo udah miskin, gaji pas-pasan,tukang ngutang lagi semuanya di pake buat judol, lama-lama jadi gembel lu nanti!''
wandri terdiam matanya menatap nyala reza, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
dengan dada yang terasa terbakar api, wandri berbalik pergi meninggalkan reza yang masih menatap pohon seolah mengabaikannya.
''eh mau kemana lu wan, gue belum selesai kasih nasehatnya!'' teriak reza saat melihat kepergian wandri.
brakk!!
wandri yang masih mendengar ucapan reza langsung membanting pagar pintu rumah reza dengan keras.
reza tentu sedikit terkejut ketika mendengar suara pintu pagar yang begitu keras,ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil mengamati kepergian wandri.
***
siang hari sekitar pukul satu siang, tiska mengunjungi rumah reza sambil membawa sesuatu di tangannya.
karena rumah reza tak terkunci iya segera masuk ''rezaa,za, kakak bawain kamu sup iga nih kesukaan kamu!'' ucap tiska sambil meletakan sup di meja dapur.
''masih hangat loh makan gih'' ucap tiska, namun karena tak mendengarkan jawaban dari reza tiska melangkah kan kaki memeriksa setiap sudut rumah untuk menemukan reza.
''za!!,rezaa!!'' teriak tiska.
Langkah nya terhenti saat melewati kamar reza yang sedikit terbuka, awalnya tiska ragu untuk masuk ke kamar takut mengganggu privasi reza namun dia merasa harus memeriksa kamar tersebut.
"Zaaa...!" Panggil tiska saat membuka kamar milik reza.
Saat tiska melihat sepenuhnya kamar reza, dia melihat hanya ada beberapa barang biasa seperti lampu tidur dan tempat cas hp di laci kamar reza.
Kamar tersebut terlihat rapi dengan sedikit barang yang menghiasinya, perhatian tiska tertuju pada satu laci kecil yang berada di dekat jendela kamar reza.
Laci tersebut terbuat dari kayu dengan memiliki dua tingkat muatan di dalam nya.
Karena laci itu sedang terbuka lebar tiska yang penuh rasa penasaran melangkah mendekati laci tersebut.
Dia kemudian melihat isinya, matanya terbelalak ketika melihat banyaknya lembaran perangko dan juga wadah yang mirip serum di laci bagian atas tersebut sedangkan di bagian bawanya kosong, perangko tersebut asing dan terlihat sangat mirip dengan sesuatu.
Tiska mengambil satu lembar set perangko tersebut dan mengamatinya lebih teliti, dia mendekatkan perangko itu ke hidungnya dan tak mencium bau apa-apa.
matanya kemudian beralih ke perangko lainya dan ada beberapa lembar perangko yang telah di sobekan atau di gunakan.
Nafas tiska memburu ketika suatu benda yang terbayang di otaknya setelah mengamati perangko tersebut.
Rasanya dia ingin menyangkal, namun bukti di hadapannya membuat matanya berkaca-kaca.
air mata tiska jatuh ketika tau betul benda yang di pegangannya, ini adalah na***tika jenis lds dimana narkotika jenis ini membuat penggunanya merasakan halusinasi.
setelah satu menit menangis tiska mengelap air matanya dengan tangan. dia berdiri segera berlari ke arah dapur dan mengambil kantong plastik hitam, tisu dan secangkir air di dapur.
setelah mendapatkannya, tiska kembali ke kamar reza memasukan semua perangko yang ada di laci ke kantong plastik hitam dan mengikatnya dengan kuat.
dia kemudian berdiri membuka semua laci dan lemari pakaian yang ada di kamar, mengobrak abrik semuanya mencari barang yang serupa.
ketika tak menemukanya, tiska kembali ke laci awal tadi mengambil sebuah tisu dan membasahinya dengan secangkir air tadi.
setelah tisu itu cukup basah tiska mengelapkan tisu tersebut ke laci tempat perangko tadi di letakan seolah menghilangkan sebuah jejak.
saat semua permukaan laci tadi telah basah,tiska kemudian mengelap laci tersebut dengan tisu kering.
tiska merasa semuanya telah selesai dia kemudian berdiri untuk pergi.
saat ia berbalik ingin pergi reza tiba-tiba datang berdiri di depan pintu.
"Kakak apa yang kau lakukan di sini" tanya reza dengan penasaran.
mata reza langsung tertuju pada apa yang ada di tangan kakak nya, sebuah kantong plastik hitam yang di ikat, tatapan reza langsung beralih ke laci ketika menyadari apa yang ada di tangan kakanya.
Ia melihat laci yang terbuka itu telah kosong, perangko di sana terlah hilang, membuatnya tau bahwa tiska lah yang mengambilnya.
''kembalikan itu kak!'' ucap reza sambil menggerakkan tangan ingin mengambil kantong hitam itu dari tiska.
''enggak!!'' tiska langsung menghindari tangan reza hingga membuat sedikit terjungkal dekat laci tadi.
tiska perlahan mundur keluar dari kamar reza.
matanya berkaca-kaca menatap reza seakan tak percaya, dia kemudian mengangkat tangan kananya menunjuk reza sambil berkata
''denger ya reza!!, jangan sekali-kali lagi kamu memakan barang terlarang ini, kakak gak nyangka kamu begini!, kakak KECEWA SAMA KAMU REZA!!'' teriak tiska dengan marah.
reza secara perlahan maju mendekati kakaknya ''barang terlarang apanya kak itu cuma perangko doang buat pegawai restoran!'' ucap reza mencoba menenangkan kakaknya.
mendengar itu amarah tiska memuncak
PLAK!!
bunyi tamparan keras mengenai pipi kiri reza, ketika tiska menamparnya dengan sekuat tenaga.
''perangko buat pegawai restoran apanya!, kamu pikir kakak bodoh gak tau benda apa ini!!'' nafas tiska memburu, wajahnya yang memerah karena marah, dia mengangkat katong hitam itu ke arah reza.
''ini itu narkotika jenis lds, barang yang bisa merusak kamu reza, kenapa kamu mengkonsumsi ini, kamu sakit, kalo sakit bilang bukan kayak gini zaaaa!!!'' tiska berteriak dengan putus asa,air matanya mengalir deras di pipinya.
reza terdiam memegang pipinya yang di tampar tadi, dia menatap kakanya yang menangis di hadapannya.
''kakak tu gak tau apa-apa, ini cuma narkotika biasa yang gak berbahaya kak, kakak balikin barang itu sekarang''