Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan tujuh pedang naga part 14
Pertempuran di dalam ruang segel semakin kacau. Wang Bao mengamuk bak monster, namun ia tertahan oleh gelombang ninja yang terus datang seolah tak ada habisnya. Sementara itu, Dyah Ayu Kirana harus menghadapi kelincahan mematikan Jenderal Kurogane.
Kurogane bergerak seperti asap hitam, muncul dan hilang di balik pilar-pilar batu. Kirana, meski gerakannya sangat sempurna, mulai kelelahan karena harus membagi fokus antara menghadapi Kurogane dan memastikan tidak ada ninja yang menyentuh Lin Feng.
Melihat celah saat Kirana menangkis serangan tiga ninja sekaligus, Kurogane melepaskan teknik Tebasan Bayangan Rembulan. Sebilah belati tersembunyi melesat dari balik jubahnya.
"Nimas Kirana, awas!" teriak Wang Bao, namun ia terlambat karena sedang terkepung.
SRAKK!
Belati itu menyayat bahu kiri Kirana yang mulus. Darah segar merembes ke pakaian putihnya yang suci. Kirana meringis kesakitan, tubuhnya goyah sesaat, namun ia tetap berdiri tegak di depan Lin Feng, menggunakan pedang putihnya sebagai tumpuan.
"Selama aku masih bernapas... kau tidak akan menyentuhnya," desis Kirana dengan sisa kekuatannya, meski keringat dingin mulai membasahi wajah cantiknya.
Darah Kirana yang menetes ke lantai batu ternyata mengalir menuju lingkaran segel tempat Lin Feng bermeditasi. Aroma darah rekan seperjuangannya—gadis yang telah mencuri perhatiannya sejak di Trowulan—menembus alam bawah sadar Lin Feng.
Di dalam sukma Lin Feng, kemarahan yang luar biasa meledak. Antaboga, Naga Bumi di dalam pedangnya, meraung keras. Resonansi kemarahan itu memicu Shenlong, Naga Langit yang tersegel, untuk berhenti menyerang dan justru menyatu.
BOOOM!!!
Gelombang energi dahsyat terpancar dari tubuh Lin Feng, menghempaskan semua ninja dan bahkan membuat Jenderal Kurogane terpental menabrak dinding. Lin Feng membuka matanya; matanya kini berwarna emas menyala dengan pupil vertikal seperti naga.
Lin Feng bangkit berdiri. Pedang Naga Bumi di tangan kanannya membara dengan api merah tua, sementara tangan kirinya secara ajaib mampu menarik Pedang Naga Langit dari gumpalan cahaya biru di tengah ruangan.
"Kau... telah melukainya," suara Lin Feng bukan lagi suara manusia biasa, melainkan bergema dengan wibawa naga purba.
Dengan satu langkah cepat yang menciptakan retakan di lantai batu, Lin Feng sudah berada di depan Kurogane. Ia menyilangkan kedua pedang tersebut.
"Jurus Penunggalan Naga: Langit Membelah Bumi!"
Satu tebasan menyilang dilepaskan. Cahaya merah dan biru menyatu membentuk naga raksasa yang menerjang Kurogane. Sang Jenderal bahkan tidak sempat berteriak saat tubuhnya dan zirah hitamnya hancur menjadi abu oleh penyatuan dua energi naga tersebut.
Ruangan kembali sunyi. Sisa-sisa ninja yang masih hidup lari ketakutan melihat kekuatan yang mustahil tersebut. Lin Feng segera menjatuhkan Pedang Naga Langit yang masih bergetar hebat dan berlari ke arah Kirana.
Ia menangkap tubuh Kirana sebelum gadis itu jatuh ke lantai. Wajah Lin Feng kembali memerah, namun kali ini bercampur dengan kecemasan yang mendalam.
"Kirana! Maafkan aku... aku terlambat," ucap Lin Feng sambil menekan luka di bahu Kirana dengan tangannya yang masih dialiri sisa energi hangat.
Kirana tersenyum lemah, menatap mata emas Lin Feng yang perlahan kembali normal. "Aku tahu kau... akan bangun, Lin Feng. Kau terlihat gagah saat marah," godanya dengan suara lirih.
Wang Bao mendekat sambil mengelap darah dari gadanya, lalu tertawa lega meski tubuhnya penuh luka. "Luar biasa! Dua naga dalam satu tangan! Lin Feng, sepertinya mulai sekarang aku harus memanggilmu 'Dewa Naga'. Tapi hei, obati dulu kekasihmu itu, wajahnya sudah pucat!"
Lin Feng hanya bisa terdiam, memeluk Kirana dengan erat di tengah ruangan yang hancur, sementara di atas sana, pertempuran Guru Lu masih berkecamuk.
Lin Feng segera menyalurkan tenaga dalam murninya untuk menutup luka di bahu Kirana. Meski wajahnya masih menunjukkan sisa kemarahan naga, tangannya bergerak dengan sangat lembut. Setelah memastikan Kirana stabil, ia membantu gadis itu berdiri.
"Bisa kau berjalan?" tanya Lin Feng cemas.
Kirana mengangguk, meski wajahnya masih sedikit pucat. "Tenaga dalammu sangat hangat, Lin Feng. Aku siap. Kita tidak bisa membiarkan Guru Lu berjuang sendirian di atas."
Lin Feng menggenggam Pedang Naga Bumi di tangan kanan dan Pedang Naga Langit di tangan kiri. Kedua pedang itu kini bersenandung dalam harmoni yang sempurna. Bersama Kirana dan Wang Bao, mereka berlari menaiki tangga rahasia menuju permukaan.
Saat mereka keluar dari kuil, pemandangan di puncak Huashan sangat mengerikan. Langit berubah menjadi merah darah. Chen Hu terlihat bersandar di tiang kuil yang hancur dengan napas tersengal, sementara puluhan pendekar elit organisasi itu tewas bergelimpangan.
Di tengah lapangan utama, Guru Lu sedang terlibat duel maut yang menggetarkan dimensi. Lawannya adalah seorang pria bertopeng emas yang gerakannya sangat serupa dengan Guru Lu, namun dipenuhi dengan aura kegelapan yang pekat.
"Sudah lama sekali, Lu Ran," suara pria bertopeng itu terdengar parau. "Kau masih saja melindungi besi tua ini, sementara dunia membutuhkan kekuatan untuk bersatu."
Guru Lu terbatuk, darah mengalir di sudut bibirnya. "Kekuatan tanpa kebijaksanaan hanyalah kehancuran, Zhao Gao! Kau seharusnya sudah mati di jurang itu tiga puluh tahun yang lalu!"
Lin Feng terpaku mendengar nama itu. Zhao Gao adalah saudara seperguruan Guru Lu yang dikabarkan tewas karena mencoba mencuri rahasia Naga Langit di masa muda mereka. Ternyata, dialah dalang di balik The Sovereigns of the Dragon.
"GURU!" teriak Lin Feng.
Zhao Gao berbalik, matanya berkilat melihat dua pedang naga ada di tangan Lin Feng. "Luar biasa... Jadi anak ingusan ini yang berhasil menyatukan mereka? Sungguh ironis."
Zhao Gao melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, mengincar Lin Feng. Namun, sebelum ia sampai, sebuah kilatan putih menghadangnya. Kirana meskipun terluka, melakukan teknik Tarian Merpati Putih yang menciptakan dinding pertahanan energi.
BOOOM!
Kirana terhempas mundur, namun Lin Feng dengan sigap menangkap pinggangnya dan menggunakan momentum itu untuk melancarkan serangan balasan.
"Kirana, bantu aku mengunci gerakannya!" seru Lin Feng.
Kirana mengerti. Ia bergerak memutar, menggunakan selendang sutra putihnya yang dialiri Qi suci untuk mengikat ruang gerak Zhao Gao. Di sisi lain, Wang Bao menghantamkan gadanya ke tanah untuk menciptakan getaran yang mengganggu keseimbangan musuh.
Lin Feng melompat tinggi ke langit. Pedang Naga Langit di tangan kirinya memanggil petir, sementara Pedang Naga Bumi di tangan kanannya menarik kekuatan magma dari perut gunung.
"Jurus Pamungkas: Naga Kembar Menelan Cakrawala!"
Dua naga raksasa—satu biru langit dan satu merah bara—meluncur dari pedang Lin Feng, menyatu menjadi satu pusaran energi yang dahsyat. Zhao Gao mencoba menahan dengan perisai kegelapannya, namun penyatuan kekuatan dari dua naga dan dukungan dari aliran putih Kirana terlalu kuat.
"TIDAAAK! INI SEHARUSNYA MILIKKU!" raung Zhao Gao sebelum ledakan cahaya putih menelan seluruh puncak gunung.
Ketika debu mereda, Zhao Gao telah menghilang, hanya menyisakan topeng emasnya yang hancur berkeping-keping. Pasukan organisasi yang tersisa segera melarikan diri melihat pemimpin mereka kalah.
Guru Lu terduduk lemas, segera dihampiri oleh Chen Hu dan Wang Bao. Lin Feng mendarat perlahan, lalu dengan lembut ia menyarungkan kedua pedang itu. Ia langsung mendekati Kirana yang terduduk kelelahan.
"Kita berhasil," bisik Lin Feng sambil menyeka keringat di dahi Kirana.
Kirana tersenyum, lalu dengan berani ia menyandarkan kepalanya di bahu Lin Feng. "Kau luar biasa, Pendekar Naga. Tapi sepertinya pertempuran ini membuatku sangat lapar."
Wang Bao yang melihat itu langsung berteriak sambil tertawa keras, "Oalah! Tadi seperti dewa perang, sekarang seperti kucing jatuh cinta! Ayo Lin Feng, jangan cuma dipeluk, bawa dia ke dalam, kita rayakan kemenangan ini dengan arak terbaik Huashan!"
Wajah Lin Feng yang tadinya penuh wibawa sebagai penyelamat dunia, seketika kembali merah padam karena godaan Wang Bao.