Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.
Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.
konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?
Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telat selangkah saja
Tidak ingin menduga-duga sendiri, Amara akhirnya memutuskan untuk tidak peduli, Dia masih perlu memikirkan banyak hal, dan Dia ingin melakukan sesuatu agar diri nya pindah tugas menjadi dokter anak saja, karena menurutnya lebih ringan daripada harus mengalami hal seperti tadi membantu orang melahirkan.
Kini Amara sudah mengumpulkan beberapa dokter, untungnya tidak ada mantan suaminya, jadi wanita itu merasa tidak perlu berpura-pura.
"Aku ingin mengumumkan untuk pindah tugas menjadi dokter anak, apa ada yang keberatan?" ucap Amara berusaha untuk terlihat biasa saja.
"Aku keberatan, kamu kan dokter kandungan, bagaimana bisa menjadi dokter anak?" ucap Klaudia panjang lebar membuat Amara merasa terkejut dengan keberadaan iparnya itu.
"Aku direktur nya, Aku sendiri yang memutuskan nya, kenapa kakak iparnya tidak senang? takut tersaingi kah?" jawab Amara terlihat sedih.
"Sudah Klaudia itu memang tukang irian, jadi dokter Amira pindah bagian gak masalah, kita gak keberatan kok," dokter lain nya justru mengeroyok Klaudia, membuat Klaudia kalah telak tidak bisa melakukan apapun, wanita itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu dengan kesal.
Sementara Amara mengulum senyum merasa menang, kini wanita itu sudah mulai praktek dokter nya, banyak anak-anak mengantri untuk di periksa, membuat Amara merasa puas, sedangkan di bagian Klaudia tampak sepi, seperti nya anak-anak memang takut dengan wanita itu.
Saat sedang memeriksa pasien tiba-tiba Amara mendengar suara telepon berdering, membuat wanita itu menghentikan aktifitasnya, Dia melihat ada nama Lisa tertera di layar.
Akhirnya dengan menghela nafas panjang, dia mengangkat panggilan itu.
"Bos Saya tidak boleh masuk ke dalam, sepertinya terjadi sesuatu deh," ucap suara dari seberang telepon.
"Saya juga melihat Ibu tiri nya Tuan Glen, keluar dari perusahaan itu," lanjut nya membuat Amara mengerutkan keningnya heran, merasa tidak enak perasaan nya.
"Oke Aku segera kesana," jawab Amara langsung menutup panggilan nya.
Wanita itu langsung menatap ke arah pasien nya, lalu memanggil Klaudia membuat wanita itu bersungut-sungut mendekat.
"Kakak Ipar, pasien ku di lanjutkan oleh mu yah, Aku ada urusan mendesak," ucap Amara menepuk pundak Klaudia lalu langsung berjalan keluar dari ruangan itu, membuat Klaudia tidak sempat untuk menolak.
'Amara sialan, bisa-bisanya malah jadi melempar semua pekerjaan pada ku,' batin Klaudia mengumpat dia menatap pasien yang sedang antri panjang, lalu dengan terpaksa Dia pun menangani satu persatu.
Perjalanan panjang itu mengantarkan Amara ke perusahaan Yuda Group bagian cabang, perusahaan itu tidak kalah besar dengan kantor pusat di Amerika, wanita itu langsung berjalan menghampiri Lisa setelah turun dari taxi.
"Ayo kita masuk ke dalam," ajak Amara pada Lisa yang di ikuti wanita itu.
Setelah sampai di depan gerbang, dia langsung menunjukkan kartu kepemilikan perusahaan, membuat satpam penjaga langsung mempersilahkan Amara dan Lisa untuk masuk.
Amara dan Lisa langsung berjalan masuk, dan naik ke dalam lift menuju ruangan Daren, setelah sampai di lantai atas di sana langsung di sambut oleh sekertaris Daren yang tampak terlihat terkejut dengan kedatangan Amara karena bosnya bilang tidak ingin di ganggu.
"Tuan Daren gak mau di ganggu," ucap sekertaris itu merasa tidak enak hati, dia berdiri di depan pintu ruangan Daren.
"Tidak ada yang bisa menghalangi ku," jawab Amara dengan dingin, langsung menyingkirkan wanita itu dari pintu dan menendang pintu dengan kuat hingga pintu itu terbuka dan rusak.
Sungguh kekuatan Amara Bener-Bener di atas rata-rata, sedangkan di dalam ruangan Daren tampak kaget dia langsung segera berdiri dan beranjak dari tubuh seorang gadis yang tadi sedang di cumbu nya.
"Daren Bagas Rishmateho, Kamu sungguh menjijikkan, ini perusahaan bukan tempat mu untuk melakukan perbuatan bejat mu!" seru Amara dengan tersulit emosi, membuat Daren langsung berjalan ke arah sepupu nya itu, sedangkan gadis itu langsung membenarkan kancing bajunya dan segera lari dari ruangan itu merasa selamat.
"Amira, ngapain sih kamu ikut campur segala? mending kamu urusin deh pasien mu saja," balas Daren merasa kesal karena kesenangan nya terganggu.
"Gak bisa, Yuda Group itu tanggung jawab ku," ucap Amara menatap Daren dengan tatapan tajam.
"Ini laporan kantor pusat, perhatikan baik-baik, apa yang sudah kau lakukan selama ini di kantor cabang? Sampai berdampak pada kantor pusat?" Amara kemudian langsung melempar map ke atas meja membuat pria itu berjalan ke arah meja dan membaca keseluruhan nya, Di mana hasil perbuatannya berdampak ke kantor pusat.
"Jadi kamu bukan Amira? tapi Amara?" Daren bukan nya menjawab justru malah menatap Amara dengan menyelidik.
"Iya dan Aku CEO Yuda Group," Jawab Amara datar.
"Ha-ha-ha kamu kan gila? Mana mungkin kamu CEO Yuda Group? Jelas-jelas CEO Yuda Group itu Quensa Wolker," Daren malah terkekeh dia merasa ucapan Amara adalah candaan, karena pria itu cuma menjabat sebagai wakil CEO dan hanya tahu kalo perusahaan Yuda Group sudah di ganti pemimpin tanpa tahu bahwa itu adalah sepupu nya.
"lihat ini," Amara menunjukkan kartu identitasnya, dan kartu kepemilikan perusahaan sebagai CEO membuat pria itu langsung terdiam merasa tidak percaya.
"Kamu telah membuat perusahaan kacau balau, jadi sebagai hukuman nya, Aku ingin kamu di turunkan jabatan," Amara berucap dengan tegas membuat Daren terkejut merasa tidak terima.
"Amara, jangan begitu dong kita ini saudara, masa kamu tega sih," Daren kini memohon membuat Amara hanya menatapnya dengan tatapan sinis, Dia juga mengingat kalo Daren juga sama seperti Amera pembuat onar, cuma bedanya Daren tidak mengusik nya.
"Dalam dunia kerja tidak peduli saudara," jawab Amara sambil tersenyum semrik, membuat Daren berjalan keluar dengan bersungut-sungut merasa tidak punya harapan, terlebih tadi dia hampir memerawani seorang gadis juga harus gagal.
"Tunggu," panggil Amara saat mengingat sesuatu, membuat Daren berjalan mendekat dengan sumringah karena berharap sepupunya berubah pikiran.
"Apa kau berubah pikiran? dan kasihan dengan sepupu tampan mu ini?" tanya Daren dengan antusias.
"Tidak, cuma ingin tahu, apa yang Laura dan Wisnu lakukan di sini?" jawab Amara bertanya karena merasa penasaran dengan apa yang di lakukan mertua tiri nya.
"Hem, ya sudah, Aku gak akan kasih tahu," Daren yang merasa tidak ada harapan hendak berjalan keluar tanpa berniat memberi tahu.
"Cih menyebalkan," cibir Amara mengendus kesal.
"Ya sudah kau masih bisa menjadi wakil CEO asal harus menerima hukuman, kerja di luar selama seminggu, gimana?" putus Amara memberi kesempatan, membuat Daren mendengus karena merasa kesempatan itu tidak menguntungkan bagi nya.
"Ya udah kalo gitu, Aku kasih tahu," jawab Daren setelah berpikir sejenak, karena dia tidak mau sampai ke perusahaan Ayahnya yang menurut nya jauh lebih repot karena harus bersinggungan dengan kakaknya.
Daren pun menceritakan tujuan Laura dan Wisnu datang untuk membeli 20 persen saham Bintang Group, Daren pun setuju untuk menjual nya dengan imbalan seorang gadis yang masih suci.
Dia juga menceritakan tujuan nya untuk menjatuhkan Glen, karena Daren tidak suka dengan Glen maka pria itu setuju untuk menjual 20 persen saham itu.
"Bodoh, hanya seorang gadis kau merugikan orang lain," umpat Amara dengan kesal.
"Telat selangkah saja, sudah membuat Dia langsung bergerak cepat," lanjut nya sambil memukul kepala Daren menggunakan Map yang di pegang nya, membuat Daren hanya meringis kesakitan.
BERSAMBUNG