Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Terbangun dalam kehancuran
Gejala aneh yang mulai muncul di dalam tubuhnya seolah menjadi pertanda bahwa badai besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Anindira membasuh wajahnya berkali-kali di depan wastafel kamar mandi yang remang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang nampak sangat menyedihkan dengan lingkaran hitam di bawah mata yang membengkak.
Rasa mual yang menyerang sejak pagi tadi membuat seluruh persendiannya terasa lemas dan tidak bertenaga sama sekali. Ia mencoba menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar di balik dada. Pikirannya melayang kembali pada bayangan pria misterius yang memberikan kancing perak dengan ukiran mewah itu.
"Apa yang terjadi denganku sebenarnya?" bisik Anindira dengan suara yang nyaris hilang tertelan sunyi.
Pintu kamarnya diketuk dengan sangat keras hingga ia tersentak dan hampir menjatuhkan gelas kaca di sampingnya. Ia segera mengeringkan wajahnya dengan handuk kasar dan berusaha mengatur ekspresi wajah agar tidak nampak terlalu kacau. Dengan langkah yang berat dan ragu-ragu ia berjalan menuju pintu kayu yang masih bergetar akibat hantaman tangan seseorang.
"Buka pintunya sekarang juga sebelum ayah mendobraknya!" teriak Sarah dari balik pintu dengan nada yang penuh ancaman.
Anindira memutar kunci dengan perlahan dan melihat saudara tirinya itu berdiri dengan tangan bersedekap di depan dada. Sarah langsung masuk ke dalam kamar tanpa izin dan mulai menggeledah tumpukan pakaian kotor milik Anindira di sudut ruangan. Matanya yang tajam seolah sedang mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menghancurkan reputasi Anindira lebih jauh lagi.
"Apa yang kamu cari di kamarku, Sarah?" tanya Anindira sambil menahan amarah yang mulai membakar hatinya.
"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak membawa barang terlarang atau rahasia kotor dari pria semalam," jawab Sarah dengan senyum licik yang sangat menyebalkan.
Sarah menarik sebuah kain gaun yang robek dari dalam keranjang dan mengangkatnya tinggi-tinggi dengan ekspresi jijik yang sangat jelas. Ia tertawa kecil saat melihat noda yang tertinggal pada kain sutra yang dulu sangat indah dan mahal itu. Anindira merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh wanita yang seharusnya menjadi pelindungnya di rumah yang besar ini.
"Kembalikan itu padaku, kamu tidak berhak menyentuh barang-barang pribadiku!" bentak Anindira sambil berusaha merebut gaun itu kembali.
"Ayah harus melihat bukti kehancuranmu ini agar dia tahu bahwa putri kesayangannya sudah menjadi wanita murahan," ucap Sarah sambil menghindar dengan gerakan yang sangat lincah.
Pergumulan kecil terjadi di tengah kamar yang sempit hingga tanpa sengaja sebuah benda logam jatuh dari saku gaun tersebut ke lantai. Bunyi denting logam perak yang menghantam ubin terdengar sangat nyaring di tengah keheningan yang mencekam itu. Keduanya terpaku menatap sebuah kancing perak dengan ukiran lambang keluarga yang sangat asing namun terlihat sangat berkuasa.
Sarah segera memungut kancing itu sebelum Anindira sempat meraihnya dengan jemari yang gemetar hebat. Ia menatap benda itu dengan mata yang membelalak lebar seolah baru saja menemukan harta karun yang sangat berharga. Kecurigaan dan rasa iri mulai terpancar jelas dari raut wajah Sarah yang kini nampak sangat tegang dan penasaran.
"Dari mana kamu mendapatkan benda mewah ini?" tanya Sarah dengan suara yang terdengar sangat tajam dan penuh penekanan.
Anindira hanya terdiam membisu dengan keringat dingin yang mulai membasahi seluruh punggungnya yang terasa sangat kaku. Ia tahu bahwa identitas pria itu adalah kunci sekaligus ancaman yang bisa menghancurkan sisa hidupnya yang sudah berantakan. Ia harus mendapatkan kancing itu kembali sebelum Sarah memberikan benda tersebut kepada ayah mereka yang sangat keras kepala.
"Berikan padaku, itu bukan milikmu dan kamu tidak tahu apa-apa tentang benda itu," tuntut Anindira dengan napas yang mulai memburu.
"Aku akan menyimpan ini sebagai jaminan agar kamu tidak berani macam-macam denganku mulai sekarang," ujar Sarah sambil memasukkan kancing perak itu ke dalam saku pakaiannya sendiri.
Anindira merasa dunianya benar-benar runtuh untuk kedua kalinya dalam waktu yang sangat singkat dan berdekatan. Ia merasa kehilangan satu-satunya petunjuk yang bisa membantunya mencari tahu siapa ayah dari janin yang mungkin sedang tumbuh di rahimnya. Rasa putus asa yang sangat dalam menyelimuti hatinya hingga ia merasa ingin menyerah pada keadaan yang sangat tidak adil ini.
Sarah pergi meninggalkan kamar dengan tawa kemenangan yang menggema di sepanjang lorong rumah yang sunyi dan dingin. Anindira jatuh terduduk di atas lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang terasa sangat dingin. Ia menangis tanpa suara karena takut tangisannya akan memancing kemarahan ayahnya yang sedang berada di ruang kerja.
Waktu terasa berjalan sangat lambat bagi Anindira yang kini hanya bisa meringkuk di sudut tempat tidur yang sangat luas. Ia merasa seperti seorang tawanan di rumahnya sendiri yang dulu terasa sangat hangat dan penuh dengan tawa kebahagiaan. Setiap kali ia menutup mata, bayangan pria misterius itu selalu muncul dan menghantuinya dengan tatapan mata yang sangat tajam.
Ia harus segera menemukan cara untuk menghilangkan semua jejak malam itu sebelum semuanya menjadi terlambat untuk diperbaiki. Pikirannya mulai menyusun rencana untuk melenyapkan semua bukti fisik yang masih tersisa di dalam kamarnya yang sunyi ini. Rencana untuk memusnahkan sisa-sisa kehancurannya menjadi satu-satunya fokus utama yang tersisa di dalam benak Anindira yang sedang kalut.