Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Giorgio
Selagi Lana pergi, Sarah menyentuh bahu Fian. "Dimaklumi aja ... dia masih baru dalam kehidupanmu. Dia sendiri mungkin juga punya banyak pengorbanan yang kamu tidak tahu agar bisa bersamamu. Yang penting dia mengurusmu, ibu sudah lega."
"Ibu." Fian menatap ibunya yang mengkhawatirkan dirinya.
Sarah malah merasa senang, Fian mau diurus makannya oleh Lana karena biasanya di rumah Fian sangat mandiri. Dia bukan tipe orang yang suka bermanja-manja. Karena itu, melihat Fian mau diurus Lana, begitu melegakan bagi Sarah. Berarti setidaknya Fian mempercayakan dirinya pada Lana.
Fian pun senang melihat ibunya terlihat bahagia. Berarti usahanya meyakinkan ibu dan ayahnya berhasil.
"Mas, ini jusnya. Masih dingin jadi minumnya pelan-pelan aja." Lana meletakkan gelas berisi jus alpukat di dekat piring suaminya. Ia sendiri duduk di samping Fian dengan wajah sumringah.
Kedua orang tua Fian pun senang melihat senyum Lana. Berarti pernikahan mereka bahagia.
"Makasih ya, Bu. Repot-repot bawa sarapan ke sini," sahut Lana lagi. Ia mulai mengambil nasi untuk piringnya.
"Semoga kamu juga suka," ujar Sarah yang sedang mencicipi masakannya sendiri.
"Jadi bagaimana, Yah, dengan kantor sekarang?" Fian melirik ayahnya.
"Kamu gak usah pusing. Sejauh ini tidak ada masalah yang serius. Masih bisa ayah handle semua."
Fian hanya menatap ayahnya dengan perasaan yang entah. Seharusnya ia bisa menggantikan ayahnya bekerja. Sudah seharusnya sang ayah pensiun dan menikmati hari tuanya, tapi kecelakaan itu malah membuat dirinya lumpuh hingga tidak bisa bekerja di kantor.
"Padahal, bisa lho, kerja online," sahut Lana tiba-tiba.
"Apa?" Fian menoleh pada istrinya.
"Oh, tidak perlu." Hawari menatap anaknya. "Tidak ada yang penting. Yang paling penting sekarang, kamu fokus pada kesehatanmu dulu. Bagaimana perkembangan kesehatanmu sekarang? Sudah lebih baik?"
"Sebenarnya ...."
"Ah, kata dokter, asal rajin latihan. Aku mungkin bisa berjalan lagi." Fian melirik istrinya yang hampir saja membocorkan pada orang tuanya bahwa sebelumnya ia tidak pernah datang lagi ke rumah sakit memeriksakan keadaan dirinya.
"Eh, iya, benar." Lana melirik suaminya dan ia mengerti apa yang dikhawatirkan Fian.
"Oh, syukurlah. Terus saja berlatih, agar kamu cepat sembuh."
"Do'akan saja, Yah, Bu, biar Fian cepat sembuh," sahut Fian lagi.
"Aamiin," ucap Sarah.
***
Seorang wanita bule berambut hitam sebahu, duduk di samping sebuah meja kecil dekat jendela sebuah kafe yang menghadap ke laut. Wajahnya masih cantik di usianya yang tidak lagi muda. Ia tengah meletakkan benda pipih miliknya di telinga sambil berbicara bahasa Itali. "Sayang, kita sepertinya akan kembali ke rencana awal lagi karena rencana kedua kita kembali gagal. Tapi rencana awal juga sama sulitnya. Hh, kenapa ada yang mengiriminya surat kaleng? Siapa orang ini, sebenarnya? Apakah ada pengkhianat di tempatmu?"
"Justru aku curiga, ada pengkhianat di tempatmu. Tidak ada yang mengetahui ini kecuali orang-orangku. Well ... biar aku selidiki juga orang-orangku," sahut suara berat seorang pria di ujung sana. "Yang penting sekarang kamu bujuk terus suamimu untuk menjadikan Giorgio sebagai penerus Fiore. Setelah itu, baru kamu serahkan segala urusannya padaku."
"Baiklah, Sayang. Mmh ... aku sangat merindukan pelukanmu. Kapan kita bisa bertemu lagi?" ucap wanita itu dengan genit.
"Sabar ya, Sayang. Jangan sampai hubungan kita ketahuan. Aku akan mengatur waktu untuk kita bisa bertemu lagi."
"Mmh ...." Wanita itu mendessah panas. "Ya sudah. Sampai nanti." Ia mematikan ponsel dan meletakkannya di atas meja. Sambil mengangkat cangkir teh, ia melihat senja yang mulai temaram dari jendela kafe.
"Mama!" Seorang pria muda datang memakai kemeja tangan panjang putih bergaris-garis biru dengan celana pantalon berwarna hitam. Ia menghampiri wanita itu.
"Oh, anakku. Dari mana saja kamu? Mama menunggu sampai setengah jam, Giorgio. Padahal teman-teman arisan mama semua sudah pulang." Wanita itu menangkup wajah anaknya sebentar.
"Mama, maaf, Ma. Tadi aku nganter pacar dulu. Pas balik, terjebak macet lagi."
"Ya sudah. Mama mau pulang sekarang." Wanita ini mengambil ponsel dan tas sembari berdiri diikuti sang anak. "Giorgio, apa Daddy sudah di rumah?"
"Aku belum pulang, Mama, tapi 'kan biasanya belum."
"Syukurlah kalau belum, tapi Daddy-mu itu tidak bisa diprediksi. Bisa saja tiba-tiba dia sudah pulang, dan dia pasti menanyakan kegiatan kita di luar, kalau ternyata dia pulang duluan." Wanita itu menghela napas sambil geleng-geleng kepala.
"Ya sudah, kita cepat pulang saja!" Giorgio bergegas melangkah ke parkiran mendahului ibunya dan mengarahkan sebuah remote kecil ke sebuah mobil mewah berwarna hitam di hadapan. Terdengar bunyi kunci pintu mobil terbuka berbarengan.
Wanita itu bersegera mengambil posisi duduk di depan, lalu menarik seatbelt untuk pengaman. "Jangan nge ...."
Tiba-tiba mesin mobil menyala dan dengan cepat melesat ke pos pintu keluar.
"Giorgio!!"
***
"Viviana!"
Wanita paruh baya yang baru saja datang itu menghela napas karena suaminya ternyata sudah pulang duluan.
"Adrian. Aku hanya pergi arisan sebentar. Ada apa?"
"Aku sudah dua jam di rumah dan kamu belum juga pulang. Kenapa bisa pulang bareng Giorgio?" Adrian melirik Giorgio.
"Karena kamu selalu bertanya di mana Giorgio, setiap kali kita bertemu!" ucap Viviana yang tidak bermaksud berteriak, tapi Adrian tidak melihat situasi dirinya yang baru saja pulang dan kelelahan. Ia duduk di sofa sambil mengambil napas panjang.
"Wajar, kan? Bukankah kamu ibunya? Kamu harusnya tahu, ke mana saja dia pergi!" Adrian, seperti biasa, bertanya dengan menggebu-gebu. "Berbahaya bagi Giorgio, bepergian sendiri. Kita ini keluarga mafia. Jangan sampai ia terlibat keributan di luar sana tanpa pengamanan."
Viviana menatap wajah suaminya. "Dia begitu karena kamu tidak memberinya posisi sebagai penerus Fiore, karena itu anak ini jadi resah dan mencari kesenangan di luar sana."
"Lalu, kamu?" Pria paruh baya berbrewok tipis itu menunjuk istrinya dengan mengangkat dagu.
"Apa?"
"Setengah jam yang lalu, kamu menghubungi siapa? Kenapa lama sekali kamu di teleponnya?" Pria itu bertelak pinggang.
Viviana terkejut dan sedikit panik tapi ia tak kehabisan akal. "Eh, aku menelepon Giorgio karena dia lama sekali menjemputku. Ternyata dia kejebak macet di jalan."
Pada saat itu, Giorgio, pria bermata hazel, masuk sambil mengusap rambutnya yang hitam kecoklatan. Ia bingung ketika kedua orang tuanya menatapnya. Karena malas berurusan dengan keduanya, ia melangkah pergi ke kamar.
"Mmh, makanya pantau anak itu. Dia pergi ke sembarang tempat. Bagaimana aku bisa bergantung padanya bila kerjanya main-main terus."
"Makanya ... beri dia kesempatan dan tanggung jawab, agar dia bisa menunjukkannya padamu dia bisa. Giorgio 'kan anakmu juga," bujuk Viviana yang berdiri meraih tangan suaminya. Ia tersenyum lembut.
Adrian menghela napas dalam. Ia menatap istrinya sekali lagi. "Baiklah. Mulai besok, Giorgio ikut aku agar aku bisa melihat kemampuannya. Aku beri dia waktu selama dua bulan ini, dan setelah itu aku akan mengumumkannya."
Viviana tersenyum bahagia. Ia bersandar pada bahu kokoh pria itu dengan penuh kehangatan. Sebentar lagi impiannya akan jadi kenyataan.
***
"Pintar juga sandiwaramu," dengus Fian melirik istrinya di sampingnya.
"Sandiwara? Sandiwara apa?"
"Tentu saja untuk menenangkan kedua orang tuaku."
Lana berbalik menghadap suaminya. "Aku tidak sedang bersandiwara kok, karena aku menghormati kedua orang tuamu. Kalau bukan karena mereka, aku juga gak bakal mau nikah sama kamu." Lana beranjak berdiri.
"Apa katamu!?" Mata Fian terbelalak. "Tidak mau?"
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp