NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Denyut Terakhir

​Lampu merah di leher Laila berkedip dengan irama yang menghipnotis, seolah menghitung mundur sisa hidup mereka. Di dalam gudang tua Marunda yang berbau karat dan air laut, Agil mendekap Laila yang terus menggigil. Suara deru mesin mobil dari kejauhan menandakan bahwa dua faksi—pembunuh bayaran Baskoro dan unit militer Rina—semakin dekat.

​"Mas... pergilah," bisik Laila dengan suara yang nyaris hilang. "Alat ini... aku bisa merasakannya. Setiap detiknya seperti ada jarum listrik yang menusuk sarafku. Jika kamu tetap di sini, kita berdua akan tertangkap."

​"Diam, Laila. Jangan katakan itu," Agil memeriksa cakram kecil itu dengan senter ponselnya. Ia teringat sedikit tentang kursus teknik elektro yang sempat ia ambil saat kuliah. Alat ini adalah Neural-Shocker berbasis frekuensi. Baskoro memang gila, dia menggunakan teknologi prototipe militer hanya untuk mengikat menantunya.

​Tiba-tiba, sebuah pesan video masuk ke ponsel Agil. Wajah Baskoro muncul dengan latar belakang ruang kerjanya yang mewah.

​"Agil, kau punya waktu lima belas menit sebelum baterai alat itu memasuki fase overload. Jika itu terjadi, Laila akan mengalami kelumpuhan permanen. Pilihanmu tetap sama: kembali ke rumah dengan buku itu, atau saksikan bunga cantikmu layu selamanya."

​Cahaya dalam Kegelapan

​Di tengah keputusasaan, sebuah bayangan muncul dari balik tumpukan kayu. Agil hampir saja menarik pelatuk pistolnya jika ia tidak mengenali sosok itu.

​"Gito!"

​Gito muncul dengan luka tembak di lengan kirinya, namun matanya tetap tajam. "Pak Agil, saya berhasil lolos dari pelabuhan. Saya membawa sesuatu."

​Gito menyerahkan sebuah tas kecil berisi peralatan mekanik dan sebuah alat yang tampak seperti pemotong frekuensi (signal jammer) rakitan. "Saya tahu Baskoro. Dia selalu menggunakan teknologi radio untuk kendali jarak jauh. Jika kita bisa mengacaukan sinyalnya, mungkin kita punya waktu beberapa menit untuk melepas cakram itu secara manual."

​"Tapi risikonya besar, Gito," suara Agil bergetar. "Jika frekuensinya tidak stabil, alat itu bisa langsung meledak."

​"Kita tidak punya pilihan lain, Pak. Pasukan Nyonya Rina sudah menutup akses jalan keluar utama. Mereka akan menyerbu gedung ini dalam sepuluh menit."

​Operasi di Tengah Kepungan

​Agil membaringkan Laila di atas meja kayu yang kotor. Dengan tangan yang gemetar, ia mulai membuka tas peralatan. Ia harus melakukan "operasi" darurat untuk memotong sirkuit penghubung tanpa memicu sensor tekanan.

​"Laila, tatap mataku," perintah Agil. "Jangan lihat alat itu. Ingat saat kita pertama kali bertemu di kampus? Saat aku menjatuhkan kopimu?"

​Laila mencoba tersenyum di tengah rasa sakitnya. "Kamu... kamu sangat ceroboh saat itu, Mas."

​"Aku akan selalu ceroboh jika itu demi kamu. Sekarang, tetaplah bernapas."

​Agil mulai membedah casing luar cakram tersebut menggunakan obeng presisi. Di luar, suara tembakan mulai terdengar. Pasukan Rina mulai terlibat baku tembak dengan pengawal pribadi Baskoro di area parkir gudang. Peluru-peluru nyasar mulai menembus dinding seng gudang, menciptakan lubang-lubang cahaya kecil yang mengerikan.

​"Gito, nyalakan jammer-nya! Sekarang!" teriak Agil.

​Begitu Gito menyalakan alat pengacau sinyal, lampu merah di leher Laila berubah menjadi kuning dan berkedip liar. Laila menjerit kesakitan saat kejutan listrik kecil mulai menyerang syarafnya.

​"Tahan, Sayang! Tahan!" Agil memotong kabel merah tipis di dalam cakram tersebut.

​Satu detik... dua detik...

​Lampu itu padam. Cakram tersebut terlepas dari kulit leher Laila yang memerah. Agil segera membuang alat itu jauh-jauh tepat sebelum cakram itu mengeluarkan percikan api dan terbakar.

​Pelarian Tiga Penjuru

​"Berhasil!" Gito menarik napas lega. Namun kegembiraan mereka singkat. Pintu gudang didobrak paksa.

​Bukan polisi, melainkan Hendra—pengawal Agil di London yang ternyata masih menjadi agen ganda Baskoro. Ia menodongkan senapan otomatis ke arah mereka.

​"Berikan bukunya, Agil. Tuan Besar tidak ingin kalian mati, dia hanya ingin asetnya kembali," ujar Hendra dingin.

​Namun, sebelum Hendra sempat melangkah maju, sebuah ledakan kecil meruntuhkan atap di belakangnya. Pasukan militer berpakaian hitam—orang-orang Rina—masuk melalui celah tersebut. Terjadilah baku tembak segitiga di dalam gudang yang sempit itu.

​"Lari ke arah dermaga!" Gito berteriak sambil membalas tembakan.

​Agil memapah Laila, berlari di antara tumpukan kontainer tua menuju pinggiran laut. Di sana, sebuah perahu nelayan kecil sudah menunggu—rencana cadangan terakhir yang disiapkan Gito.

​Pengorbanan Sang Pelindung

​Saat mereka hampir mencapai perahu, sebuah peluru mengenai bahu Gito. Pria itu terjatuh, namun ia tetap menembak untuk menahan pasukan yang mengejar.

​"Gito! Ayo!" Agil mencoba berbalik untuk menjemputnya.

​"Pergi, Pak! Bawa Ibu Laila pergi!" teriak Gito dengan napas tersenggal. "Jika Anda tetap di sini, semua pengorbanan kita sia-sia. Hancurkan Baskoro dengan bukti yang Anda punya! Cepat!"

​Agil ragu sejenak, namun Laila menarik tangannya. "Mas, Gito benar. Kita harus selamatkan bukti ini."

​Dengan berat hati, Agil menghidupkan mesin perahu. Ia melihat Gito untuk terakhir kalinya yang sedang meledakkan sebuah tangki bahan bakar di dermaga untuk menciptakan dinding api yang menghalangi para pengejar. Ledakan itu menyinari langit malam Marunda dengan warna oranye yang mencekam.

​Samudra Pengampunan

​Perahu kecil itu membelah ombak di kegelapan laut utara Jakarta. Agil memeluk Laila yang kini tertidur karena kelelahan luar biasa di dalam dek kecil. Di tangannya, Agil masih memegang buku catatan Surya Wijaya—buku yang telah merenggut begitu banyak hal darinya.

​Ia membuka ponselnya. Deadline publikasi data tinggal tiga menit lagi.

​Agil menatap layar ponselnya. Jika ia membiarkan data itu terbit, ayahnya akan hancur, ibunya akan dipenjara, tapi ia juga akan menjadi buronan selamanya. Namun, jika ia membatalkannya, ia tidak punya lagi senjata untuk melawan.

​"Mas..." Laila terbangun, menatap Agil dengan mata yang kini mulai jernih kembali. "Apa pun keputusanmu, aku bersamamu. Jangan biarkan kebencian pada Papa mengubahmu menjadi monster yang sama dengannya."

​Agil terdiam. Ia melihat ke arah cakrawala di mana matahari mulai akan terbit. Ia menyadari satu hal: Baskoro ingin Agil mempublikasikan data itu agar seluruh dunia kacau, sehingga Baskoro bisa menghilang di tengah kekacauan tersebut.

​Agil kemudian melakukan sesuatu yang tidak diduga. Ia tidak membatalkan, tapi ia mengubah alamat pengirimannya. Ia mengirimkan seluruh data itu ke satu-satunya orang yang tidak bisa dibeli oleh Baskoro: seorang jaksa muda yang jujur yang pernah ia kenal saat kuliah, yang kini sedang menangani kasus korupsi kelas kakap.

​Setelah itu, Agil melempar ponselnya ke tengah laut.

​"Kita tidak akan lari lagi, Laila," ucap Agil tegas. "Kita akan menuju pelabuhan berikutnya, menyerahkan diri, dan memberikan kesaksian. Kita akan menghancurkan Papa melalui sistem yang ia pikir bisa ia beli."

​Perjalanan di atas air itu bukan lagi pelarian, melainkan perjalanan menuju pengadilan yang sesungguhnya. Agil tahu risikonya: ia mungkin akan dipenjara, tapi setidaknya ia akan masuk ke sana sebagai manusia merdeka, bukan sebagai bidak catur orang tuanya.

​Namun, di kediaman Baskoro, sang raksasa sedang menatap layar monitornya yang kini gelap. Ia tersenyum sinis.

​"Kau pikir dengan menyerahkan diri kau menang, Agil? Kau baru saja membuka gerbang penjara yang kusewa khusus untukmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!