Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 : Benang Merah Gairah
Malam di Madrid selalu punya dua wajah dalam satu waktu, kemewahan yang gemerlap dan kegelapan yang mengintai. Di lantai teratas penthouse eksklusif milik Rafael Montenegro, suasana terasa begitu sunyi hingga detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah.
Alicia Valero berdiri di balkon, membiarkan angin malam menyapu gaun tidur sutranya yang tipis. Ia baru saja memenangkan pertempuran hukum melawan Isabel, namun jiwanya merasa belum sepenuhnya tenang. Ada sesuatu dalam udara malam ini yang terasa berat, seolah-olah takdir sedang menahan napas sebelum sebuah badai besar datang menerjang.
Tiba-tiba, sepasang lengan yang kuat melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma parfum kayu cendana dan wiski mahal menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Rafael.
"Kau terlalu banyak berpikir, Alicia," bisik Rafael, bibirnya menyentuh tengkuk Alicia, mengirimkan getaran elektrik ke seluruh tubuh wanita itu.
"Aku merasa seperti sedang berdiri di atas jaring laba-laba, Rafael," jawab Alicia pelan, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Rafael yang kokoh. "Kita sudah menyingkirkan mereka, tapi kenapa aku merasa bayangan Santiago masih ada di sudut-sudut ruangan ini?"
Rafael memutar tubuh Alicia hingga mereka berhadapan. Mata gelap Rafael menatap tajam, mengunci pandangan Alicia dengan intensitas yang nyaris menyakitkan. "Karena kau masih memberinya ruang di pikiranmu. Malam ini, aku akan menghapus sisa-sisa itu. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun dari perhatianmu dengan pria yang sudah menjadi debu itu."
Rafael membimbing Alicia menuju tempat tidur besar yang diselimuti sprei sutra hitam. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar memberikan semburat perak pada kulit mereka. Ketegangan di antara mereka malam ini terasa berbeda—lebih panas, lebih menuntut, dan penuh dengan aura kekuasaan.
"Berlututlah di depanku, Alicia," perintah Rafael, suaranya rendah namun penuh otoritas.
Alicia tertegun sejenak. Matanya menatap Rafael dengan campuran antara pemberontakan dan hasrat yang membara. Sebagai CEO Solera, ia tidak pernah berlutut pada siapapun. Namun di kamar ini, di hadapan pria ini, aturan dunia luar tidak lagi berlaku.
"Kau menuntut kepatuhan total?" tanya Alicia, suaranya serak.
"Aku menuntut penyerahan diri yang utuh," balas Rafael. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Alicia layaknya seorang raja yang menanti upeti dari daerah jajahannya. "Kau adalah ratu di kantormu, tapi di sini, kau adalah milikku. Aku ingin kau melepaskan semua kendali itu. Berikan aku hatimu, jiwamu, dan kepatuhanmu tanpa syarat."
Alicia perlahan mengikuti perintah itu. Ia berlutut di antara kedua kaki Rafael, tangannya gemetar saat menyentuh lutut pria itu. Air mata emosi menggenang di matanya—bukan karena sedih, melainkan karena rasa lega yang luar biasa saat ia akhirnya bisa melepaskan beban berat sebagai wanita yang harus selalu kuat.
"Aku... aku milikmu, Rafael," bisik Alicia.
Rafael mencengkeram rahang Alicia dengan lembut namun tegas, memaksa wanita itu mendongak. "Katakan lagi. Aku ingin mendengarnya sampai telingaku sakit karena kejujuranmu."
"Aku patuh padamu. Ambillah segalanya," rintih Alicia.
Negosiasi malam itu berubah menjadi tarian gairah yang paling intens yang pernah mereka alami. Rafael tidak memberikan ampun; ia menuntut setiap jengkal perhatian Alicia. Sentuhan-sentuhannya adalah bentuk kepemilikan, dan ciumannya adalah segel yang mengunci takdir mereka. Alicia tenggelam dalam lautan rasa yang membuatnya lupa pada dunia, lupa pada pengkhianatan, dan lupa pada ketakutannya sendiri.
Di tengah pelukan panas itu, Alicia merasa benar-benar hidup. Kekejaman dunia bisnis seolah memudar, digantikan oleh kehangatan tubuh Rafael yang memberinya perlindungan sekaligus tantangan.
Namun, di luar kemewahan itu, di sebuah gang gelap yang menghadap langsung ke arah balkon penthouse Rafael, seorang pria berdiri diam dalam bayang-bayang. Ia mengenakan jaket hoodie gelap dan celana jin yang sudah mulai luntur. Di tangannya, ia memegang sebuah teropong jarak jauh dan sebuah botol plastik berisi cairan yang berbau menyengat.
Itu adalah Santiago.
Santiago tidak menggelandang seperti yang dibayangkan banyak orang. Dengan sisa-sisa hartanya yang disembunyikan di akun rahasia, ia kini hidup dengan standar ekonomi menengah—cukup untuk menyewa apartemen kecil dan membeli peralatan untuk rencananya. Wajahnya telah berubah; ia menumbuhkan janggut kasar, dan matanya kini hanya memancarkan kegilaan.
"Kalian terlihat sangat bahagia di atas sana," gumam Santiago, suaranya terdengar seperti gesekan amplas. Ia melihat bayangan Alicia dan Rafael yang bercumbu di balik jendela besar yang tertutup tirai tipis.
Rasa iri membakar dadanya lebih panas dari api manapun. Ia mengingat bagaimana Alicia dulu menatapnya dengan penuh cinta, dan kini tatapan itu diberikan kepada pria yang telah menghancurkan hidupnya. Ia mengingat bagaimana ia dulu memiliki segalanya, dan kini ia hanya menjadi penonton dalam kesuksesan orang lain.
"Kalian pikir ini sudah berakhir? Kalian pikir kalian bisa tidur dengan nyenyak setelah membuangku ke tempat sampah?" Santiago meraba saku jaketnya, memastikan pemantik apinya masih ada di sana.
Ia telah merencanakan ini selama berminggu-minggu. Ia tahu jadwal keamanan gedung itu, ia tahu titik buta kamera pengawas, dan ia tahu cara mematikan sistem alarm kebakaran dari ruang bawah tanah. Santiago tidak lagi menginginkan uang atau perusahaan. Ia hanya menginginkan satu hal: Kehancuran yang abadi.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, Alicia, maka tidak ada orang lain yang boleh. Dan kau, Montenegro... kau akan menjadi abu bersamanya," bisik Santiago dengan tawa kecil yang mengerikan.
Ia melihat sebuah jeriken bensin di samping kakinya. Malam ini, ia tidak akan pulang ke apartemennya. Malam ini, ia akan membawa "hadiah" terakhir untuk mantan istrinya dan kekasih barunya.
Kembali ke dalam kamar Apartemen, Alicia tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Rafael. Napasnya terengah-engah, dan keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Ada apa, Alicia?" tanya Rafael, suaranya masih berat oleh gairah.
"Aku... aku merasakan sesuatu yang salah," bisik Alicia, ia menutupi tubuhnya dengan selimut. "Seperti ada seseorang yang sedang menatap kita. Rafael, aku takut."
Rafael bangkit dan berjalan menuju jendela. Ia menyibak tirai sedikit dan menatap ke arah jalanan di bawah yang mulai sepi. Ia tidak melihat siapapun, hanya deretan lampu jalan yang berkedip. "Tidak ada siapa-siapa, Sayang. Hanya imajinasimu yang terlalu lelah. Kemarilah."
Rafael menarik Alicia kembali ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan wanita itu dengan ciuman lembut di kening. Namun, di dalam hatinya, Rafael juga merasakan sedikit kegelisahan. Ia adalah pria yang dibesarkan dalam bahaya, dan instingnya jarang sekali salah. Namun, keinginannya untuk mencintai Alicia malam ini mengalahkan rasa waspadanya.
"Jangan biarkan apapun mengganggu kita," kata Rafael. "Malam ini hanya ada aku dan kau. Patuhlah padaku, dan aku akan menjagamu dari apapun yang ada di luar sana."
Alicia mengangguk pelan, mencoba mempercayai kata-kata Rafael. Mereka kembali larut dalam gairah yang semakin memuncak, mencapai titik di mana mereka tidak lagi sadar akan sekeliling mereka. Mereka merasa tak terkalahkan, merasa bahwa kerajaan yang mereka bangun tidak akan pernah runtuh.
Namun, di bawah sana, di ruang mesin gedung, Santiago baru saja memotong kabel listrik cadangan. Ia mulai menyiramkan bensin ke tumpukan kain dan kardus di dekat pipa gas utama.
"Malam yang indah untuk sebuah perpisahan, Alicia," ujar Santiago sambil menyalakan pemantik apinya.
Cahaya api kecil mulai menjilat cairan kuning yang berbau tajam itu. Api itu mulai merayap perlahan, bersiap untuk naik melalui saluran udara menuju lantai teratas, menuju tempat di mana Alicia dan Rafael sedang merayakan kemenangan mereka.
Ketegangan emosional di atas ranjang kini berpacu dengan maut yang merayap di dinding gedung. Alicia dan Rafael tidak tahu bahwa negosiasi mereka malam ini mungkin menjadi negosiasi terakhir sebelum api cemburu Santiago melahap segalanya.
"Aku mencintaimu, Rafael," bisik Alicia di puncak kenikmatannya, sebuah pengakuan yang jujur dan tulus.
"Dan kau akan selalu menjadi milikku, selamanya," jawab Rafael.
Di luar, suara sirine mulai terdengar lamat-lamat, namun itu mungkin sudah terlambat. Bayangan Santiago menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan api yang mulai membesar sebagai bukti cintanya yang sudah membusuk.