Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Seperti biasa, Arbiyan akan menjenguk kembarannya terlebih dulu dirumah sakit sebelum ia pergi ke Sekolah. Ia selalu berharap mata adiknya akan menyambutnya ketika ia datang, meskipun akhirnya Arbiyan hanya bisa menghela nafas jika harapannya tidak terkabul.
Masih ada waktu sejam sebelum bel masuk berbunyi, jadi Arbiyan bermaksud menemani Abhinara barang sejenak saja. Tangannya memegang tangan kurus nan pucat milik adiknya itu dengan lembut.
"Hai, Abhi. Sudah lama kita tidak bertemu, maaf aku baru datang menjengukmu. Cepatlah bangun. Kakak idiotmu ini sudah hampir menangis," suara Dean terdengar tiba-tiba yang ternyata juga ikut untuk menjenguk.
"Aku tidak menangis!" desis Arbiyan.
Dean hanya mencibir sembari merolling matanya malas.
Arbiyan sendiri hanya bisa menarik nafas pasrah. Ia benar-benar merindukan senyuman itu. Senyuman yang selalu membuatnya menjadi bersemangat kembali ketika ia sedang down.
"Abhi, aku ingin bermain basket denganmu lagi seperti dulu. Aku janji kali ini aku akan mengalah jadi kumohon cepatlah bangun."
***
FLASHBACK.
2 tahun lalu.
(lapangan basket sekolah, jam istirahat)
"Yes! Three point again!" seru Arbiyan bersemangat dengan menunjukkan wajah angkuhnya. Membuat Abhinara hanya mendengus jengkel.
"Kak biyan! Sekali-kali mengalahlah padaku!" protes Abhi jengkel. Pasalnya ia selalu kalah telak jika bermain basket dengan kakaknya ini.
Arbiyan hanya terkekeh geli melihat adik kembarnya tengah merajuk karena kalah. Remaja itu membaringkan tubuhnya penuh dengan keringat ditengah lapangan sambil merasakan hembusan angin.
"Salahmu sendiri karena tidak bisa menjaga bola dengan baik."
"Tapikan tetap saja harusnya sedikit mengalah padaku! Kau menyebalkan sekali!" gerutu Abhi sambil cemberut kemudian ikutan duduk ditengah lapangan disamping Biyan.
Arbiyan bangkit dari acara baring-baringnya masih sambil terkekeh pelan. "Astaga! Berhenti merajuk, Abhi. Wajahmu terlihat menggelikan!"
Abhinara memutar bola matanya gemas. "Kak, kita ini kembar. Kau menghina wajahku sama saja kau menghina wajahmu sendiri," balas Abhi sambil memainkan alis matanya.
"Enak saja! Aku ini 1000 kali lebih tampan darimu tahu. Lagipula, sudah tahu kau selalu kalah tapi kenapa tidak menolak jika ku ajak main? Dasar aneh."
"Memangnya siapa lagi yang mau bermain dengan makhluk es sepertimu selain aku?" ledek Abhi dengan cengiran khasnya.
Biyan menatap adiknya tak percaya, "Hya! Sudah berani meledekku,hah?! Kemari kau!" Gemas Biyan yang langsung menjepit leher sang adik diantara ketiaknya.
"Argh! Kak Biyan! Lepaskan aku! Ketiakmu bau! Astaga!" Berontak Abhi.
Namun protesan itu hanya di sambut tawa Biyan yang membahana tak mau tahu.
"Rasakan!"
"Kak Biyan! Baiklah! Maafkan aku! Astaga! Kita jadi bahan tontonan orang-orang yang lewat!" gerutu Abhi dengan wajah memelas dan memerah tentu saja. Saat ini mereka sedang menjadi bahan tontonan para siswa dan siswi yang tak sengaja melewati lapangan basket.
***
Arbiyan tersenyum tipis saat mengingat kejadian 2 tahun lalu itu dan malah membuat hatinya semakin mencelos. Kapan ia bisa melihat senyuman malaikat itu lagi?
"Biyan, Dean," Suara lembut itu menyadarkannya kembali dari lamunan.
Laras menyapa lembut dengan senyuman tipis.
"Hai, Bi. Maaf karena aku baru datang berkunjung," kata Dean sopan seraya memeluk tubuh wanita itu.
"Tak apa, sayang. Bagaimana ayahmu? Apa dia masih—?"
Dean meringis. "Iya, Bi. Seperti yang Bibi tahu."
"Astaga! Kenapa dia tidak pensiun saja, sih."
"Bibi tahu itu sulit untuk berhenti kecuali jika mereka berhenti bernapas," jelas Dean.
"Kau sendiri bagaimana? Ingin mengikuti jejaknya juga?"
"Entahlah, Bi. Menjadi putri satu-satunya dari Bos kelompok terbesar di New York, aku bisa apa?"
Laras hanya tertawa pelan mendengar penjelasan keponakkannya.
Ayah Dean— Argovandi yang sekaligus saudara kandung dari ibu sikembar, merupakan orang yang paling berpengaruh dan di segani di Negeri paman sam tersebut. Itulah mengapa tidak ada yang berani mengusik perusahaan keluarga mereka.
"Kalau kau memang tak ingin, katakanlah. Bibi akan berbicara pada ayahmu."
Dean tersenyum. "Baiklah, Bi. Terima kasih."
Laras mengangguk dan balas tersenyum kemudian pandangannya jatuh kepada puteranya sendiri.
"Ibu, kupikir ibu dirumah," ucap Biyan sembari menggandeng lengan ibunya dan menuntunnya untuk duduk disofa.
"Humm, ibu tadi memang pulang. Tapi hanya untuk membersihkan diri saja, kalian tidak kesekolah?"
"Ah, iya. Kami baru akan berangkat, bu. Ibu jangan terlalu stres dan banyak pikiran, sering-seringlah beristirahat. Percayalah, suatu saat nanti Abhinara akan kembali pada kita lagi."
"Baiklah. Kalian segeralah pergi sekolah sekarang. Ibu takut kalian terlambat."
"Iya, bu."
Setelah mencium kening sang ibu, Arbiyan langsung bergegas menuju sekolah diikuti Dean dari belakang.
***
(disekolah)
Seperti biasa, Arbiyan akan menjadi pusat perhatian saat ia melangkah masuk kedalam gedung sekolah. Benar-benar membuat dirinya geram. Kalau saja ia bisa menghajar mereka satu persatu, itu pasti akan sangat menyenangkan.
Arbiyan membuka pintu kelasnya, mengabaikan setiap tatapan yang seperti menelanjanginya. Ia sudah terlalu kebal untuk itu. Saat akan duduk matanya melirik bangku sebelahnya yang masih kosong.
"Ares, Ara dimana?" tanya Biyan heran karena tidak biasanya gadis itu akan telat sampai seperti ini.
Ares yang sedang asyik bermain game diponselnya itu mendongak tepat saat gamenya telah over/game over alias kalah.
"Tadi dia dipanggil dengan Nia keruang guru."
"Untuk apa?"
"Biasalah, tugas bulanan."
Kening Biyan berkerut bingung. "Apa maksudmu?"
Ares termenung sebentar kemudian ia memukul testanya pelan. "Astaga, aku lupa kalau kau amnesia. Jadi begini, Ara dan Nia akan diminta untuk merekap absen semua siswa setiap sebulan sekali. Jangan tanya kenapa mereka berdua yang harus lakukan karena menurutku para guru terlalu malas untuk melakukannya," jelas Ares.
"Oh, apa masih lama?"
"Emm, saat istirahat kedua nanti paling mereka sudah kembali," jawab Ares lagi yang masih setengah fokus dengan gamenya dan hanya dibalas anggukan oleh Biyan.
"Aracell!" panggil sebuah suara dari depan pintu dengan bersemangat membuat Ares dan Biyan menoleh kearah suara tersebut, begitupula siswa yang lainnya.
"Astaga! Sebelas! Ini masih pagi, jangan teriak-teriak!" potes Ares.
"Sialan! Sudah kubilang namaku Elevano!"
"Terserah."
Vano mendengus. "Dimana Ara?"
"Dia sedang menjalani tugas bulanan."
"Yang benar? Aishh! Menyebalkan!" gerutunya kemudian pandangannya beralih ke arah Arbiyan yang sedang menatapnya tanpa ekspresi.
Entah kenapa tiba-tiba saja emosinya tersulut. Dengan langkah cepat remaja itu berjalan mendekati Biyan tidak memperdulikan tatapan aneh dari siswa yang lainnya.
"Kau! Ini semua gara-gara kau!" geramnya.
"Apa maksudmu?" tanya Biyan bingung.
"Ck..berhentilah berpura-pura tolol! Kau sengaja menempel terus dengan Ara-ku agar kau terhindar dari pembullyan! Iya, kan?! Itu karena kau tahu dia anak orang penting! Dasar licik!" sembur Vano penuh amarah.
"Vano! Jangan ngomong sembarangan! Abhinara bukan orang seperti itu!" bela Ares dengan desisan.
"Tahu apa kau Ares?! Dan kau siculun miskin menyebalkann kuperingatkan, Aracell itu milikku! Jadi jangan macam-macam!" ancamnya kemudian pergi begitu saja meninggalkan kelas.
"Sudahlah, Abhi. Jangan dipikirkan, Vano memang begitu, dia hanya kesal karena selalu ditolak Ara," jelas Ares lagi dan melanjutkan gamenya yang sempat terhenti.
"Jadi dia menyukai Ara?"
"Ya, begitulah. Jadi wajar saja jika dia kesal denganmu."
"Meh, kekanakan sekali," gumam Biyan kemudian ia duduk dibangkunya. Sebelah tangannya terulur masuk kedalam laci meja untuk mengambil novel yang sengaja ditinggalkannya. Tapi tangannya malah mengambil secarik kertas yang asing baginya.
Keningnya berkerut bingung, dengan penasaran dan hati-hati Biyan membuka lipatan kertas itu.
Isinya :
Lapangan basket..jam istirahat
"Apa ini? Haruskah aku datang? Menyusahkan sekali~"
(Jam istirahat)
Seperti kalimat dikertas yang ditemukan Arbiyan tadi, ia sedang berjalan menuju lapangan basket yang terletak digedung olahraga. Sebenarnya sih Biyan malas, tapi jujur saja ia penasaran. Mungkin saja hal ini dapat membantunya memecahkan masalah adiknya. Layak dicoba kan?
Setelah berjalan beberapa menit ia tiba digedung olahraga. Keningnya kembali berkerut bingung ketika mendapati lapangan basket tersebut kosong.
Masih dengan ekspresi datarnya Arbiyan hendak berbalik untuk pergi sebelum sesuatu atau seseorang mengguyur badannya.
Dalam sekejap tubuhnya basah oleh guyuran tersebut. Arbiyan mematung sejenak, mencerna kejadian yang baru saja dialaminya. Aroma yang menguar dari guyuran air tersebut seperti menyadarkan Biyan bahwa ini bukan mimpi.
Air apa yang mereka gunakan ini?
Astaga! Aromanya!
Beberapa gelak tawa kembali menyadarkan Biyan dari pikirannya, ia menoleh kearah sumber suara lalu menghela nafas kasar.
Lagi-lagi mereka! Sialan! geram Biyan dalam hati.
"Uuuhh~menjijikan! Apa kau baru saja bermain dicomberan Abhinara?" kata Rendra sambil terus tertawa terbahak-bahak bersama Bagaskara.
"Hei, ayolah. Bukankah habitatnya memang dicomberan?" kali ini siswa lain mengejek.
Membuat semua siswa yang berada ditempat itu tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata bukan hanya ada para pembully adiknya tapi juga beberapa siswa lainnya yang Biyan indikasikan sebagai pembully Abhi juga.
Sebenarnya bagaimana bisa Abhinara terlibat dengan mereka? Ada sesuatu yang aneh tapi Biyan belum menemukannya.
Biyan mengacak rambutnya untuk menghilangkan beberapa kotoran yang menempel. Ia berdecak kesal, sepertinya dirinya akan berendam cukup lama di bathup untuk menghilangkan bau amis yang menempel ditubuhnya ini.
"Jadi kalian mengirimku pesan itu hanya untuk ini? Berapa umur kalian? 5 tahun? Menggelikan," balas Biyan datar.
"Jaga ucapanmu miskin! Ingin kubuat babak belur lagi seperti hari itu, hah?!" bentak Bagaskara jengkel.
Ucapan Bagas spontan menarik seluruh perhatian Biyan padanya. Ia menatapnya dengan tajam dan dingin. "Kau apa?"
"Ahh~kau kan amnesia. Maaf, aku lupa. Apa perlu kuingatkan kembali?" kata Bagas menyeringai. Ia sudah bersiap untuk melayangkan sebuah pukulan jika saja tak ada yang menginterupsi.
"Hey! Berhenti! Apa yang kalian lakukan, hah?!"
(Beberapa saat yang lalu)
"Hah~lelahnya," gumam Ara sambil merenggangkan otot-otot tangannya.
"Ara, kau sudah selesai? Kupikir masih lama," tegur Ares heran saat melihat Ara memasuki kelas mereka.
"Kerjaanku digantikan oleh siswa yang terkena hukuman karena terlambat. Jadi,naku bisa terbebas."
"Ohh, lalu dimana Nia?"
"Dimana lagi kalau bukan bersama kekasihnya itu."
"Astaga, bocah itu."
"Ehh, Abhi dimana?"
"Entah. Tadi bel berbunyi dia langsung keluar. Mungkin kantin."
Ara mengangguk paham. Ia berencana untuk tidur sejenak jika saja matanya tidak menangkap sesuatu yang aneh dilaci meja Abhi. Tangannya merogoh masuk mengambil secarik kertas yang sudah diremas hingga kusut. Keningnya mengerut saat membaca isi pesan tersebut lalu sedetik kemudian Ara seperti baru menyadari sesuatu.
"Sialan!" umpatnya lalu bergegas menuju lapangan basket.
"Hey! Kau mau kemana, Ra?!"
Remaja manis itu terus saja berlari tanpa menghiraukan teguran yang ia dengar. Saat ini dipikirannya hanya ada Abhi saja, ia berharap pemuda itu tidak sedang dihajar atau sejenisnya.
Namun ia langsung jatuh terduduk ketika tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Akh!" ringis Ara kesakitan.
"Oh, Tuhan! Kenapa berlarian dikoridor?"
"Ah, ma-maaf. Aku— loh? Kak Dean?"
Dean menaikkan sebelas alisnya lalu mengerjap. "Ah! Aracell, kan?! Kenapa berlari seperti itu?" tanya Dean heran sambil membantu Ara bangkit dari jatuhnya.
"Kak! Gawat! Abhinara! Lapangan basket sekarang! Ayo!" katanya berantakan karena panik kemudian melanjutkan acara larinya diikuti Dean dari belakang. Ia sebenarnya masih bingung tapi firasatnya juga tidak enak saat Ara menyebut nama Abhinara.
Nafas Ara dan Dean sedikit tersengal-sengal saat mereka tiba dilapangan basket. Belum sempat untuk menarik napas sejenak, mereka sudah disuguhkan dengan pemandangan mengejutkan.
Abhinara yang terlihat basah kuyup dan sedang diejek, lalu seseorang yang hendak melayangkan sebuah pukulan. Tentu saja Dean takkan tinggal diam. Ia tahu Biyan bisa menjaga dirinya sendiri lebih baik ketimbang Abhinara tapi bukan berarti Dean akan diam saja melihat adik sepupunya itu di hajar.
"Hey! Berhenti! Apa yang kalian lakukan, hah?!" geram Dean marah sambil berjalan mendekati kerumunan tersebut diikuti Ara.
"Datang lagi saudara simiskin ini," gumam Bagas jengkel.
"Kak Bagas! Kak Rendra! Bukankah sudah kubilang untuk berhenti mengganggu Abhi?!" bentak Ara marah.
"Aw! Jangan marah-marah manis. Aku tidak menganggunya kok, kami hanya sedang bermain saja."
"Pembohong!"
"Hey, kau baik-baik saja?" tanya Dean sambil melepas blazernya lalu memasanganya ditubuh basah Arbiyan.
"Iya, kak."
"Aiihh~manja sekali siculun ini~ selalu dilindungi oleh kakak perempuannya~" ejek Bagas diikuti gelak tawa teman-temannya.
"Aku tidak akan tinggal diam jika kalian melakukan hal ini lagi," ancam Ara tapi hanya disambut kekehan dari Bagas dan kawan-kawannya.
"Ayolah, Aracell. Kau tahu ancamanmu itu tidak berguna, sayang," kata Bagas santai lalu mengulurkan tangannya hendak mengelus pipi Ara tapi Biyan dengan cepat menangkap tangannya dan meremat kuat.
"Jangan menyentuhnya," ucap Biyan dingin.
"Apa?! Sialan! Beraninya kau breng—Arrghhh!" pekik Bagas saat merasakan pergelangan tangannya seperti akan diremukkan.
"Jangan menyentuhnya atau kupatahkan tanganmu."
"Arghh! Sialan! Le-lepaskan brengsek!"
"Hey! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan tangannya!" bentak salah satu temannya panik. Membuat Biyan semakin keras meremas pergelangan tangan itu.
"Aaaarrghhh!" Bagas semakin berteriak kesakitan hingga ia jatuh berlutut dihadapan Biyan.
"Abhi."
"Patahkan saja tangannya," celetuk Dean cuek dengan ekspresi santai.
Ara langsung menatap Dean horor. Ia tak salah dengar, kan?
"Aaaaarrgghhh! Sa-sakit!"
"Abhi hentikan. Jangan lakukan itu," kata Ara pelan.
Biyan berdecak jengkel, kalau bukan karena gadis manisnya ia pasti sudah mematahkan tangan remaja sialan itu. Jadi dengan kasar ia menghempaskan tangan tersebut dan membuat pemiliknya mengerang kesakitan.
Biyan berjongkok menyamakan posisinya dengan Bagas, kemudian menatap wajah pemuda itu dengan ekspresi tajam dan menusuk.
"Aku bukanlah Abhinara yang dulu yang selalu kalian bully. Berterima kasihlah pada Ara karena menyelamatkan tanganmu. Lain kali, kupastikan tanganmu benar-benar patah," ancam Biyan kemudian berdiri dan pergi meninggalkan kerumunan tersebut yang masih terdiam.
Jujur saja mereka agak kaget melihat perubahan Abhinara, aura yang dipancarkannya tadi benar-benar mengerikan.
"Meh, dasar lemah. Ayo, Ara," kata Dean kemudian menyusul Biyan diikuti Ara dari belakang.
"Argh! Sialan!" umpat Bagas kesal.
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!