Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Rindu
(Maafkan aku Fiona ... karena baru sekarang aku bisa menemui mu. Maafkan aku yang tega membuat mu menjalani hari-hari sulit tanpa ada aku di sisimu. Pasti berat, sangat berat pastinya. Kamu melewati semuanya seorang diri. Maafkan aku, aku terlalu lambat mendapatkan ingatanku. Aku terlalu lama membuatmu merasa kesakitan seorang diri)
Arga mengucapakan banyak kata maaf, tapi tak mampu dia ucapkan. Hanya dalam hati kata maaf itu dia utarakan. Karena kini hatinya terasa sesak. Pertemuan ini, cukup membuat keduanya larut dalam kesedihan yang mendalam.
"Akhirnya kamu kembali," gumam Fiona. Dengan nada suara sendu tentunya.
"Ya ... ini aku."
"Kenapa lama sekali?"
Arga terdiam, merasa bersalah pada istri serta anak-anaknya.
Sebenarnya Arga merasa belum waktunya bertemu Fiona, dia harus memastikan semuanya dulu. Tidak boleh ada yang curiga ingatannya telah kembali pulih. Namun, rasa rindunya ternyata mengalahkan segalanya. Malam itu dia menyusup di kediamannya sendiri. Pergi menemui Fiona saat semuanya sudah terlelap dan sepi.
Fiona kala itu terbangun karena gorden jendela yang bergerak terkena angin. Jendela terbuka, wanita itu berpikir kalau ada pencuri yang masuk, nyatanya yang datang adalah suaminya yang lama hilang.
Cukup lama Arga mendekapnya dalam-dalam, seolah tidak rela melepaskan. Seperti mimpi, Fiona pun merasakan campur aduk luar biasa. Ditengah-tengah kegalauan hati yang mulai terobati, mereka pun melepaskan rasa yang sudah tersimpan begitu lama.
"Arga .. apa aku bermimpi?" gumam Fiona masih belum percaya.
"Tidak .. Kamu tidak bermimpi. Ini aku, aku yang selalu merindukanmu. Dan aku yang merasa bersalah karena melupakanmu terlalu lama."
Fiona memejamkan mata, bulir bening menetes melewati pipinya.
"Kenapa aku merasa ini seperti mimpi?"
"Maafkan aku ..." Arga mendekapnya lembut. Rasa bersalah menyelimuti nya.
...****************...
Puas saling bertegur rindu, saling memeluk dan menatap dalam-dalam. Kini keduanya melihat kamar Azka. Sengaja Arga tak membangunkan anaknya itu, walau ingin sekali memeluk anak lelakinya tersebut.
"Tidak kah kamu ingin melihatnya bangun? Dia pasti senang melihat papanya," kata Fiona.
Arga menggeleng," Jangan. Tidak sekarang. Biarkan dia tidur. Nanti aku pasti akan menemuinya. Aku juga sangat merindukan anak-anak."
Fiona paham. Mungkin sang suami punya alasan sendiri. Ia pun tak akan memaksa. Melihat Arga pulang saja dia sudah lebih dari senang.
Setelah itu, mereka pergi melihat anak kedua. Gadis cantik dan memiliki kaki serta tangan mungil itu juga terlelap di dalam box tempat bayinya yang mulai terlihat kecil, karena badan si balita mulai memanjang.
"Cantik sekali, mirip denganmu Fiona ..." gumam Arga lirih. Ada secercah penyesalan yang tergambar. Ia merasa bersalah karena saat-saat terberat dalam hidup Fiona, ia malah tidak ada. Membiarkan wanitanya itu melahirkan sendiri tanpa ada dia di sisinya.
"Tidak, dia mirip dengan papanya. Lihat saja hidungnya yang begitu mancung. Alisnya ... Dagunya," ucap Fiona sambil menempelkan kepalnya di bahu sang suami.
"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa dia begitu mirip denganmu?"
"Kan anak kita, pasti ada sedikit mirip aku dan mirip papanya," balas Fiona.
Arga lalu menghela napas panjang, "Maafkan aku."
Fiona menggeleng cepat. "Jangan minta maaf, tidak ada yang salah. Semuanya karena keadaan," kata Fiona. Wanita itu sudah berhati besar, bisa menerima keadaan tanpa harus menyalahkan Arga. Karena Fiona tahu, Arga juga tak mungkin berniat meninggalkan mereka semua.
"Tidak, ini memang kesalahan keluargaku. Aku pastikan setelah ini, kita akan menjalani hidup dengan tenang dan damai," ucap Arga penuh janji.
"Ya, aku harap itu segera terjadi. Karena anak-anak juga pasti merindukan sosok papanya."
"Bersabarlah, tunggu sebentar lagi. Aku sedang mengumpulkan beberapa bukti dan alat untuk menyerang mereka semua yang berusaha menghancurkan kita."
Fiona langsung khawatir.
"Tapi bagaimana kalau sampai nanti terjadi sesuatu yang buruk padamu?" Fiona cemas. Takut nyawa sang suami kembali terancam. Ia tidak mau hal buruk bertubi-tubi menimpa lelaki kesayangannya itu.
"Tidak akan, aku akan hati-hati." Arga membuka gorden, kemudian melihat ke bawah. Ia sedang mengamati sekitar. Melihat apakah aman atau tidak.
"Aku harus pergi, kamu baik-baik di sini."
Fiona meraih tangan Arga, kemudian meletakkan di pipinya.
"Secepat ini? Aku masih rindu padamu."
Arga sebenarnya ingin lama-lama, tapi kalau sampai ketahuan malah nanti rencananya gagal.
"Nanti aku pasti segera kembali," kata Arga lalu mengusap pipi Fiona. Pria itu kemudian menarik tangannya kembali, saat merasakan pipi Fiona yang terasa basah.
"Jangan menangis," ucap Arga lalu mengusap pipi Fiona dengan kedua tangannya. Arga mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya di kening Fiona. Turun ke hidung, ke mata bergantian. Kemudian ke bibir dan cukup singkat.
"Kamu harus kuat, dan tunggu aku sebentar lagi. Semuanya akan aku bereskan.
Fiona mengangguk paham, tapi tetap saja matanya mengembun. Air matanya kembali menetes jatuh ke pipi.
Melihat akan hal itu, Arga menarik napas dalam-dalam, ia peluk tubuh Fiona dengan erat.
"Aku merindukan mu, sangat merindukanmu, masih merindukanmu," gumam Arga.
Dipeluk dan dibisikkan kata-kata penuh kerinduan itu, tubuh Fiona malah bergetar menahan tangis.
Arga pun mengusapnya, meng ecup kepala dan kening Fiona.
"Sudah ... Sudah, kenapa air matamu terus saja keluar?" omel Arga dengan nada perhatian.
Fiona menggeleng, mengatupkan kedua bibirnya dan kelihatan menahan tangis biar tak kembali pecah.
"Jangan menangis ... air mata ini terlalu berharga," bisik Arga kemudian menempelkan bibirnya ke salah satu mata Fiona. Ia ke cup kelopak mata itu, kemudian kembali mengabsen wajah Fiona.
Untuk kali ini, saat bibirnya menyentuh bibir Fiona, Arga memasukkan sedikit lidahnya. Membuat Fiona menyambut dan sesapan serta saling menggigit pun gak terhindarkan.
(Sebenarnya aku sudah tahan-tahan sejak tadi!)
Masih saling menyesap, tapi tangan Arga mulai melepaskan ikat pinggang nya. Sepertinya malam ini dia akan sedikit lama di sana. Benar-benar tidak sesuai rencana. Pertemuan setelah perpisahan yang menyedihkan dan cukup lama, nyatanya butuh obat saat keduanya berjumpa.
(Fiona .. Kamu yang menahan ku di sini. Sekarang kamu harus bertanggungjawab sampai kita tuntaskan semuanya. Malam ini .. Kita lepaskan semua rindu yang sudah terpendam cukup lama)
Lama tidak bertemu, sekali bertemu Arga langsung parkir. Bisa dibayangkan bagaimana permainan malam ini keduanya. Seperti gunung yang meletus, Arga mengeluarkan segala Lavanya yang sudah mengendap lama.
Malam ini, hanya milik mereka berdua. Tidak ada yang boleh mengganggu dan mengusik pertemuan dua insan yang sudah lama terpisah jarak dan waktu.
BUGHHHH!
Arga melemparkan tubuhnya sendiri di atas ran jang. Kemudian tangannya meraih lengan Fiona. Menariknya semakin dekat sampai kulit mereka bersentuhan seperti kue lapis yang menempel, lengket tanpa cela.
langsung enddd kaakk😆😆😆
alkhamdulillah Happy end
yg musuh Tp menikah di lanjut kaaak 😃🙏
Di tunggu buku yng lain nya Thor
Tetap💪🏼💪🏼❤❤
d tunggu novel baru nya kak 🥰
Davin kabarnya gimana dia
jangan sampai me ngusik kebahagiaan ini za
Atau bu Sasmita pura2 sajah untuk menghindari hukum 😠😠😠