Menikah dengan pria usia matang, jauh di atas usianya bukanlah pilihan Fiona. Gadis 20 tahun tersebut mendadak harus menerima lamaran pria yang merupakan paman dari kekasihnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Rindu
Sebenarnya Arga merasa belum waktunya bertemu Fiona, dia harus memastikan semuanya dulu. Tidak boleh ada yang curiga ingatannya telah kembali pulih. Namun, rasa rindunya ternyata mengalahkan segalanya. Malam itu dia menyusup di kediamannya sendiri. Pergi menemui Fiona saat semuanya sudah terlelap dan sepi.
Fiona kala itu terbangun karena gorden jendela yang bergerak terkena angin. Jendela terbuka, wanita itu berpikir kalau ada pencuri yang masuk, nyatanya yang datang adalah suaminya yang lama hilang.
Cukup lama Arga mendekapnya dalam-dalam, seolah tidak rela melepaskan. Seperti mimpi, Fiona pun merasakan campur aduk luar biasa. Ditengah-tengah kegalauan hati yang mulai terobati, mereka pun melepaskan rasa yang sudah tersimpan begitu lama.
...****************...
Puas saling bertegur rindu, saling memeluk dan menatap dalam-dalam. Kini keduanya melihat kamar Azka. Sengaja Arga tak membangunkan anaknya itu, walau ingin sekali memeluk anak lelakinya tersebut.
Setelah itu, mereka pergi melihat anak kedua. Gadis cantik dan memiliki kaki serta tangan mungil itu juga terlelap di dalam box tempat bayinya yang mulai terlihat kecil, karena badan si balita mulai memanjang.
"Cantik sekali, mirip denganmu Fiona ..." gumam Arga lirih. Ada secercah penyesalan yang tergambar. Ia merasa bersalah karena saat-saat terberat dalam hidup Fiona, ia malah tidak ada. Membiarkan wanitanya itu melahirkan sendiri tanpa ada dia di sisinya.
"Tidak, dia mirip dengan papanya. Lihat saja hidungnya yang begitu mancung. Alisnya ... Dagunya," ucap Fiona sambil menempelkan kepalnya di bahu sang suami.
"Benarkah? Tapi kenapa aku merasa dia begitu mirip denganmu?"
"Kan anak kita, pasti ada sedikit mirip aku dan mirip papanya," balas Fiona.
Arga lalu menghela napas panjang, "Maafkan aku."
Fiona menggeleng cepat. "Jangan minta maaf, tidak ada yang salah. Semuanya karena keadaan," kata Fiona.
"Tidak, ini memang kesalahan keluargaku. Aku pastikan setelah ini, kita akan menjalani hidup dengan tenang dan damai," ucap Arga penuh janji.
"Ya, aku harap itu segera terjadi. Karena anak-anak juga pasti merindukan sosok papanya."
"Bersabarlah, tunggu sebentar lagi. Aku sedang mengumpulkan beberapa bukti dan alat untuk menyerang mereka semua yang berusaha menghancurkan kita."
Fiona langsung khawatir.
"Tapi bagaimana kalau sampai nanti terjadi sesuatu yang buruk padamu?"
"Tidak akan, aku akan hati-hati." Arga membuka gorden, kemudian melihat ke bawah.
"Aku harus pergi, kamu baik-baik di sini."
Fiona meraih tangan Arga, kemudian meletakkan di pipinya.
"Secepat ini? Aku masih rindu padamu."
Arga sebenarnya ingin lama-lama, tapi kalau sampai ketahuan malah nanti rencananya gagal.
"Nanti aku pasti segera kembali," kata Arga lalu mengusap pipi Fiona. Pria itu kemudian menarik tangannya kembali, saat merasakan pipi Fiona yang terasa basah.
"Jangan menangis," ucap Arga lalu mengusap pipi Fiona dengan kedua tangannya. Arga mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya di kening Fiona. Turun ke hidung, ke mata bergantian. Kemudian ke bibir dan cukup singkat.
"Kamu harus kuat, dan tunggu aku sebentar lagi. Semuanya akan aku bereskan.
Fiona mengangguk paham, tapi tetap saja matanya mengembun. Air matanya kembali menetes jatuh ke pipi.
Melihat akan hal itu, Arga menarik napas dalam-dalam, ia peluk tubuh Fiona dengan erat.
"Aku merindukan mu, sangat merindukanmu, masih merindukanmu," gumam Arga.
Dipeluk dan dibisikkan kata-kata penuh kerinduan itu, tubuh Fiona malah bergetar menahan tangis.
Arga pun mengusapnya, meng ecup kepala dan kening Fiona.
"Sudah ... Sudah, kenapa air matamu terus saja keluar?" omel Arga dengan nada perhatian.
Fiona menggeleng, mengatupkan kedua bibirnya dan kelihatan menahan tangis biar tak kembali pecah.
"Jangan menangis ... air mata ini terlalu berharga," bisik Arga kemudian menempelkan bibirnya ke salah satu mata Fiona. Ia ke cup kelopak mata itu, kemudian kembali mengabsen wajah Fiona.
Untuk kali ini, saat bibirnya menyentuh bibir Fiona, Arga memasukkan sedikit lidahnya. Membuat Fiona menyambut dan sesapan serta saling menggigit pun gak terhindarkan.
(Sebenarnya aku sudah tahan-tahan sejak tadi!)
Masih saling menyesap, tapi tangan Arga mulai melepaskan gasper nya.
Yang terpenting semua nya baik2 sajah