Sebuah jebakan kotor dari mantan kekasih memaksa Jenara, wanita karier yang mandiri dan gila kerja, untuk melepas keperawanannya dalam pelukan Gilbert, seorang pria yang baru dikenalnya. Insiden semalam itu mengguncang hidup keduanya.
Dilema besar muncul ketika Jenara mendapati dirinya hamil. Kabar ini seharusnya menjadi kebahagiaan bagi Gilbert, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak remaja, ia didiagnosis mengidap Oligosperma setelah berjuang melawan demam tinggi. Diagnosis itu membuatnya yakin bahwa ia tidak mungkin bisa memiliki keturunan.
Meskipun Gilbert meragukan kehamilan itu, ia merasa bertanggung jawab dan menikahi Jenara demi nama baik. Apalagi Gilbert lah yang mengambil keperawanan Jenara di malam itu. Dalam pernikahan tanpa cinta yang dilandasi keraguan dan paksaan, Gilbert harus menghadapi kebenaran pahit, apakah ini benar-benar darah dagingnya atau Jenara menumbalkan dirinya demi menutupi kehamilan diluar nikah. Apalagi Gilbert menjalani pernikahan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TILU PULUH TILU
Gilbert menarik selimut hingga menutupi bahu Jenara yang masih gemetar karena sisa amarahnya. Ia mengecup kening istrinya dengan perasaan yang berkecamuk. Di satu sisi, ia merasa bertanggung jawab atas Raina yang sudah dianggapnya seperti darah daging sendiri, namun di sisi lain, ia sadar Jenara sedang berada dalam kondisi rentan.
Setelah memastikan Jenara sedikit tenang, Gilbert melangkah ke balkon dan menelepon Althaf.
"Al, tolong bawa Raina ke rumahku saja sekarang. Jenara sedang tidak enak badan, aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di rumah," ucap Gilbert dengan nada yang tak bisa dibantah.
Tepat saat jam makan malam, mobil Althaf memasuki pelataran rumah. Alena turun bersama Samudra dan si kecil Raina yang wajahnya langsung ceria begitu melihat pilar-pilar rumah Gilbert. Bocah perempuan itu berlari masuk, mengabaikan teriakan lembut ibunya agar ia bersikap sopan.
"Om Gilberttttt!" pekik Raina kegirangan.
Begitu melihat sosok Gilbert yang menunggu di ruang tengah, Raina langsung menghambur ke pelukan pria itu. "Gendong, Om! Om Gilbert kenapa tampan sekali malam ini? Papa saja kalah tampan dari Om," cerocosnya dengan polos.
Semua yang ada di sana tertawa, termasuk Althaf yang hanya bisa geleng-geleng kepala. Di tengah gelak tawa itu, Jenara turun dari tangga dengan langkah gontai. Ia mencoba memasang wajah ramah, meski hatinya terasa nyeri.
"Halo, Raina," sapa Jenara tipis.
Raina menoleh, lalu mendekati Jenara. Tangannya yang mungil mengelus perut Jenara yang masih rata. "Tante Jenara, di sini ada dedek bayi ya?" tanya Raina dengan mata bulatnya. "Semoga dedek bayinya laki-laki saja, ya. Biar tidak ada gadis lain yang secantik aku. Dan aku tetap jadi kesayangan Om Gilbert selamanya!"
Jenara mengelus kepala Raina perlahan. Ia merasa konyol karena sempat merasa cemburu pada bocah seimut ini. Namun, perasaan itu tak bertahan lama.
Di meja makan, suasana berubah menjadi riuh oleh suara Raina. Bocah itu bersikeras duduk di pangkuan Gilbert, menolak duduk di kursinya sendiri.
"Om, suapin... Raina mau ayamnya dipotong kecil-kecil," manja Raina sembari menarik-narik kemeja Gilbert.
Gilbert, dengan ketelatenan yang luar biasa, menuruti semua keinginan Raina. Ia memotong ayam, menyuapinya, dan sesekali tertawa mendengar cerita sekolah Raina. Ia benar-benar larut dalam dunianya bersama bocah itu, hingga ia lupa bahwa ada wanita lain di meja itu yang sedang menatap piringnya dengan pandangan kosong.
Jenara hanya bisa diam. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Rasa mual yang tadi sempat reda kini kembali muncul, bukan karena kehamilan, tapi karena rasa sesak melihat perhatian Gilbert yang tercurah sepenuhnya untuk anak orang lain.
Alena yang duduk di seberang Jenara menyadari perubahan ekspresi itu. Ia melihat Jenara hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa minat. Alena mengulurkan tangan, menggenggam jemari Jenara di bawah meja.
"Maafkan Raina ya, Jen," bisik Alena lembut. "Sejak kecil dia memang terlalu manja pada Gilbert. Gilbert sudah seperti ayah keduanya."
Jenara menggelengkan kepala, mencoba tersenyum meski bibirnya terasa kaku. "Tidak apa-apa, Alena. Aku hanya... sedang tidak enak badan."
"Mau aku antar ke kamar?" tawar Alena khawatir.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Jenara bangkit berdiri, suaranya nyaris tak terdengar. Ia berpamitan singkat lalu melangkah menuju kamar. Gilbert bahkan tidak menoleh, ia sedang sibuk membersihkan sisa saus di pipi Raina.
Setelah makan malam usai dan keluarga Althaf bersiap pulang, Alena menahan tangan Gilbert di teras depan. Althaf sudah masuk ke mobil bersama anak-anak.
"Gilbert, dengarkan aku," ucap Alena dengan wajah serius. "Jangan prioritaskan Raina lagi saat Jenara ada. Dia istrimu, dan dia sedang mengandung anakmu. Biarkan Raina menjadi urusan kami, tapi Jenara... dia hanya punya kamu sebagai sandarannya sekarang. Dia merasa terasing di rumah ini, Gil."
Gilbert tertegun. Ia baru menyadari bahwa Jenara sudah tidak ada di sampingnya sejak tadi. Ia mengira Jenara hanya ke toilet atau sedang mengobrol dengan Ibu Nurul. "Dia... dia sudah di atas?"
"Dia masuk ke kamar saat kamu sibuk menyuapi Raina. Masuklah, minta maaf padanya," saran Alena sebelum masuk ke mobil.
Gilbert bergegas masuk ke kamar utama. Suasana sunyi menyambutnya. Ia melihat Jenara sudah meringkuk di bawah selimut tebal, membelakangi sisi ranjang Gilbert. Saat Gilbert mendekat, ia mendengar isak halus yang tertahan. Wajah Jenara sendu, tertidur dengan bekas air mata yang mengering di pipinya.
Rasa bersalah menyeruak dalam dada Gilbert. Ia naik ke ranjang, memeluk tubuh Jenara dari belakang dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang. "Maafkan aku, Jen... Maaf," bisiknya berkali-kali di telinga Jenara, meski ia tahu istrinya itu mungkin tidak mendengarnya.
...************...
Pagi harinya di gedung PT Martha Cipta, suasana terasa mencekam. Hilya Prameswari sedang memeriksa berkas kerja sama dengan dahi berkerut. Kegagalannya merebut lahan Semarang benar-benar melukai harga dirinya.
Tok tok tok.
Deni, asisten kepercayaannya, masuk dengan membawa map hitam. "Nyonya, saya sudah mengetahui penyebab Digdaya Guna begitu mudah melepaskan lahan itu."
"Katakan!" perintah Hilya tajam.
"Tim lapangan kita melaporkan bahwa Jenara sudah mendapatkan lahan pengganti di perbatasan Semarang. Dan yang mengejutkan, lahan itu awalnya milik Tuan Althaf, tapi sekarang sudah berganti kepemilikan menjadi milik Tuan Gilbert, mantan asisten pribadinya."
Hilya menghentikan aktivitasnya. "Gilbert? Asisten Althaf? Kenapa lahan itu diberikan padanya?"
"Informasi yang kami dapat, itu adalah bonus loyalitas. Tuan Gilbert dikenal sebagai pria yang sangat bersih, single, dan tidak pernah dekat dengan wanita mana pun selama bekerja dengan Althaf," terang Deni.
Hilya menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Matanya menyipit penuh selidik. "Lalu kenapa lahan milik Gilbert bisa digunakan oleh Jenara? Apa hubungannya?"
"Itu yang masih misterius, Nyonya. Karyawan Digdaya Guna pun tidak tahu alasannya. Dokumennya ditangani langsung oleh Jenara dan pengacara pribadinya."
Hilya mengepalkan tangannya. "Jenara, jalang sialan! Kau selalu punya cara untuk lari," geramnya. Ia kemudian meraih tabletnya, mencari nama 'Gilbert' di mesin pencari. Muncul foto Gilbert saat mendampingi Althaf dalam sebuah acara bisnis wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dengan tatapan mata yang dingin namun sangat menarik.
Sebuah senyum licik terukir di bibir merah Hilya. "Menarik..." gumamnya. "Sepertinya aku harus mencari tahu ada hubungan apa sebenarnya antara pria tampan ini dengan Jenara."
Hilya menghembuskan asap rokoknya ke udara. "Pria ini cukup tampan, lumayan untuk dijadikan selingan dan senjata untuk menghancurkan Jenara. Pasti dia tidak akan mampu menolak pesonaku yang menawan ini. Jika aku tidak bisa mengambil perusahaannya, aku akan mengambil pria yang membantunya."
Ambisi Hilya kini bercabang. Tidak hanya ingin menguasai pasar, ia kini ingin merusak kebahagiaan personal Jenara dengan cara mendekati Gilbert, tanpa tahu bahwa pria itu adalah suami sah dari musuh bebuyutannya.
kok baru kali ini emosian dn serba salah...
emang mungkin hamidun atau kangen belaian gilbert niihhh 😏😏😏
30 detik itu penting buat napas ya Jen, coba kalo gk napas sesek kan 🤭🤭🤭
,, kalo jen hamil harusny sambil mual kan ya? udh mual belum???