Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16. Respect
Matahari pagi menyinari celah jendela minimarket tempat Acha bekerja paruh waktu. Suasana toko masih tergolong sepi karena baru saja buka, memberikan kesempatan bagi Acha untuk mengecek ponselnya sejenak di balik meja kasir.
Sambil menunggu pembeli datang, jari Acha dengan santai menggulir beranda media sosialnya. Namun, atensinya seketika tersentak saat melihat story terbaru dari akun milik Alfian, kakak kandungnya.
Dalam unggahan tersebut, Alfian membagikan foto suasana bandara dengan keterangan singkat yang menyiratkan dirinya sudah dalam perjalanan pulang kembali ke Jakarta.
Acha mengerutkan keningnya dalam-dalam. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Kok cepat banget balik ke Jakartanya? Padahal baru beberapa hari di kampung, ditambah Aa kok gak mampir dulu sih ke rumahnya mamah" batin Acha kebingungan.
Merasa ada yang ganjil, Acha buru-buru membuka aplikasi WhatsApp untuk mencari kepastian. Dia langsung mengetik pesan dan mengirimkannya kepada Fitri—adiknya yang masih tinggal satu rumah dengan orang tua mereka, Ranti dan Yanto.
"Fit, itu Aa kok statusnya udah di terminal bus aja sih!! beneran udah balik ke Jakarta lagi? Kok cepet banget? Emang nya udah mampir ke rumah yah." Ucap Acha
Tidak butuh waktu lama bagi Fitri untuk membalas pesan tersebut.
"Iya, Cha. Status nya sih gitu udah balik lagi dia. Gue juga barusan udah liat kok status whatsapp nya." Ucap Fitri
"Bahkan ya, dia pulang ke Jakarta tanpa sempat ketemu sama papah dan mamah dulu lho. Gak kaya biasanya kan Teh."
Membaca balasan dari Fitri, Acha tertegun hebat. Ponsel di genggamannya terasa semakin berat. Perasaan tidak enak langsung menggelayuti pikirannya.
Bagaimana bisa seorang anak pulang kampung, tetapi memilih pergi lagi tanpa menemui kedua orang tuanya sendiri? Ada apa sebenarnya di antara Alfian dan kedua orang tua mereka?
Pikiran Acha masih berputar kencang memikirkan alasan di balik sikap dingin Alfian. Pertanyaan-pertanyaan seperti apa masalahnya? dan apa yang sebenarnya terjadi? terus menghantui kepalanya, membuat konsentrasinya buyar total.
"Cha, tolong cek stok mie instan di gudang belakang ya, katanya ada kiriman barang masuk tadi pagi," suara Amina menyadarkan Acha dari lamunannya.
"Eh, iya... oke teh, tunggu sebentar," jawab Acha pelan.
Dia berusaha menepis rasa pening yang tiba-tiba menyerang pelipisnya. Dia meletakkan ponselnya di meja kasir dan melangkah menuju gudang di bagian belakang toko.
Udara di dalam gudang terasa pengap dan sedikit lebih panas dibandingkan area depan minimarket. Acha mulai menghitung tumpukan kardus mi instan satu per satu.
Namun, setiap dia membungkuk dan berdiri kembali, pandangannya terasa berguncang. Bayangan wajah Alfian, pesan dari Fitri, dan rasa cemas yang menumpuk seolah-olah beradu di dalam kepalanya.
"Kenapa tiba-tiba pusing banget yah?" gumam Acha dalam hati.
Dia mencoba berpegangan pada rak besi di sampingnya, namun kakinya terasa lemas seperti kapas. Dunianya tiba-tiba terasa berputar hebat, seakan lantai beton di bawahnya menariknya jatuh. Semuanya menjadi gelap dalam sekejap.
Brukk!
Tubuh Acha ambruk ke lantai gudang, tepat di samping tumpukan kardus. Ponselnya yang tertinggal di kasir terus bergetar, menampilkan notifikasi baru, namun Acha sudah tidak lagi sadarkan diri di lantai yang dingin itu.
Suasana gudang yang tadinya sunyi mendadak hening, hanya menyisakan suara dengung lampu neon di atas kepalanya.
Tasya, yang kebetulan lewat untuk mengambil sapu di sudut gudang, terkejut setengah mati saat melihat sosok Acha sudah tergeletak lemas di samping tumpukan kardus.
"Teh Acha! Ya ampun, teh! Bangun, teh!" seru Tasya panik sambil menjatuhkan sapunya dan berlari mendekat. Dia menepuk pelan pipi sahabat kerjanya itu, namun tidak ada respons sama sekali.
Melihat Acha yang pingsan dengan wajah pucat, Tasya langsung berteriak meminta bantuan rekan kerja lainnya untuk membopong Acha ke ruang istirahat dan memberikan minyak angin.
Sementara itu, di layar ponsel Acha yang masih tergeletak di dekat meja kasir, notifikasi pesan dari Fitri terus berkedip-kedip, membawa rentetan tanya yang belum sempat terjawab oleh Acha.
Beberapa menit kemudian, Acha perlahan membuka matanya di ruang istirahat karyawan. Aroma minyak angin langsung menusuk indra penciumannya, sementara Tasya berdiri di sampingnya sambil menyodorkan segelas air hangat.
"Udah enakan, teh? Bikin kaget aja tahu gak, teteh kok bisa sih sampai pingsan di gudang tadi," kata Tasya dengan nada cemas.
Acha memegang kepalanya yang masih terasa sedikit berdenyut. Dia meneguk air hangat itu pelan-pelan. Belum sempat dia menjawab, pintu ruang istirahat terbuka dan Ibu Ema, atasan mereka, masuk dengan raut wajah khawatir.
"Acha, muka kamu pucat banget," ucap Ibu Ema begitu melihat kondisi pekerjanya.
"Sudah, hari ini kamu tidak usah dipaksa kerja dulu. Dari pada pingsan lagi di toko, lebih baik kamu pulang ke rumah aja sekarang, istirahat total yah."
Acha sempat ingin menolak karena merasa sudah agak mendingan, namun tatapan tegas dari Ibu Ema tidak bisa dibantah.
Akhirnya, Acha menuruti perintah atasannya. Dia merapikan barang-barangnya, mengambil tas, dan memesan ojek online untuk langsung pulang ke rumah orang tuanya.
Sesampainya di rumah, Ranti menyambut kedatangannya dengan heran karena Acha pulang di tengah jam kerja.
"Loh, Acha? Kok udah pulang? Kamu lagi libur yah?" tanya Ranti penuh tanya.
Acha buru-buru memasang senyuman terbaiknya dan menggeleng. "Nggak, mah. Cuma shift hari ini kebetulan cepat selesainya aja kok," elak Acha, sengaja menutupi fakta kalau dirinya sempat pingsan di minimarket tadi.
Acha tidak mau membuat Ranti cemas, terutama di saat pikiran keluarganya sedang diuji dengan sikap aneh Alfian yang pulang tanpa menemui orang tua mereka.
Dia memilih menyimpan rapat-rapat rasa sakit dan pusing yang masih mendera kepalanya, lalu berjalan menuju kamarnya untuk merebahkan diri.
Sesampainya di kamar, Acha tidak langsung tidur. Rasa penasaran dan cemas mengenai unggahan Alfian tadi pagi masih terus mengganggu pikirannya.
Meski kepalanya masih terasa berdenyut, dia memaksakan diri keluar kamar menuju ruang tengah tempat Ranti, sedang melipat pakaian.
Acha duduk di dekat Ranti, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar biasa saja meski tenaganya hampir habis.
"Mah..." panggil Acha pelan.
"Kemarin... Si Aa sempat mampir ke rumah kan pas pulang dari Jakarta?"
Ranti menghentikan tangannya yang sedang melipat baju, lalu menatap Acha dengan kening berkerut bingung.
"Mampir? Maksud kamu apa, Cha? Alfian kan nggak ada ke rumah."
Acha tertegun, matanya mengerjapkan tak percaya. "Hah? Nggak mampir ke rumah dulu, mah? Tapi kan kemarin si Aa bikin story udah pulang kampung ke garut loh mah, terus teh Sonia juga bilang katanya dia udah balik ke Jakarta lagi."
Mendengar ucapan Acha, raut wajah Ranti mendadak berubah sendu. Ada guratan kekecewaan yang sangat jelas di mata wanita paruh baya itu. Ranti menggeleng pelan sambil menghela napas berat.
"Boro-boro mampir, Cha... batang hidung Aa kamu aja nggak kelihatan sama sekali di rumah ini," suara Ranti terdengar bergetar menahan sedih.
"Dia pulang ke kampung, tapi sama sekali nggak nengokin papah sama mamah. Padahal rumah kita kan di sini."
Acha langsung terdiam kaku. Hatinya terasa dicubit mendengar kenyataan itu. Pantasan saja Fitri tampak begitu gusar di pesan whatsapp nya tadi.
Ternyata Alfian benar-benar pulang tanpa menjejakkan kaki sedikit pun di rumah orang tua mereka sendiri—seolah sengaja menghindari pertemuan dengan kedua orang tuanya.
Rasa pusing yang sedari tadi dia tahan di minimarket kini seolah berlipat ganda, menghantam kepalanya begitu keras hingga pandangannya kembali berkunang-kunang. Namun, rasa sakit fisik itu kalah telak oleh rasa sesak di dadanya.
Bagaimana mungkin seorang anak kandung pulang ke kampung halaman, tetapi memilih abai dan melewatkan rumah orang tuanya sendiri?
Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Alfian? Dan masalah besar apa yang sedang terjadi di antara kakaknya itu dan kedua orang tua mereka?
"Udah, Cha... nggak usah dipikirin terlalu dalam. Mungkin Alfian memang lagi sibuk banget sama urusan pekerjaannya di Jakarta sampai waktunya mepet," ujar Ranti mencoba tegar.
Meskipun senyuman yang Ranti paksakan terlihat begitu rapuh di bibirnya. Ibu mana yang tidak sedih diabaikan oleh anak kandungnya sendiri.
Acha hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Dia tidak tega melihat raut wajah ibunya.
Namun di sisi lain, dia juga tidak mampu berkata apa-apa untuk menenangkan. Tenaganya yang sudah terkuras habis sejak pagi akhirnya mencapai batas akhir.
"Mah... Acha pusing banget. Acha mau istirahat dulu ke kamar ya," pamit Acha dengan suara nyaris berbisik.
Dia berjalan terhuyung-huyung meninggalkan ruang tengah, bahkan tidak sempat mengganti pakaiannya sebelum akhirnya merebahkan diri di atas ranjang.
Begitu kepalanya menyentuh bantal, kegelapan langsung merenggut kesadarannya. Acha tertidur pulas dalam pelukan kelelahan dan segudang tanya yang belum terjawab.
Beberapa jam kemudian, Acha terbangun saat hari sudah mulai sore. Kepalanya terasa sedikit lebih ringan setelah tidur cukup, meski tubuhnya masih lemas.
Dia memutuskan untuk keluar kamar untuk menemui ibunya. Di ruang tengah, Ranti masih duduk merapikan sisa pakaian, ditemani secangkir teh hangat di hadapannya.
Melihat Acha yang berjalan pelan menghampirinya, Ranti menepuk sisi sofa di sebelah, menyuruh putrinya untuk duduk.
"Udah enakan, Cha? Muka kamu dari siang tadi kelihatan pucat banget," tanya Ranti penuh perhatian.
Acha duduk perlahan, lalu menggeleng pelan. "Udah mendingan kok, Mah. Cuma kecapekan aja."
Suasana sempat hening sejenak sebelum Acha teringat sesuatu. Mengingat pembicaraan mereka soal Alfian tadi siang, tiba-tiba bayangan Nathan melintas di kepalanya.
Cowok yang beberapa hari lalu mendatangi minimarket dan menceritakan silsilah keluarga merekanya. Yang ada sangkut pautnya dengan keluarga istrinya Alfian.
"Oh iya, mah..." panggil Acha ragu-ragu.
"Ngomong-ngomong soal si Aa... sebenarnya kemarin ada cowok yang nemuin aku di minimarket. Dia itu anak angkatnya Umi Nani, namanya Nathan."
Ranti menoleh, menyimak cerita Acha. "Nathan? Anak angkat Umi Nani? Mertuanya Alfian, Cha?"
"Iya, mah," jawab Acha mengangguk.
"Nathan bilang dia lumayan dekat sama keluarga Umi Nani, otomatis kenal juga sama si Aa dan teh Suci. Kemarin dia bahkan nanyain aku karena aku gak ikut kumpul makan-makan keluarganya Umi Nani. Dan... kebetulan aku cukup akrab sama dia."
Mendengar penjelasan itu, sorot mata Ranti mendadak berubah tajam, seolah menemukan secercah harapan di tengah kekecewaannya pada Alfian.
Sebagai seorang ibu yang sedang cemas, dia langsung menangkap peluang dari informasi tersebut.
"Kalau gitu, Cha..." ujar Ranti pelan namun tegas, menatap lurus ke mata Acha.
"Kenapa kamu nggak coba dekati cowok itu saja?"
Acha terbelalak kaget. "Hah? Dekati Nathan, mah? Maksud mamah apa?"
"Mamah cuma mau tahu keadaan Alfian dari jauh, Acha," sambung Ranti dengan nada memohon.
"Alfian menghindar dari kita dan nggak mau ngasih tahu kita apa masalahnya. Kalau kamu dekat sama cowok itu, siapa tahu kamu bisa minta tolong cowok itu buat cari tahu kabar dan kondisi Alfian di Jakarta tanpa harus membuat Alfian curiga kalau kita yang nyari."
Acha terdiam kaku di tempat duduknya. Perkataan ibunya itu terasa sangat mirip dengan saran yang sempat diucapkan oleh Tasya di minimarket kemarin.
Saran yang tadinya sempat dia tolak mentah-mentah karena merasa tidak enak kepada Nathan. Namun kini, permintaan itu justru datang langsung dari ibu kandungnya sendiri.
Acha menelan ludahnya yang terasa kelat. Permintaan dari ibunya itu membuat dadanya terasa sesak.
Di satu sisi, dia sangat mengerti dan ikut merasakan kepedihan Ranti sebagai seorang ibu yang diabaikan oleh anak kandungnya sendiri. Wajar jika ibunya ingin mencari tahu kondisi Alfian secara diam-diam.
Namun, di sisi lain, bayangan wajah Nathan saat menceritakan kedekatan mereka kemarin terlintas di kepalanya. Rasanya sangat egois jika dia harus mendekati Nathan semata-mata untuk mengorek informasi, bukan karena ketulusan.
"Tapi, mah..." cicit Acha ragu-ragu, jemarinya saling meremas di atas pangkuan.
"Acha nggak enak sama Nathan. Nanti kelihatan banget kalau aku cuma mau memanfaatkan dia pas lagi butuh doang."
Ranti menghela napas panjang, menatap putrinya dengan penuh iba. Dia mengulurkan tangan, mengelus lembut punggung tangan Acha.
"Bukannya memanfaatkan, Cha... Anggap saja ini cara kita biar bisa tenang dari kejauhan. Mamah cuma khawatir sama Aa kamu," bujuk Ranti pelan.
"Lagi pula, siapa tahu Nathan itu orang nya baik dan perhatian sama kamu, kan? Coba dipikirkan dulu baik-baik."
Acha terdiam dalam dilema yang hebat. Dia tidak langsung mengiyakan, namun desakan dari ibunya membuat benteng penolakannya mulai goyah.
Sebelum Acha sempat merangkai kata untuk menjawab ucapan ibunya, suara langkah kaki terdengar mendekati ruang tengah.
Tidak lama kemudian, Fitri—adik perempuan Acha yang tinggal bersama orang tua mereka—muncul sambil membawa segelas air dingin.
Melihat ekspresi serius di wajah Ranti dan Acha, Fitri langsung menebak apa yang sedang mereka bicarakan. Dia tersenyum usil, lalu mendudukkan diri di sofa seberang mereka.
"Lagi ngobrolin siapa nih? Serius banget mukanya," tanya Fitri basa-basi, lalu meneguk minumannya.
"Oh, jangan-jangan lagi ngobrolin pacar baru loh ya teh?"
Acha langsung salah tingkah. Wajahnya mendadak memanas. "Apaan sih, dek! Siapa juga yang punya pacar baru."
"Halah, nggak usah ngeles, lih!" ledek Fitri sambil tertawa kecil.
"Halah walaupun ada juga gak papa kali. Yah kan mah, pake acara ngeles segala lagi, biasanya nih yah kalau mamah udah ngasih lampu hijau gitu, mending loh sikaaat! Sekalian aja PDKT sama tuh cowok!"
"Apa sih loh!" protes Acha dengan suara tertahan, merasa pipinya semakin panas menahan malu.
Di hadapan Ranti dan Fitri, Acha langsung memasang tampang defensif. Dia buru-buru menggelengkan kepala dan memasang ekspresi paling cuek yang bisa dia buat, mati-matian menutupi debaran aneh di dadanya setiap kali nama Nathan disebut.
"Dih, apaan sih! Gue tuh nggak ada perasaan apa-apa ya sama Nathan! Jangan ngadi-ngadi deh!" elak Acha cepat, sengaja mengeraskan nada suaranya agar terlihat meyakinkan.
"Gue itu cuma anggep dia teman biasa aja, titik. Nggak ada urusan suka-sukaan!"
Ranti hanya tersenyum tipis melihat tingkah anak gadisnya itu, sementara Fitri tergelak puas melihat Acha yang salah tingkah sendiri.
Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, Acha tahu kalau aktingnya itu sama sekali tidak bisa menutupi fakta bahwa kehadiran Nathan sebenarnya cukup meninggalkan kesan mendalam di hatinya.
Melihat pipi Acha yang sudah merona merah padam karena malu, Ranti pun tersenyum maklum. Dia tahu betul bagaimana watak anak-anak gadisnya jika sedang salah tingkah.
"Sudah-sudah, jangan diledek terus teteh-nya, dek. Kelihatan tuh mukanya udah kayak udang rebus," bela Ranti sambil berdiri dari duduknya.
Dia melirik sekilas ke arah Acha yang tampak lemas. "Yuk, Fit, kita ke depan saja. Biar teteh kamu bisa lanjut istirahat, badannya kan dari siang masih lemas habis dari minimarket."
"Iya, mah. Siap!" balas Fitri sambil terkekeh geli, lalu mengekori Ranti melangkah keluar kamar.
Tidak lama kemudian, pintu kamar pun tertutup rapat, menyisakan keheningan dan udara tenang di dalam kamar Acha.
Begitu memastikan Ranti dan Fitri sudah benar-benar pergi, Acha langsung merebahkan tubuhnya kembali ke atas kasur.
Sisa-sisa rasa pusing dan lemas yang tadinya mendera seolah lenyap seketika, tergantikan oleh sensasi hangat yang menggelitik di dalam dadanya.
Bayangan saat Fitri menggoda dan menyuruhnya mendekati Nathan kembali berputar jelas di kepalanya.
Kata-kata "sikat saja" dari adiknya itu sukses membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari normal.
Acha menarik selimut tebalnya tinggi-tinggi hingga menutupi seluruh wajahnya, menyembunyikan senyuman selebar poci yang sejak tadi tidak bisa dia tahan.
Di balik persembunyian selimut itu, dia menggigit bibir bawahnya, senyum-senyum sendiri menahan salah tingkah yang teramat sangat.
"Sialan si Fitri, pake dibahas di depan mamah segala lagi!" batinnya malu, namun sudut hatinya justru merasa berbunga-bunga memikirkan sosok Nathan.
Be to continued