Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Taman Mawar
Embun malam mulai menetes di atas kelopak mawar-mawar merah yang bermekaran di Taman Dalam. Udara dingin merayap menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan wangi semerbak bunga yang menyengat.
Seharusnya, di jam-jam sepi seperti ini, seluruh penghuni Istana Interior telah terlelap di peraduan masing-masing. Namun bagi Aurelia, keheningan malam adalah waktu terbaik untuk bernapas tanpa perlu mengenakan topeng kepalsuan di hadapan para selir.
Dengan mengenakan mantel jubah berwarna biru malam berpenutup kepala yang tebal, Aurelia melangkah pelan di sepanjang jalan setapak berkerikil. Ia sengaja meninggalkan Marta dan para pengawal zirah perak di batas luar taman, berdalih ingin menikmati kesendirian selama beberapa menit. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tak bersuara di atas tanah yang lembap.
Namun, saat ia melintasi gazebo batu pualam yang tertutup oleh rimbunan semak mawar hitam, area terisolasi yang jarang dilewati pelayan. Suara bisikan tertahan menghentikan langkahnya seketika.
Aurelia membeku. Ia menarik tubuhnya mundur secara refleks, menyembunyikan posisinya di balik pilar batu yang tertutup sulur-sulur mawar berduri. Ia menahan napas, menajamkan pendengarannya di tengah desir angin malam.
"Apakah seluruh persiapan di perbatasan barat sudah selesai?" Suara pertama terdengar berat dan tegas, milik seorang pria setengah baya yang mengenakan jubah gelap berlogo Faksi Vance.
"Semua berjalan sesuai rencana, Lord Vance," sahut suara kedua, sebuah suara bariton yang asing, tidak familiar di telinga Aurelia, dengan aksen tajam khas wilayah utara di luar kerajaan. "Pasukan tentara bayaran dari Kerajaan Oakhaven sudah siap bergerak begitu sinyal diberikan dari dalam istana."
Jantung Aurelia berdesir keras. Kerajaan Oakhaven? Tentara bayaran dari luar kerajaan?
Aurelia mengintip sedikit lewat celah daun-daun mawar. Di balik kegelapan gazebo, berdiri dua sosok pria. Salah satunya adalah Pangeran atau Utusan Luar yang diselundupkan, sementara pria lainnya tidak asing lagi baginya: utusan khusus kepercayaan faksi milik Lady Genevieve.
"Ingat," bisik suara asing itu lagi, "target utama kita bukan sekadar mengacaukan Dewan Kerajaan. Pada jamuan malam perayaan musim panas minggu depan, Raja Julian harus dipastikan tewas di tempat. Keracunan racun Vipera yang tak berbau, sehingga tuduhan akan mengarah pada pengawal atau faksi selatan."
Aurelia menekan dadanya yang bergemuruh. Racun Vipera....., racun luar kerajaan yang sangat langka dan mematikan, yang bekerja melumpuhkan jantung dalam hitungan menit tanpa meninggalkan bekas pada organ luar.
"Setelah Julian tewas," utusan Faksi Vance menimpali dengan nada dingin tanpa ragu, "Lady Genevieve akan mengumumkan keadaan darurat dan mengambil alih tahta sementara atas nama dewan. Sebagai imbalan atas bantuan tentara bayaran Oakhaven, dua kota tambang di wilayah utara akan sepenuhnya menjadi milik kerajaan kalian."
"Kesepakatan yang sangat adil," terkekeh pria asing itu pelan. "Pastikan saja Lady Genevieve tidak kehilangan kendali atas selir-selir baru itu, terutama putri dari keluarga Montclair. Jika Montclair mencium rencana ini sebelum waktunya, pasokan emas mereka bisa menggagalkan pembayaran tentara kita."
"Gadis Montclair itu hanya anak ayam yang kebetulan beruntung dalam insiden teh kemarin," cibir utusan Vance rendah. "Genevieve akan membereskannya tepat sebelum jamuan dimulai."
Kedua pria itu terkekeh pelan sebelum akhirnya melangkah pergi secara terpisah, menghilang ke dalam kegelapan lorong-lorong rahasia Istana Interior.
Di balik pilar batu, Aurelia menyandarkan punggungnya yang tegang. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
Di kehidupan sebelumnya, peristiwa ini tidak pernah ia ketahui! Di masa lalu, persekongkolan ini mungkin telah digagalkan secara rahasia oleh Julian, atau mungkin inilah alasan mengapa di kehidupan lalunya perbatasan barat mendadak bergolak parah sebelum kematian Aurelia sendiri.
Faksi Vance ternyata tidak hanya bermain dalam intrik domestik selir, melainkan telah melakukan pengkhianatan tingkat tinggi dengan menjual tanah kerajaan kepada pihak asing demi merebut tahta dari tangan Julian!
Aurelia memegangi sarung belati perak bertatahkan rubi di pinggangnya. Matanya berkilat tajam di dalam kegelapan malam.
Genevieve... kau benar-benar wanita yang sangat berani, batin Aurelia dengan napas yang teratur kembali. Kau tidak hanya ingin menguasai istana interior, tapi kau bersedia menjual kerajaan ini demi menobatkan dirimu sendiri!
Sebuah kalkulasi politik yang sangat besar dan mematikan berputar cepat di dalam benak Aurelia.
Jika ia melaporkan konspirasi ini sekarang secara langsung kepada Julian tanpa bukti fisik yang kuat, Faksi Vance yang sangat berpengaruh di dewan bisa dengan mudah membantahnya dan mengkambinghitamkan Aurelia atas tuduhan fitnah. Apalagi, Julian adalah pria yang sangat rasional dan membutuhkan bukti tak terbantahkan sebelum menghabisi faksi militer terbesar di kerajaannya.
Namun, jika Aurelia membiarkan konspirasi ini berjalan dan mengambil alih kendali atas kartu AS ini...
"Ini bukan lagi sekadar permainan di antara para selir," bisik Aurelia pada dirinya sendiri, jemarinya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Ini adalah senjata pamungkas untuk menghancurkan Faksi Vance sampai ke akar-akarnya."
Aurelia tahu, keselamatan Julian kini berada di dalam genggamannya. Pria yang dulu mengabaikannya hingga ia mati mengenaskan, kini hidupnya tergantung pada keputusan yang akan diambil oleh Aurelia di balik taman mawar ini.
Jika Julian mati di jamuan musim panas, Genevieve akan naik tahta dan Aurelia pasti akan dieksekusi sebagai selir saingan. Namun jika Julian selamat karena bantuan Aurelia, dan Faksi Vance terbukti melakukan pengkhianatan negara... maka tidak ada satu pun orang di kerajaan ini yang bisa menghalangi jalan Aurelia menuju posisi Ratu.
"Kau berhutang nyawa padaku untuk kedua kalinya, Julian," gumam Aurelia dingin.
Aurelia memutar tubuhnya, membenarkan posisi penutup kepala jubah biru malamnya, lalu melangkah keluar dari kegelapan taman mawar dengan tenang. Tidak ada riak ketakutan di wajah cantiknya, hanya ada binar licik dan kejam dari seorang wanita yang baru saja menemukan kartu pemicu runtuhnya sebuah kekaisaran.
Di batas luar taman, Marta dan dua pengawal zirah perak bergegas mendekat begitu melihat sosok Aurelia muncul dari balik remang lampu obor.
"Nona Muda! Apakah Anda baik-baik saja? Anda berada di dalam cukup lama," tanya Marta dengan wajah cemas.
Aurelia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman anggun yang menyembunyikan rahasia paling berdarah di kerajaan ini.
"Aku sangat baik, Marta," jawab Aurelia halus. "Udara malam di taman mawar ini sungguh menyegarkan... dan memberiku banyak sekali inspirasi baru."
Aurelia melangkah mendahului mereka, membiarkan jubah birunya melambai ditiup angin malam. Permainan catur di istana ini telah berubah menjadi papan perang berdarah, dan Aurelia siap memegang kendali atas eksekusi terakhirnya.
Langkah-langkah Aurelia yang menyusuri lorong menuju Pavilion Timur kini terasa jauh lebih berbobot, penuh dengan perhitungan matematis yang dingin. Pengetahuan baru ini adalah belati tak terlihat yang jauh lebih tajam daripada besi perak di pinggangnya; sebuah rahasia yang sanggup meruntuhkan Faksi Vance dan menyeret Genevieve langsung ke tiang gantungan atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara. Setiap jejak kaki yang ia tinggalkan di atas lantai pualam seakan menancapkan dominasinya yang kian nyata di balik layar politik istana.
Marta dan para pengawal zirah perak terus mengekor di belakangnya tanpa menyadari bahwa wanita yang mereka kawal baru saja memegang nasib seluruh kerajaan di dalam jemarinya. Dari balik jendela-jendela tinggi yang mereka lalui, menara utama kediaman Julian tampak berdiri megah namun rapuh, seperti raksasa yang tak menyadari bahaya yang sedang mengintip dari balik tirai. Aurelia melirik menara itu dari sudut matanya, mengukir senyum samar yang dipenuhi ironi atas takdir Julian yang kini sepenuhnya berada di dalam genggamannya.
Memasuki kamar peraduan, Aurelia melepas jubah birunya dan membiarkan Marta menyimpannya tanpa mengumandangkan sepatah kata pun. Ia berjalan mendekati meja rias, meraih belati bertatahkan rubi pemberian Julian, lalu mencabutnya perlahan dari sarungnya untuk menatap kilatan bajanya di bawah temaram cahaya lilin. "Perayaan musim panas akan menjadi panggung eksekusimu, Genevieve," bisik Aurelia pada bilah tajam di tangannya dengan nada suara sedingin es, siap memainkan peran sebagai penyelamat tunggal yang akan menuntut tahta kerajaan sebagai imbalannya.
~ To Be Continue