"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Malam berikutnya, Juna kembali menerima kabar mengejutkan dari Kevin yang berjaga di sekitar wilayah Bully. Seorang anak buah Kaisar Dirgantara ditemukan babak belur di lorong belakang gedung olahraga, dikeroyok oleh sekelompok siswa dari faksi lain yang sengaja dipancing untuk menyerang.
"Katanya, Kaisar yang ngasih tau lokasi anak buahnya sendiri ke faksi lawan," ucap Kevin melaporkan ke Juna melapor dengan suara tergesa, napasnya masih terengah karena baru saja berlari dari lokasi kejadian. "Biar anak buahnya itu dikira lagi ngincer wilayah mereka atas suruhan mu, padahal dia cuma disuruh nunggu di sana buat mancing kamu keluar malam ini."
Juna mendengarkan laporan itu dengan alis berkerut, rasa jijik perlahan menjalar di dadanya, menggantikan sisa amarah yang masih membekas dari pertemuan terakhirnya dengan Kaisar Dirgantara.
'Jadi dia rela ngorbanin anak buahnya sendiri,' batin Juna, 'Agar aku musuhan sama faksi lain, benar-benar licik dan kejam.'
Kabar itu ternyata menyebar cepat di kalangan Bully sendiri, dan reaksi yang muncul jauh dari yang diharapkan Kaisar Dirgantara. Beberapa anak buahnya mulai berbisik-bisik dengan wajah geram, tidak lagi menyembunyikan kekesalan mereka seperti biasanya.
"Gila, sampai segitunya dia ngorbanin orang sendiri," salah satu dari mereka menggerutu pelan di sudut markas, tidak menyadari beberapa telinga lain ikut mendengar dengan perasaan serupa. "Padahal Rudi itu udah paling lama loyal sama dia dari SMP."
"Kalo gini terus, kapan aja bisa giliran kita yang dikorbanin," yang lain menambahkan, nada suaranya kini penuh kewaspadaan yang tidak bisa disembunyikan lagi. "Gue denger Rudi sampe patah tulang rusuk."
"Terus Kaisar cuma bilang apa?" seseorang bertanya penasaran, suaranya penuh harap ada kabar baik yang bisa meredakan kekesalan mereka.
"Cuma bilang, 'yang lemah emang pantas jadi umpan,'" jawab yang lain, membuat seluruh kelompok kecil itu terdiam, wajah mereka mengeras menahan amarah yang mulai tumbuh perlahan namun pasti.
"Gue denger dari yang laporan langsung ke Kaisar," salah satu dari mereka melanjutkan, suaranya semakin pelan seolah takut kata-katanya sendiri bisa terdengar sampai ke telinga sang raja, "katanya Kaisar malah ketawa pas denger Rudi babak belur. Bilangnya, 'bagus, berarti rencananya jalan.'"
"Anjing emang tuh orang," yang lain menggerutu, tinjunya mengepal erat di atas meja. "Rudi udah bela dia dari kelas satu, eh giliran kepake buat umpan malah diketawain."
...------...
Keesokan harinya, Rudi sendiri terlihat duduk sendirian di sudut kantin, tubuhnya masih dibalut perban di beberapa bagian, wajahnya menunduk dalam, tidak berani menatap siapa pun yang lewat di dekatnya. Beberapa temannya sesekali melirik dengan tatapan kasihan, namun tidak ada satu pun yang berani mendekat, takut bernasib sama jika ketahuan terlalu peduli.
Gery yang kebetulan lewat sempat menangkap pemandangan itu, langkahnya melambat sejenak melihat sosok Rudi yang duduk sendirian dengan nampan makanan yang nyaris tidak tersentuh di hadapannya. Ada rasa iba yang muncul, meski Gery tahu ia tidak bisa berbuat banyak tanpa membahayakan dirinya sendiri.
Ia duduk di meja yang cukup jauh, namun masih dalam jangkauan pendengaran, berpura-pura sibuk dengan buku catatannya sendiri. Dari sudut matanya, ia melihat dua anak Bully lain mendekati Rudi, bukan untuk menghibur, melainkan untuk mengejek.
"Tuh kan, jadi bukti gagal beneran," salah satu dari mereka berkata sambil menyenggol bahu Rudi yang masih terluka, membuatnya meringis kesakitan. "Untung Kaisar masih baik mau biarin lu tetep di sini."
Rudi tidak menjawab, hanya menunduk semakin dalam, tangannya mengepal erat di bawah meja, menahan amarah dan rasa malu yang bercampur menjadi satu.
Gery mencatat semua yang ia saksikan dalam ingatannya, wajah Rudi yang penuh luka dan kekecewaan itu menjadi salah satu bukti nyata betapa rapuhnya loyalitas yang selama ini dibangun Kaisar Dirgantara di atas ancaman dan rasa takut, bukan rasa hormat yang sesungguhnya.
...------...
Malam itu, ketika ia melaporkan kejadian di kantin kepada Juna, suaranya terdengar lebih serius dari biasanya.
"Rudi kelihatan udah nggak punya semangat buat loyal lagi," Gery berkata pelan. "Kalo ada yang bisa ngedeketin dia dengan cara yang bener, mungkin dia bisa jadi salah satu yang mau buka mulut soal kelemahan Kaisar."
Juna mengangguk pelan, menyimpan informasi itu baik-baik dalam benaknya, menyadari bahwa retakan di dalam kekuasaan Kaisar Dirgantara kini sudah semakin lebar, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar dimanfaatkan.