Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: PERMAINAN SAHAM BERDARAH
London menyambut mereka dengan kabut abu-abu yang dingin dan gerimis tipis yang membasahi jalanan The City—distrik finansial yang menjadi jantung ekonomi dunia.
Di balik kemegahan arsitektur Victoria dan gedung-gedung kaca yang menjulang tinggi, jutaan poundsterling berpindah tangan setiap detiknya melalui kabel serat optik bawah tanah.
Bagi masyarakat umum, ini adalah pusat kemakmuran; bagi Alana dan Arlan, ini adalah medan perang baru di mana peluru digantikan oleh algoritma, dan darah tumpah dalam bentuk angka-angka merah di layar bursa efek.
Mereka menyewa sebuah penthouse rahasia di wilayah Canary Wharf menggunakan identitas palsu tingkat tinggi yang disediakan oleh sisa-sisa jaringan The Sovereign.
Ruangan itu kini lebih mirip pusat komando militer daripada hunian mewah.
Kabel-kabel melintang di atas karpet Persia, dan enam monitor layar lebar menampilkan grafik candlestick dari Bursa Efek London (LSE) dan data internal dari Apex Global, entitas raksasa milik Alfred Mahendra.
"Alfred berpikir dia bisa mengonsolidasikan kekuatannya melalui merger paksa antara Syailendra Group dan Mahendra Group," Arlan berkata sambil memperbaiki dasi hitamnya di depan cermin.
Meskipun mereka sedang melakukan perang siber, Arlan tetap mempertahankan aura seorang CEO yang tak tergoyahkan.
"Dia ingin mencuci uang hasil penjualan Formula Teratai melalui aset-aset legal kita. Hari ini, kita akan membuat aset itu menjadi racun bagi mereka."
Alana duduk di samping Lukas, tangannya bergerak lincah di atas papan ketik virtual.
Sejak sinkronisasi DNA di Alpen, kecepatan berpikir Alana telah meningkat ke tahap di mana ia bisa memproses data mentah secepat komputer super.
Matanya yang kini memiliki semburat perak samar fokus pada struktur perbankan offshore di Kepulauan Cayman yang baru saja ditemukan Lukas.
"Mummy, aku sudah menemukan pintu belakang di sistem perbankan Standard Crown, bank yang menjamin semua transaksi Apex Global," Lukas berbisik, wajahnya diterangi cahaya biru monitor.
"Mereka menggunakan protokol enkripsi yang sama dengan fasilitas Alpen. Alfred benar-benar malas, dia menggunakan kode sumber yang seragam untuk semua jaringannya."
"Bagus, Lukas. Jangan langsung menyerang," perintah Alana. "Kita butuh pemicu. Arlan, apakah kau sudah siap dengan 'wajah' lamamu?"
Arlan tersenyum dingin. "Video konferensi akan dimulai dalam lima menit. Dunia akan melihat bahwa sang Kaisar Bayangan belum mati, dan dia tidak senang dengan apa yang dilakukan sepupunya."
Tepat pukul 09.00 waktu London, saat bursa saham dibuka, sebuah gelombang kejut menghantam pasar finansial global.
Sebuah video berkualitas tinggi muncul secara serentak di situs berita besar, papan iklan digital di Times Square, hingga layar internal di lantai bursa London.
Dalam video tersebut, Arlan Syailendra berdiri dengan latar belakang Menara Eiffel yang buram—sebuah tipuan lokasi untuk menyesatkan pelacak Ouroboros.
"Nama saya Arlan Syailendra," suara Arlan bergema dengan otoritas yang menghancurkan.
"Saya masih hidup. Dan saya secara resmi menyatakan bahwa merger antara Syailendra Group dan Mahendra Group adalah tindakan ilegal yang didasari oleh pemalsuan dokumen dan intimidasi.
Saya memerintahkan penghentian segera atas semua aktivitas perdagangan saham Apex Global.
Kepada para investor, tarik uang kalian sekarang, sebelum bukti-bukti penipuan medis dan kloning ilegal yang dilakukan Alfred Mahendra dipublikasikan secara global."
Seketika, kekacauan pecah. Di layar monitor, grafik saham Apex Global yang tadinya stabil tiba-tiba terjun bebas secara vertikal.
"Sekarang, Lukas! Lepaskan 'Virus Teratai' ke sistem Standard Crown!" perintah Alana.
Lukas menekan tombol Enter. Sebuah kode perusak yang dikembangkan Alana berdasarkan struktur molekuler Formula Teratai—yang mampu mereplikasi diri secara digital—mulai menyusup ke dalam server bank tersebut.
Virus ini tidak mencuri uang; ia membekukan semua transaksi yang terkait dengan akun-akun Alfred Mahendra.
"Mummy! Sistem pertahanan mereka mencoba melakukan counter-hack!" teriak Lukas. "Mereka mengirimkan sinyal balik yang sangat kuat. Mereka mencoba membakar hard drive kita!"
Alana memejamkan mata. Ia meletakkan tangannya di atas meja, menyentuh kabel data utama.
Resonansi di dalam darahnya mulai bergetar. Melalui kontak fisik, Alana mengirimkan gelombang interferensi biolistrik ke dalam sistem, menciptakan perisai elektromagnetik yang melindungi peralatan Lukas dari serangan balik Ouroboros.
"Aku menahan mereka, Lukas. Lanjutkan!"
Di layar, angka-angka kekayaan Alfred mulai menguap. Sepuluh miliar... lima puluh miliar... seratus miliar dolar hilang dalam hitungan menit saat para investor panik dan melakukan panic selling.
Di kantor pusat Apex Global di London, Alfred Mahendra pasti sedang mengamuk melihat kerajaannya runtuh secara digital.
Namun, Alfred bukan lawan yang mudah menyerah. Di tengah hiruk-pikuk bursa saham, sebuah pesan terenkripsi masuk ke layar utama Alana. Bukan berupa kode, melainkan sebuah siaran langsung.
Alana terengah-engah saat melihat apa yang ditampilkan di sana. Di sebuah ruang bawah tanah yang gelap, Adrian Mahendra—mantan suaminya yang kini menjadi boneka Alfred—sedang memegang sebuah pemicu ledakan.
Di belakangnya, tampak barisan warga sipil yang diculik dari sebuah panti asuhan di pinggiran London.
"Halo, Aura sayang. Dan Arlan, sepupuku yang malang," suara Adrian terdengar gila dan penuh kebencian.
"Kalian pikir bisa mengalahkan kami dengan permainan angka? Ayahku bilang, jika kami kehilangan uang, maka dunia harus kehilangan nyawa.
Untuk setiap satu persen penurunan saham Apex Global, aku akan meledakkan satu blok bangunan ini. Berhenti meretas sekarang, atau darah mereka ada di tanganmu!"
"Bajingan!" Arlan menghantam meja dengan tinjunya.
Alana merasa jantungnya berdegup kencang. Ini adalah dilema moral yang sudah diprediksi Alfred.
Jika mereka berhenti, Alfred akan memulihkan kekuatannya dan terus menyebarkan Formula Teratai yang cacat. Jika mereka lanjut, puluhan orang tak berdosa akan tewas.
"Mummy, apa yang harus kita lakukan?" Lukas menatap ibunya dengan mata penuh air mata.
"Aku tidak bisa berhenti sekarang, sistemnya sudah dalam mode otomatis. Jika aku memaksanya berhenti, virus itu akan meledakkan server bank dan menyebabkan krisis ekonomi global yang tak terkendali."
Alana menatap layar, otaknya bekerja dengan kecepatan cahaya. Ia melihat Adrian di video itu.
Ia memperhatikan detail kecil di latar belakang—suara kereta bawah tanah yang samar dan pola retakan di dinding beton.
"Lukas, jangan berhenti. Tapi alihkan sepuluh persen daya prosesmu untuk melacak lokasi sinyal Adrian.
Arlan, panggil tim pendukung The Sovereign di London. Aku tahu di mana mereka berada.
Itu bukan di London Utara, itu di stasiun terbengkalai di bawah Distrik Whitechapel!"
"Kau yakin?" tanya Arlan.
"Resonansi Teratai di darahku bisa merasakan frekuensi biometrik Adrian. Dia ada di sana," Alana bangkit, wajahnya dingin dan mematikan.
"Lukas, teruskan serangan sahamnya. Buat Alfred bangkrut sepenuhnya. Arlan, kita akan pergi ke sana sekarang. Kita akan menghentikan Adrian secara permanen."
Perjalanan menuju Whitechapel dilakukan dengan kecepatan tinggi menggunakan motor sport hitam yang tersamar.
Di dalam lorong-lorong bawah tanah London yang lembap dan gelap, Alana dan Arlan bergerak seperti bayangan.
Kemampuan sensorik Alana menuntun mereka melewati terowongan Victoria yang sudah lama dilupakan.
Saat mereka mencapai pintu baja ruang bawah tanah tersebut, Alana bisa merasakan detak jantung Adrian yang tidak stabil—seorang pengecut yang bersembunyi di balik kekuasaan ayahnya.
BRAKK!
Arlan mendobrak pintu dengan tendangan bertenaga, sementara Alana masuk dengan gerakan akrobatik, melepaskan dua tembakan bius ke arah pengawal Adrian sebelum mereka sempat bereaksi.
Adrian tersentak, jarinya gemetar di atas tombol pemicu. "Jangan mendekat! Aku bersumpah akan meledakkan tempat ini!"
"Adrian," Alana melangkah maju dengan tenang, tidak ada ketakutan di wajahnya.
"Lihat aku. Kau pikir ayahmu peduli padamu? Di saku jasmu, ada perangkat pelacak yang juga berfungsi sebagai bom bunuh diri.
Alfred berencana melenyapkanmu bersama para sandera ini agar dia bisa berperan sebagai 'ayah yang berduka' dan mendapatkan simpati publik."
Wajah Adrian memucat. "Kau bohong!"
"Periksa saku kirimu, Adrian. Periksa frekuensi radio yang berdenyut di sana," Alana menggunakan suaranya yang kini memiliki kekuatan sugesti akibat sinkronisasi DNA.
Adrian merogoh sakunya dengan tangan gemetar dan mengeluarkan sebuah chip hitam kecil yang berkedip merah.
Di layar tablet yang dibawa Arlan, Lukas mengirimkan pesan: "Mummy, bom itu akan meledak dalam tiga puluh detik! Alfred baru saja mengaktifkan protokol 'Pembersihan Saksi'!"
"Sialan!" Arlan menerjang maju, merebut pemicu dari tangan Adrian yang lemas, sementara Alana menyambar chip peledak dari tangan Adrian dan melemparkannya ke dalam terowongan pembuangan yang dalam.
BOOOM!
Ledakan terjadi di kejauhan di dalam pipa pembuangan, mengirimkan getaran hebat namun tidak merusak struktur bangunan.
Para sandera selamat. Adrian jatuh terduduk di lantai, menangis seperti anak kecil yang baru menyadari bahwa dia hanyalah pion yang bisa dibuang.
Arlan mencengkeram kerah baju Adrian. "Kau akan membusuk di penjara yang paling gelap, Adrian. Dan kali ini, tidak ada pengacara atau ayah yang bisa menyelamatkanmu."
Kembali ke penthouse, Lukas memberikan laporan akhir. Bursa efek London telah menghentikan perdagangan saham Apex Global setelah nilainya menyentuh angka nol.
Standard Crown Bank dinyatakan pailit dan diambil alih oleh otoritas moneter. Kekayaan Alfred Mahendra yang legal telah musnah dalam satu pagi itu.
Alana berdiri di balkon, menatap hujan London yang kini mulai mereda. Di tangannya, ia memegang botol perak Formula Teratai yang kini tampak bersinar redup.
Mereka telah memenangkan perang ekonomi, namun ia tahu Alfred masih memiliki pasukan bayangan dan sisa-sisa laboratorium yang tersembunyi.
"Dunia telah melihat kebenaran hari ini," Arlan mendekatinya, menyampirkan jaket ke bahu Alana. "Alfred sedang diburu oleh interpol dan setiap agen intelijen di dunia. Dia tidak punya tempat untuk bersembunyi."
"Orang seperti Alfred tidak akan bersembunyi, Arlan," sahut Alana. "Dia akan menyerang balik dengan sisa kekuatannya. Dia masih memiliki 'Proyek Kiamat' yang belum kita temukan."
Lukas datang membawa berita baru. "Mummy, Paman Arlan... aku menemukan transmisi terakhir dari server Alfred sebelum dia menghilang.
Koordinatnya menuju ke sebuah kastil tua di Skotlandia. Dan... ada pesan suara untuk Mummy."
Alana memutar pesan tersebut. Suara Alfred terdengar tenang, hampir seperti seorang kakek yang sedang mendongeng.
"Permainan yang bagus, Aura. Kau menghancurkan uangku, tapi kau justru mempercepat rencanaku.
Uang hanyalah kertas, tapi darah adalah segalanya. Aku menunggumu di 'The End of the Line'. Bawalah Formula Teratai itu, atau aku akan melepaskan virus kegagalan Teratai ke pasokan air London. Pilihan ada di tanganmu, Sang Permaisuri."
Alana menatap langit London yang kelabu. Perang saham ini memang berdarah, namun puncaknya akan segera tiba. Di Skotlandia, segalanya akan berakhir—atau baru saja dimulai.
"Siapkan helikopter," kata Alana tegas. "Kita akan ke Skotlandia. Waktunya memenggal kepala Ouroboros."