Firman (22) punya satu prinsip dalam hidupnya: "Jangan pernah berharap sama manusia, maka kamu tidak akan kecewa." Pengkhianatan di masa lalu mengubahnya menjadi jurnalis yang dingin dan skeptis terhadap komitmen. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak rasional.
Di sebuah lapangan badminton di Samarinda, ia bertemu Yasmin (22). Seorang dokter muda yang lembut namun memiliki tembok yang sama tingginya dengan Firman. Yasmin adalah ahli dalam mengobati fisik, tapi ia sendiri gagal menyembuhkan luka akibat ditinggalkan tanpa penjelasan.
Mereka tidak menjanjikan selamanya. Mereka hanya sepakat untuk berada di "level" yang sama sebagai teman diskusi, teman batin, namun tanpa ikatan yang mencekik. Namun, ketika masa lalu mulai kembali menagih janji dan jarak antar kota (Bontang hingga Labuan Bajo) mulai menguji, mampukah mereka tetap di level yang aman? Ataukah mereka harus memilih: Berhenti sebelum terluka, atau berani hancur demi satu kesempatan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firmanshxx969, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: NAPAS DI UJUNG NADIR
Roda besi kereta api barang itu menjerit saat bergesekan dengan rel yang dingin, menciptakan irama monoton yang memuakkan di tengah kegelapan malam Jawa Tengah. Di dalam gerbong tertutup yang dipenuhi tumpukan karung semen, udara terasa pengap dan berdebu. Cahaya bulan hanya mampu menyelinap melalui celah sempit di pintu geser yang tidak tertutup rapat, memberikan siluet perak pada wajah-wajah yang sedang bersembunyi dari kejaran maut.
Firman duduk bersandar pada dinding seng yang bergetar. Bahu kirinya yang terluka berdenyut mengikuti irama kereta, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sedang ia saksikan di pangkuannya.
Yasmin.
Tubuh perempuan itu mendadak kaku. Matanya mendelik ke atas, hanya menyisakan bagian putih yang mengerikan di bawah cahaya remang. Giginya bergemeletuk keras, dan busa tipis mulai muncul di sudut bibirnya. Kejang itu datang tanpa peringatan, sebuah serangan elektrik dari dalam otaknya yang seolah-olah sedang memberontak.
"Yas! Yasmin! Dengar saya!" Firman berteriak parau, tangannya gemetar hebat saat mencoba menahan tubuh Yasmin agar tidak membentur lantai besi yang keras.
"Jangan tahan gerakannya, Firman! Biarkan saja, atau ototnya bisa robek!" Sarah berteriak dari sudut gerbong, ia segera merangkak mendekat dengan senter kecil di mulutnya.
"Apa yang terjadi dengannya, Sarah?! Kamu bilang dia cuma butuh istirahat!" suara Firman naik satu oktav, dipenuhi kepanikan yang jarang ia tunjukkan.
Sarah tidak menjawab. Ia dengan cekatan memeriksa denyut nadi di leher Yasmin dan menyinari pupil matanya. Wajah Sarah yang biasanya angkuh kini dipenuhi ketakutan yang nyata. "Ini bukan kejang biasa, Firman. Ini neurological feedback. Saat kamu mencabut sensor di sanatorium secara paksa, kamu memutus aliran sinyal penyeimbang yang dikirim oleh mesin Syarifuddin. Otaknya sekarang sedang mencari frekuensi yang hilang itu. Dia... dia mengalami crash."
"Lakukan sesuatu, Sarah! Kamu kan tahu teknologi gila ini!" Firman mencengkeram lengan Sarah, matanya memancarkan keputusasaan yang mendalam.
"Aku bukan teknisinya, Firman! Aku cuma tahu teorinya!" Sarah menyentak tangannya. "Syarifuddin sengaja merancang ini. Yasmin butuh kode aktivasi X-22 untuk menstabilkan gelombang otaknya. Tanpa itu, kejang ini akan terus berulang sampai pembuluh darah di otaknya pecah atau jantungnya berhenti karena kelelahan."
Rendy yang duduk di dekat pintu gerbang, menatap keluar dengan waspada, menoleh dengan wajah pucat. "Man, kita nggak punya obat-obatan di sini. Kita cuma punya air minum dan kain lap. Kalau kita nggak sampai di Tuban dan cari bantuan medis, Yasmin nggak akan bertahan sampai subuh."
Firman menatap wajah Yasmin yang kini mulai membiru karena kekurangan oksigen. Ia merasa seperti pecundang terbesar di dunia. Ia bisa membongkar skandal korupsi, ia bisa menghadapi menteri, tapi ia tidak bisa memberikan napas untuk wanita yang ia cintai wanita yang ternyata adalah bagian dari dirinya sendiri.
Pukul 22.00 WIB, Di Atas Gerbong Kereta.
Kejang Yasmin mereda setelah lima menit yang terasa seperti selamanya. Kini, ia terbaring lemas, napasnya pendek-pendek dan tidak teratur. Firman menyeka sisa busa di bibir Yasmin dengan ujung jaketnya. Ia memeluk kepala Yasmin di dadanya, membisikkan doa-doa yang selama ini jarang ia ucapkan.
"Kenapa harus sekejam ini, Yas?" bisik Firman. "Kenapa kebenaran yang saya cari harus dibayar dengan setiap tetes darahmu?"
Sarah duduk bersandar di seberang mereka, menatap kegelapan di luar gerbong. "Syarifuddin tidak ingin Yasmin mati, Firman. Dia ingin Yasmin kembali padanya. Dia tahu kamu akan melakukan apa saja untuk menyelamatkannya. Kode itu... itu adalah umpan terakhirnya."
"Saya tidak akan menyerahkannya padanya," sahut Firman, suaranya kini kembali dingin dan tajam. "Jika saya menyerahkan Yasmin kembali ke sanatorium itu, dia akan hidup sebagai mayat tanpa ingatan. Saya lebih baik melihatnya mati sebagai manusia daripada hidup sebagai budak sains Syarifuddin."
"Kamu egois!" Sarah mendesis. "Kamu bicara soal martabat, tapi yang menderita adalah dia! Lihat dia, Firman! Dia butuh bantuan medis!"
"Saya tahu!" bentak Firman. "Makanya kita harus temukan 'Anak Malam' di Tuban. Ayah bilang dia punya kunci terakhir. Mungkin kunci itu bukan hanya soal data, tapi soal cara mematikan sistem X-22 ini selamanya."
Rendy memberikan botol air mineral pada Firman. "Man, kita hampir sampai di daerah Lamongan. Setelah ini Tuban. Tapi gue dengar dari radio HT yang gue curi tadi, militer sudah pasang blokade di setiap stasiun dan jalur perlintasan. Mereka cari jurnalis dan dokter yang 'hilang'. Kita harus melompat sebelum kereta masuk ke area kota."
Firman menatap Yasmin, lalu menatap pintu gerbong yang terbuka sedikit. Melompat dari kereta yang sedang melaju dalam kondisi Yasmin yang seperti ini adalah kegilaan. Tapi tetap di dalam adalah bunuh diri.
Perlintasan Hutan Jati, Perbatasan Lamongan-Tuban, Pukul 23.30 WIB.
Kereta api mulai melambat saat memasuki jalur menanjak di tengah hutan jati yang rimbun. Inilah kesempatan mereka.
"Sekarang!" perintah Firman.
Rendy melompat duluan, mendarat di atas tumpukan daun kering dengan gulingan yang cukup rapi. Disusul Sarah yang melompat dengan lincah. Firman berdiri di bibir pintu gerbong, menggendong Yasmin di punggungnya menggunakan ikatan kain sarung yang ia temukan di pojokan gerbong.
"Pegang erat, Yas," bisik Firman.
Ia melompat. Angin malam menerpa wajahnya, dan sedetik kemudian, tubuhnya menghantam tanah yang keras. Firman berguling beberapa kali, melindungi tubuh Yasmin dengan seluruh kekuatannya. Bahunya yang cedera menghantam akar pohon, mengirimkan rasa sakit yang membuat pandangannya memutih sejenak.
Ia terengah-engah di atas tanah yang lembap, mencium aroma tanah dan jati yang kuat. Ia segera memeriksa Yasmin. Perempuan itu masih pingsan, namun napasnya masih ada.
"Man! Lo nggak apa-apa?" Rendy berlari menghampiri mereka.
"Jalan... kita harus masuk lebih dalam ke hutan," Firman bangkit dengan tertatih.
Mereka berjalan menembus kegelapan hutan jati selama hampir dua jam. Firman menggendong Yasmin tanpa mengeluh sedikit pun, meski keringat dingin membasahi punggungnya dan kakinya mulai terasa kaku. Mereka mengikuti koordinat yang diberikan "Baskara" sebelum ledakan di panti asuhan.
Sampai akhirnya, mereka sampai di sebuah gubuk nelayan yang terisolasi di pinggir pantai utara Tuban. Gubuk itu tampak reyot, namun di depannya terparkir sebuah perahu motor yang sangat modern sebuah kontradiksi yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang dunia bawah.
Pintu gubuk terbuka. Seorang pria tua dengan kulit yang legam terbakar matahari dan satu mata yang buta keluar membawa senapan berburu.
"Siapa kalian?" suaranya parau, seperti gesekan kerikil.
"Anak Malam," ucap Firman, suaranya tegas meski fisiknya hancur. "Saya Firmansah, putra Baskara Putra. Ayah saya mengirim saya ke sini untuk mengambil 'Cahaya Terakhir'."
Pria tua itu tertegun. Ia menurunkan senapannya. Matanya yang sehat menatap Firman dengan saksama, lalu beralih ke Yasmin yang ada di gendongan Firman.
"Baskara..." pria itu bergumam. "Dia bilang suatu saat kamu akan datang membawa beban yang berat. Masuklah. Cepat."
Di Dalam Gubuk Anak Malam.
Gubuk itu ternyata hanyalah pintu masuk menuju sebuah ruang bawah tanah yang sangat canggih. Di bawah lantai kayu yang lapuk, terdapat laboratorium mini dengan peralatan medis yang jauh lebih baik daripada panti asuhan tadi.
"Letakkan dia di sana," pria itu menunjuk sebuah meja operasi perak.
Pria tua itu, yang ternyata adalah mantan teknisi bio-medis yang membelot dari Syarifuddin puluhan tahun lalu, segera memeriksa kondisi Yasmin. Ia menghubungkan sebuah alat pemindai ke pelipis Yasmin.
"X-22," gumam pria itu. "Syarifuddin masih memakai metode kuno ini? Dia benar-benar monster yang konsisten."
"Bisa Anda menyelamatkannya?" tanya Yasmin, suaranya penuh harap.
"Dia tidak butuh kode Syarifuddin," pria itu menatap Firman. "Dia butuh source code yang asli. Dan source code itu ada di dalam dirimu, Firman."
Firman mengernyit. "Maksud Anda?"
"Kalian adalah pasangan biner. Syarifuddin menciptakan kalian dengan sistem kunci dan gembok. Otak Yasmin adalah gemboknya, dan darahmu... darahmu adalah kuncinya. Antibodi yang diproduksi tubuhmu mengandung enzim penstabil yang dibutuhkan sistem saraf Yasmin. Dia tidak butuh kode digital, dia butuh transfusi darah langsung darimu."
"Lakukan sekarang," ucap Firman tanpa ragu, ia langsung menyingsingkan lengan bajunya.
"Tunggu, Firman," pria itu menahan tangan Firman. "Kondisimu sedang lemah. Kamu kehilangan banyak darah akibat luka di bahumu dan pelarian ini. Melakukan transfusi dalam kondisi seperti ini bisa membuat jantungmu gagal. Kamu bisa mati."
"Saya sudah bilang berkali-kali," Firman menatap wajah Yasmin yang pucat. "Hidup saya diciptakan untuk menjaganya. Jika saya harus memberikan setiap tetes darah saya agar dia bisa bernapas kembali, maka itulah tujuan saya ada di dunia ini. Lakukan."
Sarah menatap Firman dengan tatapan yang sangat kompleks. Ia melihat pria yang dulu ia sakiti, kini sedang bersiap memberikan nyawanya untuk wanita yang seharusnya menjadi adiknya. "Firman... jangan gila. Kita bisa cari cara lain."
"Nggak ada cara lain, Sarah," Firman berbaring di tempat tidur di samping Yasmin. "Rendy, kalau terjadi sesuatu sama gue... pastikan Yasmin tahu bahwa dia bebas. Dan pastikan artikel terakhir gue tentang Syarifuddin terbit di seluruh halaman depan koran besok pagi."
Proses transfusi dimulai. Selang plastik bening kini menghubungkan pembuluh darah Firman ke pembuluh darah Yasmin. Firman bisa merasakan darahnya ditarik keluar, rasa dingin mulai merayap dari ujung jari kakinya menuju jantungnya.
Ia menoleh ke arah Yasmin. Ia melihat warna kemerahan mulai kembali ke pipi perempuan itu. Napas Yasmin yang tadinya pendek kini mulai stabil dan dalam. Keajaiban biologi sedang terjadi di depan mata mereka.
Pandangan Firman mulai mengabur. Kepalanya terasa sangat ringan. Ia merasa seolah-olah sedang melayang di atas laut Mahakam yang tenang. Ia melihat bayangan ibunya, Eliza, tersenyum padanya dari kejauhan.
"Mas... Firman...?"
Suara itu. Suara Yasmin.
Yasmin membuka matanya. Ia menoleh ke samping dan melihat Firman yang wajahnya sudah sepucat kertas, dengan selang darah yang menghubungkan mereka.
"Mas! Apa yang kamu lakukan?!" Yasmin mencoba bangun, namun ia masih terlalu lemah.
"Jangan... jangan banyak gerak, Yas," bisik Firman, suaranya hampir hilang. "Istirahatlah... kamu... kamu sudah aman sekarang."
"Kenapa kamu berikan darahmu? Kamu bisa mati!" tangis Yasmin pecah. Ia memegang tangan Firman yang dingin.
"Level 5, Yas," senyum Firman muncul untuk terakhir kalinya sebelum matanya menutup. "Level di mana... saya akhirnya... benar-benar melindungimu."
Tiba-tiba, monitor jantung Firman mengeluarkan bunyi pip panjang yang mengerikan.
"MAS FIRMAN! BANGUN!" teriak Yasmin histeris.
"Anak Malam" segera bertindak, mencoba menstabilkan kondisi Firman. Namun, di saat yang sama, suara deru helikopter terdengar di atas gubuk mereka. Cahaya lampu sorot raksasa menembus celah-celah kayu gubuk, menyinari ruangan bawah tanah itu dengan cahaya putih yang menyilaukan.
"Ini Kepolisian Republik Indonesia! Menyerahlah! Lokasi kalian sudah terkepung!" suara dari pengeras suara helikopter menggetarkan seluruh bangunan.
Syarifuddin telah sampai. Dan dia sampai di saat Firman berada di ambang kematian.
Firman berada dalam kondisi mati suri akibat kehilangan terlalu banyak darah, sementara pasukan elit Syarifuddin mulai mendobrak masuk ke gubuk Anak Malam. Yasmin yang baru saja pulih secara fisik namun hancur secara mental, harus membuat keputusan gila: menyerahkan diri pada Syarifuddin untuk mendapatkan bantuan medis tercanggih bagi Firman, atau membiarkan Firman mati di sana demi menjaga rahasia Proyek Lentera. Di tengah kekacauan itu, Sarah tiba-tiba mengarahkan senjatanya ke arah 'Anak Malam'. Apa yang sebenarnya direncanakan Sarah? Dan benarkah transfusi darah itu justru memicu sesuatu yang lebih mengerikan di dalam tubuh Yasmin?