Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penumpang Gelap
Dinginnya pelabuhan Southampton terasa menusuk hingga ke sumsum tulang saat Agil, yang kini mengenakan jaket hoodie lusuh dan topi rajut, berdiri di balik tumpukan kontainer biru yang menjulang. Di sampingnya, Andy—sang mantan auditor yang kini menjadi sekutu paling berisiko bagi Agil—menatap jam tangannya dengan gelisah.
"Kau yakin dengan ini, Agil?" bisik Andy. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin crane raksasa. "Kapal kargo 'The Northern Star' ini akan transit di tiga negara sebelum mencapai pelabuhan kecil di dekat Batam. Jika kau ketahuan oleh kru kapal atau otoritas pelabuhan, aku tidak bisa menjamin nyawamu. Baskoro akan dengan mudah melenyapkanmu di tengah laut lepas tanpa ada satu pun saksi."
Agil menatap ke arah kapal raksasa yang sedang memuat ribuan peti kemas tersebut. "Aku sudah mati sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di London, Andy. Jiwaku ada di Jakarta, sedang disiksa oleh ayahku sendiri. Lebih baik aku membusuk di dalam kontainer ini daripada tetap di sini sebagai pengecut."
Andy menyerahkan sebuah tas ransel tahan air. "Di dalamnya ada paspor palsu, telepon satelit yang sudah dienkripsi, dan data cadangan Proyek Icarus. Jika terjadi sesuatu padaku di sini, kau adalah satu-satunya orang yang bisa membongkar kebusukan ayahmu ke dunia internasional."
Agil mengangguk singkat, menjabat tangan Andy dengan erat, lalu menyelinap masuk ke dalam salah satu kontainer terbuka yang berisi suku cadang alat berat. Begitu pintu kontainer ditutup dari luar oleh orang suruhan Andy, kegelapan total menyergap. Agil hanya bisa mendengar bunyi besi yang beradu dan getaran mesin kapal yang mulai bergerak. Ia akan menghabiskan dua minggu ke depan sebagai penumpang gelap dalam pengapnya ruang logam.
Sementara Agil bertaruh nyawa di lautan, Jakarta sedang bersiap untuk sebuah perayaan besar. Ulang tahun ke-30 Baskoro Group. Di mansion Menteng, Baskoro berdiri di depan cermin besar, sementara seorang penjahit ternama sedang menyesuaikan jas tuxedo mewahnya.
Di sudut ruangan, Laila berdiri mematung. Wajahnya yang kuyu dipaksa untuk dipoles dengan make-up tebal. Seorang perias pengantin paling mahal dikirim Baskoro untuk menutupi lingkaran hitam di bawah mata Laila dan pipinya yang tirus.
"Kau harus terlihat sempurna malam ini, Laila," ujar Baskoro tanpa menoleh, menatap bayangan Laila di cermin. "Malam ini, di depan para pemegang saham dan menteri, aku akan mengumumkan bahwa kau akan memimpin Yayasan Kemanusiaan Baskoro. Ini adalah posisi yang sangat strategis untuk memperbaiki citra keluarga kita."
"Aku tidak mau, Pa. Aku hanya ingin pulang ke rumah orang tuaku," bisik Laila dengan suara yang nyaris hilang.
Baskoro berbalik, mendekati Laila hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Ia menyentuh dagu Laila dengan kasar. "Pulang? Setelah semua uang yang kukeluarkan untuk ayahmu? Ingat ancamanku soal ibumu, Laila. Jika kau tidak tersenyum dan memainkan peranmu sebagai menantu yang berbakti malam ini, ibumu akan masuk ke rumah sakit jiwa besok pagi pukul delapan tepat."
Laila terisak, namun ia segera menelan tangisnya saat perias kembali mendekatinya. Ia merasa seperti boneka yang sedang didandani untuk pertunjukan yang mematikan.
Di dalam kontainer, Agil mulai mengalami delusi akibat kurangnya oksigen dan ruang gerak yang sangat terbatas. Suhu di dalam peti besi itu bisa menjadi sangat panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari. Ia hanya makan biskuit protein dan minum air mineral yang sangat dijatah.
Pada malam ketujuh, kapal kargo itu terjebak badai besar di Samudra Hindia. Kontainer-kontainer berguncang hebat. Agil terlempar ke sana kemari di antara mesin-mesin besi tajam. Kepalanya membentur sudut peti hingga berdarah.
Dalam rasa sakit dan kesadarannya yang mulai menipis, Agil mengeluarkan telepon satelitnya. Ia ingin menghubungi Laila, namun ia tahu itu akan membocorkan posisinya. Sebagai gantinya, ia menghubungi Gito di Jakarta.
"Gito... ini aku..." suara Agil terdengar parau.
"Pak Agil? Di mana Anda? Sinyal Anda terlacak di tengah laut!" Gito terdengar sangat cemas.
"Jangan tanya di mana aku. Bagaimana Laila?"
"Kondisinya kritis, Pak. Baskoro akan membawanya ke pesta ulang tahun perusahaan lusa malam. Saya melihat Laila dibawa ke rumah sakit jiwa kemarin untuk 'kunjungan paksa'. Baskoro mengancam keluarganya habis-habisan. Pak Agil, jika Anda tidak sampai dalam tiga hari, saya takut Laila akan benar-benar kehilangan kewarasannya."
"Aku akan sampai, Gito. Pastikan kau dan anak buahmu sudah siap di pelabuhan rahasia yang kuberikan. Dan satu lagi... hubungi Andy di London. Katakan padanya untuk mulai merilis fase pertama gangguan saham di bursa London besok pagi. Kita mulai serangannya sekarang."
Agil mematikan teleponnya. Ia merangkak dalam kegelapan, mencari obat luka di tasnya. Di tengah rasa sakit yang luar biasa, kebenciannya pada Baskoro menjadi satu-satunya bahan bakar yang membuatnya tetap terjaga. Ia membayangkan wajah Laila yang sedang menderita, dan itu memberinya kekuatan untuk bertahan di dalam penjara besi tersebut.
Hari H tiba. Ballroom sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat dipenuhi dengan cahaya lampu kristal dan bunga-bunga impor. Baskoro masuk dengan penuh kemenangan, menggandeng Laila di lengan kirinya. Semua orang bertepuk tangan, memuji betapa serasinya sang mertua dengan menantunya yang cantik.
Namun, di balik senyum palsu itu, Laila merasakan sebuah benda tajam menusuk pinggangnya. Baskoro menyembunyikan sebuah pisau kecil di balik lengan jasnya, menekan kulit Laila agar wanita itu terus berjalan.
"Tersenyum, Sayang. Dunia sedang melihatmu," bisik Baskoro.
Tiba-tiba, suasana pesta yang megah itu terganggu. Beberapa tamu mulai berbisik sambil menatap ponsel mereka. Layar televisi besar di panggung yang seharusnya menampilkan sejarah perusahaan, tiba-tiba berubah warna menjadi merah.
Indeks saham Baskoro Group di bursa London dilaporkan anjlok 15% dalam waktu satu jam akibat rumor skandal pencucian uang proyek Icarus.
Wajah Baskoro menegang. Ia mencoba tetap tenang, namun asisten pribadinya berlari mendekat dengan wajah pucat. "Tuan, ada masalah besar. Sistem keuangan kita di Eropa sedang diretas, dan... dan ada laporan bahwa Pak Agil tidak ditemukan di apartemennya di London selama tiga hari terakhir."
Baskoro mencengkeram lengan Laila hingga wanita itu merintih. "Apa?! Bagaimana bisa dia hilang?!"
Di saat yang sama, di Pelabuhan Tikus kawasan Banten, sebuah kontainer diturunkan dari kapal kargo. Pintu besi itu dibuka paksa dari luar oleh Gito.
Sesosok pria dengan tubuh yang jauh lebih kurus, rambut berantakan, dan tatapan mata yang haus akan pembalasan keluar dari sana. Agil menghirup udara Indonesia dengan napas yang berat. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet yang memperlihatkan grafik kehancuran saham ayahnya.
"Ayo berangkat, Gito," ucap Agil dengan suara yang sedingin es. "Pesta Papa belum berakhir. Dan aku baru saja membawa kado spesial untuknya."
Agil tidak pulang ke rumah. Ia menuju jantung keributan: Ballroom Hotel di mana ayahnya sedang merayakan kebohongannya. Lika-liku perjuangan Agil kini memasuki tahap konfrontasi fisik yang akan mengubah sejarah keluarga Baskoro selamanya.