Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Hari ini tidak ada pesanan, sehingga Dian bisa sedikit bersantai. Pagi itu ia membeli sarapan. Mertuanya ingin makan bubur, jadi Dian pergi membeli sekaligus untuk dirinya dan Naya.
Sesampainya di rumah, ibu mertuanya sudah duduk di meja makan.
“Ini kamu beli di langganan biasa, kan?” tanya Bu Minah.
“Iya, Bu. Sebentar, saya siapkan dulu,” jawab Dian.
Sementara mertuanya mulai menyantap sarapan, Dian masuk ke kamar untuk melepas jilbab dan berganti dengan baju rumahan.
Saat Dian baru sampai di dapur, ia melihat buburnya hanya tersisa satu porsi. Ia pun bertanya pelan kepada mertuanya,
“Ibu… Ibu makan porsi Dian, ya?”
“Iya. Habisnya Ibu masih lapar,” jawab Bu Minah datar tanpa rasa bersalah.
Dian hanya bisa mengelus dada, mencoba menahan diri.
“Kenapa? Kamu tidak suka? Lagian kamu belanja juga pakai uang Andi, Dian… jadi tidak usah pelit-pelit,” ujar Bu Minah sambil bangkit dari kursi.
Dian duduk di meja makan, menuangkan teh hangat ke dalam gelas. Ia membuka toples, mengambil roti jagung, dan memakannya perlahan untuk sekadar mengganjal perutnya yang masih kosong.
“Dian! Dian! Dian!” teriak Bu Minah dari ruang depan.
Dian segera bergegas menghampiri mertuanya.
“Iya, Bu. Ada apa?” tanyanya cepat.
“Kamu lihat itu si Naya keluar rumah! Kamu ini ceroboh sekali jadi ibu. Masa pintu tidak ditutup?” omel Bu Minah dengan nada tinggi.
Dian segera bergegas menghampiri Naya, lalu menggendong putrinya dan membawanya masuk kembali ke dalam rumah.
Dian menatap mertuanya dengan amarah yang sulit ia tahan.
“Ibu kan bisa saja membawa Naya masuk. Kenapa sih Ibu tidak pernah mau menerima Naya?” ucapnya sebelum berbalik dan berjalan masuk ke kamar.
“Aku tidak suka! Aku mau cucu laki-laki—penerus keluarga!” balas Bu Minah dengan suara tinggi.
Kalimat itu terdengar jelas hingga ke dalam kamar. Dian yang mendengarnya hanya bisa menunduk sedih. Sejak awal mertuanya tahu bahwa bayi yang dikandung Dian adalah perempuan, sikap Bu Minah berubah menjadi dingin dan acuh hingga Naya lahir.
Pukul sebelas, seluruh pekerjaan rumah sudah selesai. Besok ada pesanan cireng, jadi Dian membuat sebuah story: “Yuk, siapa yang mau cireng frozen, kabarin yaa.” Begitulah bunyi statusnya.
Setelah itu, Dian bersantai di kamar bersama Naya yang sedang asyik bermain.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk keras.
“Kamu ngapain saja sih, Dian? Di kamar terus!” keluh Bu Minah dengan nada kesal.
Dian membuka pintu dengan malas.
“Kenapa, Bu? Pekerjaan Dian sudah selesai semua.”
“Kamu ini kalau dikasih tahu malah melawan!” bentak mertuanya. “Belikan Ibu nasi Padang. Dian pergi sebentar saja, tak usah ajak Naya!”
Dian mengulurkan tangan.
“Uangnya mana, Bu?”
“Uang apa?” tanya Bu Minah ketus.
“Uang buat beli nasi Padang,” jawab Dian datar.
Mendengar itu, Bu Minah langsung mendelik marah.
“OOO… sekarang kamu sudah berani perhitungan sama mertuamu? Uang yang kalian pakai itu semua uang anakku! Kamu bisanya cuma ngabisin saja!”
Baru saja Dian melepas helm setelah tiba di rumah, ia mendengar suara Naya yang menangis keras dari dalam.
“Sabar, Naya… ibumu lagi pergi beli makanan,” ujar Bu Minah dengan nada kesal. Raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaan—Naya pasti rewel karena Dian pergi tanpa mengajaknya.
Dian masuk ke rumah dan menyerahkan makanan kepada mertuanya. Setelah itu, ia langsung menuju kamar dan mendapati Naya sedang menangis.
“Ibu…” ucap Naya lirih.
“Iya, Sayang… Ibu di sini,” balas Dian lembut sambil menggendong putrinya, berusaha menenangkan tangis kecil itu.
Dari luar kamar, terdengar suara ibu mertuanya berteriak memanggil Dian. Namun Dian memilih tidak langsung menanggapi.
“Menantu macam apa kamu ini?! Ibu mintanya ayam bakar, malah dikasih ayam rendang! Bosan, Dian… bosan!” omel Bu Minah sambil terus menggerutu di ruang tengah.
Dian mendengar dengan jelas karena pintu kamarnya tidak ia tutup. Dalam hati ia hanya bisa berkata lirih, “Apa pun yang kulakukan, selalu saja salah di mata Ibu…”
Setelah berhasil menenangkan Naya hingga putrinya tertidur, Dian kembali ke dapur untuk mengecek bahan-bahan apa saja yang sudah mulai habis. Ia teringat bahwa tadi ada beberapa pelanggan yang memesan beberapa pack, sebagian akan diambil kurir dan sebagian lagi datang mengambil sendiri.
Belanja sore saja… sekalian ajak Naya jalan sore, batin Dian sambil menutup buku catatan.
Ia kemudian mengambil makan siang yang ia masak sebelumnya: ikan gulai merah, tempe tahu goreng, dan tumis sawi putih. Dian menikmati makan siang itu dengan tenang—kebetulan mertuanya sudah masuk kamar setelah makan tadi.
Namun begitu Dian selesai makan, pemandangan yang sudah biasa ia temui kembali terlihat: sisa-sisa makanan mertuanya berserakan di meja—tulang, nasi, dan remah-remah lainnya.
Ia kembali ke dapur untuk mengambil lap. Sampah-sampah itu ia masukkan ke plastik, kemudian ia mengelap meja makan hingga bersih kembali.
“Salat dulu… baru istirahat,” lirih Dian pada dirinya sendiri.
Pukul tiga sore, Dian dan Naya sudah bersiap. Mereka berencana pergi membeli beberapa bahan sekaligus berjalan-jalan sebentar menikmati sore.
Dian tidak lupa berpamitan kepada ibu mertuanya sebelum pergi.
“Dian, Ibu titip bakso Arema, ya,” ujar Bu Minah sambil terus menonton televisi.
“Iya, Bu,” jawab Dian singkat.
Dalam perjalanan, Naya berceloteh riang melihat apa pun yang mereka lewati. Senyumnya begitu bahagia. Meskipun suaminya jarang berada di sisi mereka, Dian tetap berusaha membuat Naya merasa dicintai dan tetap ceria. Ada kalanya Naya mencari ayahnya, namun Dian selalu berusaha menenangkannya.
Untuk minggu ini, suaminya memang tidak bisa pulang karena harus lembur.
Sesampainya di toko bahan kue, Dian turun dari motor sambil merapikan gendongan agar Naya merasa nyaman. Ia kemudian masuk ke dalam toko dan mulai sibuk memilih bahan-bahan yang ia perlukan.
Di tengah memilih, seseorang memanggilnya.
“Dian!”
Dian menoleh. “Eh, Sin! Apa kabar?” sapanya ramah.
“Baik, Dian. Kamu bagaimana? Ini Naya, ya?” ujar Sinta sambil menyentuh lengan Naya dengan gemas.
“Alhamdulillah, baik, Sin,” jawab Dian sambil terus memasukkan beberapa bahan ke dalam keranjang belanjaannya.
“Kamu masih jualan cireng sama cilok, Ian?” tanya Sinta sambil mengambil sebungkus susu dari rak. “Oh iya, kemarin aku pulang ke Bintan. Ibu kamu titip salam, Dian.”
Dian sempat terdiam. Ada rasa hangat sekaligus perih yang muncul bersamaan. Sudah lama sekali ia tidak pulang. Kerinduan pada ibunya terus dipendam, tapi ia juga tak bisa begitu saja meninggalkan mertuanya seorang diri—meskipun kehidupannya di rumah itu sering membuatnya lelah.
“Hmm… iya, makasih ya, Sin,” ucap Dian pelan, berusaha tersenyum meski hatinya terasa sesak.
Di parkiran, angin sore bertiup pelan. Sinta menaruh belanjaannya di jok motor, lalu mengambil satu kantong kecil dari tas plastik lainnya.
“Ian, ini buat Naya ya. Camilan kesukaannya anak-anak,” ujar Sinta sambil tersenyum.
Dian langsung menggeleng cepat. “Aduh, ngapain sih, Sin. Nggak usah, repot nanti. Kamu aja yang bawa buat ke rumah.”
“Tapi ini memang sengaja aku ambil dua. Satu buat anakku, satu buat Naya,” Sinta tetap menyodorkan kantong itu. “Ambil ya, Dian. Udah lama aku nggak ketemu kamu. Sekalian buat seneng-seneng Naya.”
Naya yang berada di gendongan melihat kantong kecil itu dan langsung tersenyum lebar, tangan mungilnya terulur pelan.
Melihat itu, Dian akhirnya luluh. Ia menghela napas, lalu menerimanya dengan hati-hati.
“Ya sudah… makasih banyak ya, Sin. Maaf jadi merepotkan.”
Sinta tertawa kecil. “Ih, kamu mah. Temen sendiri kok repot.”
Dian tersenyum tulus—senyuman yang sudah lama terasa berat ia keluarkan.
“Titip salam buat mertua kamu ya, kalau nanti kamu pulang,” kata Sinta sebelum naik ke motornya.
Dian mengangguk pelan, menahan rasa rindu yang tiba-tiba menguat.
Dian menidurkan Naya di kasur dengan hati-hati. Dibelainya kepala putrinya sebentar, memastikan tidurnya nyaman. Setelah itu ia menarik napas panjang, mengumpulkan tenaga yang tersisa, lalu menuju dapur sambil membawa kantong belanjaan.
Dapur masih rapi—karena ia yang merapikannya sebelum pergi. Dian membuka kantong bahan satu per satu: tepung tapioka, bawang daun, bawang putih, bumbu, dan plastik kemasan. Semua disusun rapi di meja.
Sambil mengikat rambutnya, Dian berbisik pada diri sendiri.
“Bismillah… semoga cepat selesai.”
Ia mulai menakar bahan-bahan, memotong bawang, dan mengadon cireng. Suara ulekan berpadu dengan desahan napas Dian yang lelah. Sesekali ia berhenti sebentar untuk meregangkan punggungnya. Namun ia tetap melanjutkan, karena pesanan untuk besok cukup banyak—ada yang ambil pagi, jadi harus siap malam ini.
Di ruang tengah, suara TV mertuanya masih terdengar, diselipi gerutuan kecil yang entah ditujukan pada siapa. Dian mengabaikannya. Ia sudah terlalu sering merasakan itu.
Sambil membentuk adonan cireng satu per satu, Dian melirik ke arah kamar. Membayangkan wajah Naya membuatnya bertahan.
“Yang penting kamu bahagia, Nak…” gumamnya lirih.
Aroma bawang yang harum mulai memenuhi dapur. Dian menyiapkan beberapa loyang, lalu mulai menggoreng batch pertama sambil menunggu sisanya siap difrozen.
Meski lelah dan tidak ada yang membantu, Dian tetap telaten. Dia tahu inilah satu-satunya cara baginya menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan rumah dan meninggalkan Naya.
Di tengah kesibukan, HP-nya berbunyi. Notifikasi dari suaminya.
Ayah lagi lembur ini. Hati-hati di rumah.
Dian tersenyum kecil, lalu mengetik balasan dengan tangan yang masih bertepung:
Iya, Ayah. Semangat ya kerjanya. Di sini aman kok.
Hidupnya tidak mudah. Tapi di setiap kelelahan, selalu ada satu hal yang membuatnya bertahan: ia tahu ia sedang berjuang untuk masa depan yang lebih baik untuk dirinya dan putrinya.
Pukul 11 malam, semua pesanan akhirnya selesai. Dian menutup kotak freezer perlahan setelah memastikan seluruh cireng yang ia buat sudah tertata rapi di dalamnya. Tubuhnya terasa berat, matanya perih, namun ia tetap memaksa diri menyelesaikan hal-hal terakhir sebelum bisa beristirahat.
Ia mulai mengemas pesanan satu per satu, menuliskan nama pelanggan di setiap plastik. Tangannya gemetar karena lelah, tapi ia tahu… kalau tidak diselesaikan malam ini, besok pagi mertuanya pasti mengomel lagi.
“Sedikit lagi… sedikit lagi, Ian,” gumamnya untuk menguatkan diri.
Setelah kemasan terakhir selesai, Dian merapikan dapur. Ia menyapu, mengepel, dan mencuci semua peralatan masak. Rumah sudah sunyi—hanya suara kipas angin dan detak jam tunggal yang terdengar. Tapi rutinitasnya belum benar-benar selesai.
Masih ada ruang tengah.
Ketika ia berjalan kesana, benar saja. Di meja , mangkuk bakso mertuanya masih tergeletak—kuah menetes, serpihan bihun berserakan, sendok dibiarkan begitu saja.
Dian menahan napas panjang.
“Padahal ibu bisa tinggal taruh di meja dapur saja…” desahnya pelan, tak ada yang mendengar.
Ia mengambil mangkuk itu, membuang sisa-sisanya, lalu mengelap meja hingga benar-benar bersih. Gerakannya lambat, bukan karena malas, tapi karena tenaga benar-benar tersisa sedikit.
Setelah semuanya selesai, Dian bersandar sebentar di meja. Punggungnya pegal, tangan dingin, dan matanya berat. Tapi perasaannya sedikit lega—setidaknya rumah bersih, pesanan siap, dan Naya tidur nyenyak.
“Alhamdulillah… selesai juga,” bisiknya lirih.
Di ujung malam yang sunyi itu, hanya Dian sendiri yang tahu seberapa lelah ia sebenarnya. Namun ia tetap bertahan—demi anaknya, demi rumah tangganya, demi hari esok yang ia harapkan lebih baik.