NovelToon NovelToon
Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Jejak Malam Di Kamar Nomor 101

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Beda Usia / Nikahmuda / Teen School/College / Menjadi bayi / Hamil di luar nikah
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
​Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
​Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Memulai hidup dari nol

Memulai hidup dari nol di tempat yang baru merupakan tantangan terbesar yang harus ia hadapi demi menjaga nyawa kecil yang kini tumbuh di dalam rahimnya. Anindira melangkah keluar dari gang sempit dengan kaki yang masih terasa berat dan gemetar akibat kelelahan yang luar biasa.

Ia menatap deretan ruko tua yang berdiri kusam di sepanjang jalan kecil yang nampak sangat padat oleh aktivitas warga lokal.

Udara pagi di kota ini terasa jauh lebih panas dan berdebu dibandingkan dengan lingkungan rumahnya yang asri dan sejuk. Bau asap knalpot bercampur dengan aroma minyak goreng dari warung pinggir jalan menyapa indra penciumannya dengan sangat tajam.

Ia merapatkan pelukan pada tas kusamnya sambil mencari nomor rumah yang tertulis di dalam surat peninggalan ibunya.

"Permisi, apakah Ibu tahu di mana letak rumah nomor empat puluh lima di wilayah ini?" tanya Anindira kepada seorang penjual jamu gendong.

Wanita penjual jamu itu menatap Anindira dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan mata yang penuh selidik. Ia melihat pakaian Anindira yang compang-camping dan wajahnya yang pucat pasi seperti orang yang sedang menderita sakit parah.

Dengan gerakan dagu yang pelan, wanita itu menunjuk ke arah sebuah rumah kayu kecil yang berada di pojok gang buntu.

"Itu rumahnya, tapi setahu saya bangunan itu sudah sangat lama kosong dan tidak berpenghuni," jawab wanita penjual jamu tersebut.

Anindira mengucapkan terima kasih lalu bergegas menuju bangunan yang dimaksud dengan harapan yang mulai membuncah di dalam dadanya. Ia berdiri di depan pintu kayu yang sudah nampak rapuh dan ditumbuhi oleh tanaman liar yang merambat dengan sangat subur.

Tangannya yang gemetar merogoh saku pakaian untuk mengambil kunci kuno yang ia temukan di dalam kotak kayu sebelumnya.

Kunci itu masuk ke dalam lubang pintu dengan suara derit logam yang sangat nyaring karena sudah berkarat dimakan usia. Dengan satu dorongan kuat, pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan isi ruangan yang dipenuhi dengan debu tebal serta sarang laba-laba.

Anindira terbatuk saat debu-debu tersebut beterbangan memenuhi udara di dalam ruangan yang sangat pengap dan gelap itu.

"Ibu, apakah ini benar-benar tempat yang Ibu siapkan untukku bersembunyi?" bisik Anindira sambil menatap sekeliling ruangan dengan perasaan sedih.

Ia menemukan sebuah kursi kayu tua di sudut ruangan dan segera duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang nyaris pingsan. Matanya menangkap sebuah bingkai foto kecil yang tergeletak di atas lantai yang tertutup debu sangat tebal.

Saat ia membersihkan permukaan kaca foto tersebut, air matanya kembali jatuh membasahi pipinya yang sudah mulai mengering.

Foto itu memperlihatkan ibunya yang sedang tersenyum sangat cantik sambil menggendong Anindira yang masih bayi. Ia merasa kehadiran ibunya seolah nyata di dalam ruangan sunyi ini untuk memberikan kekuatan tambahan bagi jiwanya yang rapuh.

Rasa takut akan pengejaran ayahnya perlahan mulai berganti dengan keinginan kuat untuk menata kembali serpihan hidupnya yang hancur.

"Aku harus segera membersihkan tempat ini sebelum malam tiba," tekad Anindira sambil menyingsingkan lengan bajunya yang kotor.

Ia mulai mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk menyapu lantai dan membuang barang-barang yang sudah tidak layak pakai lagi. Namun, saat ia sedang asyik bekerja, suara ketukan keras pada pintu depan membuatnya seketika membeku karena rasa panik yang kembali menyerang.

Ia segera mengambil sebuah sapu lidi sebagai senjata darurat untuk melindungi dirinya dari ancaman yang mungkin datang.

"Siapa di luar? Aku tidak memiliki urusan dengan siapa pun di sini!" teriak Anindira dengan suara yang diusahakan tetap tegas.

"Jangan takut, saya adalah pemilik warung di depan gang yang ingin menanyakan kepindahan Anda ke rumah ini," suara seorang pria tua terdengar dari balik pintu.

Anindira membuka pintu sedikit saja untuk memastikan bahwa pria di depannya bukanlah orang suruhan ayahnya yang berbahaya. Ia melihat seorang pria paruh baya berpakaian sederhana yang sedang membawa sebuah sapu dan ember berisi air bersih.

Pria itu tersenyum ramah dan memperkenalkan dirinya sebagai Pak RT yang bertanggung jawab atas wilayah pemukiman tersebut.

Pak RT menjelaskan bahwa almarhumah ibu Anindira telah membayar pajak bumi dan bangunan rumah ini secara rutin selama bertahun-tahun melalui pengacara. Anindira merasa sangat bersyukur karena ibunya ternyata sudah merencanakan tempat perlindungan ini dengan sangat matang dan rapi.

Bantuan dari Pak RT dan warga sekitar membuat proses pembersihan rumah menjadi jauh lebih cepat dan terasa sangat ringan.

"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak, saya benar-benar merasa terbantu dengan kebaikan warga di sini," ucap Anindira dengan tulus.

"Sama-sama, Nona, kami di sini sudah seperti keluarga sendiri yang harus saling tolong-menolong dalam kesulitan," sahut Pak RT sambil pamit untuk kembali ke warungnya.

Anindira kembali masuk ke dalam rumah yang kini sudah nampak jauh lebih layak untuk ditinggali meskipun masih sangat sederhana. Ia merebahkan tubuhnya di atas tikar pandan yang baru saja dibelinya dari warung depan dengan sisa uang pemberian Pak Jaka.

Rasa lelah yang teramat sangat membuatnya tertidur dengan sangat pulas di tengah kesunyian malam yang mulai menyelimuti kota asing ini.

Namun, tidurnya tidak berlangsung lama karena suara gaduh di luar rumah kembali memaksanya untuk terbangun dengan perasaan yang sangat was-was. Ia melihat bayangan beberapa orang sedang mondar-mandir di depan jendela rumahnya sambil membawa senter yang sinarnya menembus celah gorden.

Anindira menahan napasnya dalam-dalam sambil meraba saku pakaiannya untuk memastikan kotak kayu dan cincin biru masih tersimpan dengan aman.

Ia mendengar bisikan-bisikan asing yang menyebut-nyebut tentang hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menemukan keberadaannya. Ketakutannya memuncak saat ia menyadari bahwa ayahnya mungkin sudah menyebarkan sayembara untuk menangkapnya hingga ke pelosok daerah ini.

Janji untuk sang calon bayi yang ia bisikkan di dalam hati menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tidak segera menyerah pada keadaan yang semakin mencekam.

 

1
Healer
aduiiii Dira....jgn lagi kamu kerangkap ya...💪💪💪
Healer
antara karya yg menarik...susun kata yg teratur kesalahan ejaan yg sgt minimalis...✌️✌️👍👍!!terbaik thor👍👍👏
Healer
salah satu karya yg menarik dari segi tatabahasa....dari bab awal hingga bab yg ini kesalahan ejaan blm ada lagi.... teruskan thor
Healer
Dira kamu harus kuat dan jgn jadi wanita lemah....lawan si Sarah itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!