Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-17
Keesokan paginya, langit Swiss masih diselimuti mendung tipis saat Selena melangkah keluar dari mansionnya. Salju yang turun semalam meninggalkan jejak lembut di halaman depan, menciptakan pemandangan putih yang kontras dengan mantel hitam yang membalut tubuhnya.
Kepala pelayan, seorang pria tua dengan rambut abu-abu rapi, membungkuk sedikit saat membuka pintu mobil untuknya. "Nona Selena, apakah Anda ingin saya memberi tahu tamu yang mungkin datang bahwa Anda sedang bepergian?"
Selena berhenti sejenak, menatap pria itu dengan ekspresi datar. "katakan saja,aku pergi ke Italia untuk berlibur."
Pelayan itu tertegun, tetapi kemudian mengangguk. "Baik, Nona."
Selena masuk ke dalam mobil, dan dalam beberapa menit, ia sudah melaju menuju bandara.
Beberapa jam setelah kepergian Selena, sebuah mobil lain berhenti di depan gerbang mansion. Seorang wanita melangkah keluar dengan mantel panjang berwarna abu-abu dan sepatu bot hitam. Matanya yang tajam menyapu bangunan megah di hadapannya dengan ekspresi tak terbaca.
Cassandra akhirnya tiba.
Tangannya mengetuk pintu dengan ritme teratur, dan tidak lama kemudian, kepala pelayan yang sama membuka pintu, menatapnya dengan sedikit keterkejutan.
"Nona Cassandra?"
Cassandra menyingkirkan sehelai rambut yang jatuh di wajahnya. "Di mana Selena?"
Pelayan itu terdiam sejenak sebelum menundukkan kepalanya sedikit. "Nona Selena baru saja pergi beberapa jam yang lalu."
Cassandra mengerutkan kening. "Ke mana?"
"Italia, Nona."
Kata itu terasa seperti pisau yang mengiris tipis. Italia? Jadi... Selena sudah pergi sebelum ia sempat bertemu dengannya
"Terimakasih.Aku akan menyusul nya."sebelum dia kembali ke mobil,dia melirik pria tua itu dan berkata,"Apakah kau tahu kenapa dia menghindari ku?."
Cassandra melirik pelayan itu dan berkata dalam batin nya: kepala pelayan ini begitu dekat dengan Selena, dia pasti tahu mengapa?
"Saya tidak tahu, Nona.. Saya tidak bisa mengerti cara berpikir nona Selena."
!
"Begitu ya.. terimakasih."
Selena tiba di Italia saat senja mulai turun. Kota itu menyambutnya dengan keramaian khasnya—jalan-jalan berbatu yang diterangi lampu-lampu temaram, aroma kopi yang menguar dari kafe-kafe kecil, serta desiran angin hangat yang berhembus dari laut.
Begitu turun dari mobil, dia mendapati dua sosok yang sudah menunggunya di depan sebuah restoran mewah. Seorang pria dengan jas rapi, wajahnya mencerminkan ketajaman seorang pengusaha sukses, sementara di sampingnya berdiri seorang wanita bergaun elegan dengan kecantikan yang mencolok.
"Selena!" Seru wanita itu dengan suara ceria, bergegas menghampirinya dan langsung memeluknya erat. "Sudah lama sekali! Kau benar-benar membuat kami menunggu bertahun-tahun untuk bertemu lagi."
Selena tersenyum tipis, membalas pelukan itu dengan anggun. "Elara, kau masih sama seperti dulu. Terlalu bersemangat."
Elara tertawa, sebelum melepaskan pelukan dan mengamati Selena dari ujung kepala hingga kaki. "Dan kau masih sama—dingin seperti biasa. Tapi itu bagian dari pesonamu, bukan?"
Sementara itu, pria di sebelahnya hanya mengangguk dengan tatapan menilai. "Selena. Senang melihatmu lagi."
"Dante," jawab Selena dengan nada netral. "Aku juga senang bertemu kalian. Jadi, apa rencana kalian untukku di Italia?"
Dante menyeringai, memasukkan tangannya ke dalam saku. "Banyak hal. Tapi pertama-tama, makan malam. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang."
Selena mengangguk, membiarkan dirinya dibawa masuk ke dalam restoran
setelah perbincangan itu,mereka pergi ke rumah elara untuk menikmati waktu mereka bersama sama.
Selena duduk di sofa besar berlapis beludru, mengamati interior rumah Elara yang elegan tetapi tidak berlebihan. Tidak seperti bayangannya tentang seorang artis terkenal, rumah ini terasa lebih seperti tempat peristirahatan yang tenang daripada istana mewah.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" Elara bertanya sambil menuangkan teh ke dalam cangkir porselen. "Bukan seperti yang kau bayangkan, bukan?"
Selena mengangkat alis, mengambil cangkirnya, dan meniup uap yang masih mengepul. "Aku mengira akan menemukan lebih banyak orang di rumah ini. Setidaknya beberapa asisten atau penjaga."
Elara tertawa ringan. "Dante juga berkata begitu." Dia menyesap tehnya sebelum melanjutkan, "Tapi aku lebih suka begini. Hanya ada satu pelayan yang bekerja setengah hari, dan selebihnya aku bisa menikmati waktu sendiri. Popularitas di luar sana cukup melelahkan."
Selena mengangguk paham. "Kau masih sama seperti dulu."
Elara tersenyum samar. "Dan kau... tampaknya banyak berubah."
Selena tidak segera menjawab. Matanya beralih ke luar jendela, di mana langit Italia mulai gelap. "Orang berubah, Elara."
Elara memperhatikannya sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku penasaran, Selena. Apa yang sebenarnya kau cari sekarang?"
Selena terdiam, jarinya mengetuk pelan pinggiran cangkir. Jawaban itu ada di benaknya, tapi dia tidak yakin ingin mengatakannya.
"Aku setuju dengan Elara. Kau tinggal di sini saja," katanya langsung tanpa basa-basi. "Lebih baik daripada sendirian di hotel."
Selena meliriknya sebentar sebelum menghela napas pelan. "Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu."
Elara tersenyum puas, sementara Dante hanya mengangguk kecil.
Di luar, langit malam semakin gelap, dan di dalam, Selena kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.