Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.
Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.
Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.
Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.
Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Kehilangan
Di dalam jet pribadi yang melaju di ketinggian, suasana terasa sunyi. Hanya suara dengung mesin yang terdengar, mengiringi ketegangan yang menggantung di udara. Shailendra duduk di kursinya, wajahnya keras, tatapannya lurus ke depan. Di hadapannya, seorang pria berseragam rapi membuka berkas laporan, ragu-ragu sebelum akhirnya berbicara.
"Tuan, ada sesuatu yang harus Anda ketahui tentang kecelakaan yang menimpa Tuan Muda."
Shailendra tidak mengalihkan pandangannya, tapi rahangnya sedikit mengeras. Ia memberi isyarat agar anak buahnya melanjutkan.
"Tuan Muda mengalami kecelakaan akibat kelalaian seseorang... Edwin. Dia yang menyebabkan kecelakaan itu, tapi dia juga yang menanggung semua biaya pengobatan Bayu. Namun, menurut informasi, Edwin dinyatakan hilang dalam kecelakaan laut."
Hening.
Wajah Shailendra tetap tanpa ekspresi, tapi ada ketegangan yang semakin terlihat di sekitar matanya. Pria di hadapannya melanjutkan dengan hati-hati, "Dan yang—"
"Cukup!"
Suaranya tegas, memotong laporan tanpa memberi ruang bagi penjelasan lebih lanjut. Matanya kini menatap tajam, penuh ketegasan yang tak terbantahkan. "Aku tidak peduli siapa yang bertanggung jawab atau siapa yang membayarnya. Itu bukan urusanku. Aku hanya ingin membawa putraku pulang dan memberikan pengobatan terbaik."
Tatapan anak buahnya menegang, tapi ia mengangguk patuh. Tak ada yang berani membantah Shailendra, apalagi saat sorot matanya setajam itu.
Hening kembali mengisi ruangan. Di luar jendela, hamparan awan terlihat seperti ombak putih yang tenang. Tapi di dalam diri Shailendra, ada badai yang bergolak. Ia tak mau mengakui bahwa kembali ke negeri itu sudah cukup membangkitkan luka lama—dan sekarang, semua kenangan yang berusaha ia kubur perlahan mulai menyeruak ke permukaan.
***
Boni memarkirkan motornya dengan gerakan lamban di parkiran rumah sakit. Wajahnya tampak kusut, matanya sembab karena kurang tidur. Ia menghela napas panjang, menatap ke arah gedung rumah sakit dengan perasaan sesak. Bayu belum juga sadar, dan kini ia benar-benar kehabisan cara untuk mendapatkan uang.
Dengan langkah berat, Boni berjalan menuju ruangan rawat Bayu. Ia menggenggam kantong plastik berisi makanan murah yang tadi sempat ia beli di jalan—makanan yang biasanya hanya ia pandangi tanpa selera, tapi tetap ia beli demi bisa makan bersama sahabatnya meski Bayu tak bisa menanggapinya.
Namun, saat mendorong pintu dan melangkah masuk, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Tempat tidur itu kosong.
Selimut rapi. Infus tak lagi terpasang. Tak ada tanda-tanda keberadaan Bayu.
Boni mendadak panik. Plastik di tangannya jatuh ke lantai, membiarkan roti dan botol air mineral berguling keluar. Ia segera keluar dari ruangan, mencari seseorang—siapa pun yang bisa memberi jawaban.
Matanya menangkap seorang perawat yang baru keluar dari ruang perawatan di lorong. Dengan napas memburu, ia menghampiri dan langsung bertanya, "Perawat! Bayu... Bayu yang dirawat di sini, ke mana dia?"
Perawat itu tampak sedikit terkejut dengan ekspresi panik Boni. "Oh, pasien itu sudah dipindahkan oleh keluarganya," katanya santai.
Boni membeku. Keluarga?
"Mustahil!" Boni menggeleng cepat. "Bayu nggak punya keluarga! Dia bilang dia sendirian! Saya yang merawatnya selama ini! Saya yang bayar semua biaya rumah sakit! Kenapa saya nggak dikabari?! Kenapa rumah sakit membiarkan dia dipindahkan begitu saja?"
Perawat itu tampak tak nyaman dengan nada suara Boni yang mulai meninggi. "Maaf, Pak. Keluarga pasien menunjukkan dokumen resmi. Semuanya legal, jadi kami tak bisa mencegahnya."
Boni merasa darahnya berdesir cepat. "Dokumen? Dokumen macam apa?! Kenapa saya nggak diberi tahu lebih dulu?"
"Maaf, kami hanya mengikuti prosedur," jawab perawat itu dengan nada diplomatis. "Lagipula, itu keluarganya."
Keluarga...
Keluarga mana?
Boni mengepalkan tangan, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang kacau. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, "Kalau begitu, saya mau tahu Bayu dirawat di mana sekarang."
Perawat itu tampak ragu sejenak, tapi akhirnya menyerahkan sebuah catatan kecil dengan alamat yang diminta. Boni segera melirik alamat itu—dan jantungnya seakan mencelos.
Luar negeri.
Negara asing yang tak pernah terbayangkan oleh Boni. Tempat yang bahkan tak mungkin ia jangkau.
Tangannya bergetar saat ia meremas kertas itu. Seakan beban yang selama ini ia pikul kini dirampas begitu saja oleh orang asing yang entah dari mana munculnya.
Bayu… benar-benar pergi.
Tanpa peringatan.
Tanpa kesempatan untuk berpamitan.
Dan Boni tak bisa melakukan apa-apa selain berdiri di lorong rumah sakit dengan tatapan kosong, merasakan kehilangannya yang begitu besar.
Boni terduduk di lantai lorong rumah sakit, bersandar pada tiang penyangga dengan kepala tertunduk. Napasnya berat, pikirannya kosong. Bayu pergi. Dibawa oleh orang yang mengaku keluarganya, tanpa jejak, tanpa pamit.
Perasaan hampa merayapi dadanya. Selama enam bulan terakhir, rumah sakit ini bukan hanya tempat Bayu dirawat—tapi juga rumah bagi Boni. Tempat ia datang setiap hari, tempat ia berbicara dengan sahabatnya yang tak kunjung sadar, tempat ia menghabiskan sisa uang terakhirnya.
Sekarang? Semuanya hilang begitu saja.
Namun, mendadak pikirannya menangkap satu kemungkinan—nomor telepon!
Benar! Ia mungkin tak bisa pergi ke luar negeri, tapi ia masih bisa menelepon, bukan? Setidaknya, ia bisa mendengar kabar Bayu, memastikan sahabatnya baik-baik saja. Ia harus mencoba!
Dengan semangat yang tiba-tiba menyala kembali, Boni bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju meja informasi rumah sakit. Ia menghampiri seorang petugas yang tengah sibuk di balik meja resepsionis.
"Maaf, Bu, saya ingin menanyakan sesuatu," ucapnya terburu-buru. "Keluarga pasien Bayu… mereka meninggalkan nomor kontak yang bisa dihubungi, 'kan?"
Petugas itu menoleh dengan ekspresi datar. "Sebentar, saya cek dulu." Jemarinya lincah mengetik di komputer, matanya menelusuri data. Boni menunggu dengan gelisah, kedua tangannya mengepal di atas meja.
Namun, beberapa detik kemudian, petugas itu menggeleng pelan. "Maaf, tidak ada nomor telepon yang terdaftar. Keluarga pasien hanya meninggalkan dokumen pengalihan tanggung jawab medis, tidak ada kontak yang bisa dihubungi."
Boni membeku.
Tidak ada…? Mereka tidak meninggalkan nomor kontak?
"Apa… Anda yakin?" tanyanya dengan suara serak. "Mereka pasti meninggalkan sesuatu! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bayu? Rumah sakit ini harus bisa menghubungi mereka, 'kan?"
"Maaf, Pak," jawab petugas itu lagi. "Tapi kami hanya memiliki data yang diberikan oleh keluarga pasien. Kalau Anda ingin menghubungi mereka, mungkin Anda bisa mencoba mencari informasi lebih lanjut melalui jalur lain."
Boni menatap kosong ke layar komputer di hadapan petugas itu, seakan berharap jawaban yang berbeda akan muncul. Namun, tidak ada.
Tidak ada petunjuk. Tidak ada jejak.
Satu-satunya orang yang ia anggap keluarga… benar-benar menghilang dari hidupnya.
Tangannya terangkat, mencengkeram rambutnya dengan frustrasi. Ia ingin marah, ingin protes, ingin menuntut kejelasan—tapi kepada siapa? Orang-orang itu sudah pergi, membawa Bayu ke tempat yang tak bisa ia jangkau.
Dadanya terasa sesak. Napasnya memburu.
Apa ini akhirnya?
Apakah setelah semua yang ia lalui, Bayu benar-benar pergi dari hidupnya begitu saja?
Boni mundur selangkah, lalu berbalik. Ia berjalan keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai, merasa lebih hampa daripada sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar sendirian.
Laras baru saja melangkah masuk ke area rumah sakit ketika matanya menangkap sosok yang familiar. Boni.
Namun, ada sesuatu yang aneh. Pria itu terlihat berbeda.
Boni berjalan pelan dengan kepala tertunduk, bahunya merosot seperti menanggung beban yang terlalu berat. Ekspresinya kosong, tak terbaca, tapi ada kesedihan yang begitu kentara di wajahnya.
Firasat buruk langsung menghantam Laras. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Tanpa berpikir panjang, ia segera mempercepat langkahnya, mencoba mendekati Boni. "Boni!" panggilnya.
Tapi Boni tak merespons.
Ia terus berjalan dengan langkah berat, seolah berada di dunia yang berbeda. Seolah tidak melihat, tidak mendengar, tidak merasakan apa pun di sekitarnya.
Laras mengernyit, semakin tak enak hati. Ia mempercepat langkahnya lagi. "Boni!" panggilnya lebih keras.
Namun, pria itu tetap tidak bereaksi.
Seakan… jiwanya telah pergi meninggalkan tubuhnya.
Khawatir, Laras akhirnya berlari kecil dan menepuk pundaknya. "Boni!" panggilnya sekali lagi, suaranya mengandung kegelisahan yang nyata.
Boni tersentak. Seperti seseorang yang baru saja tersadar dari mimpi buruk. Matanya yang kosong perlahan fokus pada Laras, namun tatapannya tetap tumpul, seolah pikirannya masih tertinggal di tempat lain.
Laras mengerutkan kening, merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres. "Apa yang terjadi?" tanyanya hati-hati.
...🍁💦🍁...
.
To be continued