Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja.
Namun jiwa seorang pemimpin sudah melekat sejak kecil dalam dirinya. Dan darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya.
Carlos, seorang pemuda yang menjadi pewaris dan penerus dari kakek moyangnya Atalarik attar.
Namun tidak semudah seperti apa yang dibayangkan, rintangan demi rintangan harus ia hadapi. Mampukah Carlos menghadapinya?
Penasaran? Baca yuk!
Cerita ini hanya fiksi belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bram sengaja melempar kunci tersebut ketempat yang sulit di jangkau oleh mereka. Agar pintu itu tidak bisa dibuka.
Bram sendiri masih punya kunci cadangan, namun ia simpan dikamarnya.
"Ternyata kamu masih hidup bocah," ucap Bram saat melihat Carlos.
"Tentu paman pengawal. Karena takdirku untuk menghancurkan penghianat sesungguhnya," ujar Carlos.
"Dan kamu! Kamu bersekongkol dengan orang asing," kata Bram menuding jari ke perdana menteri.
"Ya, dan itu lebih baik daripada kamu yang bermuka dua," ujar perdana menteri.
Sementara di luar masih terjadi perkelahian. Satu persatu mereka di dilumpuhkan oleh Virendra dan yang lainnya.
"Paman." Carlos memberikan kunci kepada perdana menteri.
Perdana menteri mengerti, lalu berjalan kearah pintu besar. Namun baru beberapa langkah, ia dihalangi oleh beberapa orang pengawal yang masih tersisa.
"Minggir kalian!" tegas perdana menteri.
"Huh, mereka hanya akan mengikuti perintahku," ujar Bram dengan angkuhnya.
Perdana menteri mundur karena pengawal itu maju hendak menyerangnya. Carlos dan Carla maju dan berada tepat didepan perdana menteri.
"Paman urus orang itu, biar kami selesaikan yang ini," pinta Carlos. Perdana menteri pun mengangguk.
Perdana menteri saling berhadapan dengan Bram. Bram mengeluarkan senjatanya, namun belum sempat ia menembak, perdana menteri sudah menendang tangan Bram.
Sehingga pistol yang dipegangnya pun terlempar. Bram yang marah pun langsung menyerang perdana menteri.
Perdana menteri menghindar dari serangan tersebut. Membuat Bram semakin marah.
"Sial, walaupun kau hebat, aku tetap akan mengalahkan mu," ucap Bram.
Perdana menteri tidak menjawab, ia hanya tersenyum miring dan fokus untuk melawan Bram yang selama ini begitu dipercayai nya.
"Aku sudah tahu kebusukan mu, jadi aku tidak akan melepaskan mu," balas perdana menteri.
Pertarungan pun berlanjut, kali ini perdana menteri tidak ingin bermain-main lagi. Ia akan membuat Bram membayar semuanya.
Sementara Sofia hanya berdiri memperhatikan mereka bertarung. Karena Carlos memintanya untuk diam saja. Lalu ia memilih duduk saja.
Sedangkan Virendra dan yang lainnya sudah berhasil melumpuhkan para penjaga di luar. Merekapun masuk untuk membantu, namun terhenti karena sepertinya sudah tidak perlu lagi.
Akhirnya Bram dan penjaga lainnya pun kalah. Mereka tidak membunuhnya, hanya membuat mereka pingsan saja.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Carlos pada Sofia.
"Tidak," jawab Sofia.
"Bukan saatnya untuk pamer kemesraan, ingat yang disini jomblo," ucap Keenan.
Sofia tertunduk, ia malu diledekin oleh saudara Carlos. Sementara Carlos biasa saja tanpa ekspresi apapun.
Perdana menteri pun menghampiri pintu besar, ia memasukkan anak kunci pada gembok nya.
Perdana menteri mendorong pintu tersebut hingga terbuka. Ternyata tempat itu cukup luas.
Dan ada bangunan lagi seperti rumah, tapi sangat besar. Seperti bukan penjara pada umumnya.
Mereka masuk kedalam karena memang tidak terkunci. Dan ternyata tempat itu kosong.
"Apa kita di bohongi? Kenapa tempat ini kosong?" tanya perdana menteri.
"Mungkin ada ruangan lain," jawab Carla.
Mereka memperhatikan tempat itu dan tidak ada yang aneh. Semuanya terlihat biasa-biasa saja.
"Aku yakin ada ruang rahasia disini," kata Carlos.
Carlos melihat lemari lalu mendekatinya. Ia mengamati lemari tersebut, namun ia tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Virendra. Carlos menggeleng.
Sofia berlari kecil menghampiri lemari tersebut. Dan dengan santainya dia mengambil busur panah yang menempel di dinding.
Namun saat ingin diambil ternyata tersangkut dan tidak bisa diangkat. Sofia dengan susah payah mengangkatnya tetap tidak bisa.
Carlos menghampiri Sofia dan membantunya. Malah busur panah tersebut berputar dan lemari pun terbuka.
"Terbuka!" pekik Diyan.
Mereka pun melihat yang ternyata ada tangga yang menurun ke bawah. Mereka menyelusuri tangga yang ternyata menuju kesuatu tempat.
Ternyata tempat itu juga dijaga. Mereka langsung dikepung oleh beberapa orang yang berjaga disitu dengan senjata api ditangan mereka.
"Siapa kalian?" tanya salah satu dari mereka sambil mengacungkan pistol.
Belum sempat mereka menjawab, Sofia sudah lebih dulu menembak pria yang bertanya itu dengan senjata yang Carlos berikan.
Penjaga itu saling pandang karena melihat rekannya yang tiba-tiba jatuh ke tanah. Kesempatan itu pun Carlos gunakan untuk menyerang.
Disusul Carla dan yang lainnya pun ikut menyerang penjaga itu. Hanya dalam sekejap para penjaga sudah tumbang semuanya.
"Ini belum seberapa," kata Carla.
Kemudian merekapun memasuki sebuah bangunan lagi. Kali ini tidak ada penjaganya. Mereka tidak sadar jika tempat yang mereka datangi di kelilingi perbukitan.
Saat Carlos membuka satu ruangan, sepasang suami istri sedang berbaring diatas tempat tidur.
Keduanya sedikit kaget saat melihat seorang pemuda yang menurut mereka asing. Pria itu terlihat lebih tua dari usianya.
"Yang Mulia raja," sapa Carlos.
Raja Andreas pun bangkit saat seseorang menyebutnya yang mulia raja. Ia memperhatikan wajah pemuda itu.
"Siapa kamu Nak?" tanyanya.
Carlos hendak menjawab, namun perdana menteri segera masuk. Kemudian menunduk hormat kepada raja Andreas.
"Kau, bagaimana kalian bisa kemari?" tanya raja Andreas. Perdana menteri tidak menjawab, ia langsung berlutut memohon maaf kepada raja.
Raja Andreas sudah tahu, karena keluarga perdana menteri juga di tahan disini. Dan dia tidak menyalahkan perdana menteri.
"Kami datang untuk menyelamatkan raja dan ratu," kata Carlos.
"Tempat ini dijaga dengan ketat, bagaimana kalian bisa lolos? Apa kalian juga di tahan?" tanya raja Andreas.
"Penjaga disini sudah kami kalahkan," jawab Carlos. Raja Andreas menatap Carlos tidak percaya. Namun Carlos meyakinkan jika mereka sudah selamat.
Kemudian pandangan sang ratu tertuju pada Sofia. Ia bangkit lalu menghampiri Sofia yang sejak tadi diam.
"Kamu, kamu putriku?" tanya sang ratu.
Sofia terdiam mematung, ia juga tidak mengenali kedua orang tuanya. Karena saat ia dibawa lari, Sofia masih sangat kecil.
"Kamu putriku, raja ini putri kita, aku yakin dia putri kita," ucap sang ratu.
Kemudian ia memeluk Sofia yang masih tetap terdiam. Bahkan saat sang ratu menciumi pipinya pun Sofia terdiam.
"Mereka orang tuamu," ucap perdana menteri. Barulah Sofia menangis dan membalas pelukan sang ibu.
"Ibu...? Apa kamu benar ibuku?" tanyanya sambil menangis. Sang ratu pun mengangguk. Melihat anak dan istrinya saling berpelukan. Raja Andreas juga ikut bergabung.
Ketiganya menangis haru. Perpisahan selama belasan tahun akhirnya dipertemukan kembali. Carla tersenyum, namun air matanya juga ikut jatuh karena terharu.
Perdana menteri yang tidak kuat pun ke ruang sebelahnya. Perlahan ia membuka pintu ruangan itu.
Terlihat tiga orang sedang tertidur. Perlahan perdana menteri mendekatinya. Hatinya sakit melihat keadaan mereka yang terlihat kurus.
Perdana menteri menangis disamping istrinya. Air matanya jatuh menetes ke tangan istrinya yang membuat istrinya terbangun.
Perlahan ia membuka matanya dan melihat sosok yang selama ini ia rindukan. Istri perdana menteri mengucek matanya.
"Apa aku sedang bermimpi?" gumamnya. Kemudian ia menampar pipinya sendiri dan terasa sakit.
"Suamiku, apa itu kamu?" tanyanya sambil menangis. Perdana menteri hanya menjawab dengan anggukan kepala. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.
Perdana menteri pun memeluk istrinya dan meminta maaf karena baru mengetahui tempat mereka ditahan.
Istrinya mengerti dan tidak menyalahkan suaminya. Kedua anaknya terbangun karena mendengar suara tangis ibunya.
Keduanya memperhatikan perdana menteri yang masih memeluk ibunya. Dalam hati mereka bertanya-tanya, siapa orang yang dipeluk ibunya?
mending perang apa bunuh²an aja .. wkkwkw