Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Aku bangun dari tidurku, menatap Bara masih berada disampingku. Tiba-tiba ponsel Bara berbunyi, aku menatap sekilas layar ponsel itu. Panggilan telepon dari Raina, sontak aku berdiri dan meraih ponsel Bara.
"Halo.." suara Raina dari seberang telepon.
Aku tidak menjawab, tapi aku mendengarkan suara Raina dari ponsel Bara.
"Pak Bara, kenapa Bapak belum juga datang ke kantor? Bapak tahu tidak, aku sangat merindukanmu. Ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan padamu. Ini masalah hatiku," ucap wanita itu dengan suara menggoda.
Aku masih diam, membiarkan wanita itu berbicara. Rasanya begitu kesal mendengar Raina menggoda Bara dengan kata-kata sok manis itu.
"Halo, Bapak mendengarkan ucapan saya kan? Hari ini, saya ingin mengajak Bapak makan siang bersama. Tolong, kali ini saja. Jangan tolak permintaanku!" ucap Raina.
Ingin rasanya aku mencakar wanita ini, berarti selama ini Raina selalu menggoda Bara di kantor. Lalu apa arti dari kata-katanya barusan? Apa Bara selalu menolak, saat Raina mengajaknya makan bersama?
Ternyata suamiku benar-benar laki-laki yang menjunjung tinggi sebuah janji pernikahan.
Aku tersenyum sambil menatap kearah wajah Bara yang masih terlelap. Rasanya aku begitu bangga dijadikan istri Bara, laki-laki tampan yang menjaga baik kehormatannya.
"Halo.. Halo.." Raina terus berbicara.
"Iya. Ada apa?" ucapku.
"Kau? Kenapa kau yang angkat telepon Bara?" teriaknya kesal.
"Apa masalahmu? Kau lupa, aku ini istri Bara. Jadi aku punya hak untuk melakukan hal apapun pada semua benda milik suamiku. Jangankan hanya ponsel, bahkan tubuh Bara kini sudah menjadi milikku," ucapku dengan bangga.
"Kau, berani sekali!" teriaknya keras.
"Setelah aku pikir-pikir lagi, untuk apa aku takut padamu? Kau itu hanya pegawai suamiku. Kalau aku mau, aku bisa saja meminta Bara memecat mu," kataku agak sadis.
"Tetap saja. Kau memiliki laki-laki bekas mantan pacarku. Kau dengar, bekas! Bara pernah tidur bersamaku, jadi aku wanita pertama yang pernah disentuhnya." Raina tertawa keras sampai bulu kudukku berdiri.
Apa yang diucapkan wanita ini benar? Apa benar Bara pernah tidur bersamanya? Mungkin itu juga yang membuat Bara semudah itu memaafkan kesalahan besar ku bersama Ardi.
"Kenapa diam? Kau tahu, Bara pernah mencurahkan semua hasratnya padaku. Bahkan aku begitu merindukan sentuhannya ditubuh ku ini," ucapnya dengan nada agak dibuat-buat.
Rasanya hatiku semakin sakit mendengar ucapan dari bibir Raina. Ternyata aku bukan wanita pertama yang mendapatkan sentuhan Bara. Tidak, Bara tadi bilang dia dan Raina tidak pernah punya hubungan apa-apa. Aku yakin, wanita ini hanya membuat cerita bohong agar aku membenci Bara.
"Haha.. Apa kau pikir aku percaya padamu? Bara sendiri yang mengatakan padaku, dia tidak pernah punya hubungan apa-apa denganmu. Mantan apa yang kau bicarakan? Ayolah Raina, bangun dari mimpimu!" tawaku.
"Kau? Untuk apa kau mengadukan hal ini pada Bara?"
" Karena kau sudah keterlaluan Raina. Apa sebenarnya misi mu? Apa kau ingin memisahkan aku dengan Bara?" tanyaku.
"Iya. Aku ingin kau pergi dari kehidupan Bara. Aku ingin kau berpisah dengan Bara. Tadinya, hari ini aku ingin mengajak suamimu itu makan siang bersamaku. Aku mau memberikan sedikit obat tidur pada minumannya. Lalu kami bisa berduaan dikamar yang sudah ku siapkan untuk kami berdua." Wanita itu tertawa puas.
"Rencana jahat yang begitu menjijikan! Cih, dulu kau mengatakan aku wanita murahan. Apa tak sadarkah, jika merebut suami orang itu lebih murahan dari wanita penghibur." Teriakku dalam kemarahan.
"Sudahlah, rencana itu sudah gagal karena Bara hari ini tidak pergi kekantor. Jadi kau bisa tertawa sejenak. Bersiaplah untuk rencana ku selanjutnya, untuk memisahkan kau dan Bara. Aku tidak akan membiarkan kau lama-lama menjadi istri Bara. Camkan itu!" ucap Raina sambil mematikan ponsel itu.
Aku kaget, mendengar ucapan Raina dan rencana buruknya pada hubunganku dan Bara. Kenapa dia bisa sejahat itu? Kenapa dia harus memilih Bara? Aku benar-benar tidak mengira, Raina bisa punya rencana buruk pada Bara hari ini. Pantas saja, aku begitu takut melepaskan Bara pergi kekantor hari ini. Ternyata ini firasat hatiku, mencegah suamiku masuk ke perangkap wanita jahat seperti Raina.
Aku menyimpan kembali ponsel Bara, lalu aku menatap wajah Bara yang masih terlelap dalam tidurnya. Andai saja tadi kau berangkat kekantor, mungkin wanita itu sudah membuatmu menjadi miliknya dengan cara licik. Menimbulkan kembali kesalahan pahaman yang lebih besar diantara kita.
Menjijikkan! Bahkan aku tidak habis pikir dengan wanita seperti Raina. Dia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hati suamiku. Apa? Suamiku? Iya, bukankah Bara ini suamiku? Hatiku begitu sakit, membayangkan rencana licik Raina terhadap suamiku.
Air mataku menetes membasahi pipiku, mengusap lembut wajah Bara yang masih terlelap dalam mimpinya. Ada banyak perasaan takut dihatiku saat ini. Rencana apalagi yang akan dibuat Raina untuk memisahkan aku dan Bara? Apa aku harus mengatakan semua rencana buruk Raina pada Bara? Tidak, lebih baik tidak usah!
Aku percaya Bara tidak akan melakukan hal yang membuatku kecewa padanya.
Bara bangun dari tidurnya, mendengar isak tangis dari bibirku. Matanya menatap kearah wajahku, tatap teduh penuh ketulusan.
"Kenapa? Apa sebenarnya yang sedang terjadi padamu sayang?" tanya Bara.
"Aku takut kehilanganmu."
Bara tersenyum, laki-laki itu lalu memeluk mesra tubuhku. Mendekatkan wajahku di dadanya yang bidang.
"Sayang, berhenti memikirkan ketakutan! Aku masih disini bersamamu dan akan selalu ada bersamamu. Jangan punya pikiran, kalau aku akan meninggalkanmu. Itu tidak akan terjadi!" Bara mencium keningku dengan penuh kasih.
"Aku punya mimpi bersamamu Chika. Aku ingin melihatmu hamil anakku. Aku ingin melihat seperti apa anak kita nanti. Aku ingin bersama-sama denganmu membesarkan anak kita. Aku punya jutaan mimpi bersamamu, hanya bersamamu." Bara melebarkan kedua tanganku yang digenggam tangannya. Aku merasakan ketulusan dari setiap kata-kata yang diucapkan Bara.
"Hatiku, jiwaku, cintaku, adalah milikmu. Kau boleh tidak percaya dengan semua kata-kata dari bibirku, tapi aku akan membuktikannya. Aku bukan laki-laki yang mudah mencintai seorang wanita. Aku juga tidak suka mengobral janji, kau bisa rasakan sendiri. Betapa besar rasa sayang dan cintaku padamu. Kau wanita beruntung, yang mendapatkan hati dan cintaku. Wanita pertama dan terakhir yang telah ku pilih dalam hidupku." Kecupan di pipiku berkali-kali mendarat dari bibir Bara.
Hatiku rasanya berbunga-bunga mendengar semua ucapan manis dari bibir Bara. Aku melepaskan tanganku yang digenggam Bara. Mengalihkan pandanganku kearah wajahnya yang begitu ramah dan manis. Aku melihat ada ketulusan dimatanya, membuatku terbuai oleh cinta yang diberikannya.
"Aku cinta padamu Chika," bisiknya.
"Aku juga.." Senyumku.
"Jadilah Ibu dari anak-anakku. Jangan pernah lagi mengatakan takut berpisah denganku. Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu. Janji suci cinta kita, telah terucap dalam ikatan pernikahan. Aku tidak akan pernah menodainya!"
Jelas, aku terhanyut dengan ucapan Bara. Rasanya kata-kata dari bibir Bara begitu indah dan menyejukkan hati seorang wanita. Dan aku menjadi wanita yang beruntung, yang mendapatkan kehormatan dipilih Bara sebagai pasangan hidupnya.
Aku tidak bisa berkata-kata, hatiku benar-benar sudah masuk kedalam jeratan cinta Bara. Cinta yang tulus, cinta yang telah membuatku terperangkap semakin jauh didasar hati Bara.
Aku menunggu saat-saat itu, saat dimana Tuhan mengizinkan aku untuk bisa mengandung anak Bara. Bisa hamil, melahirkan, dan membesarkan anak itu bersama- sama dengan Bara. Pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia.
Beri jejak Komen, Like, atau Jempol, Vote sebanyak-banyaknya. Dukung terus author agar semangat melanjutkan cerita.🙏
Terimakasih.❤️❤️
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂