NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Balai Desa

Ada Cinta Di Balai Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni

Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.

Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.

Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.

Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.

Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"

Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekuatan Seorang Ibu

Kediaman Baskara Rajasa

Bu Karina mendapati telepon dari rekannya di Provinsi, ia mengonfirmasi jika Arka hari ini kembali ke provinsi dan katanya akan ada audit selama ia menjabat di Sukamaju. Arka ditarik paksa dari Sukamaju tepat saat peresmian proyek kebanggaannya.

Tangan Ibu Karina gemetar karena amarah yang jarang sekali ia tunjukkan. Ia segera menekan nomor ponsel Pak Baskara. Ia tahu, suaminya itu saat ini sedang berada di kantor Provinsi, berdiri dengan angkuh menunggu kedatangan Arka untuk menghakiminya melalui proses audit yang direkayasa.

"Halo, Mas. Kamu sudah gila, ya?" Suara Ibu Karina langsung menyambar begitu sambungan tersambung. Tidak ada salam, tidak ada basa-basi.

Di seberang sana, Pak Baskara terdengar tenang, namun nadanya penuh kemenangan. "Tenang, Karina. Aku hanya membawa anakmu kembali ke jalan yang benar. Dia sudah terlalu jauh bermain jadi pahlawan desa. Sekarang waktunya dia diaudit, dibersihkan dari ide-ide konyolnya."

"Ide konyol?" Ibu Karina tertawa getir. "Kamu menariknya di depan ribuan warga yang mencintainya. Kamu memperlakukannya seperti penjahat di depan rakyatnya sendiri! Apa kamu tidak punya hati, Mas? Dia itu darah dagingmu!"

"Aku melakukan ini untuk masa depannya! Kariernya akan hancur kalau dia terus di sana!" bentak Pak Baskara.

Ibu Karina berdiri tegak, matanya menatap tajam ke arah foto keluarga di atas meja. "Dengarkan aku baik-baik, Mas. Selama ini aku diam melihat keegoisanmu. Aku diam saat kamu mengatur karirnya. Tapi hari ini, kamu sudah melampaui batas sebagai seorang ayah."

Ibu Karina menarik napas panjang, suaranya kini merendah namun sangat mengintimidasi. "Jika dalam waktu satu jam kamu tidak membatalkan proses audit yang memuakkan itu dan tidak memperlakukan Arka dengan hormat di Provinsi, aku sendiri yang akan menelepon Ayahmu. Aku akan melaporkan semua ini kepada Kakek Rajasa."

Hening seketika di ujung telepon. Pak Baskara tahu betul bahwa ayahnya, Kakek Rajasa, adalah satu-satunya orang yang bisa mencopot jabatannya dalam sekejap jika ia terbukti menyalahgunakan wewenang untuk urusan pribadi.

"Jangan bawa-bawa Ayah, Karina. Ini urusan kedinasan!" suara Pak Baskara mulai terdengar panik.

"Urusan kedinasan yang kamu rekayasa untuk menjatuhkan anakmu sendiri? Aku punya semua bukti kedekatanmu dengan Hermawan, Mas. Jangan tantang aku. Kamu tahu Ayah sangat menyayangi Arka. Jika beliau tahu kamu memakai tangan Provinsi untuk menindas cucunya, kamu tahu apa yang akan terjadi pada diri kamu!."

Setelah menutup telepon dengan keras, Ibu Karina terduduk lemas. Ia harus kuat untuk Arka. Ia akan ada di pihak anaknya sekarang.

Sementara itu di Provinsi, Arka baru saja tiba. Ia melihat ayahnya berdiri di ujung lorong dengan wajah gelisah efek dari ancaman Ibu Karina tadi.

Arka berjalan tegak, tidak ada raut ketakutan di wajahnya. Saat ia berhadapan dengan Pak Baskara, Arka tidak menunduk.

"Papa ingin mengaudit Arka?" tanya Arka dingin. "Silakan. Tapi pastikan Papa siap dengan apa yang akan ditemukan oleh tim audit. Karena Arka tidak hanya membawa laporan desa, saya juga membawa catatan keterlibatan perusahaan rekanan Papa di proyek lahan itu. Jika Papa ingin menghancurkan Arka, kita akan hancur bersama."

Pak Baskara tertegun. Ia melihat sosok Arka yang baru sosok yang tidak lagi bisa ia gertak. Ancaman istrinya dan ketegasan anaknya di depannya membuat Pak Baskara sadar bahwa ia sedang berada di ujung tanduk.

***

Suasana di ruang inspektorat kantor Provinsi terasa begitu mencekam. Jarum jam dinding seakan berdetak lebih lambat, mengiringi suara ketikan keyboard dan aroma kertas laporan yang dibalik dengan kasar. Arka sudah berada di ruangan itu sejak pagi buta.

Wajahnya tampak pucat karena kurang tidur, namun sorot matanya tetap tajam, setajam elang yang sedang mempertahankan sarangnya. ​Tim auditor yang dikirim atas tekanan Pak Baskara mencoba mencari celah sekecil apa pun. Mereka mencecar Arka dengan pertanyaan-pertanyaan teknis yang menjebak, mulai dari alokasi dana desa hingga legalitas pembangunan infrastruktur di kebun teh.

Arka hanya diberi jeda singkat untuk melaksanakan shalat dan makan siang seadanya di sudut ruangan, sebelum akhirnya dipaksa duduk kembali di kursi panas itu.

​Di saat yang sama, di sebuah kediaman tenang di Ibu Kota, Ibu Karina akhirnya tidak sanggup lagi menahan bendungan emosinya. Ia menghubungi Kakek Rajasa melalui sambungan telepon. Saat suara berat kakeknya terdengar, tangis Karina pecah seketika.

​"Ayah... tolong Arka," Ibu Karina terisak. "Mas Baskara sudah melampaui batas. Dia memperlakukan anaknya sendiri seperti koruptor di Provinsi. Arka sedang disiksa secara mental dengan audit maraton yang tidak masuk akal. Karina tidak kuat melihat mereka terus-terusan bertikai seperti ini, Ayah..."

​Kakek Rajasa mendengarkan setiap isakan menantunya dengan tenang, meski rahangnya mengeras. Ia tahu Karina adalah wanita yang sangat kuat dan jarang mengeluh, apalagi menangis kepada mertua. Jika Karina sampai sehancur ini, artinya Baskara memang sudah bertindak di luar nalar manusiawi.

​"Tenanglah, Karina," suara Kakek Rajasa terdengar dalam dan dingin. "Ayah sudah tahu. Ayah sudah mengawasi setiap langkah Baskara sejak dia mengirim surat penarikan itu ke Sukamaju. Kamu tetaplah tenang, doakan selalu anakmu dan doakan suamimu agar hatinya menjadi lembut. Urusan di Provinsi... biarkan Ayah yang menyelesaikannya dengan cara laki-laki."

Setelah mendapati telepon dari menantunya, tanpa menunggu lagi, Kakek Rajasa langsung memanggil supir pribadinya, ia akan pergi ke Provinsi.

​Sore menjelang ashar, sebuah mobil sedan hitam dengan plat nomor yang tidak asing berhenti tepat di depan gedung Provinsi. Tanpa pengawalan yang bising, Kakek Rajasa turun dari mobil. Jubah batiknya yang berwarna gelap dan tongkat kayu cendana nya memberikan aura yang membuat satpam di lobi membungkuk hormat tanpa berani bertanya.

​Kakek Rajasa langsung menuju lantai inspektorat. Ia melewati barisan staf yang terperangah. Pak Baskara, yang saat itu sedang berdiri di koridor sambil merokok dengan gelisah menanti hasil audit, hampir menjatuhkan puntung rokoknya saat melihat sosok ayahnya berjalan ke arahnya.

​"A..Ayah? Kenapa Ayah ada di sini?" suara Pak Baskara mendadak menciut.

​Kakek Rajasa tidak menjawab. Ia terus berjalan hingga sampai di depan pintu ruang audit. Dengan ujung tongkatnya, ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.

​Di dalam, Arka sedang menjelaskan sebuah grafik anggaran kepada tiga orang auditor. Melihat kakeknya datang, Arka terhenyak berdiri. "Kakek?"

​Kakek Rajasa masuk, menatap para auditor itu satu per satu hingga mereka menundukkan kepala. Lalu, ia berbalik menatap Baskara yang mengekor di belakangnya dengan wajah pucat.

​"Lanjutkan, Baskara," ujar Kakek Rajasa sambil duduk di kursi utama yang biasanya diduduki oleh ketua tim audit. "Aku ingin dengar, kejahatan apa yang dilakukan cucuku sampai kamu harus mengurungnya di sini seharian tanpa istirahat yang layak?"

​"Ini hanya prosedur rutin, Yah. Ada dugaan penyalahgunaan..." kalimat Pak Baskara terputus.

​"Dugaan? Atau pesanan?" Kakek Rajasa membanting sebuah map merah ke atas meja. "Di dalam situ ada laporan pembanding yang dibuat oleh lembaga independen atas permintaanku. Semua pembangunan di Sukamaju justru menghemat anggaran negara sebesar dua puluh persen karena keterlibatan swadaya masyarakat yang digerakkan oleh Arka dan kamu tahu? Bahkan Arka banyak mempergunakan uang pribadinya dari gaji dia sebagai ASN untuk membangun proyek-proyek Desa."

​Kakek Rajasa menunjuk ke arah auditor. "Kalian semua, keluar! Katakan pada pimpinan kalian, jika audit ini berlanjut satu jam lagi tanpa bukti yang sah, aku sendiri yang akan membawa kasus penyalahgunaan wewenang ini ke tingkat pusat. Dan kamu, Baskara... ikut aku!"

​Arka melihat ayahnya tertunduk lesu, tidak berkutik di depan Kakek Rajasa. Kekuasaan Pak Baskara yang ia bangga-banggakan di Ibu Kota ternyata tidak ada artinya di depan wibawa sang ayah yang telah membangun dinasti keluarga mereka.

​Setelah ruangan dikosongkan, Kakek Rajasa mendekati Arka. Ia memegang bahu cucunya yang terasa kaku karena kelelahan.

​"Maafkan Kakek, Arka. Kakek terlambat datang," bisik Kakek Rajasa dengan nada yang sangat lembut, jauh berbeda dari suaranya saat membentak Baskara tadi.

​Arka menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Kek. Arka hanya ingin membuktikan bahwa Arka tidak bersalah."

​"Kamu sudah membuktikannya di Sukamaju, Nak. Darah Rajasa yang mengalir di tubuhmu tidak akan pernah membiarkanmu berkhianat pada rakyat. Sekarang, pulanglah ke rumah lamamu. Istirahat. Ibumu sedang menunggumu di Ibu Kota dengan penuh kecemasan."

​Hari itu, audit dihentikan karena memang tidak ada penyalahgunaan anggaran yang Arka lalukan, sehingga Arka dinyatakan bersih dari tuntutan. Arka keluar dari gedung itu bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemenang yang didukung oleh kekuatan yang lebih besar dari sekedar jabatan.

...🌻🌻🌻...

1
Suherni 123
akhirnya up juga ya thor, sehat selalu ya
Ayuni (ig/tt : author.ayuni ): makasih kak.. 😍 terima kasih sudah selalu nunggu kelanjutannya..
total 1 replies
Suherni 123
gak lanjut thor,,,sehat kan....
Suherni 123
gak nongol nongol ini
Suherni 123
masih aman belum ada gebrakan dari Andini
Suherni 123
masih belum aman ka,,, selama Andini masih ada di sekitar mu
Suherni 123
arka kalah set sama Andini
Suherni 123
mewek...mewek😭😭😭
Suherni 123
mboh ah Ka,, kelamaan kamu keduluan Andini
Suherni 123
hmm... arka kurang tegas lah,,
Suherni 123
ada aja badai yang menerjang
Bun cie
waduh tambah runyam nih..sapie..sapie eh andini untuk ke 2 kalinya mau menghancurkan arka..
berharap zahwa bijaksana tdk termakan fitnah kejam andini
Elia Rossa
jahat banget si Andini 😠
Bun cie
duh sedih deh..2 hati yg hrsnya bersatu terhalang beda pemahaman..smoga ada titik temunya..
lanjut kak thor🙏
nanik sriharyuniati
Luar biasa
Suherni 123
agak mumet di part ini😅
Suherni 123
ayo ibu dan satukan mereka
Suherni 123
aku padamu Arka
Suherni 123
ikut deg degan juga Lo aku Bu Karina...
Bun cie
mama karina mmg top👍 bikin surprise u arka dan zahwa😍
smoga restu pak baskara segera turun
Suherni 123
lanjut,,, tetep Istiqomah pak kades banyak yang mendukung mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!