Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.
follow ig: @rohidbee07
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Sendiri
Ada titik dalam hidupku ketika aku tidak suka sendirian dan aku tidak bisa menghadapi keheningan yang datang bersamanya. Jika aku tidak aktif bekerja, melakukan beberapa tugas, mengenal seseorang tentu hari-hariku sangatlah kosong. Jika seseorang tidak mengirim pesan teks atau meneleponku, aku membayangkan sebuah dunia di luar dinding kamarku yang hidup lebih besar dan dengan caraku meyakinkan diriku bahwa aku perlu hidup. Kemudahan serta keheningan bukanlah konsep yang familiar bagiku, karena yang aku tahu hanya auto—pilot. Aku selalu di perjalanan dan gerakan yang konstan (terus-menerus), ini datanglah penanganan penghindaran dan harapan yang tidak realistis untuk menjadi dan berbuat lebih banyak. Aku merasakan stuck di langkahku yang makin hari makin terhimpit. Aku berusaha survive di masa transisiku yang amatlah sulit untuk dipertahankan.
Namun, dari tempat aku duduk sekarang aku telah belajar untuk menerima ketenangan. Aku telah belajar ada kekuatan dalam keheningan dan stabilitas dalam kesendirian dan sementara beberapa hari ini sudah lebih baik, daripada hari sebelumnya. Aku menghargai setiap orang dari mereka, karena telah menjadi guru dan pembawa pengetahuan. Mengajarkan apa artinya hidup, bagaimana memanusiakan manusia dan tidak menjadi manusia yang egosentris. Aku telah bekerja terlalu keras dan aku telah mengatasi terlalu banyak untuk diseret kembali ke kebiasaan lama. Gaya hidup lama, cara hidup dan keberadaan lama. Aku bukan orang yang sama, aku telah melihat banyak hal, aku sudah dewasa. Aku telah ber—metamorfosa, aku tahu apa yang diinginkan dan aku tahu apa yang tidak diinginkan. Meskipun, akan ada orang yang tidak dapat menghubungiku pada tahap selanjutnya.
"Han, kenapa kamu bengong begitu, lagi mikirin sesuatu?" ucap Bapak menepuk bahuku melepaskan lamunanku sejak tadi.
"Eh ... Bapak. E—enggak kok, Pak. Raihan cuma cari angin saja di luar, tadi habis kerjakan tugas kuliah dan di sini lagi cari inspirasi buat nulis buku."
"Oh, begitu. Sudah larut malam segera tidur! Nanti, kamu besok kesiangan ke kampus. Kamu sudahlah jangan menulis dulu! Fokus yang realistis saja, mending kelarin kuliahmu agar cepat segera wisuda. Masa depanmu dipertaruhkan, Han. Apalagi penghasilan Bapak tidak menentu, takut tidak mampu menguliahkanmu lagi dan kamu putus di pertengahan jalan," balas Bapak menegur dan menasehatiku dengan serius.
"Ta—tapi, Pak. Raihan ingin mencari uang juga dari menulis, memang tidak ada jaminan masa depan untuk karirku. Setidaknya aku mencintai apa yang aku senangi, Pak. Bapak kenapa sih sekarang, malah mengendurkan semangat dan memandang menulis itu tidak menghasilkan apa-apa?"
"Bukan Bapak melarangmu atau mengekangmu, Han. Cuma Bapak ingin kamu kerja yang realistis saja, kamu bisa kerja sampingan untuk membantu Bapak membiayai kuliahmu. Selama ini berapa banyak uang yang telah kamu hasilkan dari menulis? Bukankah menyedihkan hasilnya. Kamu tahukan Bapak itu takut kamu terlalu fokus dengan obsesimu menjadi penulis hebat, tetapi kamu lupa dengan kewajibanmu sebagai mahasiswa dan lalai dengan tugasmu."
"Bapak itu bisa enggak sih buat bahas tentang ini? Aku tuh sedang menggali potensi yang ada dalam diriku. Aku tuh heran kenapa Bapak seperti melarang hobiku yang terbilang positif menurutku. Aku tuh bukan hobi mabuk-mabukan atau tawuran, Pak. Raihan udah besar, Pak! Jalan Raihan berkarya, mungkin berbeda dengan anak pada umumnya. Jika saja Bapak keberatan dengan biaya kuliahku yang terlampau besar. Iya, sudah biar Raihan berhenti saja dari kuliah, supaya tidak menjadi beban keluarga."
"Oh ... jadi kamu melawan nasihat, Bapak? Kamu mau jadi anak durhaka, Han? Kamu enggak kasihan, Ibumu stres mikirin kamu setiap hari. Karena kamu enggak serius belajar dan hanya fokus pacaran saja."
"Loh kok jadi bahas hubunganku, Pak? Memangnya ada yang aneh apa Raihan lakukan, bukannya Bapak pernah muda sama sepertiku. Bapak terlalu mengekang keinginanku, entahlah Bapak itu egois selalu mau menang sendiri enggak mikirin perasaan, Raihan!"
"Raihan kurang ajar kamu! Mau Bapak ...."
"Apa mau tampar, Pak? Iya, sudah silahkan!" balasku meninggalkan Bapak, menaiki motorku dan langsung pergi dari rumah.
"Huft ... Han tunggu Bapak belum selesai bicara! Kamu mau ke mana?" titah Bapak dan sama sekali tidak aku hiraukan perkataannya.
***
Aku pun memutuskan pergi dari rumah menenangkan diri, meluapkan kekesalanku ke sebuah tempat yang selalu aku ingin singgahi. Tempat itu adalah tempat yang selalu paham isi hati serta pikiranku. Bukit harapan namanya, entahlah tidak semua orang tahu tempat ini dan aku pun tidak tahu nama tempat ini sebenarnya. Aku hanya memberikan label nama itu sendiri, tanpa ada embel-embel resmi. Aku langsung menyalakan sebuah rokok dan perlahan-lahan memantiknya.
Suasananya sangat tenang di bukit ini, sebenarnya ini hanyalah daratan tinggi saja dan tidak mirip seperti bukit. Tapi, entahlah spontanitas aku menamakan tempat ini 'Bukit harapan. Jaraknya hanya satu kilometer dari rumahku, aku tidak ingat sejak kapan bisa nyaman dengan tempat ini. Setiap kali ada masalah aku selalu rutin ke sini, masalah apa pun itu aku selalu memilih menghabiskan waktu berjam-jam di sini. Bapak, Ibu maaf jika selama ini aku terlalu ambisius. Aku ini sangatlah keras kepala, bahkan kalian pun sangat kesal dan prinsipku ini.
Aku terkadang bingung dengan jalan pikiran seseorang, yang cenderung plin-plan dalam memilih sesuatu pilihan yang telah dia ambil. Aku heran sekali dengan Bapak yang sulit untuk dimengerti. Bukannya Bapak mendukungku waktu lalu, tetapi sekarang mereka malah melarangku lagi dan bahkan anehnya Ibuku justru balik mendukungku. Entahlah, terkadang sebagai anak harus banyak mengalah atas keputusan mereka. Meskipun, di dalam hatiku sukar untuk diterima. Aku tidak menyalahkan mereka, karena terlalu dini menghakimi jalan yang aku ambil dan aku hanya menyalahkan sikap mereka yang terlalu over—protektif dengan apa yang aku jalani saat ini.
Aku mengerti tidak serta merta cukup dengan sekedar kata meyakinkan mereka. Terkadang aku bingung dengan cara apa lagi bisa menyentuh hati mereka untuk bisa lembut atas keinginanku. Sebab, hidup bukan hari ini saja, fase hidup seseorang tidak selalu di bawah. Aku cuma ingin orang terdekatku mengerti itu, kalau memang tidak sanggup memberikan support dan bantuan moril. Mereka cukup diam dan memantau saja, bagiku itu jauh lebih dari cukup. Impianku ini biarlah kubentuk sendiri, biarlah tangga sukses aku naiki perlahan-lahan, tanpa adanya intervensi dari siapa pun. Mereka cukup mengiyakan saja, jika memang berat hati untuk mendoakan.
Semoga impianku segera terealisasikan tanpa adanya halangan, itulah sebabnya aku dengan gigih meraihnya untuk menjadi penulis sukses. Aku tahu ini sulit untuk dilalui, cuma aku yakin Tuhan bersama orang yang mau berjuang. Aku selalu menutup mata dan telinga, dari orang-orang yang mencoba melemahkan dan meremehkan mimpiku. Aku selalu tidur telat waktu dan bangun cepat-cepat. Ada bagian puzzle yang belum kutemukan, keresahan itu selalu muncul untuk segera menemukan kepingan puzzle—ku lainnya dan membawaku teguh ke jalan ini.
Di bukit harapan ini, aku selalu menggantungkan tinggi-tinggi cita-citaku. Aku tidak ingin memaksa Bapak, Ibu, Andira dan bahkan kawanku sekalipun untuk memihakku. Aku berusaha untuk meredam amarahku malam ini, yang pada kenyataannya sangat sakit untuk diterima. Bagaimana bisa, orang-orang yang bisa aku andalkan, justru malah melarangku dan timbul sebuah penolakan. Malam ini aku sadar sudah berapa banyak masalah, yang kulimpahkan di tempat ini, alih-alih penuh penghakiman justru tempat ini selalu diam dan menjadi pendengar yang baik untukku.
Aku banyak belajar dari tempat ini, alam yang sangat indah Tuhan ciptakan. Membuka mata dan pikiran manusia, jika mereka menyadari itu. Terkadang keindahan alam adalah koneksi paling kuat untuk manusia agar selalu terhubung dengan Tuhannya. Aku pun menyadari itu, tiap kali mendapatkan tekanan dalam hidup, Tuhan selalu memberikanku opsi untuk meredamnya dengan memperlihatkan ciptaannya. Aku selalu melupakan masalahku jika sudah berkunjung di tempat ini. Entah itu, masalah datang dari keluarga, pendidikan, asmara dan bahkan di lingkungan sosial.
Selama ini aku tidak iri dengan orang-orang yang berjalan cepat, mereka yang ingin singkat mendapatkan semua prospek masa lalu dan dengan begitu keras bertaruh untuk masa depan. Tapi, di langkahku yang amat pelan ini, demi Tuhan, aku begitu menikmati semuanya. Aku tidak melewatkan momen-momen penting dalam hidupku dan aku tidak akan kehilangan masa mudaku. Sebab, berlari hanya akan membuat pandanganku kabur akan sekitar dan pada akhirnya, apa yang akan benar-benar kulihat. Selain gambar-gambar buram, seperti diambil dengan tergesa dan apa yang benar-benar aku pandang, selain pandangan ke depan yang masih tak jelas adanya.
"Sesungguhnya, hal ini pasti terjadi dalam kehidupanku nanti. Saat aku akan dibuat menyedihkan oleh orang-orang terdekatku, aku akan merasakan itu nanti entah kapan. Bagaimana, mereka tidak sukanya terhadapku secara terang-terangan, dengan sebab yang tidak jelas membawa dendam. Dan mengapa anehnya aku selalu nyaman berada di sebelahnya."
-Rohid Bachtiar
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?