Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tim IT milik Lucio langsung bergerak cepat untuk melacak keberadaan ponsel Naya. Begitu menerima pesan janggal dari wanita itu, tanpa membuang waktu, Lucio segera menghubungi timnya dan memberi perintah tegas untuk menemukan lokasi Naya secepat mungkin.
Ruangan kerja itu dipenuhi ketegangan. Suara ketikan keyboard terdengar nyaring, berpacu dengan waktu, sementara layar-layar monitor menampilkan berbagai data yang terus diperbarui.
“Bagaimana?” tanya Lucio, suaranya rendah dengan ketidaksabarannya jelas terasa.
“Saya sudah menemukan lokasi terakhirnya, Tuan,” jawab Ares, salah satu orang kepercayaan Lucio yang sangat ahli di bidang IT. Matanya masih terpaku pada layar, memastikan data yang ia temukan akurat.
“Di mana?”
“Lokasi terakhir Nona Naya berada di pinggiran kota, Tuan. Area itu cukup sepi penduduk dan minim pengawasan.”
Ucapan itu membuat rahang Lucio mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya terlihat jelas.
Berani sekali mereka bermain-main dengannya. Tampaknya mereka hanya menganggap rumor mengerikan tentang dirinya sebagai isapan jempol semata.
Baiklah. Kali ini, ia akan memastikan semua orang tahu bahwa rumor itu bukan sekadar cerita.
“Mario,” panggil Lucio dingin.
Mario, yang sejak tadi berdiri siaga dengan setelan abu-abu khasnya, segera melangkah maju. “Ya, Tuan.”
“Kita berangkat sekarang.”
Perintah itu terdengar seperti vonis. Tanpa ragu, tanpa penundaan.
Mario mengangguk singkat, sementara Lucio sudah lebih dulu berbalik, melangkah keluar dengan aura gelap yang semakin pekat. hari itu, seseorang akan menyesali perbuatannya.
*
Setelah teriakannya yang penuh keterkejutan, Naya langsung menatap waspada ke arah ranjang di sudut ruangan. Jantungnya berdegup kencang dipenuhi rasa takut yang tiba-tiba menyeruak.
Di atas ranjang itu, seorang pria terbaring dengan posisi menelungkup. Wajahnya terbenam di bantal, membuat Naya tidak bisa mengenalinya dengan jelas.
“Kamu siapa?” tanya Naya. Tangannya refleks mencoba memutar gagang pintu, berniat keluar dari ruangan itu. Namun, pintu tersebut tidak bergerak sedikit pun. Terkunci.
Panik mulai merayapi pikirannya.
Pria itu akhirnya bergerak. Perlahan, ia membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Naya.
Dan saat itulah Naya bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Ardan…?” ucap Naya terkejut, matanya membesar tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu pria itu di rumah ini.
“Naya,” Ardan bangkit dari posisinya, jelas terlihat terkejut. Namun hanya dalam hitungan detik, ekspresinya berubah, senyum lebar terukir di wajahnya, seolah pertemuan ini adalah hal yang sudah lama ia tunggu.
“Kamu datang? Kamu kangen, ya?” godanya ringan, suaranya terdengar santai, bertolak belakang dengan situasi yang membuat Naya tegang.
“Nggak ada yang kangen,” balas Naya cepat sambil memutar bola matanya kesal, meskipun kewaspadaannya tidak berkurang sedikit pun. “Ngapain kamu di sini?”
“Menurutmu?” Ardan mengangkat sebelah alisnya, lalu melangkah mendekat dengan santai. Senyumnya tak luntur, justru semakin lebar, seolah menikmati kebingungan dan kegelisahan yang terpancar jelas dari wajah Naya.
Langkahnya terhenti hanya beberapa jarak dari Naya, cukup dekat untuk membuat gadis itu semakin tidak nyaman.
“Harusnya aku yang tanya,” lanjut Ardan pelan, matanya menatap lekat. “Kamu kenapa bisa sampai ke sini?”
Naya panik, gagang pintu tidak bisa dibuka. Entah kenapa saat ini satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya hanya Lucio.
Sementara Ardan masih menatapnya tanpa berkedip, Naya dengan cepat mengeluarkan ponselnya. Tangannya gemetar saat ia mengetik sebuah pesan singkat, jari-jarinya nyaris salah menekan huruf karena gugup.
[ Naya : Lu, tolong! ]
Pesan itu terkirim. Naya menelan ludah, berharap pria itu benar-benar melihatnya tepat waktu.
“Kamu seharusnya tidak menikah dengannya, Naya,” ujar Ardan pelan. Ia melangkah lebih dekat, memangkas jarak yang tersisa diantara mereka.
Naya refleks mundur, menjaga jarak, hingga punggungnya menabrak daun pintu. Tidak ada lagi ruang untuk menghindar. Jantungnya berdetak semakin cepat saat Ardan kini berdiri begitu dekat di hadapannya. Tatapan pria itu membuat Naya merasa terpojok.
“Apa kamu benar-benar berpikir dia akan melindungimu?” lanjut Ardan, suaranya merendah, nyaris seperti bisikan.
Naya mengepalkan tangannya, berusaha menahan rasa takut yang terus merayap. Sejak kapan Ardan jadi seperti ini? atau memang seperti inilah Ardan yang sebenarnya dan Naya hanya baru tahu?
“Jangan dekat-dekat,” desis Naya.
Namun Ardan justru tersenyum tipis, seolah menikmati situasi itu. Senyum yang membuat bulu kuduk Naya meremang.
Tiba-tiba, tanpa peringatan—
Ardan menangkap pergelangan tangan Naya dengan kuat.
“Lepas!” Naya meronta, berusaha menarik tangannya, tapi cengkeraman Ardan terlalu kuat.
“Kamu akan mengerti nanti,” ucap Ardan pelan.
Dalam satu gerakan cepat, ia menarik tubuh Naya dan mendorongnya ke arah ranjang.
“Ardan!”
Tubuh Naya terhempas di atas kasur. Ia langsung berusaha bangkit, tapi Ardan lebih cepat. Pria itu menahan bahunya, membuat Naya sulit bergerak.
“Lepasin aku!” Naya berontak, tangannya mendorong dada Ardan sekuat tenaga. Napasnya memburu, matanya dipenuhi ketakutan dan kemarahan. Ia menendang, memukul, mencoba segala cara untuk melepaskan diri.
“Berhenti!” bentak Ardan, namun Naya tidak peduli. Ia terus meronta, menolak sepenuhnya perlakuan itu.
“Jangan sentuh aku!” teriaknya, suaranya bergetar namun penuh penolakan. Ranjang berderit pelan akibat pergerakan mereka yang kacau.
Naya menggeleng, air matanya mulai jatuh tanpa bisa ditahan. Mulai menyesali tindakannya kabur dari rumah Lucio, dan sekarang ia malah berharap pria itu datang.
...***...