Apa yang terjadi jika ada seseorang yang masuk dalam hidupmu adalah orang yang usianya jauh di atasmu dan bukan type yang sefrekuensi denganmu. Di saat kamu mengharapkan bebas, namun dia adalah pria yang protective dan penuh aturan.
Ini adalah kisah cinta ringan sepasang manusia.. tentang seorang gadis usil dan riang namun bertemu dengan pria jebolan pesantren tapi mesumnya setengah mati.
Tampilannya mungkin urakan dan begajulan bak preman pasar memang begitu meresahkan tapi siapa sangka pria tersebut sangat menghargai wanita terlebih saat sudah jatuh cinta, garang tersebut lenyap dan berubah lembut.. selembut kapas.
note : TINGGALKAN JIKA TIDAK TAHAN KONFLIK DI DALAMNYA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Sang Mantan ( 1 ).
Karena tidak ingin terjadi keributan lagi, Malam itu juga Bang Noven meminta anggotanya untuk membelikan sate pesanan Irene dan akhirnya seluruh keluarga bisa bernafas lega melihat Irene menyantap makan malamnya.
\=\=\=
Satu minggu kemudian dua orang anggota menghadap ke ruang kerja Bang Noven. Saat ini Letnan satu Novendra Mahameru sudah menduduki jabatan barunya di kompi yang terpisah dengan Batalyon.
"Selamat pagi.. Ijin Danki..!!"
"Masuk..!!"
Kedua pria tersebut memberi hormat pada atasannya.
"Duduk..!!"
"Kami.. Prajurit dua Dwipangga mohon ijin menghadap..!!" lapor Prada Dwipa.
"Kami.. Prajurit dua Hasbullah mohon ijin menghadap..!!" lapor Prada Hasbul.
"Baik.. selamat datang dan selamat bergabung.. Prada Dwi dan Prada Kabul. Semoga betah bersama keluarga besar kompi. Dwi langsung menjadi ajudan saya dan Kabul menjadi mudi saya. Kebetulan istri saya sedang hamil muda, jadi butuh bantuan kalau saya sedang tidak bisa menemani istri. Saya harap kalian berdua loyal dan solid terhadap atasan. Menjaga nama baik saya juga keluarga. Saya harapkan kerjasamanya..!!" kata Bang Noven menyambut dua anggota barunya.
"Siap Danki.. di mengerti..!!"
"Begitu saja dari saya, tidak ada arahan selanjutnya..!! Silakan kalian bergabung dengan yang lain..!!"
"Siap..!!"
...
Irene keluar dari ruang pengurus ranting bersama beberapa ibu-ibu yang lain. Baru tiga hari dirinya keluar dari rumah sakit tapi sekarang dirinya sudah di hadapkan dengan setumpuk pekerjaan yang harus segera di selesaikan.
"Saya mohon bantuannya untuk pertemuan besok ya Bu Harso..!! Sebenarnya saya kuat ikut kegiatan sampai sore tapi Abang melarang saya terlalu lama ikut kegiatan. Maaf ya ibu-ibu semua..!!" kata Irene merasa tidak enak dengan istri anggota yang lain.
"Ijin ibu, tidak apa-apa. Nanti kami yang akan handle. Ibu tinggal datang dan memantau saja. Jangan di pikirkan..!! Ibu memang butuh banyak istirahat." jawab Bu Harso yang kagum dengan kedewasaan Irene dalam bersosialisasi dan mengambil keputusan.
Jauh di balik ruangan ada senyum yang tersungging melihat istrinya yang biasanya pecicilan bisa bersikap hangat, sopan dan dewasa.. jauh dari kecemasannya selama ini.
"Bagus sayang.. manja lah denganku saja dan jangan membiarkan orang lain menindasmu..!!" gumam Bang Noven.
Tapi di saat yang sama ekor matanya terus mengawasi langkah Prada Dwipa dan Prada Hasbul yang belum menyadari kehadiran Irene disana.
...
Sore hari, Irene melihat kolam ikan nila di belakang kompi. Ia mulai undur diri saat merasa tubuhnya tidak nyaman terkena angin sore.
"Selamat sore Bu. Ijin.. saya ajudan bapak. Dimana saya bisa bertemu ibu? Bapak meminta saya mengirimkan air minum untuk ibu."
"Oohh.. Om Dwi ya?? Ibu Noven masih memberi makan ikan di kolam Om. Ini saya juga mau mengambilkan jaketnya ibu. Sepertinya ibu tidak kuat kena angin." jawab Bu Harso.
"Siap Bu. Terima kasih..!!"
~
Bang Dwi melangkah menuju kolam ikan nila. Dari kejauhan ia melihat ada sosok yang familiar dalam pandangan matanya. Ia pun mempercepat langkah memastikan kebenaran penglihatannya.
"Irene..!!!!" sapa Bang Dwi.
Irene menengok ke arah sumber suara. Bibirnya terasa kelu, kakinya gemetar, air matanya menggenang menutup bingkai mata.
"Kenapa kamu blokir semua akses komunikasi kita??? Ada apa?? Apa Abang punya salah sama kamu?? Kalau memang Abang ada salah.. Abang minta maaf dek." kata Bang Dwi. Ia melangkahkan kakinya lagi untuk mendekati Irene tapi gadisnya itu mundur memberi jarak. "Abang akan melamarmu..!!"
Irene masih tak sanggup menjawab, tangannya saling bertaut dengan gelisah. Di situlah Bang Dwi melihat cincin melingkar di jari manis Irene.
"Kamu pakai cincin?? Kamu bertunangan dengan laki-laki lain??" tanya Bang Dwi dengan wajah penuh kekecewaan. "Saya berjuang menjaga hubungan kita baik-baik dek. Tidak pernah sedikitpun ada niat di hati saya untuk menduakan kamu, saya jaga hatimu dalam kerinduan, saya mohon belas kasih Tuhan agar bisa melunakan hati kedua orang tuamu, tapi kenapa kamu memilih laki-laki lain????"
Isak tangis Irene meluncurkan air matanya. Tepat saat itu Bang Noven muncul dan memakaikan jaket untuk Irene.
Tau ada sesuatu yang bersifat pribadi, Bu Harso segera meninggalkan tempat.
Irene menatap mata Bang Noven. Seakan mengerti apa yang tengah di rasakan Irene. Bang Noven mengusap rambutnya, memahami perasaan sang istri.
"Bang..!!"
Jemari Bang Noven menghapus air mata Irene. "Sudah ya.. Jangan nangis..!!" ucap lembut Bang Noven. Ia pun memeluk Irene yang meringkuk mere*as erat pakaiannya.
Saat itu baru lah Prada Dwipa tersadar akan posisinya. Irene telah bersama pria pilihan orang tuanya.
"Baaang..!!" Irene merosot meremas bagian bawah perutnya.
Bang Noven pun sigap menahan tubuh Irene. "Sakit?? Nyeri sekali??" tanya Bang Noven cemas.
Irene hanya menggeleng menjawabnya, mengisyaratkan bahwa dirinya hanya terkejut akan pertemuannya dengan Bang Dwipa.
"Bisa kita bicara?" tanya Bang Noven.
"Siap..!!" jawab Prada Dwipa.
Irene mencegah Bang Noven tapi pria itu membalasnya dengan satu kecupan di kening.
~
"Saya harap kamu bisa berbesar hati menerima semua ini..!!"
"Atas dasar apa anda mengambil Irene dari saya? Jangan jadikan perjodohan sebagai tameng pembenaran kelakuan anda Letnan." kata Prada Dwipa.
"Saya disini mengajakmu bicara baik-baik sebagai sesama pria. Saya akui perjuanganmu, tapi kenyataannya saat ini Irene sudah menjadi istri saya..!!" ucap tegas Bang Noven.
Mata Bang Dwipa berkaca-kaca, ia menatap wajah Irene namun kemudian mengalihkan pandangannya apalagi saat tangan Dankinya mengusap perut Irene, hatinya terasa panas terbakar rasa cemburu. "Saya selalu berharap bisa menikahimu dan kita punya anak. Setiap hari saya berdo'a, namun kenapa panjangnya do'a yang saya panjatkan tidak di Ijabah oleh Allah??"
"Untuk itu saya minta maaf..!!"
Bang Dwipa menunduk, ia tak sungkan menunjukan kepedihan dan air matanya di hadapan Bang Noven dan Irene. Tapi sebagai seorang pria, dirinya harus berjiwa ksatria bagaimana pun juga Irene sudah di miliki pria lain. Ia mengulurkan tangan di hadapan Bang Noven. Pria itu tak sedetikpun menjauhkan usapan tangannya dari perut Irene. "Selamat atas pernikahan kalian. Semoga sakinah mawadah warahmah."
Bang Noven menyambut uluran tangan Prada Dwipa. "Terima kasih. Semoga kamu bisa segera mendapatkan jodohmu..!!"
Ingin rasanya Irene menutupi perasaannya namun Nafas Irene sudah tersengal dan tak lagi bisa menahannya.
Bang Dwipa memberanikan diri menatap gadis yang amat sangat di cintainya itu. Di buangnya nafas berat di dadanya secara perlahan. "Jaga kandunganmu baik-baik. Dia harapan paling indah dari do'a seorang suami..!!"
Tubuh Irene lemas di samping Bang Noven. Merasa tak kuat lagi menatap bayang sang mantan kekasih. Bang Dwipa berdiri menghadap Bang Noven. "Mohon ijin Danki.. Ijin Ibu, jika tidak ada lagi yang harus saya kerjakan.. saya pamit undur diri..!!"
"Silahkan.." kata Bang Noven mengijinkan.
:
"Maaf Abang..!! Maaf..!! Irene nggak mau nangis tapi.........." sesampainya di rumah pun Irene masih saja menangis.
Bang Noven mengecup kening Irene dengan penuh kasih sayang. "Nggak apa-apa. Abang mengerti..!! Abang akan membuatmu jatuh cinta lagi." Perlahan tapi pasti, Bang Noven merebahkan tubuh Irene. Ia mendekatkan wajahnya pada bibir indah Irene. Di usapnya seluruh tubuh Irene dengan lembut hingga Irene terbuai dan terlena oleh sentuhan sayang Bang Noven.
Merasa Irene sudah tenang, Bang Noven pun beranjak tapi Irene menahannya. "Abang mau kemana?"
"Mau sholat isya' dek. Ayo wudhu lalu cepat pakai mukena mu..!!"
Irene cemberut kemudian berdiri dan meninggalkan Bang Noven di kamar.
.
.
.
.
saya mampir.... thor
🙏