Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada apa?
Tepat di samping villa terdapat sebuah danau buatan yang dibuatkan khusus untuk Nicko saat ia ditinggal oleh kedua orangtuanya ke luar negeri untuk urusan bisnis. Keluarga Nicko merupakan keluarga terpandang dan memiliki pengaruh yang besar. Oleh karena itu, saat Nicko minta dibelikan sebuah rumah di Puncak lengkap dengan danau sebagai syarat agar mengizinkan ditinggal ke luar negeri, tanpa basa-basi kedua orangtua Nicko langsung menyetujui. Layaknya Thanos yang dapat mengubah dunia hanya dengan menjentikkan jari, begitu pula keluarga Nicko. Berhektar-hektar tanah di daerah Puncak dibeli hanya untuk membeli hati putranya.
Setelah kedua orangtua Nicko memilih menetap di Belanda, villa dan beberapa hektar tanah di Puncak menjadi kepemilikan Nicko. Lelaki itu lebih memilih melanjutkan kehidupan lamanya dibandingkan harus memulai hidup baru di negeri orang. Ya, Nicko membangun sebuah rumah impiannya di Puncak dan menetap disana.
"Ri, boleh ambilkan kecap?" Titah Adam yang tengah sibuk memasak ikan bakar di tepi danau.
"Tidak ada kecap disini, Mas," sahut Erica yang tidak menemukan kecap di meja.
"Kau tidak lupa bawa kecap kan, Nick?" Hans bertanya pada Nicko yang sedang sibuk membakar jagung.
Nicko nampak berpikir, lalu sesaat kemudian ia menampilkan cengiran yang membuatnya dihujani tatapan tajam.
"Aku akan membawanya sekarang," ucap Nicko seraya bersiap meninggalkan pekerjaannya membakar jagung.
"Terus yang bakar jagung siapa? Kau tidak lihat aku sedang apa?" Hans menunjukkan kail pancingnya ke arah Nicko, membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Rey kan ada," sahut Nicko sembari mengedikkan bahu ke arah Rey yang sedang berbaring di atas Hammock dengan kedua lubang telinga tersumpal headset.
"Kau percaya dia bisa masak?"
Nicko berdecak menyahuti pertanyaan Hans. "Ya sudah kau saja yang bakar jagungnya. Dari tadi kau mancing cuma dapat dua ikan, kita ambil dari kulkas saja lah!"
Hal itu membuat Hans melempar ember di sampingnya ke arah Nicko, sementara Nicko menghindari lemparan Hans sembari tertawa.
"Kau sangat bersemangat untuk memancing ikan, kawan. Aku jadi tidak tega menghentikanmu."
"Sialan kau, Nick!" Hans menarik kail pancingnya bersiap untuk dilayangkan ke kepala sahabatnya itu.
"Jadi, siapa yang akan membalik jagung bakarnya?" tanya Adam, menengahi. Wangi jagung bakar yang sebentar lagi akan gosong jika dibiarkan lebih lama lagi menguar memenuhi indera penciuman mereka.
Cepat-cepat Nicko beranjak pergi untuk mengambil botol kecap di rumahnya, membuat Hans mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaan Nicko. Terdengar sahabatnya itu mengumpat, tapi justru membuat Nicko semakin mempercepat langkahnya.
Rumah Nicko cukup jauh dari villa, tapi tidak akan lama jika menggunakan mobil.
"Mau ikut, Ri?" tanya Nicko saat melewati Erica yang tengah menemani Zhafran bermain mobil-mobilan di dekat mobilnya terparkir.
Semilir angin sore berhembus dengan nakal memainkan rambut Erica, seolah menari-nari minta diperhatikan.
"Kemana, Om Nick?" tanya Erica sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
"Ke rumah, yuk? Kamu belum tahu rumah om kan?" Nicko berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Zhafran.
"Hei, jagoan. Mau naik mobil sungguhan nggak?" tanya Nicko.
"Mauuu!" seru Zhafran kegirangan. Dengan cepat anak itu meraih tangan Nicko.
"Dam!" Panggil Nicko dengan cara berteriak. "Istri dan anakmu aku pinjam dulu!"
"Heh! Kau kira mereka barang!" sahut Adam di tepi danau yang masih disibukkan bergelut dengan asap ikan bakar yang mengepul memenuhi indera penciumannya, membuatnya sesekali terbatuk.
"Yuk! Suamimu sudah mengizinkan." Ajak Nicko, membuat Erica menggeleng pelan dengan bibir menyunggingkan senyum melihat kelakuan Nicko.
Rumah Nicko berjarak sekitar satu kilo meter dari villa. Sengaja ia membangun rumah agak jauh dari villa supaya bisa mendapatkan dua suasana yang berbeda.
White house, begitulah Nicko menamai rumahnya. Rumah itu di dominasi oleh warna putih, dengan beberapa sentuhan warna-warna pastel seperti krem dan abu muda.
Menunggu Nicko mengambil kecap, Erica menemani Zhafran yang begitu tertarik dengan air mancur di halaman rumah.
"Ehh ada dek Zhafran," sapa seorang ibu paruh baya. "Dek Zhafran kok tidak masuk?" tanya ibu tersebut, seolah sudah kenal lama dengan Zhafran. Berbeda dengan ibu itu, Zhafran justru menunjukkan reaksi yang berbeda. Anak itu sembunyi di balik tubuh Erica sembari mengeratkan genggamannya pada jari Erica.
"Neng ini siapanya Dek Zhafran ya, kok ibu baru lihat?"
"Saya ibunya Zhafran, bu."
Ibu itu mengerutkan keningnya dengan mata mengamati Erica. "Ah bukan! Tua-tua begini ibu masih hapal wajah pelanggan ibu."
"Pelanggan?"
"Iya, dek Zhafran kan-"
"Mbok?" panggil Nicko, menginterupsi percakapan mereka. Seolah ketakutan, ibu yang dipanggil mbok oleh Nicko itu segera masuk ke rumah dengan wajah menunduk menghindari tatapan Erica yang haus akan jawaban.
"Siapa itu om?" tanya Erica tanpa melepaskan tatapannya dari punggung si mbok yang mulai menjauh.
"Pembantu di rumah ini," sahut Nicko lalu cepat masuk ke dalam mobil.
"Kok dia kenal Zhafran?"
"Ya jelas kenal lah, Zhafran kan anaknya Adam," jawab Nicko sekenanya. Ia segera memacu mobilnya meninggalkan halaman, mencegah Erica bertanya lebih jauh.
Tak lama kemudian, mereka sampai di villa. Cepat Nicko menghampiri Adam yang masih disibukkan dengan ikan bakar.
Sementara itu, Erica berdiri cukup jauh dari mereka. Mengamati Nicko yang bertingkah aneh.
***
"Tadi si mbok ketemu sama Zhafran," ucap Nicko. Sudut matanya mengawasi Erica yang juga tengah mengawasinya dari jauh.
"Terus?" sahut Adam tak perduli.
Seketika Nicko dibuat geram oleh tingkah Adam yang seolah-olah semuanya baik-baik saja. "Bagaimana kalau istrimu tahu, kalau anakmu itu anak dar-"
"Sttt." Adam memotong ucapan Nicko. Ia tahu apa yang akan Nicko katakan, dan Adam tidak ingin mendengarnya.
Nicko mengatupkan mulutnya mendapat tatapan tajam dari Adam.
"Bagaimana bisa mereka bertemu dengan si mbok?" suara Adam berdesis, seperti ular yang tengah terancam keamanannya.
Nicko menghela napas, menyadari kesalahan terletak pada dirinya. "Si mbok kerja di rumahku."
Jauh dari perkiraan Nicko, Adam mendelik ke arahnya dengan mata yang berkilatan. Padahal Nicko sudah menyiapkan diri jika saja Adam melayangkan tinjunya ke wajahnya. Percayalah, delikan mata seseorang yang selalu bersikap hangat dan tidak pernah menyakitimu itu jauh lebih tajam dan menusuk daripada sebilah pisau. Pisau tumpul maksudnya.
"Pecat dia!" titah Adam dengan suara tidak terbantahkan.
"Aku baru mempekerjakan si mbok empat bulan! Kau ingin rumahku selalu berantakan?"
"Dan aku baru menikah dengan gadis itu tiga bulan. Kau ingin membuat rumah tanggaku berantakan?"
Nicko terdiam. Ia kalah berdebat dengan Adam. Bukan hanya kali ini saja, Adam selalu mengalahkan Nicko dalam segala hal. Dalam hal asmara pun Nicko dikalahkan oleh duda anak satu itu. Padahal sudah lama ia mengincar Erica untuk dijadikan istri. Nicko jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Erica di rumah Hans.
Saat itu Erica berusia tujuh belas tahun, tapi sudah terlihat bibit-bibit unggul dari dalam dirinya. Di samping sifat polosnya, Erica merupakan seorang gadis yang sangat istimewa yang mampu membuat Nicko betah berlama-lama di samping gadis itu. Nicko berniat untuk melamar Erica saat gadis itu lulus wisuda. Tapi ternyata Adam mencuri start lebih awal.
Sejujurnya, Nicko tidak ikhlas melihat Erica menikah dengan Adam. Apalagi Adam masih menyimpan perasaan terhadap Mona. Setidaknya itulah yang Nicko tangkap dari pancaran mata Adam. Dari setiap tatapan penuh kebencian dan perlakuan dingin, ada sesuatu yang tidak beres dalam diri Adam. Kalau semuanya baik-baik saja, kenapa harus tertanam benci?
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂