Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pintu ruang rapat terbuka setengah, memberi kesempatan terakhir bagi siapa pun yang masih ingin hidup tenang tanpa tekanan dari sang atasan. Sayang sekali, kesempatan itu tidak diambil oleh seorang laki-laki yang berjalan santai, seolah tiada yang mengusik kehidupannya saat ini.
Magenta masuk dengan senyum kecil, seolah tidak merasa bersalah karena lagi-lagi, ia terlambat masuk kantor. Memang spsies satwa liar, hidupnya terlalu bebas seperti nggak butuh aturan.
“Selamat pagi teman-temanku semua,” sapanya entah ke siapa, karena sebagian besar kepala sudah menoleh bersamaan. Memandang kasihan, menunggu hiburan, dan sebagian lagi menatap seperti sedang menimbang tingkat dosa manusia di hadapannya.
Cyan tak mengatakan apa pun selama beberapa detik. Hening, padat, dan memanjang seperti garis grafik yang sedang menurun. Lalu ia tersenyum paksa, membuat Magenta sempat tidak berkutik.
Apa yang akan terlempar di udara lagi kali ini? Vas bunga? Heels, atau jam dinding?
“Oh, ini deja vu atau Anda emang jadiin terlambat itu sebagai hobi profesional yang dijalanin setiap hari ya?” tanya Cyan datar.
Magenta menarik kursi, tetapi belum duduk karena Cyan mengangkat satu tangan. Perintah diam-diam yang membuat seluruh ruangan ikut senyap seketika. “Eitss… enggak. Nanti dulu. Jangan dulu duduk, Genta. Saya ingin menikmati momen ini.”
Beberapa karyawan di meja paling ujung mulai berbisik.
“Eh, eh, iya juga, ini perasaan gue aja atau emang setiap hari dia telat kayaknya.”
“Whaha… bener, dia emang tiap hari telat bro.”
“Magenta lagi. Salut sih, mentalnya sekuat baja. Kalau gue, udah kencing di celana.”
“Please, lah, kebiasaan jorok lo sejak SD jangan dibawa ke sini dong!”
“Hehe. Bu Cyan terlalu galak,”
Di sebelah Cyan, Alya sahabatnya dan analis tim yang terkenal kalem, tapi rasional menutup mulut sambil menunduk. Alya memang selalu berusaha menghormati suasana rapat, tapi tidak bisa dipungkiri, tragedi pagi ini cukup menghibur. Ya, untuk sesaat setidaknya hawa tegang rapat sedikit mencair karena kedatangan Magenta.
Tepat di sampingnya, Raka bersandar dengan santai, menyengir lebar. “Mas Maag, lo bikin pagi-pagi ini jadi cerah dan berwarna banget,” katanya pelan ke Magenta sambil mengepalkan tangan sebagai dukungan. Ya, meski dukungan itu sama sekali tidak diperlukan karena malah memperkeruh suasana.
Cyan mengetuk meja sekali. “Magenta.”
“Ya, saya udah hadir dengan segala kerendahan hati dan tinggi badan yang nggak terlalu tinggi ini.”
Seseorang hampir tersedak mendengar itu.
“Kemarin kan kamu terlambat sepuluh menit doang tuh.”
“Betul, Bu. Itu sebagai bentuk dedikasi agar hidup Anda nggak terlalu monoton dan membosankan. Stres ringan dipercaya bisa meningkatkan imunitas loh, Bu.”
Raka batuk menahan tawa, sedangkan Alya menggeleng lirih.
Cyan membuka mata dan menatap Magenta seperti sedang menimbang apakah manusia satu itu layak dipertahankan di bumi. “Hari ini dua belas menit, oh berani juga.”
“Nah, itu namanya peningkatan performa kerja, Bu.”
“Magenta Kusuma.” Cyan sedikit mengepalkan tangan dan menahan amarah, senyum palsu mengembang diudara.
“Ya?”
“Kalau kamu naikin lagi dua menit setiap hari nya, akhir minggu kamu baru datang pas rapat kita udah beres.”
“Lho… itu strategi hemat energi, Bu. Sekalian menjaga ekspektasi tim agar tidak terlalu tinggi terhadap saya.”
Ruangan meledak dengan tawa tertahan. Cyan menarik kursi, berdiri, lalu berjalan menuju Magenta. Langkahnya pasti percaya diri, posturnya tinggi, dan tatapannya yang begitu lurus hanya kepada Magenta. Seolah semua orang di sini hanya patung hiasan, tidak ada gunanya.
Sementara Magenta ... yah, dia harus sedikit mendongak ketika Cyan berdiri di depannya karena tinggi badan mereka tidak berada pada level yang sama. Dengan kata lain, Magenta memang lebih pendek ketimbang perempuan itu.
“Bantet,” batin Alya diikuti tawa receh dari Raka.
“Sialan lo, diem gak! Pffft.”
“Hm, mereka bener juga. Kamu terlalu bantet. Jika kamu tidak bisa menaikkan disiplin, minimal tinggi badanmu lah yang naik.”
“Bu, kalau saya lebih tinggi dari ini, nanti saya nggak bisa kabur kalau Anda lagi marah. Saya butuh aerodinamis tertentu untuk berlari menyelamatkan hidup dari singa yang mengamuk.”
Alya memijit pelipis, sementara Raka bertepuk pelan seolah bangga.
“Jadi, saya ini apa bagimu? Singa?” tanya Cyan datar.
“Lebih seram dari singa, Bu.”
Cyan menghela napas panjang, matanya sedikit terpejam. “Huff… Duduk.”
“Sebelum duduk, Bu, saya ingin sampaikan bahwa saya ....”
“DUDUK.”
“Baik, Bu. Dengan penuh kasih sayang dan sedikit ketakutan.”
Rapat berlangsung, tapi efek dramatis pagi itu masih terasa. Alya sesekali menatap Cyan, memastikan sahabatnya tidak meledak. Sementara Raka beberapa kali mengirim pesan ke Magenta.
[Lanjutkan. Hidup ini terlalu singkat untuk tidak menikmati amarah atasan cantik.]
[Bro, kalau gue mati hari ini, tolong ambil handphone gue. Ini handphone Iphone 17Pro Max keluaran terbaru, harganya mahal. Setidaknya benda satu ini terselamatkan dari amukan singa hutan itu,] balas Magentas ambil curi-curi pandang, takut ketahuan.
“Magenta, Raka, tolong fokus ya. Waktu kita sudah terpotong banyak untuk adegan thriller barusan.”
Benar saja, Cyan melihat dan keduanya langsung mendongak tegak.
“Siap, Bu.”
Alya sudah tidak bisa lagi menahan senyum. Begitulah dinamika tim ini, Cyan sebagai api yang terkendali, Alya sebagai air yang meredam, Raka sebagai korek, dan Magenta yang seperti bensin tumpah di mana-mana. Ada Raka, ada pula Magenta pembawa masalah.
Cocok sudah, saling melengkapi, tapi dalam hal mengacaukan segala hal.
***
Sore itu cafe kantor dipenuhi suara mesin espresso dan desahan stamina para pekerja yang tersisa setengah. Cyan sedang duduk bersama Alya, menyibak rambut panjangnya dan memutar gelas cappuccino.
“Alya, gue kayaknya butuh cuti deh,” keluh Cyan dengan nada rendah, tidak seperti biasanya. Mungkin memang letih, terlihat beberapa kali menyandarkan diri di kursi.
“Cuti bukan solusinya, Cyan. Lo itu cuma terlalu capek.”
“Capek karena si Magenta?” tebaknya asal.
“Nah, itu kenyataannya. Semua juga kelihatan jelas kok.”
“Lo gak bisa dikit aja bikin gue ngerasa lebih baik, ya?”
“Gue mah realistis, Cyan. Kalo gue bilang ‘semua baik-baik aja’, lo juga gak akan percaya. Gue gak suka toxic positivity. Kalau emang capek, ya capek. Apa yang lo harapkan dari gue? Ngebantuin kerjaan lo itu? Ck,” balas Alya berdecak.
“Dia tuh selalu terlambat, selalu. Kayak punya alarm khusus bikin gue naik darah tiap hari. Lo bayangin aja kalau tiap hari telat, gue capek memaklumi terus. Tiap ditegur iya-iya doang, tapi gak tertanam di otak kecilnya itu. Apa jangan-jangan dia gak punya otak?”
“Magenta emang kayak gitu, tapi lo sebenernya gak benci ‘kan sama dia?” tanya Alya penuh selidik.
“Gue gak benci,” balas Cyan sambil mengaduk kopi, “lo tau sendiri gue jarang benci orang kecuali udah keterlaluan.”
“Tuh, kan. Berarti seukuran Magenta itu belum keterlaluan menurut lo. Ya, masih di ambang batas wajar.”
“Tapi dia ngancem kewarasan gue, Al. Gue yang sudah setengah gila ini takut jadi gila beneran karena ada dia.”
“Itu dia poinnya. Justru dia yang bikin tim kita jadi gak monoton,” balas Alya memandang dari sisi lain.
“Iya juga sih.”
Alya tertawa pelan dan tiba-tiba saja muncul sosok yang tidak begitu tinggi itu lumayan mengejutkan mereka.
“Permisi, Kakak-kakak dan Bos yang Cantik. Kami boleh duduk di sini?”
“Kami?” balas Cyan memicing.
“Halo Bu Cyan. Saya hadir sebelum Anda sempat kangen sama saya,” ucap Magenta begitu percaya diri, tidak terlihat gugup sama sekali.
“Gausah sok formal kita di luar kantor! Amit-amitt dih, siapa juga yang kangen sama kamu?!” Ia tertegun, masih memasang ekspresi yang sama. Ekspresi geli sekaligus jijik.
“Dramatis banget hidup lo, Mas. Coba sesekali daftar jadi aktor short drama China itu, siapa tahu gak laku,” ucap Raka lalu tertawa renyah.
“Diem lo, Monyet,” pungkas Magenta berbisik.
“Kalian kenapa duduk di sini?” tanya Alya ringan.
“Itu ... kayaknya kita telat jadi semua meja penuh.”
Jelas-jelas ada dua meja kosong di tengah dan satu di pojokan, tetapi kedua orang itu seolah terbutakan. Alya membuang pandang ke arah mereka lagi, tapi kali ini dengan tatapan malas.
“Iya, penuh semua, ya,” sindirnya.
“Syan, aku mau ngasih tau kalo keterlambatan tadi adalah bentuk penghormatan.”
“Penghormatan?”
“Iya. Orang-orang biasanya bakal datang terlambat ke hal-hal yang bikin mereka takut. Kayak ujian, sidang pengadilan, atau ketemu mantan. Jadi, secara gak langsung, kamu ada di level yang sama menakutkannya.”
Alya hampir tersedak.
“Genta, kamu!”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ucapan Cyan sudah terlebih dulu dipotong oleh Magenta.
“Sosok inspiratif? Menggemaskan? Karyawan teladan?”
“Masalah hidupku yang paling berat dan bikin cenat-cenut kepala,” jawab Cyan cepat.
“Waduh… aku jadi tersentuh, Bu. Karena masalah itu harus dihadapi, bukan dihindari.”
“Jadi kalo Bu Cyan menghadapi lo setiap hari, itu sebuah progress, Mas?” tambah Raka.
“Benar!” Magenta mengacungkan jempol.
Cyan menutup wajahnya.
Mereka berempat terdiam sejenak, masing-masing fokus pada layar ponsel. Cafe mendadak terasa lebih hangat dan ramah, tidak seperti sebelumnya. Magenta memiringkan kepala, memperhatikan Cyan yang sedang mengisi energi. Saat Cyan menengok, tatapan mereka tidak sengaja bertemu. Magenta mendapati dirinya harus mendongak sedikit untuk melihat wajah Cyan, tapi berusaha terlihat gagah.
Ya, meski aura tidak bisa dibohongi.
“Kalo kamu sedikit lebih tinggi, mungkin aku gak perlu merasa kayak lagi ngajar murid SMP.”
“Dan kalo kamu sedikit lebih pendek, aku gak perlu terus-terusan dongak kayak lagi mantengin gedung pencakar langit,” ucap Magenta langsung membalas,
Raka tertawa keras, sedangkan Alya menutupi senyum dengan jari.
“Jadi yang kamu keluhkan tinggi badanku nih? Iya?!” tanya Cyan menopang dagunya.
“Bukan tingginya sih. Lebih ke ... bayangannya Bu Bos yang menutupi masa depan.”
“ASTAGA,” gumam Alya.
“Kalo kamu gak berhenti bicara, aku akan—”
“Ngasih motivasi hidup?” Lagi-lagi, sebelum Cyan sempat menyelesaikan kalimatnya, Magenta sudah lebih dulu menyelipkan komentarnya.
“Gak.”
“Aomori cold brew gratis?”
“Ogah.”
“Lalu apa, Syan?”
“Tugas tambahan.”
Magenta menelan ludah. “Itu lebih horor dari cold brew basi.”
“Raka sang pria tampan jadi saksi bahwa Magenta sudah siap mental, Bu.”
“Siapa bilang?” Magenta memelotot.
Alya memutar gelasnya. “Lo emang selalu bikin kekacauan, tapi anehnya kalo gak ada lo, tim ini jadi sepi.”
“Jadi, aku sepenting itu, Mbak Al?”
“Lebih tepatnya ... menyebalkan.”
“Bu Cyan, kalo boleh jujur, aku juga—”
“Jangan dilanjut.” Cyan menunjuknya. “Aku belum siap mendengar apa pun dari mulut kamu yang berpotensi bikin aku jadi lebih stres.”
“Cyan, kamu terlalu lucu kalo lagi kayak gini.”
Cyan mengeluh panjang. “Alya, jangan mulai.”
Magenta menyilangkan tangan. “Berarti gue berhasil bikin atasan jadi manusia normal kan?” ujarnya kepada Raka yang hanya dibalas dengan anggukan kecil.
“Magenta.”
“Ya, Bu Syantik.”
“Kalo besok kamu terlambat lagi, aku bakal bikin kamu kerja lembur.”
Magenta menegakkan tubuh. “Baik, Bu. Aku janji sumpah demi langit dan bumi yang gonjang ganjing, besok aku akan datang tepat waktu.”
“Kalau kamu ingkar janji?” tanya Alya menyela.
“Ya, aku bakal janji lagi. Hehehe.”
Plak!
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣