🏆JUARA 2 (EVENT CINTA YANG TAK DIRESTUI-SEASON 3)
Kecelakaan 2 tahun yang lalu membuat rumah tangga Aslan hancur. Bagaimana tidak? Akibat kecelakaan itu dia mengalami difungsi ereksi atau impoten. Bahkan ia rela dan pasrah saat istrinya meninggalkannya dan menikah dengan pria lain. Di saat sedang terpuruk dia bertemu dengan seorang wanita malam yang bersedia membantu mengatasi masalahnya.
“Aku akan membayarmu 1 Miliyar jika kamu berhasil menyembuhkan penyakitku,” tegas Aslan.
“Berikan aku waktu 1000 jam untuk menyembukanmu!” balas Irina.
Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Simak terus kelanjutannya ya!
Jangan lupa subcribe dan beri bintang ⭐⭐⭐⭐⭐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTW bertemu orang tua Aslan
Malam ini Irina terlihat sangat cantik. Wanita tersebut memakai dress berwarna putih tanpa lengan yang begitu pas di tubuh rampingnya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, dan make-up tipis membingkai wajah cantiknya.
Aslan menatap tak berkedip pada wanita cantik yang berdiri di hadapannya ini.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Irina mengerutkan kening seraya menundukkan pandangan, menelisik pakaiannya, barang kali tidak cocok untuknya karena Aslan menatapnya dalam diam.
"Kamu cantik." Aslan mendekati Irina, lalu memeluk wanita tersebut dengan sangat erat.
"Emh! Jangan menciumku, nanti riasanku rusak!" Irina membekap bibir Aslan dengan telapak tangannya saat pria itu akan menciumnya.
"Oke, tapi nanti malam kamu harus membayarnya 3 kali lipat!" Aslan melepaskan pelukannya, lalu menggandeng tangan Irina keluar dari kamar. Mereka sudah siap berangkat ke pesta pernikahan Arkan--saudara kembar Aslan.
"Aslan, aku gugup." Irina menatap Aslan ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Santai saja, keluargaku semuanya baik, jadi mereka pasti akan menerimamu," jawab Aslan, mulai menjalankan mobil mewahnya keluar dari area rumah.
"Maksud kamu apa? Kamu nggak akan memperkenalkan aku sebagai calon istrimu 'kan?!" Irina menatap Aslan sangat serius.
"Itu memang tujuanku," jawab Aslan dengan santainya, tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Aslan, kamu gila! Aku masih mempunyai suami. Apa jadinya kalau orang tuamu tahu tentang hal ini!" Irina menghenyakkan punggungnya ke sandaran jok dengan kasar, lalu memijat pelipisnya saat kepalanya mendadak migrain. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aslan, ingin menolak tapi tidak akan mungkin karena pria tersebut akan murka.
"Santai saja, orang tuaku tidak akan tahu tentang semua ini." Aslan menatap Irina masih dengan sangat santai, mengendarai mobilnya membelah jalanan kota pada malam itu.
*
*
Setengah jam menempuh perjalanan, mobil yang di kendarai Aslan memasuki area perumahan mewah yang ada di kawasan Jakarta Selatan. Irina menatap ke depan, tapi kedua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan memperhatikan sekitar, di mana rumah mewah dan megah berdiri kokoh dan menjulang tinggi di kiri dan kanan jalan yang mereka lewati.
"Sebentar lagi kita akan sampai." Aslan berkata tanpa menoleh, karena dia sedang fokus mengendarai mobil dengan perlahan saat di jalan depan sana ada polisi tidur.
GRAK!
"Shiit!" umpat Aslan saat super car-nya tetap mengenai polisi tidur, padahal dia sudah mengendarai mobilnya dengan hati-hati.
"Kenapa tidak membeli mobil yang biasa saja contohnya seperti Agaya, Avonza, dan ..." ucapan Irina terjeda ketika mobil yang ditumpanginya berhenti di depan rumah mewah, megah, seperti istana.
"Ini rumah orang tuamu?" tanya Irina sangat terkejut, dan Aslan menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Katanya ada pesta pernikahan, kenapa sepi?" tanya Irina lagi penasaran, karena yang ia tahu kalau ada pesta pernikahan di rumah maka akan ada tenda, meja, kursi, dan banyak tamu yang berdatangan, tapi kenapa ini sepi?
Apakah orang kaya itu cara berpestanya berbeda? pikir Irina.
Horang kaya memang beda!
"Pesta pernikahannya private untuk keluarga besar saja, jadi tidak ada yang datang," ucap Aslan seraya keluar dari mobil, diikuti oleh Irina. Kedatangan mereka di sambut beberapa pelayan yang memakai seragam berwarna hitam putih.
Irina menatap semua pelayan berdecak kagum.
"Gaji mereka pasti mahal, karena mereka terlihat terawat dan wajah mereka juga glowing tidak seperti wajahku yang kusam," batin Irina, membandingkan dirinya dengan 4 pelayan wanita tersebut.