Nina, ia gadis muda berusia 19 tahun. Dalam usianya yang masih muda, gadis berparas cantik itu harus memikirkan nasib keluarganya yang terombang-ambing di tengah kesulitan ekonomi.
Nina, ia terpaksa harus pergi ke negara tetangga untuk menjadi asisten rumah tangga. Siapa sangka, kalau anak majikannya itu menaruh hati dan melamar Nina.
Dengan segala kebaikan dan kelembutan dari pria itu, sudah sepantasnya Nina menyimpan perasaan padanya, Nina yang memiliki perasaan sama itu menerima lamaran tersebut dan pernikahan pun terjadi.
Perjalanan rumah tangga Nina tidaklah muda, sampai ketika, Nina harus pergi dari hidup suaminya, membawa benih yang tanpa suaminya ketahui.
Apa yang membuat Nina pergi dari hidup pria yang sangat ia cintai?
Terus simak kisah Nina yang akan melahirkan 'Bintang Dari Surga'.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
Dukung dengan gift/votenya, terima kasih 💙
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon It's Me MalMal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Love You Too
Nina yang membalas cinta Sean itu menjawab, "I love you too."
Kemudian, Sean membawa Nina ke dalam pelukan hangatnya, setelah berolahraga, Nina dan Sean pun tertidur.
Hidup bersama Sean menjadi penuh warna, kasih sayang Sean yang begitu nyata untuk Nina dan Bintang.
Endru yang melihat kebahagiaan Nina dan Bintang pun ikut melunak, pria muda itu tak lagi membenci Sean.
****
Dua bulan berlalu, Nina yang sedang menyajikan sarapan untuk Sean dan Bintang itu merasa pusing dan Nina yang berdiri di samping meja makan itu mengoleskan minyak angin di pelipisnya.
Sean yang sudah rapi akan bekerja itu melihatnya, lalu, Sean bertanya, "Sayang, kamu kenapa?"
Nina melihat ke arahnya dan menjawab, "Aku pusing, Sean."
Setelah menjawab, Nina segera berlari ke wastafel untuk memuntahkan cairan dalam perutnya.
Sean tak tinggal diam, ia memijit tengkuknya dan mengira kalau Nina salah makan.
"Entahlah, sudah beberapa hari aku pusing," jawab Nina, setelah itu, Nina mengajak semua orang untuk sarapan dan setelah mengantar Bintang, Sean kembali ke rumah, ia melihat Nina yang sedang meringkuk di kamar.
Sean pun menyusul, ia membangunkan Nina dengan tidak sengaja karena memeluk Nina dari belakang.
"Sean," panggil Nina yang masih memejamkan mata.
"Iya," jawab Sean.
"Aku mau makan masakan kamu, tadi aku tidak selera makan," pinta Nina.
"Baiklah, setelah makan, kita harus pergi ke dokter," kata Sean yang mengiyakan, setelah itu, Sean mengajak Nina untuk bangun dan Nina yang tiba-tiba menjadi sangat manja itu meminta untuk di gendong.
Bagi Sean menggendong Nina adalah hal kecil, badannya tinggi dan besar, sementara Nina berbadan mungil.
Sean menggendong ala bridal dan Nina menatap Sean yang tampan dengan terus tersenyum.
"Bucin," kata Sean yang merasa sedang diperhatikan.
Mendengar itu, Nina menjawab, "Kamu yang buatku seperti ini."
"Ya, memang, kamu harus membalas cintaku kalau tidak aku akan sakit," jawab Sean seraya menurunkan Nina dan Nina segera duduk di kursi meja makan untuk melihat Sean yang akan memasak.
"Senangnya punya suami pandai memasak," kata Nina seraya memperhatikan Sean dan entah mengapa melihat Sean yang menuruti keinginannya itu membuat pusing Nina sedikit berkurang.
Nina yang melihat api naik ke wajan Sean itu membulatkan mulutnya, ia merasa takjub dan masakan Sean harus enak.
Tetapi, bukan hanya enak yang Nina rasakan, tetapi juga nikmat, Sean memperhatikan Nina yang sedang menyantap masakannya, Sean bertanya, "Enak?"
Nina menjawab dengan mengangguk.
Selesai dengan makan, Sean mengajak Nina untuk pergi ke dokter dan Nina yang merasa kalau sudah membaik itu menolak dan karena Nina mengingkari ucapannya, Sean merasa kalau harus menghukum Nina.
Hukuman yang manis itu Sean berikan di dapur, Sean yang semula duduk itu bangun untuk segera mencium Nina dan setelah panas, keduanya melakukan itu di dapur.
Tersadar, kalau Nina sama sekali belum datang bulan, Sean bertanya, "Sepertinya, aku belum melihat mu datang bulan, benarkah?"
Nina yang sedang merapikan kembali pakaiannya itu mengerucutkan bibirnya, ia harus kewalahan saat Sean tak mampu menahannya hingga keduanya harus melakukan itu di dapur.
"Iya, aku belum datang bulan," jawab Nina yang sedang merapikan rambutnya.
"Jangan cemberut dong, kan enak," kata Sean seraya mencubit pipi Nina.
"Enak sih enak, tapi, tidak seharusnya di dapur juga," protes Nina seraya melepaskan tangan Sean dari pipinya.
Setelah itu, Sean segera mengangkat Nian dan membuat Nina duduk di meja mini bar yang ada di dapur.
Nina meletakkan dua tangannya itu leher Sean dan Sean mengucapkan terima kasih.
"Untuk apa?" tanya Nina seraya menatap Sean yang juga menatapnya.
"Kamu hamil," kata Sean dan Nina menganggap kalau Sean adalah sok tau.
"Memang benar, kalau tidak percaya biar aku belikan test pack."
Dan tiba-tiba saja, Sean mendapati Nina yang sangat manja itu menjatuhkan kepalanya di dada bidang Sean.
"Kenapa? Sepertinya kamu sangat lemas, apa karena tadi aku terlalu bersemangat?" tanya Sean, ia sedikit merasa khawatir dan sekarang, Sean memeluk Nina.
"Tidak, entah mengapa aku ingin di peluk, itu saja," kata Nina dan Sean pun memeluk istrinya.
Sean.
****
Setelah itu, Sean yang tak berhasil membawa Nina ke dokter itu menghubungi dokter, memintanya untuk datang ke rumah dan setelah pemeriksaan dokter mengatakan kalau Nina tengah hamil.
Mendengar itu, Sean merasa senang dan bahagia.
Ia sampai melupakan ada dokter yang masih berada di kamar, Sean terus menciumi wajah istrinya.
Tidak lama kemudian, Bintang yang dijemput oleh Eny itu datang, ya, Sean menghubungi Eny, mengatakan kalau Nina sedang sakit dan tidak bisa menjemput Bintang.
Eny dan Bintang pun menyusul ke kamar Nina, di sana, Sean dan Nina tersenyum melihat keduanya.
Lalu, Sean segera turun dari ranjang, ia menjunjung Bintang yang gembul berseragam biru.
"Selamat, sayang. Kamu akan punya adik," kata Sean yang kemudian pipi Bintang.
Mendengar itu, Eny pun ikut bahagia, ia mengucapkan selamat dan mengingatkan Nina untuk menjaga kehamilan.
Eny yang merasa khawatir itu menawarkan dirinya untuk membantu Nina di rumah Sean.
Sean menjawab, "Tidak seharusnya Ibu membantu kami, tapi kalau Ibu mau di sini kami menerimanya dengan senang hati."
"Benar apa yang dikatakan Sean, Bu." timpal Nina.
Dan dokter yang ikut merasakan kebahagiaan keluarga kecil itu pun pamit undur diri.
Sean mengantarkan dokter tersebut sampai ke pintu utama dan Sean mengucapkan terima kasihnya.
Dan dokter mengingatkan Sean untuk segera membawa istrinya ke dokter kandungan, Sean pun mengangguk.
****
Selama kehamilan Nina, Sean yang sangat mencintai istrinya itu menjaga dengan menjadi suami yang siaga, bahkan, Sean tak pernah mengeluhkan istrinya yang menjadi manja dan banyak maunya itu.
Bagi Nina ini adalah kesenangannya, ia mendapati pria yang begitu yang menyayangi dan mau melakukan apapun untuknya walau Nina yang sedang mabuk karena hormon dan tidak selalu memenuhi kebutuhan Sean di malam hari, tetapi, Sean tetap bersabar.
Beberapa bulan berlalu, Nina yang sekarang berbadan gendut itu sedang duduk di sofa ruang tengah, memperhatikan Bintang yang sedang belajar.
Tiba-tiba saja, air mata Nina menetes, ia teringat Bintang yang tidak seberuntung adiknya.
Masa kehamilannya adalah masa yang sangat sulit, Nina yang menangis itu mendapatkan pertanyaan dari Bintang.
"Ibu, kenapa menangis?" Bintang yang duduk di kursi kecilnya itu bangun, ia berjalan ke arah Nina yang tersenyum padanya.
Nina pun segera memeluk Bintang yang sekarang sudah ada di depannya.
"Maafkan Ibu, Nak."
Bintang yang tak mengerti ucapan itu bertanya, "Kenapa meminta maaf?"
Nina yang menghapus air matanya itu tersenyum, lalu, Nina mencium pipi kanan dan kiri Bintang.
Dan pemandangan itu di perhatikan oleh Sean yang baru kembali bekerja.
Sean segera menyusul dan ikut duduk di samping Nina.
"Anak Dady apa kabar?" tanya Sean dan Bintang segera beralih ke Sean, Sean pun memeluknya.
"Anak-anak Dady semua baik, iya kan, Dek?" tanya Bintang pada perut Nina yang sudah menggendut.
Nina menirukan dengan suara anak kecil, wanita berdaster dan rambut yang dicepol itu menjawab, "Iya Dady, Kakak dan Adek semua baik, sekarang, Adek mau makan buah strawberry."
Dan Sean yang mendengar itu mengerti kalau yang Nina katakan adah kode. Sean pun mencubit pipi Nina yang sudah mengembang.
Jangan lupa like dan komen, ya, all.
Dukung karya kaya ini dengan vote/giftnya juga, ya. Terima kasih yang sudah mendukung. 💙
Mohon maaf untuk typonya. 🙏
benci tapi nafsu juga kamu zack😏😏😏😏😏
lagian mengambil keputusan di saat terburu buru itu ga baik akhirnya kamu merasakan akibatnya kasian ntar Dante mendapatkan jandanya🙄🙄🙄