Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Jalan Damar
Rumah Tante Mala lebih sunyi dari biasanya.
Jam dinding berdetak pelan. Lampu ruang tengah menyala redup.
Koper besar berdiri tegak di dekat tangga rapi, tertutup, seolah sudah siap meninggalkan semuanya.
Damar berdiri di depannya, menatap lama.
“Besok ya,” gumamnya pelan.
Langkah kaki terdengar dari arah dapur.
Aira muncul membawa dua gelas coklat hangat.
Aira berhenti saat melihat koper itu.
“Oh…”
Nada suaranya turun. “Udah siap semua?”
Damar mengangguk. “Hampir.”
Aira meletakkan gelas di meja.
“Minum dulu. Katanya biar nggak tegang.”
“Kamu yang tegang,” jawab Damar ringan.
Aira nyengir kecil. “Ketauan.”
Mereka duduk berdampingan. Jaraknya dekat, tapi tak ada yang berani menyentuh.
Beberapa detik hening.
“Aku besok nganter sampai bandara,” kata Aira tiba-tiba.
Damar menoleh.
“Kenapa bilangnya kayak minta maaf?”
Aira menunduk. “Takut nanti aku nangis.”
Damar menghela napas pelan. “Dari dulu kamu emang tukang nangis.”
Damar menatap Aira. “Aku berangkat buat masa depan. Bukan buat ninggalin hidupmu.”
Aira tersenyum kecil. “Iya… aku tau.”
Tapi jemarinya mengepal di pangkuan.
Aira berdiri. “Ke kamar aku.”
Damar kaget. “Hah?!”
“Tenang,” kata Aira datar. “Ada sesuatu.”
Damar mengikutinya dengan ragu.
Aira membuka laci, mengeluarkan sebuah buku sketsa.
“Ini,” katanya sambil menyerahkan. sebuah buku sketsa.
Damar menerimanya. “Ini… buat Aku?”
“iya.”
Damar membuka halaman pertama.Sketsa dirinya.
Sedang tersenyum besender di koridor sekolah.
Damar membeku. “Kamu… gambar aku?”
Aira mengalihkan pandang.“Kebanyakan.”
Damar tersenyum tipis “Kamu bilang nggak bakat seni.”
“Kalau objeknya kamu sih, tiba-tiba aku jadi jago.” Darma tertawa kecil.
“Darma…”
Darma menatap Aira sekarang.
“Kamu jangan lupa pulang.”
Damar menatapnya lama. “Aku pasti pulang.”
Damar mendekat. “Dan kamu jangan berhenti jadi Aira.”
Aira menggeleng. “Aku mau jadi versi yang lebih baik.”
Damar tersenyum tipis. “Itu yang paling aku takutkan.”
Aira tertawa sambil mengusap mata.“Kenapa?”
“Karena nanti banyak cowok yang deketin kamu.”
Damar berhenti di depannya,terlalu dekat.
Aira berbisik, “Aku butuh kamu.”
Sunyi Damar menurunkan kepala, kening mereka hampir bersentuhan.
“Aira,” suara Damar rendah.
“Besok aku pergi.”
“Aku tau.”
“Dan jarak itu nyata.”
“Aku tau.”
“Tapi kalau kamu ragu ”
Aira memotong dengan memeluknya erat. “Aku nggak ragu, Aku akan menunggu,”
Damar terdiam, lalu membalas pelukan itu, kuat.
“Aku nggak akan lupa, untuk selalu pulang,” bisiknya di rambut Aira.
Damar menunduk, mengecup keningnya pelan.
“Istirahat” kata Damar lembut.“Besok hari panjang.”
Aira menggelang lalu menujuk bibirnya,
“Hmm?” Damar bergumam lalu tersenyum.
Damar mencium Aira belahan.
Aira tersenyum, kemudian Damar beranjak meninggalkan kamar Aira.
*** Pagi Keberangkatan**
Bandara masih setengah mengantuk.
Pengumuman keberangkatan terdengar sayup di kejauhan. Orang-orang berlalu lalang dengan koper dan wajah lelah.
Damar berdiri dengan ransel di punggung, koper di samping kaki.
Di depannya tante Mala dan Aira.
Tante Mala memeriksa jaket Damar untuk ketiga kalinya.
“Ini resletingnya ditutup. Di Jepang dingin.”
“Mah,” Damar tersenyum kecil. “Ini musim semi.”
“Musim semi juga bisa bikin masuk angin,” balasnya cepat.
Damar tertawa pelan.
Tante Mala tiba-tiba berhenti. Tangannya yang tadi sibuk merapikan kini gemetar.
“Belajar yang benar,” katanya lirih.
“Makan jangan asal. Jangan sok kuat sendirian.”
Damar mengangguk.
“Iya, Mah.”
Tante Mala menatap wajah anaknya lama, seakan menghafalnya.
“Damar…”
Damar memeluknya tiba-tiba.
Pelukan seorang ibu kuat, hangat, dan penuh doa yang tak terucap.
Damar menutup mata.
“Maaf ya, Mah… harus jauh.”
Tante Mala menggeleng sambil menahan tangis.
“Kamu nggak pergi. Kamu sedang tumbuh.”
Dia melepaskan pelukan, mengusap pipi Damar.
“Pulanglah dengan bahagia.”
“Iya,” suara Damar serak. “Aku janji.”
Tante Mala mengangguk, lalu melangkah mundur.
Sekarang tinggal Aira.
Aira berdiri dengan senyum cerah—terlalu cerah untuk mata yang sedikit merah.
“Koper kamu gede banget,” katanya ringan.“Isinya buku semua ya?”
“Dasar cerewet,” jawab Damar.
Aira tertawa.“ Kali ini aku mau cerewet, biar kamu nggak lupa pulang.”
Damar menatapnya, “Aira." Nada suaranya membuat senyum itu goyah.
“Aku nggak akan sering bilang rindu,” lanjutnya pelan.
“Bukan karena nggak kangen.”
Aira mengangguk cepat.“Aku tau.”
“Tapi setiap kali kamu belajar, ”Damar berhenti sebentar. “Anggap aja aku di situ.”
Aira menarik napas, lalu memeluknya erat. tanpa kata.
Damar membalas, menempelkan dagu di kepala Aira.
“Jangan berhenti bermimpi,” bisiknya. “Jangan kecilkan mimpi mu”
Aira mengangguk di dadanya.“Aku bakal kejar kamu.”
Damar tersenyum. “Aku tunggu.”
Mereka melepaskan pelukan.
Pengumuman terdengar lebih jelas kali ini.
“Penumpang tujuan Tokyo…”
Damar menghela napas, lalu melangkah mundur.
Dia mengangkat tangan kecil, senyum khasnya muncul tenang, yakin.
“Jaga diri,” katanya.
Aira tersenyum lebar sambil mengangguk, meski matanya berkaca-kaca.
“Kamu juga.”
Tante Mala memeluk Aira dari samping, Damar berbalik,langkahnya mantap.
Namun sebelum menghilang di balik gerbang keberangkatan,
Dia menoleh sekali lagi,Aira masih berdiri di sana.
Tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya, Damar benar-benar yakin
Dia pergi bukan untuk kehilangan,tapi untuk kembali.