"DAVINNNN!" Suara lantang Leora memenuhi seisi kamar.
Ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa aneh.
Selimut tebal melilit rapat di tubuhnya, dan ketika ia sadar… sesuatu sudah berubah. Bajunya tak lagi terpasang. Davin menoleh dari kursi dekat jendela,
"Kenapa. Kaget?"
"Semalem, lo apain gue. Hah?!!"
"Nggak, ngapa-ngapain sih. Cuma, 'masuk sedikit'. Gak papa, 'kan?"
"Dasaaar Cowok Gila!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersembunyi
Ketika Leora tiba di Rumah Sakit. Ia segera mencari Davin. Langkahnya terburu-buru, takut jika seseorang melihatnya saat itu.
"Davin bener-bener nyusahin!" gerutunya kesal, namun ia melanjutkan langkahnya.
Seorang suster, yang entah datang dari mana, tiba-tiba mengagetkannya. "Permisi? Ada yang bisa saya bantu?" katanya, dengan nada penasaran.
"Euh, anu– aku nyari pasien, anak sekolahan, cowok, cedera disekitar tangan. Katanya di ruang UGD"
Suster itupun mengangguk, paham. "Oh itu... Mari saya antar. Kebetulan tadi saya yang menanganinya."
"Wah. Terimakasih Sus. Kebetulan banget ya."
Suster tersenyum, lalu berjalan menuju ruang UGD di lantai itu.
"Dia ada di dalam. Silakan cek terlebih dulu untuk memastikan."
Leora mengangguk. Lalu mengedarkan pandangannya ke ruangan sekitar.
Ruangan itu terlalu terang.
Lampu putih memantul di lantai, menusuk mata Leora yang sejak tadi tak berhenti gelisah. Bau antiseptik memenuhi hidungnya, membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Lalu—
“Leora?”
Suara itu datang dari belakang.
Leora menoleh perlahan.
Dan dunia seperti berhenti sepersekian detik.
Rey berdiri tak jauh darinya. Tangan dimasukkan ke saku jaket, wajahnya tenang.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Rey, ringan.
Leora menelan ludah.
Otaknya berputar cepat. Seribu kemungkinan alasan muncul, lalu gugur satu per satu karena merasa bodoh.
“Aku…” suaranya sempat goyah.
“Aku kan lagi gak enak badan. Tadi udah bilang ke kamu.”
“Iya. Tapi ini UGD.” balas Rey, heran.
Leora terdiam beberapa saat.
“Bodyguard kamu?” tanya Rey melanjutkan.
“Lagi…” Leora menarik napas. “Lagi nyari air mineral. Aku haus.”
Rey mengangguk lagi.
“Oh.”
Ia melirik ke arah pintu UGD yang tertutup rapat. “Jadi kamu sendirian di sini?”
“Iya,” jawabnya cepat. Lalu ia segera menambahkan, “Aku lagi nunggu dokter aja. Abis itu pulang.”
Rey tersenyum lebih lebar sedikit. Senyuman yang membuat Leora ingin mundur saat itu juga.
“Yaudah, duduk aja. Kalo berdiri kelamaan nanti makin pusing.”
“Hah?”
Rey menunjuk kursi tunggu. “Duduk sini. Aku temenin bentar sampai bodyguard mu datang.”
Temenin?
Kata itu terasa seperti jebakan.
Namun Rey sudah lebih dulu melangkah dan duduk, seolah semuanya normal. Seolah Leora memang seharusnya ada di sana.
Dengan ragu, Leora ikut duduk. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatnya takut.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
"Kalo tau kamu bakal ke sini, mending tadi bareng sama aku aja” ujar Rey tiba-tiba. “Kan ujung-ujungnya kita ketemu juga.”
“Iya.”
“Kamu gak nanya kenapa aku ada di sini?” lanjut Rey. “Aneh.”
Leora menunduk. “Aku udah tau.”
Rey menoleh ke arahnya. Tatapannya mengunci.
“Kamu pasti mau lihat pemain yang cedera itu, 'kan?” katanya pelan.
Rey tersenyum puas.
"Pinter."
Dalam hati Leora, ia ingin berteriak.
Pintu UGD terbuka sedikit. Seorang perawat keluar, menyebut nama Davin dengan nada formal sebelum menutup pintu kembali.
Leora refleks menoleh.
Dan Rey melihat itu.
Matanya menyipit tipis.
“Kayaknya aku harus masuk.”
Leora membeku. Bingung. Sementara Rey mulai berdiri dari kursinya.
Leora menahannya.
Tangannya refleks memegang tangan pria itu, lembut.
Rey melirik kekasihnya.
"Kenapa?" tanyanya, datar.
"Jangan sekarang." ucapnya, "Maksudku, aku takut kamu nggak nyaman. Di dalam, pasti masih ada tim medis, rencanamu bisa gagal."
“Benar juga ucapanmu” jawabnya, puas. “Aku emang gak pernah salah pilih cewek.”
Nada suaranya terdengar seperti pujian.
Namun di telinga Leora, itu terdengar seperti sindiran.
Rey kembali duduk di sisinya
Leora panik.
Otaknya langsung bekerja cepat, ia tidak boleh membiarkan Rey melihat Davin bersamanya di tempat ini.
Tiba-tiba ia menggerakkan tangan ke dalam tas, lalu pura-pura terkejut.
“Ah—!”
Ponselnya bergetar.
Ia menatap layar… padahal tidak ada sesiapa di sana.
Namun ia berpura-pura menerima telepon.
“Halo? … Iya, kenapa?”
Suaranya dibuat sedikit gemetar.
“Iya… saya masih di depan UGD… oh… sekarang?”
Pandangan Rey tertuju penuh padanya.
“Iya, Pak… baik…”
“Sekarang juga…?”
Leora lalu mengangguk kosong, dan memutuskan “panggilan pura-pura” itu.
Rey mengernyit.
“Bodyguard kamu?” tanyanya pelan.
Leora mengangguk sok wajar.
“Dia… nyuruh aku pulang sekarang,” jawabnya pelan. “Katanya kondisi di luar gak aman… dia lagi nunggu di parkiran belakang.”
Rey diam.
Tatapannya berubah.
“Dia nyuruh kamu yang nyamperin? Bukan dia yang datang ke sini?”
Leora terdiam sepersekian detik.
Dan ia sadar, itu sebuah kesalahan.
Rey tertawa kecil. Tanpa humor.
“Bodyguard model apa itu,” gumamnya. “Kamu yang harus jalan sendiri ke parkiran?”
Leora merasakan hawa dingin menjalar ke tulang punggungnya.
“Aku gak mau kamu dijagain orang kayak gitu.”
Nada Rey turun setingkat.
“Aku aja yang anter.”
“Gak usah!” suaranya sedikit tinggi. Ia buru-buru merendah.
“Maksudku… gak usah, Rey… dia udah nunggu… nanti malah bikin ribet.”
Rey menatapnya lama.
“Lagipula…” ucapnya pelan. “Aku cuma mau pulang… istirahat.”
Rey tidak menjawab.
Ia melirik lagi pada pintu UGD —
kemudian kembali pada wajah Leora.
Lalu…
Senyum itu muncul lagi.
Senyum yang tidak bisa ditebak.
“Ya udah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu harus pulang…”
Rey mendekat jarak mereka hanya beberapa langkah. Tangannya terulur menyentuh kepala Leora pelan.
Garis bibirnya lembut.
“Jangan lama-lama di luar. Kamu lagi sakit sayang.”
Leora mengangguk kecil.
Langkahnya gemetar saat mulai menjauh
perlahan, dan mundur untuk meninggalkan ruangan itu.
Namun sebelum ia benar-benar berbalik…
Rey kembali bersuara.
“Leora.”
Langkah Leora seketika terhenti.
“Lain kali…kalau kamu mau ke rumah sakit… bilang ke aku aja ya.”
Leora tidak berani menoleh.
Ia hanya menjawab pelan.
“Iya. Kalo gitu aku pergi dulu.”
Baru setelah itu ia benar-benar pergi. Bukan pergi ke rumahnya. Namun berbelok ke arah tangga darurat. Bersembunyi.
Ia lantas memeluk tasnya erat-erat.
Napasnya berat.
Kakinya gemetar.
Begitu memastikan sudut lorong aman…
Ia berhenti.
Bersandar pada dinding, lalu menunduk. Menahan ketakutan.
“…setidaknya aku aman di sini, sampai Rey pergi” gumamnya.
banyak" in update kak
*kenapa di novel2 pernikahan paksa dan sang suami masih punya pacar, maka kalian tegas anggap itu selingkuh, dan pacar suami kalian anggap wanita murahana, dan suami kalian anggap melakukan kesalahan paling fatal karena tidak menghargai pernikahan dan tidak menghargai istrinya, kalian akan buat suami dapat karma, menyesal, dan mengemis maaf, istri kalian buat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, dan satu lagi kalian pasti hadirkan lelaki lain yang jadi pahlawan bagi sang istri
*tapi sangat berbanding terbalik dengan novel2 pernikahan paksa tapi sang istri yang masih punya pacar, kalian bukan anggap itu selingkuh, pacar istri kalian anggap korban yang harus diperlakukan sangat2 lembut, kalian membenarkan kelakuan istri dan anggap itu bukan kesalahan serius, nanti semudah itu dimaafkan dan sang suami kalian buat kayak budak cinta dan kayak boneka yang Terima saja diperlakukan kayak gitu oleh istrinya, dan dia akan nerima begitu saja dan mudah sekali memaafkan, dan kalian tidak akan berani hadirkan wanita lain yang baik dan bak pahlawan bagi suami kalau pun kalian hadirkan tetap saja kalian perlakuan kayak pelakor dan wanita murahan, dan yang paling parah di novel2 kayak gini ada yang malah memutar balik fakta jadi suami yang salah karena tidak sabar dan tidak bisa mengerti perasaan istri yang masih mencintai pria lain
tolong Thor tanggapan dan jawaban?