Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.17 Mendadak Perhatian
Alle mendudukkan dirinya di sofa, ia menarik napas panjang untuk membuat rileks tubuhnya. Menghadapi mertua yang sejak dulu tak menyukainya selalu membuat Alle butuh kesabaran ekstra.
"Mereka sudah pulang, All?" Mbak Imas muncul dari dalam.
"Sudah, Mbak."
Mbak Imas ikut duduk di sofa. Di samping Alle. "Maaf, All. Aku nggak bisa menghalangi mereka bertemu Chilla, soalnya mereka ngotot banget kalau mereka adalah kakek dan nenek Chilla."
"Nggak apa, Mbak. Lagian, biar pun bukan hari ini pasti di hari lain mereka juga akan datang lagi."
"Apa mereka juga punya tujuan yang sama dengan Fadil?" Kemarin Alle sudah bercerita pada Mbak Imas tentang maksud kedatangan mantan suaminya.
Alle mengangguk lesu.
"Kok bisa-bisanya sih mereka nggak punya malu begitu. Dulu mereka ke mana aja. Sekarang tiba-tiba datang dan ingin meminta hak asuh Chilla." Mbak Imas geram sendiri mengingat kelakuan Fadil dan keluarganya.
"Sudahlah Mbak, nanti tambah pusing kalau mikirin masalah aku." Alle tersenyum seolah sedang melucu yang dibalas Mbak Imas dengan cengiran.
"Chilla udah tidur belum?" sambungnya.
"Belum, masih ngerjain tugas."
"Ya sudah, Mbak Imas pulang saja, kan, sudah ada aku. Biar aku yang ajarin Chilla belajar. Takutnya Mas Dito marah lagi." Alle tahu, belum lama suami istri itu baikan jadi Alle harus tahu diri juga. Begitu ia pulang ke rumah ia langsung menyuruh Mbak Imas pulang juga. Agar suaminya tidak merasa diabaikan.
Setelah Mbak Imas pamit, Alle segera mengunci pintunya. Ia menghampiri Chilla yang sedang serius menyelesaikan tugas sekolahnya.
"Sudah selesai?" Alle duduk di samping Chilla sembari mengusap rambut hitam legam milik putrinya.
"Sebentar lagi, Ma." Chilla memperlihatkan bagian yang masih belum selesai pada mamanya. "Kakek sama Nenek masih ada, kan, Ma?"
Alle menggeleng. "Sudah pulang, Sayang."
"Loh, kan Chilla belum salim, kok sudah pulang?"
"Nenek sama Kakek nggak mau ganggu kamu yang sedang belajar. Jadi tadi mereka hanya titip salam buat Chilla. Katanya, semoga Chilla jadi anak yang sholeha dan pinter."
Chilla tersenyum senang mendengar pesan dari kakek dan neneknya.
Teringat soal salam, tadi Aksa juga menitip salam untuk Chilla. "Sayang, tadi Om Aksa titip salam buat Chilla."
Chilla sedikit bingung. Tidak tahu siapa Om Aksa yang di maksud mamanya.
Tahu akan kebingungan putrinya, Alle menjelaskan. "Om Aksa itu, Om bos yang dulu jenguk chilla di rumah sakit, yang kirimin hadiah banyak banget buat Chilla."
"Oh, yang itu." Chilla manggut-manggut sembari tersenyum kala ingatannya menemukan sosok Om Bos.
"Sampaikan salam dari Chilla juga. Lain kali Chilla mau ajak main boneka bareng."
"Apa?" Alle sedikit kaget.
"Iya, kan Om bos yang ngasih hadiah masak nggak mau diajak main bareng."
"Om bos terlalu sibuk sayang untuk nemenin kamu main."
"Yah ...." Chilla mendengkus lesu. "Budhe Imas juga sudah pulang?" tanya Chilla.
"Ya, karena sudah ada Mama jadi Budhe Imas pulang."
Chilla mengangguk paham.
"Ya sudah, Chilla selesaikan belajarnya dulu, ya. Mama mau mandi, habis itu kita makan."
Chilla menautkan jari jempol dan telunjuknya membentuk tanda 'ok'.
Sesuai janjinya setelah Alle mandi ia mengajak Chilla makan, lalu bermain sebentar dengan anak itu dan membacakan cerita sebelum tidur.
Perlahan mata Chilla terpejam dalam pangkuan mamanya. Alle terus mengusap kepala anak semata wayangnya.
"Mama janji, mama akan terus berjuang untuk bisa mengasuhmu. Meskipun Mama tidak bisa memberikan kemewahan tapi Mama akan berusaha membuat kamu bahagia," lirih Alle.
Ia terus menatap wajah Chilla. Wajah kecil tanpa dosa yang ia lahirkan penuh perjuangan enam tahun yang lalu.
"Mama sayang Chilla," ujar Alle pada Chilla yang tak mungkin mendengar.
Di saat pikiran Alle mengelana tentang masa depannya dengan Chilla kelak, dering ponselnya membuat Alle tersentak.
Ia segera memindahkan kepala Chilla yang berada di pangkuannya ke atas bantal. Ia mengecup kening bocah itu sebelum beranjak mengambil ponsel di atas meja rias.
Melihat nama yang tertera di layar, Alle sedikit kaget. Namun, ia segera menggeser ikon hijau di layar benda pipih itu.
"Halo, selamat malam, Pak," sapa Alle.
Setelah mendapat balasan salam dari sana Alle kembali bertanya, "Ada apa ya, Pak. Kok tumben malam-malam begini telepon?"
Di sebarang sana, Aksa bingung menjawab pertanyaan Alle. Iya ... yang menelpon Alle malam ini adalah bosnya sendiri. Aksara Bumi.
"Maaf, maksud Bapak apa, ya?" tanya Alle bingung dengan pertanyaan bosnya. Alle tidak salah dengar, kan, kalau Aksa masih menanyakan hal yang sama seperti tadi sore. Apakah Alle mau bercerita tentang masalahnya, karena Aksa akan mendengarkan dengan senang hati.
"Pak, saya baik-baik saja. Juga tidak ada masalah yang serius. Bapak tidak perlu mengkhawatirkan saya."
Nampaknya pria di seberang sana tidak puas dengan jawaban sekretarisnya karena itu pria itu terus saja bertanya dan meyakinkan jika Alle boleh bercerita masalahnya pada sang bos. Bahkan Aksa juga bilang tidak perlu sungkan.
"Terima kasih sekali lagi saya ucapakan, tapi saya benar-benar baik-baik saja, Pak. Tidak punya masalah yang harus saya ceritakan pada Bapak," tolak Alle.
"Sudah malam, Pak sebaiknya kita tidur, besok masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan," pungkas Alle.
Setelah berpamitan, Alle menutup panggilan dari bosnya. Alle terus menatap layar ponselnya. Tak pernah menyangka jika Aksa, bos yang dulu selalu membuat Alle merasa tersiksa dengan banyaknya pekerjaan yang dilimpahkan, mendadak jadi bos yang perhatian.
Bertahun-tahun bekerja dengan pria itu, tak sekali pun Aksa pernah bertanya tentang nama putrinya. Kalaupun Alle pernah menyebutnya pasti pria itu sudah lupa, tapi beberapa hari lalu saat Chilla sakit tiba-tiba pria itu datang menjenguk.
Dan sekarang, tiada angin tiada hujan sang bos menelponnya malam-malam hanya untuk bertanya tentang masalah yang sedang Alle hadapi. Ada apa dengan semua ini?
Pandangan Alle beralih dari ponsel lalu tertuju pada Chilla yang terbaring di atas ranjang. Tak bisa dipungkiri jika saat ini pikiran Alle sedang dipenuhi masalah tentang kedatangan mantan suami dan juga mantan mertuanya.
Alle juga takut akan perkataan Fadil yang ingin menuntut hak asuh atas Chilla. Bagaimanapun Fadil punya hak karena pria itu adalah ayah dari putrinya.
Hal lain yang membuat Alle takut adalah Fadil memiliki uang untuk bisa membayar pengacara hebat agar bisa memenangkan kasus ini jika memang benar akan dibawa kembali ke meja hijau. Sementara Alle, meski punya tabungan pasti tak akan sanggup membayar pengacara hebat dengan bayaran yang mahal.
Alle seolah memikul beban masalahnya sendiri sebab ia tak mungkin berbagi pada siapa pun termasuk bosnya. Lagi pula apa status mereka hingga Alle harus bercerita masalah pribadinya. Rasanya tidak etis, meski bosnya sendiri yang meminta. Setidaknya selama Alle bisa menyelesaikan sendiri masalahnya ia tidak ingin merepotkan orang lain.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.