Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Untuk Melawan
Ruangan itu terasa semakin sempit bagi Zafira. Tatapan-tatapan penuh selidik menekan dari segala arah, seakan setiap napas yang ia tarik harus dipertanggungjawabkan.
Namun kali ini, ia tidak ingin kembali diam. Tidak ingin kembali menjadi pihak yang terus disudutkan tanpa suara.
Zafira mengangkat kepalanya perlahan. Tangannya masih gemetar, tapi sorot matanya mulai berubah—bukan lagi sekadar terluka, melainkan berusaha kuat.
“Jika aku terus diam,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih namun jelas terdengar di seluruh ruangan, “maka fitnah itu akan dianggap kebenaran.”
Semua mata kini tertuju padanya.
“Aku tidak tahu motif Raisa,” lanjut Zafira, menatap lurus ke arah wanita itu. “Tapi aku tahu satu hal—aku tidak pernah melakukan apa pun yang ia tuduhkan.”
Raisa menyilangkan tangan, tersenyum tipis.
“Aku hanya menyampaikan apa yang aku lihat.”
“Melihat atau mengira?” Zafira membalas, kali ini lebih tegas. “Karena aku punya saksi atas setiap langkah yang aku ambil.”
Atharv menoleh cepat. “Saksi?”
Zafira mengangguk.
“Asisten rumah tangga di mansion ini. Satpam. Bahkan sopir. Aku jarang keluar sendiri, dan setiap kali keluar, selalu ada orang yang tahu.”
Pak Dharma bersandar ke kursinya, memperhatikan dengan seksama. “Jika memang begitu, ini bisa dibuktikan.”
Nyonya Maharani menatap Zafira lebih dalam. “Kau yakin dengan ucapanmu?”
“Aku sangat yakin, Ibu,” jawab Zafira tanpa ragu. “Aku mungkin lemah dalam pernikahan ini, tapi aku tidak berbohong.”
Raisa terkekeh kecil. “Kau pandai bicara.”
“Tidak,” Zafira menggeleng. “Aku hanya lelah dituduh.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Namun kali ini, keheningan itu berbeda. Ada sesuatu yang bergeser sedikit demi sedikit.
Zafira menegakkan punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak semua fitnah itu bermula, ia tidak hanya bertahan.
Ia mulai melawan.
Zafira menarik napas dalam sebelum kembali membuka suara.
“Aku tidak bicara tanpa dasar,” katanya tegas. “Jika keluarga ingin saksi, aku bisa menyebutkannya sekarang.”
Pak Dharma mengangkat alis. “Siapa?”
“Sari,” jawab Zafira tanpa ragu. “Asisten rumah tangga yang melayaniku di mansion kedua.”
Atharv menoleh tajam. “Sari?”
“Iya,” Zafira mengangguk, menatap Atharv dengan keberanian yang baru. “Selama kamu tidak ada di rumah, hanya Sari yang bersamaku. Dia yang menyiapkan makananku, menemani kegiatanku, dan melihat siapa saja yang datang—atau lebih tepatnya, siapa yang tidak pernah datang.”
Nyonya Maharani menegakkan punggung.
“Mansion kedua memang terpisah,” katanya pelan. “Kau jarang keluar dari sana?”
“Hampir tidak pernah, Ibu,” jawab Zafira. “Dan hari ini pun, aku baru keluar karena pertemuan keluarga besar ini. Kami semua kembali ke mansion utama bersama-sama.”
Pak Surya menyela, nadanya kritis.
“Kalau begitu, bagaimana mungkin ada pria lain yang sering bersamamu?”
Zafira menoleh ke arah Raisa. “Itu yang ingin aku tanyakan.”
Raisa tersenyum tipis, namun sorot matanya mengeras.
“Aku hanya menyampaikan yang aku dengar.”
“Mendengar,” ulang Zafira pelan. “Bukan melihat.”
Atharv mengepalkan tangan. “Sari bisa dipanggil,” katanya akhirnya. “Jika memang kau yakin.”
“Aku yakin,” jawab Zafira mantap.
Dina menatap Zafira dengan raut berbeda tak lagi ragu.
“Kalau Sari ada di mansion utama sekarang, bukankah mudah untuk memastikannya?”
Nyonya Maharani mengangguk kecil. “Panggil dia.”
Keputusan itu membuat udara terasa berat. Zafira menahan napas, namun kali ini bukan karena takut. Ia tahu, kebenaran yang selama ini ia simpan akhirnya akan berdiri di hadapan mereka semua dan Raisa tak lagi menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.
Tak lama kemudian, pintu ruang keluarga kembali terbuka. Sari melangkah masuk dengan langkah ragu, mengenakan seragam rapi, wajahnya tegang karena menyadari siapa saja yang ada di ruangan itu. Ia menunduk hormat begitu berdiri di tengah-tengah keluarga besar Pranata.
“Silakan, Sari,” ujar Pak Dharma dengan suara berwibawa.
“Kami ingin mendengar keteranganmu.”
“I-iya, Pak,” jawab Sari gugup.
Nyonya Maharani menatapnya tenang. “Kau yang bertugas di mansion kedua?”
“Iya, Ibu,” jawab Sari cepat. “Saya yang melayani Nona Zafira sejak beliau tinggal di sana.”
Atharv menyilangkan tangan. “Katakan dengan jujur. Selama aku tidak ada, apakah ada pria lain yang sering datang menemui istriku?”
Sari tampak terkejut. Ia menggeleng kuat. “Tidak pernah, Tuan. Demi apa pun, tidak pernah.”
Raisa mengangkat alis. “Apa kau yakin? Mungkin kau tidak selalu ada di dekat Nona Zafira.”
“Saya hampir selalu bersama Nona,” jawab Sari dengan suara lebih mantap. “Kalau pun saya ke dapur atau keluar sebentar, selalu ada satpam. Tidak pernah ada tamu pria.”
Pak Surya menyela, “Bagaimana dengan saat Nona keluar rumah?”
Sari menggeleng lagi.
“Nona jarang sekali keluar, Pak. Kalau keluar pun hanya ke taman mansion atau ikut ke tukang kebun. Itu pun atas izin.”
Zafira menatap Sari dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Sari.”
Sari menunduk. “Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, Nona.”
Pak Dharma menghela napas pelan. “Jadi kesaksianmu jelas. Tidak ada pria lain.”
“Iya, Pak,” jawab Sari tegas.
Keheningan menyelimuti ruangan. Semua mata perlahan beralih ke Raisa. Sementara Zafira berdiri dengan napas tertahan—untuk pertama kalinya, kebenaran tidak berdiri sendirian.