Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
“Dingin sekali…”
Suara itu nyaris tak terdengar, terucap di sela gigil tubuh yang tak terkendali. Jihan terombang-ambing dalam pusaran ketidaksadaran, seolah dunia menariknya ke dalam kehampaan yang dingin dan sunyi. Saat kelopak matanya terbuka, yang ia rasakan bukanlah terang, melainkan air sedingin jarum es yang menembus kulit hingga ke sumsum.
Tubuhnya menggeliat, berusaha melawan, namun tak ada satu pun anggota badan yang patuh. Rasa sakit itu terlalu nyata.
“Apakah… bahkan orang mati masih bisa merasakan sakit?”
Tak ada jawaban. Hanya kesunyian dan kegelapan yang menganga di bawahnya. Saat ia menyadari tubuhnya perlahan tenggelam, senyum pahit terbit di wajahnya.
“Kalau aku selemah ini… bagaimana mungkin aku bisa menyembuhkan Ibu?”
Penyesalan menghantam kesadarannya. Namun, tanpa peringatan, suasana mulai berubah.
Air di sekelilingnya tiba-tiba bergemuruh, menggeliat seperti makhluk hidup yang terbangun dari tidur panjang. Riaknya mengamuk, menggulung tubuh Jihan dalam pusaran tak berarah. Matanya melebar saat melihat cahaya samar memantul dari sesuatu yang masif.
Dalam sekejap, sebuah dinding raksasa muncul dari kedalaman, menjulang tinggi dan melingkari lautan tempat ia terjebak. Permukaannya seperti batu hitam yang mengilap, dipahat oleh waktu dan kekuatan yang tak dikenal. Dinding itu terus tumbuh, seolah menelan seluruh ruang di sekitarnya, menjadikannya wadah yang membatasi lautan air yang kini seperti penjara.
Jihan menatap ke atas, napasnya memburu meski tak ada udara untuk dihirup. Ia mulai bertanya-tanya.
Apakah ini alam baka? Kematian? Ataukah sebuah penghalang yang harus ia hancurkan?
Namun sebelum jawabannya muncul, rasa sakit kembali menghantamnya tanpa ampun. Dingin yang menusuk, menyatu dengan nyeri yang mencekam tulangnya.
“Rasa sakit… nyeri… ini semua salah!”
Sebuah kesadaran kemudian menyelinap masuk.
Ia masih bisa merasakan sakit, dingin, nyeri. Itu berarti indranya belum mati. Jiwanya belum tercerabut sepenuhnya dari dunia yang ia kenal.
Matanya melebar. Detak jantungnya berdentam, bukan karena takut, tapi karena kemarahan dan tekad yang mulai membara kembali.
“Aku belum mati…”
"Aku tidak akan mati, tidak sebelum aku dapat menyembuhkan ibu!"
Lalu, di atas sana, di balik gelap yang mengambang, pandangannya menangkap seberkas cahaya. Cahaya itu memancar lembut, menembus tirai air yang pekat, membentuk sosok sebuah pil bercahaya yang tampak suci dan menenangkan.
Ia tidak tahu dari mana asalnya, tapi saat melihatnya, jiwanya terasa disentuh oleh harapan.
Jihan berenang, perlahan.
Ketika akhirnya tangannya terulur dan menyentuh permukaan pil itu, ledakan cahaya lembut menyebar ke segala arah.
Dan pada saat itulah, dunia di sekelilingnya mulai berubah.
Jihan terbangun.
Tubuh Jihan yang terkulai di tanah perlahan mendapatkan kembali kesadarannya. Mata yang tadinya terpejam perlahan terbuka dan terbelalak lebar.
Bukan sinar matahari atau langit yang menyambut pandangannya, melainkan wajah seorang gadis cantik yang menatapnya dari jarak sangat dekat.
Jihan membeku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar gugup saat ditatap oleh seorang wanita selain ibunya.
Wajahnya memerah.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ingin menjauh, atau menunduk menghindari tatapan gadis itu. Namun tubuhnya menolak perintah.
Saat itu, tanpa bisa mengalihkan pandangannya, ia kembali menatap wajah gadis di depannya… dan sesuatu dalam dirinya terhenti.
‘gadis ini... cantik.’
Raras yang melihat pemuda itu mulai sadar menampilkan ekspresi serupa. Sorot sedih di matanya perlahan memudar saat ia menyusap air mata di pipinya, Kepalanya mengepul oleh rasa malu yang tak bisa disembunyikan.
"Kau... kau sudah sadar?"
Jihan menatap raras yang menjauh darinya, kemudian matanya menyapu sekitar.
"Tempat ini… dimana aku sekarang?”
Alih-alih menjawab, wajah gadis itu berubah kesal.
“Kamu bohong!”
“Kamu bilang bisa berenang! Tapi kenyataannya, kamu malah tenggelam di dasar air terjun!”
Jihan terdiam.
Tatapan marah itu seolah memancarkan kekesalan yang nyata. Namun, di matanya, Jihan melihat sesuatu yang lain, sebuah gurat kecemasan yang samar.
Jihan tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya menunduk.
"Maafkan aku,"
"Aku tidak bermaksud menipumu."
Raras tersentak. Ia menatap Jihan yang diselimuti rasa bersalah. Kemarahannya seketika menguap, digantikan oleh kebingungan.
"Aku... aku tidak apa-apa. Hanya saja... kau sangat ceroboh."
Jihan menghela nafas,.
“Kamu benar, aku juga tidak menyangka tenagaku akan habis di dalam air. Kau tahu sendiri betapa sulitnya menghindari binatang buas itu, kan?"
"Hmphh"
Raras membuang muka.
“Yah… untung saja, Kakek Danu datang tepat waktu, karenanya kita selamat, bahkan dia juga memberimu pil penguat roh. Syukurlah pil itu bekerja di tubuh...”
"Kakek? Pil penguat Roh?
Potong Jihan, matanya menyipit mengikuti arah pandangnya. Di kejauhan, seorang pria paruh baya menambahkan ranting ke dalam bara api yang menyala redup, wajahnya tenang.
Namun, sebelum Jihan sempat bertanya lebih lanjut, suara Raras kembali bergaung.
"Kamu... begitu tidak sopan memotong pembicaraanku,"
"ngomong-ngomong siapa namamu?"
Jihan tersentak. Pertanyaan itu sederhana, namun terasa begitu asing. Ini adalah kali pertama seseorang menanyakan namanya.
Kilasan ingatan melintas di benaknya, kembali ke lapangan desa di mana ia pernah diam-diam berharap memiliki teman.
Kini, harapan itu seolah menemukan wujudnya.
Dengan senyum mengembang dan sedikit gugup yang tak bisa ia sembunyikan, Jihan menjawab pelan,
"Namaku... Jihan."
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"