NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

“Dingin sekali…”

Suara itu nyaris tak terdengar, terucap pelan di antara gigil tubuh yang tak terkendali. Jihan tenggelam dalam pusaran ketidaksadaran, seolah dunia menariknya ke dalam pelukan yang dingin dan sunyi. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Cahaya samar menari di atas permukaan air, tetapi yang ia rasakan hanyalah kegelapan dan kesepian yang menusuk.

Air yang membasahi tubuhnya terasa seperti ribuan jarum es, menembus kulit, menghantam tulang, lalu merambat ke dalam sumsum seperti binatang buas yang mencabik-cabik dari dalam. Ia menggeliat, mencoba melawan rasa sakit, tapi tubuhnya tak merespons sebagaimana mestinya. Rasa nyeri itu terlalu nyata, terlalu dalam.

Dalam keheningan yang memekakkan, satu pertanyaan terlintas di benaknya, menggema tanpa jawaban.

"Apakah bahkan orang yang sudah mati bisa merasakan sakit seperti ini?"

Pandangannya mulai menyapu sekeliling… panik, bingung, dan penuh harap. Namun tak ada suara, tak ada gerakan. Hanya kesunyian yang pekat dan air yang melingkupinya dari segala arah. Seolah dunia telah lenyap, menyisakan dirinya seorang diri di tengah kehampaan.

Ketika ia menatap ke bawah, yang terlihat hanyalah jurang kegelapan yang menganga lebar, menanti untuk menelannya bulat-bulat. Dan saat itu juga, Jihan menyadari, tubuhnya sedang perlahan-lahan tenggelam, ditarik ke kedalaman tanpa dasar, menuju entah ke mana.

“Kegelapan tanpa dasar ini… mungkinkah ini neraka?”

Jihan terkekeh pelan, tawanya terdengar sumbang di tengah kepungan air yang membeku. Pikirannya melayang pada janji yang tak pernah ia lupakan, janji untuk menyembuhkan ibunya. Sebuah senyum pahit mengambang di bibirnya, getir dan penuh penyesalan. Ia tahu dirinya belum cukup kuat, bahkan untuk menghadapi Serigala Taring Panjang, ia hanya bisa lari. Kini, tubuhnya berakhir terombang-ambing di dasar kehampaan, bagai kayu tak berguna.

“Ya… Kalau aku bahkan terlalu lemah untuk bertahan hidup,” bisiknya, lirih,

“Bagaimana mungkin aku bisa menyembuhkan ibuku?”

Kata-katanya tenggelam dalam keheningan, tapi maknanya bergema dalam dada, menghantam lebih keras dari arus yang membelit tubuhnya. Di tengah kehampaan itu, Jihan larut dalam lamunannya, terperangkap di antara rasa bersalah dan impian yang terasa semakin jauh.

Namun, tanpa peringatan, suasana mulai berubah.

Air di sekelilingnya tiba-tiba bergemuruh, menggeliat seperti makhluk hidup yang baru terbangun dari tidur panjang. Riaknya mengamuk, menggulung tubuh Jihan dalam pusaran tak berarah. Ia terombang-ambing tak berdaya, matanya terbelalak saat cahaya samar memantul dari sesuatu yang masif.

Dalam sekejap mata, sebuah dinding raksasa muncul dari kedalaman, menjulang tinggi dan melingkari lautan tempat ia terjebak. Permukaannya seperti batu hitam yang mengilap, dipahat oleh waktu dan kekuatan yang tak dikenal. Dinding itu terus tumbuh, seolah menelan seluruh ruang di sekitarnya, menjadikannya wadah yang membatasi lautan air yang kini terasa seperti penjara.

Jihan menatap ke atas, napasnya memburu meski tak ada udara untuk dihirup. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ini tempat kematian? Ataukah sebuah penghalang yang ia hancurkan, jika ingin memenuhi janjinya?

Namun sebelum jawabannya muncul, gelombang rasa sakit kembali menghantamnya tanpa ampun. Dingin yang menusuk seperti belati es menyatu dengan nyeri yang mencekam tulangnya, berpadu dalam irama menyayat, sebuah harmoni penderitaan yang menyelimuti tubuh dan jiwanya. Setiap detiknya terasa seperti penebusan, namun juga seperti ujian yang belum usai.

“Rasa sakit… nyeri… ini semua salah!”

di balik keluhnya, sebuah kesadaran menyelinap masuk. Ia masih bisa merasakan sakit, dingin, nyeri. Itu berarti indranya belum mati. Jiwanya belum tercerabut sepenuhnya dari dunia yang ia kenal.

Matanya membelalak. Detak jantungnya berdentam, bukan karena takut, tapi karena kemarahan dan tekad yang mulai membara kembali.

“Aku belum mati…”

"Aku tidak akan mati, tidak sebelum aku menyembuhkan Ibu!"

Lalu, di atas sana, di balik gelap yang mengambang, pandangannya menangkap seberkas cahaya. Cahaya itu memancar lembut, menembus tirai air yang pekat, membentuk sosok sebuah pil bercahaya yang tampak suci dan menenangkan. Ia tidak tahu dari mana asalnya, tapi saat melihatnya, jiwanya terasa disentuh oleh harapan.

Otot-ototnya menjerit saat ia mulai bergerak, melawan tekanan air yang mengikat tubuhnya seperti rantai tak kasat mata. Setiap gerakan terasa menyakitkan, tapi tatapan matanya tak pernah lepas dari cahaya itu. Dengan napas yang tersengal dan tubuh yang sekarat, ia berenang, perlahan namun pasti menuju cahaya di atas sana.

Ketika akhirnya tangannya terulur dan menyentuh permukaan pil itu, ledakan cahaya lembut menyebar ke segala arah. Lautan kesadaran tempat ia terjebak pun tersinari, bukan dengan panas, tetapi dengan kehangatan yang menenangkan, seolah seluruh penderitaan yang membebaninya mulai luruh satu demi satu.

Dan pada saat itulah, dunia di sekelilingnya mulai berubah.

Jihan terbangun.

Tubuh Jihan yang terkulai di tanah perlahan mendapatkan kembali kesadarannya. Mata yang tadinya terpejam perlahan terbuka dan terbelalak lebar. Bukan sinar matahari atau langit yang menyambut pandangannya, melainkan wajah seorang gadis cantik yang menatapnya dari jarak sangat dekat, dengan sorot mata sendu penuh kekhawatiran.

Jihan membeku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar gugup saat ditatap oleh seorang wanita selain ibunya. Jantungnya berdentum kencang, dan rona merah merambat cepat ke wajahnya. Ada rasa canggung yang aneh, seperti remaja yang baru pertama kali mengenal dunia luar dirinya.

Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, ingin menjauh, atau sekadar menunduk menghindari tatapan itu. Namun tubuhnya menolak perintah. Seakan-akan kekuatan belum sepenuhnya kembali, membuatnya sekali lagi terjebak dalam keadaan yang membingungkan.

Saat itu, tanpa bisa mengalihkan pandangannya, ia kembali menatap wajah gadis di depannya… dan sesuatu dalam dirinya terhenti.

‘Aku benar-benar tak menyadari… bahwa paras gadis ini begitu cantik.’

Raras yang melihat pemuda itu mulai sadar menampilkan ekspresi serupa. Sorot sedih di matanya perlahan memudar saat ia menyusap air mata di pipinya dengan gerakan kikuk. Wajahnya memerah, seolah kepalanya mengepul oleh rasa malu yang tak tertahankan. Saat pandangan mereka bertemu untuk kedua kalinya, Raras buru-buru mengalihkan tatapannya dan sedikit menjauh.

"Kau... kau sudah sadar? Syukurlah,"

Jihan menatap raras yang menjauh darinya dengan kikuk, kemudian matanya menyapu sekitar.

"Tempat ini… dimana aku sekarang?”

Namun Raras tidak langsung menjawab. Ekspresinya berubah. Rasa lega yang sempat tampak di wajahnya menghilang, digantikan dengan raut kesal yang sulit disembunyikan. Ingatannya melayang pada kejadian di bibir air terjun, saat Jihan begitu percaya diri.

“Kamu berbohong!”

“Kamu bilang bisa berenang! Tapi kenyataannya, kamu malah tenggelam di dasar kolam!”

Jihan terdiam. Wajah Raras yang memerah dan tatapan marah itu seolah memancarkan kekesalan yang nyata. Namun, di matanya, Jihan melihat sesuatu yang lain, sebuah gurat kecemasan yang samar. Ia tidak tahu harus berkata apa, jadi ia hanya menunduk dan terbatuk pelan.

"Maafkan aku,"

"Aku tidak bermaksud menipumu."

Raras tersentak. Ia menatap Jihan yang menunduk dengan rasa bersalah. Kemarahannya seketika menguap, digantikan oleh kebingungan. Raras tidak menyangka pemuda itu akan meminta maaf.

"Aku... aku tidak apa-apa. Hanya saja... kau sangat ceroboh."

“Kamu benar, aku juga tidak menyangka tenagaku akan habis di dalam air. Kau tahu sendiri betapa sulitnya membawa dua beban sekaligus, kan? Aku cukup beruntung bisa bertahan sejauh itu.”

Raras menghela napas, lalu menoleh ke samping sejenak sebelum berkata,

“Yah… untung saja, Kakek datang tepat waktu sesaat kita melompat dari air terjun. Berkat beliau kita selamat, bahkan dia juga memberi kamu pil penguat roh. Syukurlah pil itu bekerja di tubuhmu, jika tidak...”

"Kakek? Pil penguat Roh?

Jihan memotong perkataan Raras, matanya membelalak mengikuti arah pandangnya. Di kejauhan, seorang pria paruh baya menambahkan ranting ke dalam bara api yang menyala redup, wajahnya tenang seolah tak terganggu oleh apa pun.

Namun, sebelum Jihan sempat bertanya lebih lanjut, perhatiannya kembali teralihkan oleh suara Raras yang kembali bergaung.

"Kamu... begitu tidak sopan memotong pembicaraanku,"

"ngomong-ngomong siapa namamu?"

Jihan tersentak. Pertanyaan itu sederhana, namun terasa begitu asing. Ini adalah kali pertama seseorang menanyakan namanya. Kilasan ingatan melintas di benaknya, kembali ke lapangan desa di mana ia pernah diam-diam berharap memiliki teman.

Kini, harapan itu seolah menemukan wujudnya.

Dengan senyum mengembang dan sedikit gugup yang tak bisa ia sembunyikan, Jihan menjawab pelan,

"Namaku... Jihan."

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!