Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN KELUARGA MAHENDRA
Erwin tersenyum-senyum sendiri sambil memandangi foto seorang gadis di layar ponselnya. Gadis itu cantik dengan paras lembut, matanya bening dan teduh, seolah menyimpan cerita di balik sorotnya. Senyum tipisnya menghias bibirnya, menenangkan, membuat siapa pun yang melihatnya mudah jatuh hati. Rambutnya tergerai rapi, membingkai wajahnya dengan anggun, memancarkan pesona yang tak berlebihan—cantik dengan cara yang hangat dan nyata.
Namun, sayang. Gadis itu bukan Salma.
"Erwin..." Seru seseorang.
Erwin terkesiap dan mematikan ponselnya.
"...itu Salma dan Ibunya udah datang!" Kata Mona, memandang lurus anak semata wayangnya. "Dari tadi Mama perhatiin kamu senyum-senyum terus lihat Handphone, aneh! Ayo sambut mereka!"
"I-Iya, Ma!" Angguk Erwin. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, mengetuk layar, memastikan benda tipis itu mati, sebelum akhirnya ia benar-benar beranjak dari kursi.
Salma dan Desi melangkah perlahan menuju meja yang telah dipesan Erwin bersama ibunya.
Begitu melihat kedatangan mereka, Erwin segera berdiri dan menyapa dengan senyum hangat, lalu mempersilakan Salma duduk di sampingnya. Di sisi lain, Mona dan Desi saling menyapa, berjabat tangan, lalu bertukar ciuman singkat di pipi kiri dan kanan, khas sapaan para ibu yang akrab. Setelah itu, barulah mereka semua duduk bersama, membiarkan suasana perlahan mencair dalam kebersamaan yang hangat di antara musik jazz yang mengalun lembut.
"Kebetulan kami sudah memesan menu spesial untuk kita semua," Kata Mona sambil menggerakkan tangannya, memperlihatkan beberapa menu yang tersaji di atas meja dan tampak begitu menggugah selera.
Desi membulatkan bola matanya. "Aduh, jeng... jadi ngerepotin."
"Gak apa-apa, jeng. Menyambut calon besan dan mantu emang harus seperti ini." Balas Mona.
Desi tertawa bahagia. "Gak nyangka ya, jeng... saya kira, jeng Mona ini hanya sebatas teman arisan saya. Eh... tahunya takdir mempertemukan kita lebih dari sekedar itu."
Mona mengangguk, matanya lurus memandang Salma. "Tante gak nyangka, bakalan punya calon mantu secantik kamu, Salma."
Salma tersenyum dengan anggukkan kecil. "Tante bisa aja." Lirihnya.
"Aku juga gak nyangka, Ma." Tambah Erwin. "Salma bertemu denganku untuk kali pertama cuma lewat DM instagram biasa aja. Tapi setelah tahu dia dulu satu sekolah denganku dan bertemu secara tidak sengaja di acara reuni, semua berjalan begitu saja."
Mona mengangguk. "Itu namanya, jodoh!" Tanggapnya. "Kalau mendiang Ayahmu masih ada, dia pasti bangga sama kamu. Jarang lho... nemuin gadis seperti Salma. Seorang pendidik... cantik... dan mandiri."
Erwin menoleh sekilas ke arah Salma dan melempar senyum saat gadis itu tertangkap tengah menunduk malu, jemarinya saling bertaut di pangkuan.
“Ya udah... kita makan dulu, yuk!” Kata Mona, memberi isyarat ringan dengan tangannya yang bergerak agar semuanya mulai menikmati hidangan. Ia sendiri mulai meneguk secangkir teh beraroma melati hangat.
Salma pun demikian. Ia meraih garpu dan sendok makan, lalu mulai menyantap hidangan di hadapannya. Di piringnya tersaji nasi putih hangat dengan ayam panggang berbumbu kecokelatan, disiram saus yang harum dan menggugah selera. Di sampingnya, tumis buncis dan wortel berwarna cerah masih mengepulkan uap, lengkap dengan kentang panggang yang renyah di luar namun lembut di dalam.
“Tante sengaja, Salma…” Lanjut Mona, menatapnya sambil tersenyum. “…sengaja memesan menu ini buat kamu. Semua tersaji supaya sehat—ada sayur, karbohidrat, dan asam folat, semuanya baik untuk rahimmu.”
"Ya ampun, jeng, saya bersyukur banget... " Ucap Desi sambil melahap makanannya. "....punya calon besan yang perhatian sekali dengan calon menantunya. Apalagi nanti."
Mona mengangguk. "Yang penting... kita semua harus bahagia dan saling melengkapi..." Tuturnya menatap Erwin dan Salma. "... baik Erwin dengan Salma," matanya kemudian menoleh ke arah Desi. "Dan hubungan baik saya dengan jeng Desi. Apalagi... kalau udah bau-bau uang arisan, jeng. Jangan sampai lepas!"
Desi tertawa kecil. "Ya ampun, jeng... soal itu, jelas aku nggak mau kalah," Lanjutnya sambil menyengir nakal. "Kalau urusan arisan, aku termasuk yang rajin setor tepat waktu."
Salma dan Erwin saling menatap, lalu sama-sama menggeleng sambil menahan tawa mendengar celotehan ibu mereka masing-masing.
"Oh ya, jadi... tanggal pernikahan kalian itu udah fix mau di bulan ini saja?" Lanjut Desi menatap Erwin dan Salma bergantian.
Salma dan Erwin mengangguk kompak, tanpa ada isyarat tertentu untuk saling berdiskusi dan berpikir ulang.
"Sesuai dengan yang aku bicarakan sebelumnya, Tante..." Ucap Erwin. "... aku dan Salma memutuskan untuk melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat ini. Dan setelah itu... Salma akan aku bawa ke Tanggerang, rumah baru kami."
Desi mengangguk dengan mata berbinar. "Tante gak pernah menyangka... Salma akan di bawa oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya. Dan Tante... akan tinggal disini, sendiri."
Salma menepuk punggung jemari Ibunya, hangat. "Ma..." Lirihnya.
"Kita gak sendiri jeng." Tambah Mona sambil merangkul bahu Desi. "Biarkan mereka bahagia."
Desi mengangguk, dengan mata yang masih lurus memandang Erwin, calon mantu kesayangannya itu. "Erwin tolong jaga Salma, ya. Meski Salma itu sekarang mandiri setelah Ayahnya meninggal... tapi sisi manjanya masih saja ada. Kamu harus sabar, ya. Salma kadang suka ngeyel susah di bilangin."
"Mamaaaa!" Dengus Salma refleks.
Desi mendadak melirik Salma. "Tuh, kan. Kamu bisa lihat sendiri sifat asli Salma?"
Mona tertawa kecil.
Erwin hanya mendesis dan menggeleng bijak. "Tante tenang aja. Selama aku ada di posisinya... Salma akan bahagia dan menjadi istri yang baik buat aku. Ya kan, sayang?" Katanya melirik Salma sebentar.
Salma terkejut sejenak mendengar ucapan Erwin, pipinya memerah samar. Ia menunduk, menahan senyum, lalu menatap Erwin dengan mata yang berbinar malu-malu. Detik berikutnya, ia mengangguk. "Iya, Mas."
****