"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.7 Lamaran
Pukul delapan malam.
Lampu-lampu kantor mulai dimatikan, hanya menyisakan cahaya dari meja Aksara yang masih menyala. Hari ini benar-benar melelahkan. Rapat beruntun membuatnya baru sadar kalau ia belum membalas pesan Arvano sejak sore.
Ponselnya berbunyi.
30 pesan dari Arvano.
Aksara menghela napas pendek, lalu mengetik balasan singkat. Setelah itu ia mengambil jas dan kunci mobil. Sudah terlalu malam untuk menunda pertemuan.
Belasan menit kemudian, Aksara sudah berdiri di depan pintu apartemen milik Arvano. Seperti biasa, dia membawa makanan—kebiasaan yang terbentuk tanpa sadar. Ketika pintu terbuka, Arvano langsung meraih lengan Aksara dan merangkulnya dengan manja.
"Akhirnya kamu datang juga, sayang."
Nada centil itu membuat langkah Aksara refleks terhenti.
Tubuhnya menegang.
"Ada apa?" tanya Arvano, memiringkan kepala, bingung melihat reaksi itu.
"Enggak. Aku cuma capek aja," jawab Aksara datar. Ia melepas rangkulan Arvano dengan halus. "Masuk."
Apartemen Arvano tampak seperti biasa—mewah, canggih, penuh fasilitas. Namun, saat duduk di sofa empuk itu, pikiran Aksara justru melayang ke rusun kecil milik Aylin.
Kehangatannya.
Aroma lemon dan mawar ketika dia membuka pintu tadi siang.
Cara Aylin selalu meminta maaf saat merasa merepotkan, meski dia tidak melakukan apa pun yang salah.
"Apa aku belikan saja Aylin apartemen? Biar dia nggak perlu tinggal di rusun itu."
Aksara mengusap wajahnya. Kenapa tiba-tiba dia merasa perlu melakukan itu?
"Ini, coba." Arvano menyuapkan ayam saus keju pedas ke mulut Aksara. "Kesukaan kita."
Aksara menerima suapan itu, tersenyum tipis—senyum formal, bukan tulus.
Ada banyak rencana yang berputar di kepalanya malam itu.
Dan hampir semuanya tentang… Aylin.
*
*
Pagi-pagi sekali, aroma bawang tumis sudah memenuhi seluruh ruangan kecil itu. Aylin berdiri di dapur dengan celemek lusuh, rambut disanggul asal-asalan, wajah masih sembab karena kurang tidur.
Kata asisten Jo, Kakek Harsa menyukai masakan rumahan makanya. Aylin sudah pergi ke pasar pagi-pagi sekali dan kini dia sudah sibuk memasak untuk Kakek.
ayam saus mentega yang mengkilap cantik, tumis tahu dan tauge sederhana tapi wangi, sambal goreng kentang ati yang warnanya merah menggoda.
Dan yang terakhir—menu wajib ala Aylin—telur dadar tebal dengan bawang dan rawit berlimpah.
“Telur dadar pedes itu harus hadir dalam hidupku,” gumam Aylin mantap sambil membalik wajan.
Pintu rusun terbuka.
Anisa masuk dengan kantong besar berisi kue coklat pesanan Aylin.
Begitu melihat meja penuh masakan, Anisa langsung mematung.
“Astaga, Ay. Kamu bikin ini semua jam berapa?” herannya sambil menatap dapur yang tampak seperti medan perang.
“Sekitar jam setengah empat kali, Mbak.” Aylin tersenyum polos, seolah bangun dini hari untuk memasak sepanci dunia adalah hal biasa.
Anisa memijat kening menggeleng tak percaya. “Astaga, kamu effort banget menyambut calon kakek mertua.”
Aylin cekikikan, menahan malu.
Bahkan pipinya ikut panas sendiri.
“Aku cuma… mau bersikap sopan,” elaknya.
“Sopan dari Hong Kong, ini namanya impressing mertua,” sahut Anisa sambil tertawa lalu mulai membantu membersihkan sekitaran meja makan dan ruang tamu.
Dari dalam kamar, Rosalind duduk di kursi roda sambil menatap mereka—Aylin yang super sibuk dan Anisa yang cerewet. Senyum kecil muncul di bibirnya, meski ada sedikit sedih terselip.
Sedih karena ia tidak bisa banyak membantu…
Sedih karena putrinya harus bekerja keras sejak kecil…
Tapi juga bangga.
Sangat bangga.
Karena Aylin—anak tomboynya yang dulu selalu kabur dari dapur—kini berdiri sambil mengaduk wajan dengan semangat seorang istri sempurna.
Pukul sembilan pagi, keluarga Aksara sudah sampai di rusun. Kirana, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat seperti itu, refleks menutup hidungnya karena mencium berbagai aroma.
Harsa tersenyum menatap rusun tempat tinggal Aylin. Ingatannya melayang pada masa muda—saat pertama kali bertemu mendiang istrinya, seorang gadis desa sederhana yang tinggal di rusun seperti ini.
“Kakek, selamat datang,” ujar Aylin sambil berlari kecil menghampiri.
Aylin menyalami Harsa, lalu Abian dan Kirana. Kirana memang menerima uluran tangan Aylin, tapi begitu tangan mereka terlepas, ia langsung mengelap tangannya dengan tisu basah. Beruntung Aylin tak mempermasalahkan itu.
Aylin mengajak Harsa menuju lift, karena tidak mungkin menaiki tangga. Di bawah, para ibu-ibu yang suka bergosip mulai heboh melihat kedatangan keluarga Aksara.
“Keren ya, calonnya Aylin.”
“Iya, mobilnya bagus lagi. Bajunya juga kelihatan mahal.”
“Iya bener.”
Mereka kembali bergosip sambil menikmati gorengan dan lontong, menu wajib sarapan pagi mereka.
Setibanya di unit Aylin, Anisa dan Rosalind sudah menunggu di depan pintu.
“Selamat datang, Tuan Harsa,” sambut Rosalind.
"Ya terima kasih," balas Harsa dengan tulus.
"Mari masuk, Tuan… Nyonya," ajak Anisa sambil mendorong kursi roda Rosalind lebih dulu.
"Ayo, Kek. Aylin udah masak buat kakek," bisik Aylin manja sambil merangkul lengan Harsa.
"Hahaha… ayo, ayo. Kakek sudah nggak sabar mencicipi masakanmu," sahut Harsa penuh semangat. Mereka pun masuk ke dalam rumah sederhana Aylin.
Kirana yang baru pertama kali datang terlihat cukup terkesan. Rumah itu tidak besar, tapi sangat bersih dan wangi—aroma lembut yang justru sangat ia sukai.
"Ternyata seleranya sama denganku… tidak terlalu buruk," gumam Kirana sambil duduk di samping Abian.
Di meja sudah tersaji berbagai jajanan tradisional lengkap dengan minumannya. Aylin sengaja membuat bandrek karena cuaca sedang dingin.
"Cobain, Kek. Ini bandrek buatan aku," ujar Aylin sambil menuangkan ke dalam gelas.
"Terima kasih," ucap Harsa. Rasa manis, gurih, dan hangat langsung memenuhi lidahnya. Harsa menyukainya. Ia juga mengambil kue lapis, jajanan pasar kesukaan mendiang istrinya.
"Ini semua jajanan kesukaan Mami, Dad," celetuk Abian tiba-tiba.
"Ya, kamu benar, Abian. Kalau Mamimu masih ada, dia pasti senang dapat cucu menantu seperti Aylin," ucap Harsa tulus. Pipi Aylin memerah, ia tersenyum tipis.
Perlahan Aylin melirik ke arah Kirana—calon ibu mertuanya—yang menikmati kue coklat dengan tenang. Ada rasa lega dan puas dalam hati Aylin melihat keduanya menyukai suguhannya. Aksara pun menikmati makanan Aylin dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Begini, Nyonya Rosalind…" Harsa membuka pembicaraan.
"Panggil saya Rosalind saja, Tuan," sela wanita itu halus.
"Baiklah. Kalau begitu, panggil aku Kakek juga," kekeh Harsa. Rosalind mengangguk kecil, dan suasana sempat mencair sesaat.
Kemudian Harsa melanjutkan topik yang sebenarnya ingin ia bahas sejak tadi—keinginannya untuk menimang Aylin sebagai menantu keluarga Danendra.
Suasana langsung hening sesaat. Aksara menoleh pada Aylin, untuk menatap wajah gadis yang akan menjadi istrinya.
"Bagaimana? Apa kamu menerima lamar dari cucuku?" tanya Harsa penuh harap, Abian dan Kirana hanya diam.
"Semoga Aylin menolak, Ya Mas," bisik Kirana.
"Hus! Kamu ini, kamu gak lihat Daddy menyukai Aylin." Balas Abian berbisik. "Soal anak kita yang belok, itu akan tetap menjadi rahasia kita."
Kirana pun mengangguk dengan pelan, dia menunggu dengan harap cemas jawaban Aylin. Semoga saja di tolak, itu dia Kirana dalam hati.
Bersambung ....
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣