"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keheningan di ruangan arsip bawah tanah itu terasa seperti cekikan. Kirana berdiri membeku di antara rak-rak baja, sementara di balik dinding partisi yang tersamar oleh jajaran folder hitam, suara-suara yang sangat ia kenal bergema melalui ventilasi udara.
Arka baru saja meninggalkannya sendirian di sana untuk menenangkan diri, namun langkah kakinya yang berat justru membawanya ke sebuah percakapan yang merobek sisa-sisa harapannya.
Arka tidak sendirian di atas sana.
"Kau mengambil risiko besar dengan membiarkan helikopterku mendarat tanpa pemeriksaan, Arka," suara itu serak, sedikit angkuh, dan penuh dengan nada kemenangan. Roy.
Kirana merasakan lututnya melemas. Bagaimana mungkin Roy - pria yang dituduh Arka sebagai dalang penculikan dan pengkhianatan - bisa berada di ruang kerja pribadi Arka di pulau yang seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia?
"Pemeriksaan hanya akan membuang waktu. Kau membawa apa yang aku minta?" suara Arka terdengar dingin, stabil, tanpa sedikit pun keraguan.
"Tentu saja. Dokumen asli pengalihan aset Mahendra dan bukti keterlibatan Baskara dalam manipulasi pasar sepuluh tahun lalu. Semua ada di koper ini," Roy terdengar mendekat, ada suara gesekan koper kulit di atas meja kayu. "Umpannya sudah siap, Arka. Baskara akan datang untuk mengambil Kirana malam ini. Kau akan menyerahkannya padaku, bukan? Sebagai tanda kesepakatan baru kita?"
Jantung Kirana terasa berhenti berdetak. Ia menyandarkan punggungnya pada rak besi yang dingin, menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Umpan. Kata itu bergema di kepalanya seperti lonceng kematian.
"Lakukan saja bagianmu," sahut Arka datar. "Pastikan Baskara membawa dokumen aslinya secara lengkap. Aku tidak ingin ada celah hukum saat kita menjatuhkannya."
"Dan Kirana?" tanya Roy, nada suaranya berubah menjadi cabul yang memuakkan. "Setelah dia diserahkan pada Baskara sebagai pengalihan, kau tahu dia tidak akan selamat, kan? Baskara tidak akan membiarkan 'mahakaryanya' tetap bernapas setelah dia mendapatkan kodenya."
Ada jeda panjang. Keheningan yang menyiksa di mana Kirana berharap Arka akan meledak, akan menghajar Roy, atau setidaknya menyangkalnya. Namun, yang terdengar hanyalah suara korek api yang dinyalakan.
"Dia sudah hancur sejak aku merampas Nirmala," jawab Arka dingin. "Kematian mungkin adalah belas kasihan terakhir untuknya. Yang penting bagiku adalah posisi Mahendra Group kembali ke tanganku sepenuhnya tanpa bayang-bayang Baskara."
Kirana merasa dunianya runtuh. Semua ciuman di vila Bogor, sentuhan lembut es batu di lehernya malam tadi, hingga video masa kecil yang diputar Arka untuk membangkitkan memorinya, semuanya hanyalah bagian dari prosedur priming. Arka tidak sedang mencoba menyembuhkannya, ia sedang memastikan umpannya tetap 'segar' dan cukup kooperatif untuk diberikan kepada sang predator utama.
Kirana tidak menunggu percakapan itu selesai. Dengan sisa tenaga yang dipacu oleh adrenalin kebencian, ia merayap menuju bagian belakang ruangan arsip. Ia ingat melihat sebuah pintu kecil dengan simbol Exit darurat yang tertutup oleh tumpukan boks.
Ia mendorong boks-boks itu sekuat tenaga, tidak peduli jika kukunya yang terawat kini patah dan berdarah. Di balik pintu itu, terdapat tangga spiral besi yang menuju ke dermaga bawah tanah, dermaga rahasia yang digunakan untuk pengiriman logistik gelap pulau tersebut.
Udara di dermaga bawah tanah itu lembap dan berbau solar. Kirana melihat sebuah perahu motor kecil bersandar di sana. Namun, sebelum ia sempat melompat ke dalamnya, sebuah bayangan muncul dari balik pilar beton.
"Ingin pergi ke mana, Nona?"
Kirana tersentak. Itu Dion. Tangan kanan kepercayaan Arka. Dion berdiri di sana, namun ia tidak memegang senjata. Ia justru memegang sebuah tas ransel tahan air.
"Biarkan aku pergi, Dion! Jika kau punya sedikit saja hati nurani, jangan biarkan bosmu menjualku pada orang gila itu!" bisik Kirana dengan nada memohon yang putus asa.
Dion menatap Kirana lama. Ekspresinya yang biasanya kaku kini tampak ragu. "Tuan Arka melakukan ini untuk alasan yang tidak bisa Anda pahami sekarang, Nona."
"Alasannya sederhana, Dion! Dia menginginkan kekuasaan!" Kirana mendekat, mencengkeram lengan Dion. "Dia menggunakan kematian ayahku sebagai alat tawar-menawar! Tolong aku..."
Tiba-tiba, suara alarm di pulau itu berbunyi. Lampu merah berputar menyala di seluruh dermaga.
"Mereka tahu Anda keluar dari ruangan arsip," ujar Dion cepat. Ia melemparkan tas ransel itu ke dalam perahu motor. "Dengar, Nona. Saya tidak bekerja sepenuhnya untuk Arka. Saya bekerja untuk kebenaran. Di dalam tas ini ada pelampung dan kunci perahu. Pergilah ke arah mercusuar di sisi utara. Ada tim yang menunggu di sana."
"Tim siapa?"
"Tim yang akan mengakhiri semua kegilaan ini," Dion mendorong perahu motor itu menjauh dari dermaga. "Cepat, sebelum Arka sampai ke sini!"
Kirana menyalakan mesin perahu. Suara menderu pelan bergema di terowongan bawah tanah. Ia memacu perahu itu keluar menembus pintu air yang terbuka otomatis. Saat perahu itu meluncur ke laut lepas, Kirana melihat ke belakang, ke vila kaca yang berdiri angkuh di atas tebing.
Di balkon atas, ia melihat sosok Arka berdiri menatapnya. Arka tidak mengejar. Ia hanya berdiri di sana dengan sebatang rokok di tangannya, memandangi perahu Kirana yang menjauh di bawah sinar bulan. Ekspresinya tidak terbaca, namun Kirana bisa merasakan tatapan itu seperti kutukan.
Kenapa dia tidak mengejarku? tanya Kirana dalam hati. Apakah ini bagian dari rencana penyerahan itu? Apakah perahu ini sebenarnya akan membawaku langsung ke tangan Baskara?
Ketakutan itu membuatnya hampir memutar balik perahu, namun pikiran tentang Arka yang menyebut kematiannya sebagai belas kasihan memberinya kekuatan untuk terus memacu mesin.
Setelah lima belas menit membelah ombak, Kirana tiba di dekat mercusuar tua yang sudah berkarat. Sebuah kapal pesiar hitam tanpa lampu navigasi menunggu di sana. Kirana mendekat dengan waspada.
Seorang pria dengan setelan rapi muncul di dek kapal, menurunkan tangga monyet. Saat Kirana memanjat naik dengan tubuh gemetar dan pakaian basah kuyup, pria itu mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit.
"Selamat datang, Kirana. Aku sudah menunggumu."
Kirana mendongak. Di bawah cahaya rembulan, wajah pria itu terlihat. Bukan Roy. Bukan Baskara. Pria itu adalah Wijaya, taipan pesaing utama Mahendra yang selama ini dianggap sudah bangkrut dan menghilang.
"Wijaya? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Arka pikir dia bisa bermain catur dengan semua orang," Wijaya tersenyum, sebuah senyuman yang sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Kirana berdiri. "Tapi dia lupa bahwa di papan catur ini, kau bukan lagi pion, Kirana. Kau adalah Ratu. Dan aku membutuhkan Sang Ratu untuk menjatuhkan Sang Raja."
Wijaya memberikan handuk hangat pada Kirana, lalu membimbingnya masuk ke kabin kapal yang mewah. Di atas meja kabin, tersebar foto-foto Arka yang sedang berjabat tangan dengan Baskara di sebuah lokasi rahasia beberapa hari yang lalu.
"Arka tidak berniat menjatuhkan Baskara," bisik Wijaya. "Mereka sedang merencanakan penggabungan dua kekuatan untuk menguasai seluruh sektor energi negara ini. Dan kau... kau adalah tumbal yang mereka gunakan untuk menyatukan darah mereka kembali."
Kirana jatuh terduduk di kursi beludru. Air matanya akhirnya jatuh, tapi bukan air mata kesedihan, ini adalah air mata kemarahan yang membakar. Selama ini ia mengira Arka adalah serigala yang kesepian, ternyata Arka adalah serigala yang sedang memimpin kawanan pembantai.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Kirana dengan suara yang dalam dan dingin.
"Bantu aku menghancurkan Mahendra dari dalam. Berikan aku akses ke kode enkripsi yang selama ini dicari Baskara. Sebagai imbalannya, aku akan mengembalikan Nirmala Capital padamu, dan Arka... Arka akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi atas pembunuhan ayahmu."
Kirana menatap laut dari jendela kabin. Di kejauhan, Pulau Manjalika tampak seperti titik kecil yang terbakar oleh kebenciannya. Di lehernya, ia masih merasakan berat cincin perak pemberian Arka. Dengan satu sentakan keras, Kirana memutuskan rantai kalung itu dan melemparkan cincin tersebut ke lantai kapal.
"Setuju," ujar Kirana. Matanya kini tidak lagi kosong. Di sana kini berkobar api balas dendam yang akan menghanguskan siapa pun yang menghalangi jalannya. "Berikan aku apa yang aku butuhkan. Aku akan menghancurkan Arka Mahendra dengan tanganku sendiri."
...----------------...
Next Episode....