NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Sentuhan

Tap. 

Tap. 

Tap. 

Ketukan antara sepatu dan lantai samar terdengar. Terendam oleh suara hujan yang mengguyur deras.

Pelan, pintu terbuka, menimbulkan derit yang mencengkam.

Di ruangan yang hanya disinari oleh lampu tidur, Kalendra tersenyum miring kala melihat sang istri yang masih berada di kamarnya. Tengah tertidur pulas. Menuruti perintahnya tadi pagi yang melarang perempuan itu untuk keluar.

"Tikus kecil yang pintar." kekeh laki-laki itu dengan langkah semakin mendekat pada Kanaya.

Melirik pada nakas, Kalendra mendesis lirih saat menemukan piring berisi makanan yang sepertinya belum tersentuh. Hal yang langsung membuat dia tahu, jika istrinya belum makan sejak kepergiannya

"Apa kau ingin menarik simpatiku dengan mogok makan, Kanaya?"

Tidak ada jawaban. Sang empu masih setia memejamkan matanya dengan posisi miring.

Kalendra pandangi istrinya itu lamat-lamat. Dalam balutan selimut, Kanaya tampak sangat kecil. Tubuhnya rapuh. Seakan jika Kalendra terlalu keras menyentuh, akan membuat istrinya terluka.

Laki-laki itu sedikit membungkuk. Membelai pipi Kanaya penuh kehati-hatian. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah ayu sang istri, Kalendra menarik sudut bibirnya. Membentuk senyum yang entah apa artinya.

"Kau jahat Kanaya. Kau sangat jahat." lirih sang protagonis dengan suara beratnya.

Memejamkan matanya, Kalendra tidak bisa menahan diri untuk tidak bergabung dengan Kanaya. Menaiki ranjang dan mengukung istrinya. Menutupi tubuh ringkih itu dengan badannya yang lebih besar.

Membenamkan wajah pada leher jenjang Kanaya, Kalendra menghirup rakus aroma khas yang selalu membuatnya ketagihan. Sejak dulu. Tidak pernah berubah. Bahkan Kalendra sendiri tidak tahu cara mengatasi kegilaan ini.

"Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?" suara rendah itu hampir tak terdengar.

Menggigit cuping sang istri, bibir Kalendra merambat menuju pipi. Menci-umnya basah hingga menimbulkan suara decaapan. Ia lakukan hal yang sama di seluruh wajah Kanaya dengan bertubi-tubi.

Di tengah kegiatannya, saat laki-laki itu tengah menikmati setiap sentuhan yang dia berikan pada Kanaya, tiba-tiba ingatan buruk itu hadir. Ingatan yang membuat Kalendra mengutuk perasaannya yang terlalu naif. Logikanya yang tak pernah berjalan saat dia berada di dekat Kanaya. Hatinya yang selalu berkhianat. Membuat Kalendra tak berdaya. Kalah telak dengan perasaannya sendiri.

Kanaya menggeliat. Mungkin, dia merasa tak nyaman karena merasakan beban berat yang menimpa badannya. Mengerjakan mata, perlahan indra penglihatannya itu terbuka. Menyadari ada orang yang menindih tubuhnya, bola mata Kanaya melotot kaget. Figuran itu hampir akan berteriak jika Kalendra tidak buru-buru membekap mulut sang istri menggunakan telapak tangan besarnya.

"Diam." tekan Kalendra serak.

Tampak Kanaya mendesis kesal. Menyingkirkan tangan sang suami dari mulutnya, perempuan itu melayangkan tatapan nyalang.

"Kau---" Kanaya berusaha menghempas badan besar berotot Kalendra dari atas tubuhnya.

"Menyingkir dari tubuhku."

Kalendra sama sekali tak bergerak. Tenaga Kanaya tidak ada apa-apanya, membuat bibir laki-laki itu berkedut.

"Lemah." Kalendra semakin menempelkan tubuhnya pada Kanaya. Mendekatkan wajah pada istrinya, dia berbisik rendah. Membuat wajah sang istri memerah dengan rahang yang mengencang.

"Tikus kecil tak berdaya sepertimu, hanya ditakdirkan untuk kalah. Di sini. Di bawahku. Dalam kendaliku."

Mata mereka saling bertubrukan. Sama-sama menyelami netra penuh berkabut kerumitan. Mencari jawaban yang selalu membuat hati merasa tak nyaman.

"Kenapa setiap aku melihat tatapan itu, hatiku selalu saja merasa sesak?"

Setegang posisi mereka saat ini, nafas Kalendra mulai memberat. Pandangannya turun menuju bibir Kanaya. Menatapnya lamat-lamat sebelum akhirnya mengumpat pelan.

Detik selanjutnya, mata Kanaya membulat sempurna. Perempuan itu sontak menahan nafasnya saat tanpa peringatan Kalendra menyabotase bibirnya menggunakan bibir laki-laki itu. Memangutnya kasar. Melu-mat dan menggigit hingga Kanaya meringis kesakitan.

"Emmh..." Kanaya hendak mendorong dada Kalendra yang semakin menggila. Namun tangannya dengan cepat ditangkap oleh laki-laki itu. Kemudian menuntunnya untuk mengalung pada leher sang protagonis.

Seharusnya Kanaya kembali menolak. Atau setidaknya, dia menendang sesuatu di bawah perut Kalendra sebagai bentuk perlawanan. Seharusnya begitu. Namun sialnya, pikirannya seolah dikendalikan. Perempuan itu malah meremas rambut Kalendra. Mendorongnya agar suaminya semakin dalam menci-umnya.

Kanaya telah hilang akal. Ia mengeluarkan lenguhan menjijikkanya saat ciu-man Kalendra berhenti. Beralih pada dagu sang figuran. Menji-latnya seduktif, sebelum akhirnya berganti target menuju bagian paling sensitif dari Kanaya. Leher.

Di luar, hujan semakin deras. Dinginnya hawa, seolah mendukung sepasang suami istri itu untuk melakukan lebih.

Saat tangan Kalendra mulai nakal. Menggerayangi tubuh Kanaya penuh hasrat, semakin naik hingga mencapai dua gundukan besar yang berada di atas perut. Saat keduannya sudah terlena dalam kabut gairah yang menggebu-gebu, sebuah suara menghentikan kegiatan panas itu.

Kruyuk....kruyuk...

Nafas mereka saling beradu. Sama panasnya. Sama terengah-engahnya. Kalendra tatap wajah Kanaya yang sudah merah padam, bukan karena gairah, namun perasaan malu yang mulai menggerogoti. Pandangan protagonis itu turun, menuju perut sang istri. Sumber dari suara sialan itu berasal.

Harusnya Kalendra kesal. Kesenangannya telah terganggu. Tapi melihat bagaimana ekspresi Kanaya saat ini, laki-laki itu tak tahan untuk tidak menyunggingkan senyum geli.

Kalendra menegakkan tubuhnya. Menjauh dari sang istri, kemudian menyugar rambutnya yang berantakan karena remasan dari tangan mungil Kanaya.

"Ini akibat jika kau berlagak sok mogok makan." sindir Kalendra.

"Siapa yang mogok makan? Aku tidak lapar makanya tidak makan." elak Kanaya melengoskan wajannya. Tak kuat menahan malu di hadapan suaminya sendiri.

Kalendra mendengus. "Perutmu telah mengatakan kebenarannya."

"Diam!"

Bibir suami dari Kanaya itu berkedut. Ia menggelekan kepalanya, sebelum akhirnya mengulurkan tangan kepada sang istri.

"Ayo, kau harus mengisi perutmu. Aku tidak mau tikus kecilku mati kelaparan."

"Tidak mau. Kau saja sana yang makan." tolak Kanaya merasa gengsi.

Kalendra berdecak gemas. "Jangan keras kepala."

"Sebaiknya kau berkaca!"

Kanaya hendak menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut. Sayangnya keinginannya itu tidak bisa terealisasikan. Kalendra mengangkat tubuhnya. Menggendongnya seperti koala, membuat Kanaya memberontak. Memukul bahu laki-laki itu yang sama sekali tidak berasa.

"Lepaskan aku. Kau itu suka sekali memaksa."

"Aku sedang berbaik hati malam ini. Jadi sebaiknya diam sebelum aku berubah pikiran dan melemparkanmu ke kandang harimau."

"Ya! Kau harimaunya. Dasar laki-laki me-sum." Kanaya mendengus. "Dan sialnya aku malah menikmati sentuhan itu! Dasar, kau sama saja Kanaya. Apa kau sedang menjilat ludahmu sendiri?!"

Batin Kanaya terus saja menggerutu, merutuki kebodohannya. Namun mau bagaimana lagi? Sudah dia bilang, bukan. Saat Kalendra berada di dekatnya, Kanaya seperti kehilangan kewarasannya. Dia merasa sedang dikendalikan.

Hanyut dalam lamunannya, Kanaya tersadar saat Kalendra mendudukkannya pada stool bar dapur.

"Diam di sini." titah laki-laki itu.

Kalendra menggulung lengan kemejanya. Memakai apron masak dan mulai mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas. Semua itu tak luput dari pandangan Kanaya yang kini sedang bertopang dagu.

"Dia akan memasak? Untukku?"

Entah kenapa. Memikirkan hal itu, membuat hati Kanaya berdebar. Kedua sudut bibirnya gatal ingin melengkung ke atas.

"Astaga, Kanaya. Kendalikan dirimu."

"Kau bisa memasak? Aku takut kau akan membakar dapurmu sendiri." ujar Kanaya asal. Dia harus mengalihkan pikiran konyolnya yang semakin membuat jantungnya berdetak kencang dengan ribuan kupu-kupu seperti berterbangan di dalam perutnya.

Kalendra berhenti memotong wortel. Menatap Kanaya yang perempuan itu tidak tahu apa artinya.

"Kau terlalu meremehkanku. Sejak dulu, itu tidak berubah." laki-laki itu tersenyum miring. "Memangnya apa yang kau ketahui tentangku? Sebaiknya kau diam selagi aku masih bersikap baik."

Kanaya membantu. Lagi-lagi hatinya merasa seperti dicubit. "A--aku hanya bertanya. Kenapa kau mudah sekali tersinggung?"

"Diam Kanaya. Aku harus fokus memasak untuk peliharanku."

Kalendra menyeringai. Seringai yang Kanaya jelas tahu akan mengarah kemana ucapan protagonis itu.

"Tikus kecilku harus makan yang banyak agar dia kuat melayani tuannya."

Kalendra breng-sek!! 

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!