Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Tentang Gavino
Dalam kehidupan manusia, tidak pernah ada sesuatu yang sempurna. Secanggih dan se_modern apapun itu.
Begitu juga dengan sebuah sistem, yang pastinya juga ada kelebihan dan kekurangannya. Karena sejatinya, begitulah kira-kira kehidupan di dunia ini.
Karena yang sempurna hanyalah Tuhan Yang Maha Esa.
*****
Gavino koma. Dia tidak bisa menguasai kekuatan yang sudah dia ambil semalam. Karena sesungguhnya, level 100 yang dia aktifkan adalah level terbesar. Dengan kekuatan sistem yang paling sempurna.
Sedangkan keadaanya, secara fisik maupun mentalnya, belum bisa menerima semua kekuatan tersebut.
Dia hanya terbawa perasaan, dan emosi yang tidak seharusnya dia miliki. Di saat mengaktifkan sistem tersebut.
Super sistem diaktifkan selagi perasaan dan emosi dalam keadaan stabil. Tidak ada perasaan untuk bisa lebih cepat unggul, serakah, ataupun merasa lebih dari segalanya.
Karena itu akan membuat sistem rusak. Bahkan bisa hilang dan tidak lagi bisa diaktifkan.
"Vin, bertahanlah. Kamu pasti bisa melewati semuanya ini dengan kuat." Bianca ada di samping tempat tidur Gavino, dalam keadaan duduk di kursi roda.
Tadi dia diberitahu oleh Dante, tentang keadaan Gavino yang koma. Sehingga dia tidak sabar untuk melihat keadaan orang yang sudah menolongnya semalam.
Di samping tempat tidur Gavino, ada Lorenzo dan Jeffrie yang juga terbaring, sama seperti keadaan Gavino.
Tapi, keadaan luka mereka tidak separah Gavino. Ada Dante yang menunggui mereka, sebelum di urus oleh pihak keluarganya.
Bianca dan yang lain justru belum menghubungi mama dan papanya Gavino.
Mereka lupa jika, mama dan papanya Gavino sekarang sudah berada di kota ini. Karena sebelumnya, mereka semua tahu bahwa, kedua orang tua Gavino memang ada di kota Monte Isola.
Pada saat kedatangan orang tua Lorenzo dan Jeffrie, barulah Bianca tersadar. Kemudian berbicara dengan Dante.
"Dante m Kenapa kita bisa melupakan keberadaan mama dan papanya Vin. Mereka berdua juga ada di kota ini kan?"
Dante menepuk keningnya sendiri, mendengar perkataan yang diucapkan oleh sepupunya itu. "Aduh... Kenapa Aku bisa lupa?"
"Ayo kita hubungi mereka?" Lorenzo memberi usulan.
Tapi telpon mereka tidak tersambung. Bahkan saat diulang kembali. Panggilan tetap saja tidak diterima.
"Tidak ada yang menjawab," ujar Lorenzo memberitahu.
Dante melihat ke arah Bianca. Dia meminta pertimbangan, untuk bisa menghubungi kedua orang tuanya Gavino.
"Bagaimana jika Aku jemput mereka saja?" usul Dante, mengingat bahwa kedua orang tua Gavino batu saja tiba di kota besar Roma ini.
"Baiklah. Aku setuju."
"Aku juga setuju!" sahut Lorenzo, di sat Bianca menyetujui usulan dari sepupunya.
Akhirnya, Dante pamit untuk pergi ke rumah Gavino. Untuk menjemput mama dan papa dari temannya, yang saat ini dalam keadaan Koma.
Di ruangan yang lain, tampak adanya kegaduhan yang terjadi. Karena pihak kepolisian sudah menemukan beberapa informasi dan bukti, yang bisa membuat Alano dan geng mendapatkan hukuman.
Ini juga karena campur tangan dari keluarga Bianca dan Dante. Yang sudah menjadi korban dari ulah mereka.
Apalagi di tempat kejadian, juga ditemukan beberapa senjata api yang tidak terdaftar di instansi terkait. Untuk kepemilikan dan penggunaan senjata api.
Orang tuannya Alano, tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk membela anaknya yang dinyatakan bersalah dan dijadikan tersangka. Dalam beberapa kasus terkait.
Karena sebenarnya, mereka sudah tahu kalau anaknya memang tidak baik-baik saja. Tapi karena rasa sayang yang mereka miliki, justru menutupinya. Dan akhirnya Alano bertambah menjadi-jadi, untuk segala kejahatan yang tidak seharusnya dia lakukan dalam usia yang masih sangat muda.
"Kami akan langsung menahan tersangka, setelah dinyatakan sehat oleh dokter.
"Tapi kami akan tetap membuat penjagaan, supaya mereka semua tidak ada kesempatan untuk pergi atau kabur."
Begitulah keputusan yang diambil oleh pihak kepolisian. Karena melihat keadaan tersangka, yang memang tidak mungkin untuk mereka bawa ke sel tahanan saat ini juga.
"Apa kami bisa memberikan pendampingan dari pengacara Kami?" tanya mamanya Alano, yang masih berusaha untuk meringankan hukuman anaknya.
Dan apa yang dikatakan oleh mamanya Alano, diangguki juga oleh beberapa orang tua dari teman-temannya Alano.
Bagaimanapun kesalahan anak-anak, orang tua tidak mungkin tega. Membiarkan anaknya diberikan hukuman. Dan inilah yang justru membuat sebagian anak-anak yang tidak bertanggung jawab menjadi ketergantungan pada kekuasaan dan kekayaan orang tuanya. Berlindung dari sebuah perasaan kasih sayang yang diberikan oleh orang tuannya.
"Kita lihat proses dari penyidikan selanjutnya." Polisi tadi, memberikan jawaban yang tidak bisa dipastikan.
*****
Di rumah Gavino.
Dante baru saja datang, pada saat kedua orang tuanya Gavino mau pergi.
"Om, Tante. Mau ke mana?"
"Kami mau mencari Gavino. Ke mana dia? Apa Kamu tahu?"
"Bukannya Kamu adalah temannya Gavino semalam, dan Kalian juga pergi bersama-sama semalam. Di mana dia sekarang ini?"
Dante gugup, saat mendapat pertanyaan dari Mirele. Mamanya Gavino.
"Iya. Kamu teman anak kami kan?"
Dante mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Giordano dan Mirele. Tapi dia tidak bisa langsung mengabarkan kepada mereka berdua, jika Gavino ada di rumah sakit dalam keadaan koma.
"Lalu, di mana dia sekarang?" tanya Giordano.
Dia dan istrinya, merasa sangat khawatir. Karena tidak ada kabar tentang anaknya sejak semalam. Setelah dia pergi bersama dengan teman-temannya. Dan membatalkan rencana mereka untuk makan malam bersama.
"Gavin... Gavin ada di rumah sakit."
Giordano dan Mirele terkejut, saat mendengar berita yang mereka dengar.
"Di rumah sakit? Kenapa?" desak Mirele minta penjelasan.
"Dia... Dia koma."
"Apa, koma? Tidak mungkin. Tidak!"
"Anakku adalah anak yang kuat. Dia tidak mungkin sakit. Kamu pasti berbohong!"
Giordano dan Mirele tidak percaya begitu saja, dengan berita yang disampaikan oleh Dante.
"Tadi Bianca sudah berusaha untuk menghubungi Om dan Tante. Tapi tidak ada yang menjawabnya."
Sekarang, Mirele terdiam sejenak. Dia ingat bahwa, tadi handphone miliknya berdering berkali-kali. Tapi karena dia tidak mengenali nomer handphone yang masuk. Dia mengabaikan panggilan telpon tersebut.
Apalagi, dia juga dalam keadaan panik. Memikirkan keadaan anaknya, yang tidak pulang dari semalam.
"Jika Om dan Tante tidak percaya. Saya akan menghubungi Bianca terlebih dahulu. Agar berbicara secara langsung dengan Om dan Tante juga."
Tanpa menunggu jawaban dari keduanya Dante langsung menekan layar handphone miliknya, untuk menghubungi sepupunya. Yang saat ini sedang menunggui Gavino di rumah sakit.
..."Halo Dante. Bagaimana?"...
Di sebrang sana, Bianca langsung bertanya dengan nada cemas. Dia khawatir jika terjadi sesuatu pada kedua orang tua Gavino juga.
..."Om dan Tante tidak percaya, dengan berita yang Aku sampaikan. Kamu bisa bicara dengan mereka berdua sekarang. Untuk mengabarkan keadaan Gavino saat ini."...
..."Baiklah."...
Akhirnya, Dante menyerahkan handphone miliknya. Kepada Giordano dan Mirele. Supaya berbicara sendiri dengan Bianca.