NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: ISMI MULAI DEKAT

#

Pagi itu Dyon bangun jam empat—telat sejam dari biasanya. Tubuhnya masih remuk, rusuk masih nyeri tiap kali napas. Tapi... dia tetep bangun. Tetep paksa diri.

Nggak kerja cuci motor hari ini—Pak Soleh dia kasih tau lewat SMS kalau dia sakit. Pak Soleh cuma bales: "Istirahat yang cukup ya, Nak. Semoga cepat sembuh."

Orang baik masih ada. Dikit. Tapi ada.

Dyon mandi air dingin—gigil, tapi dia tahan. Pake seragam yang sama—belum sempet nyuci, jadi ya masih bau keringetan dikit. Tapi udahlah. Ditutup-tutupin pakai minyak wangi sachet yang dia beli Rp 1.000 di warung.

Berangkat ke sekolah jalan kaki. Pelan. Setiap langkah bikin rusuk nyeri—tapi dia tetep jalan. Nggak ada pilihan lain.

Sampai di gerbang sekolah, dia lihat mereka.

Arman. Edward. Sulaiman.

Berdiri di tempat biasa—deket gerbang, ngrokok sembunyi-sembunyi di balik tembok. Mereka lihat Dyon. Senyum miring.

Jantung Dyon langsung dag-dig-dug. Tangannya ngepal—bersiap. Kalau mereka nyerang lagi...

Tapi... nggak.

Arman cuma ketawa—keras, ngejekin. "Wah, bangke ini masih hidup! Gue kira udah mati di gudang!"

Edward nyengir. "Kayak kecoa emang. Susah mati."

Sulaiman diem aja. Nonton. Ada... sesuatu di matanya. Ragu? Bersalah? Tapi cuma sedetik. Terus dia alisnya naik, senyum ikutan—meskipun senyumnya kayak dipaksa.

Dyon jalan terus. Nggak nengok mereka. Nggak jawab. Cuma jalan—masuk sekolah, ke kelas.

Duduk di bangku paling belakang. Meja yang udah dicoret-coret "DYON SAMPAH" pakai spidol. Dia usap pakai tangan—nggak ilang. Ya udah. Biarin.

Buka buku pelajaran. Matematika. Integral. Nggak ngerti. Angka-angka kayak alien di matanya.

Tapi dia tetep baca. Tetep coba pahamin. Karena... apa lagi yang bisa dia lakukan?

Bel istirahat pertama bunyi. Anak-anak pada keluar—berisik, berebut ke kantin. Dyon tetep duduk. Perut keroncongan sih—tapi dia tahan. Masih ada uang Ismi—tapi dia nggak mau boros. Mending ditabung buat bayar listrik gubuk.

Dia buka buku lagi. Coba fokus.

"Dyon."

Suara lembut dari depan.

Dyon ngangkat kepala.

Ismi.

Berdiri di depan meja, pegang kotak makan plastik warna pink. Senyum tipis—malu-malu.

"Ismi?" Dyon berdiri cepat—terus meringis, rusuk protes. "Kamu... kamu kenapa ke sini?"

"Aku... aku bawain bekal," kata Ismi pelan. Mukanya merah—kayak malu. "Tadi pagi aku masak extra. Buat... buat kamu."

Dyon terdiam. Nggak tau harus bilang apa.

Ismi taruh kotak makan di meja Dyon. Buka tutupnya—nasi putih pulen, ayam goreng yang masih anget, tumis kangkung, telur dadar. Wanginya... astaga, wanginya bikin perut Dyon langsung bunyi keras.

"Ismi... ini... ini banyak banget—"

"Makan aja," Ismi potong. Dia tarik kursi sebelah Dyon—duduk. Dekat. Jarak cuma beberapa senti. "Kamu... kamu kurus, Dyon. Harus makan yang banyak biar cepet sembuh."

Dyon lihat makanan itu. Terus lihat Ismi. Matanya panas—mau nangis lagi.

"Kenapa... kenapa kamu baik banget?" bisiknya.

Ismi senyum lebar—hangat. "Karena... karena aku peduli."

Peduli.

Dyon ambil sendok dengan tangan gemetar. Mulai makan—pelan. Nasi masuk mulut—lembut, gurih. Ayam goreng renyah di luar, lembut di dalam. Enak. Enak banget.

Dia nggak sadar air matanya ngalir—turun ke pipi, netes ke nasi.

"Eh, kenapa nangis?!" Ismi panik. "Nggak enak ya? Maaf, aku... aku masih belajar masak, mungkin—"

"Enak," Dyon potong. Suaranya serak. "Enak banget, Ismi. Ini... ini makanan paling enak yang pernah aku makan."

Ismi tersenyum lega. Tangannya ngelap air mata Dyon pakai ujung jilbab—lembut. "Kalau gitu makan yang banyak. Nggak usah nangis."

Dyon makan sambil sesekali ngelap mata. Ismi cuma nonton—senyum kecil, seneng liat Dyon makan.

Dari pojok mata, Dyon sadar... ada yang nonton mereka.

Anak-anak kelas sebelah. Bisik-bisik. Ada yang nunjuk-nunjuk. Ada yang ketawa kecil.

"Eh, liat tuh... Ismi duduk sama Sampah."

"Gila, dia kenapa sih? Kasihan banget."

"Mungkin lagi main-main doang. Nggak mungkin lah serius."

Dyon dengar semuanya. Dadanya sesak—malu, marah, sedih campur jadi satu.

Tapi Ismi... Ismi kayak nggak denger. Atau pura-pura nggak denger. Dia tetep duduk di sana—tenang, senyum.

"Ismi," kata Dyon pelan. "Kamu... kamu nggak malu duduk sama aku?"

Ismi nengok—bingung. "Malu? Kenapa harus malu?"

"Karena... karena aku ini sampah. Kamu... kamu anak orang kaya. Cantik. Pintar. Kamu... kamu nggak pantas—"

"Diam," Ismi potong—tegas tapi lembut. Matanya natap Dyon dalam-dalam. "Jangan pernah bilang kamu nggak pantas. Manusia itu sama di mata Allah, Dyon. Yang beda cuma takwanya. Dan aku... aku yakin takwamu jauh lebih baik dari orang-orang yang ngaku sholeh tapi hatinya busuk."

Dyon terdiam.

Ismi senyum lagi. "Lagipula... aku suka duduk sama kamu. Kamu... kamu beda. Kamu jujur. Nggak pura-pura."

Hati Dyon... hangat. Hangat banget sampe dadanya sesak.

Mereka ngobrol—pelan, santai. Tentang pelajaran. Tentang guru yang galak. Tentang hal-hal kecil yang bikin Dyon ketawa—pertama kalinya ketawa beneran sejak lama.

"Eh, Dyon," kata Ismi tiba-tiba. Mukanya serius. "Kamu... kamu punya cita-cita nggak?"

Dyon berhenti kunyah. Cita-cita?

"Dulu... dulu aku pengen jadi arsitek," jawab Dyon pelan. Matanya kosong—ngeliatin langit-langit kelas. "Pengen bangun rumah-rumah bagus. Pengen... pengen bangun rumah buat orang-orang miskin kayak aku. Gratis. Biar mereka nggak tidur di gubuk lagi."

Ismi tersenyum—mata berbinar. "Bagus banget! Terus kenapa sekarang nggak?"

"Karena... karena itu mustahil," Dyon tertawa pahit. "Arsitek butuh kuliah. Kuliah butuh uang. Uang... aku nggak punya. Jadi... jadi mimpi itu cuma mimpi. Nggak akan pernah jadi kenyataan."

Ismi geleng keras. Tangannya pegang tangan Dyon—erat.

"Nggak ada yang mustahil, Dyon," katanya tegas. Matanya serius. "Kamu cuma perlu percaya sama dirimu sendiri. Allah nggak akan sia-siain usaha orang yang berjuang. Kamu... kamu harus terus berusaha. Terus berdoa."

"Tapi—"

"Nggak ada tapi," Ismi senyum. "Aku percaya sama kamu. Kamu... kamu pasti bisa."

Dyon menatap Ismi lama. Mata cewek ini... penuh keyakinan. Penuh... harapan.

Dan entah kenapa... Dyon mulai percaya juga.

"Kamu?" tanya Dyon. "Kamu punya cita-cita apa?"

"Dokter," jawab Ismi cepat. Mukanya berseri. "Aku pengen jadi dokter. Pengen nolong orang-orang yang sakit. Terutama... terutama yang nggak punya uang buat berobat. Aku pengen mereka tetep bisa sehat meskipun nggak punya apa-apa."

Dyon senyum—tulus. "Kamu... kamu pasti jadi dokter yang hebat."

"Kita berdua," Ismi pegang tangan Dyon lebih erat. "Kita berdua pasti berhasil. Kamu jadi arsitek. Aku jadi dokter. Terus kita... kita bantu orang-orang yang susah. Bareng-bareng."

Bareng-bareng.

Kata itu bikin hati Dyon penuh. Kayak ada yang ngisi ruang kosong yang udah lama banget nggak tersentuh.

Mereka senyum—bersamaan. Tanpa sadar, jari-jari mereka masih bertautan di atas meja.

Dan saat itu...

Dyon ngerasa.

Ngerasa ada cahaya.

Cahaya pertama di hidupnya yang gelap gulita.

Cahaya bernama Ismi.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi cahaya itu terlalu terang. Dan di dunia penuh kegelapan ini—cahaya yang terlalu terang selalu jadi target pertama untuk dipadamkan.*

1
sitanggang
ternyata lemah 👎👎👎👎
checangel_
Tak semudah itu Edward, ingat! orang baik pasti menang 🤝
checangel_
Hebat Dyon /Applaud/
checangel_
Wah, perumahan bersubsidi 🤧/Good/
checangel_
Sekarang sekolahan berbasis ramah anak semua/Good/
checangel_: No comment lah /Silent/, cukup sekian dan terima tahu /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Gimana rasanya makan bebarengan begitu? nikmatnya tiada banding, sekelas resto mewah /Good/
checangel_
Yap, zaman sekarang yang di cari memang keterampilan, tapi tahulah ....🤧
checangel_
Yap, kejujuran adalah harga yang tidak bisa dibayar dengan uang 🤝
checangel_
Jarang ada loh, orang yang setulus Pak Hendra ini 🤧
Dri Andri: hanya sekedar motivasi dan inspirasi aja kak.. yang asli real yang itu
total 7 replies
checangel_
Efek membela kebenaran, diri sendiri pun terbuangkan /Sob/
checangel_
Apakah dunianya sebohong itu?🤧
checangel_
Baik banget sih Leornad 🤧, teman bukan sekadar teman biasa, tetapi kamu juga pengacara luar biasa 🤝
checangel_: 💯/Good/
total 3 replies
checangel_
Tunjukan pesonamu Dyon, jangan biarkan koruptor menggema dalam pondasimu 🤝
checangel_
Dunia kerja memang seperti itu, ada aja yang dengki
checangel_
Ketika pondasi yang terlihat kuat, tapi bisa rapuh karena sebuah ancaman 🤧
checangel_
Dyon, kamu dermawan sekali 🤧
checangel_: آمين
total 6 replies
checangel_
Roda yang selalu berputar 🤧
checangel_: 🤭/Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Pertahankan janji itu ya Sulaiman, ingat! janganlah selalu menatap langit, jika posisimu sudah berada di tingkat yang layak, karena di balik pertahananmu ada teman yang selalu mendukungmu🤝/Smile/
Dri Andri: ya begitulah.. maklum manusia yang tak lukut dari kesalahan
total 10 replies
checangel_
Iya benar tuh, orang yang jujur itu susah dicari di zaman sekarang🤧
Dri Andri: benar... yang bicara jujur pasti ada maksud tertentu dan mungkin nantinya gak ada bukti nya


TONG KOSONG NYARING BUNYI NYA
total 1 replies
checangel_
200 JT itu, uangkan? Ke-kenapa harus sebanyak itu?🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!