"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.
"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.
"Gak akan!"
"Berani apa?"
"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.
"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
017
017
Aleta
"Terima kasih, Aksa."
.....
Malam ini cuacanya cukup cerah. Bintang dan bulan saling menyapa dan menampakkan sinar indahnya. Aksa, cowok itu sedang berjalan tergesa-gesa menuju rumah Aleta. Entahlah, tapi perasaannya kurang enak malam ini.
Dengan lihai cowok itu memanjat rumah Aleta dan sampai pada balkon kamarnya. Alis Aksa berkerut heran saat melihat kamar Aleta yang telah gelap. Dilihatnya jam yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. Pukul 20.16. Masih sangat sore bagi Aleta untuk tertidur.
Walaupun sedikit ragu, Aksa tetap memberanikan diri untuk mengetuk pintu balkon Aleta.
Tok tok tok
Tak ada sahutan dari dalam sana yang membuat pikiran Aksa semakin kalut. "Pasti ada sesuatu yang tidak beres," pikir Aksa. Dengan sedikit keras Aksa kembali mengetuk pintu kaca itu.
Tok Tok Tok
"Aleta?!" panggilnya pelan, namun tetap tak menghasilkan sahutan dari dalam sana.
"Aleta, please open the door for me!"
"Aleta, gue tau lo di dalam. Jangan buat gue khawatir."
Kali ini Aksa bersuara sedikit keras. Ia tak peduli jikalau ayah Aleta akan mendengarnya. Ia benar-benar khawatir dengan Aleta.
"Oke. Aleta buka pintunya atau gue dobrak? I really mean it will destroy that door!"
"Gue hitung sampe 3 nih. Satu.."
Aleta belum meresponnya sama sekali. Aksa memilih mundur dua langkah.
"Dua," katanya sedikit gemas karena Aleta masih belum meresponnya. Kini cowok itu sudah mengambil kuda-kuda siap mendobrak pintu kaca milik Aleta, ya walaupun ia tahu kaca itu tak mungkin pecah.
"Ti-"
Clek
Bunyi pintu terbuka berhasil menghentikan Aksa. Cepat-cepat cowok itu mendekat kepada Aleta. Sedangkan Aleta memilih menunduk dengan rambut tergerai menutup wajahnya.
"Aleta, are you okay?" tanya Aksa lembut penuh kekhawatiran.
Aleta hanya mengangguk lemah sebagai respon. Namun, sedetik kemudian bahunya bergetar diiringi dengan suara sesegukan yang berhasil membuat Aksa kelimpungan dan cepat-cepat memeluknya.
"Hey, ada gue disini. Cerita ada masalah apa?" Aksa berkata sambil mengusap rambut Aleta lembut. Namun, Aleta tetap diam sambil terisak pelan.
"Oke, gue tunggu sampai lo baikan. Nangis sepuas lo, Ta. Gue temenin disini."
1 jam kemudian..
Aleta menginjakan kakinya ke luar kamar menuju balkon. Kedua tangannya memegang nampan berisi teh hangat dan juga sedikit camilan. Perasaannya sudah cukup baik setelah satu jam menangis dipelukan Aksa.
"Diminum ya, Sa," perintah Aleta sambil meletakkan nampan di dekat Aksa.
Aksa mengangguk mengiyakan. Kemudian ia berusaha duduk di sebelah Aksa dan nampan sebagai pemisah.
Dengan pelan cewek itu menoleh ke kiri, di mana Aksa duduk di sampingnya. Senyum tipis mengembang dibibir pucatnya. "Thanks ya, Sa. Lo udah mau sabar temenin gue nangis."
Aksa ikut menoleh hingga mereka saling memandang. "Gue sayang sama lo, jadi gue gak akan biarin lo sedih," ucapnya sambil tersenyum sendu.
"Gue gak tau harus gimana sama apa yang lo rasa." Aleta berkata seperti itu sembari memandang langit yang penuh bintang.
"Kamu itu kayak bintang, Sa. Dan aku langit malamnya. Kamu selalu ada buat hiasin hari aku bikin lebih indah. - "
"Dan gue tau, lo gak mungkin suka gue kan, Ta?" potong Aksa cepat yang berhasil membuat Aleta mengerutkan dahinya bingung.
"Maksud lo apa?"
Aksa memilih meminum teh yang disediakan Aleta sebelum berbicara. Diletakkan gelas itu dengan pelan. Dan mata cowok itu terus memandang langit yang terang karena bulan.
"Kalau lo langit malam, sedangkan gue bintang, lo gak akan tertarik sama gue meskipun gue muncul setiap malam. Kenapa?" Aksa menjeda ucapannya sambil memandang mata Aleta sendu. "karena di atas sana ada bulan yang mampu membuat langit malam lebih indah. Yang mampu membuat bumi lebih terang meskipun bulan hanya sendiri," lanjutnya sambil menunjuk bulan yang malam ini bersinar cukup terang.
"Sa, gue ... gak ngerti maksud lo ngomong itu apa?"
Aksa tersenyum miring, "Lo suka cowok lain. Yang lebih terang daripada gue."
"Sa, kita gak akan rusak persahabatan kita kan? Lo sendiri yang janji gak akan maksa gue," kata Aleta sedikit marah. Ia takut Aksanya pergi. Ia tak ingin lebih dari ini dengan Aksa karena ia tak mau kehilangan sahabatnya. Disini hanya Aksa yang ia punya.
"Gue tau. Tapi, please jauhin Elvan."
Aleta mengernyit bingung. "Lo cemburu sama Elvan?"
Aksa geram dengan pemikiran Aleta, siapa juga yang cemburu dengan cowok itu? Dia hanya khawatir Aleta terluka jika mengetahui fakta yang membuat Elvan mendekatinya. Ya meskipun cemburu itu ada sedikit.
Aksa mengusap wajahnya kasar, "Gue gak sekekanakan itu. Gue cuma mau lo gak sakit hati karena dia."
"Oh, tenang aja. Gue gak suka kok sama dia. Level cowok gue kan kayak elo, Sa. Yang baik ganteng pula hehehe."
Tanpa disadari ucapan Aleta berhasil membuat detak jantung Aksa memacu cepat. Apa tadi katanya? Cowok yang ia suka seperti Aksa? Ah, rasanya Aksa melayang terbang.
"Sa?" panggil Aleta pelan, namun tak menghasilkan sahutan.
"Aksa kok bengong?" tanyanya sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Aksa.
"Aksa!!" panggil Aleta keras sambil menggoyangkan bahu Aksa kasar.
"Eh, kenapa?" tanya Aksa gelagapan.
"Lo kesambet apa sih? Gue panggil dari tadi juga!" ucap Aleta marah. Bibirnya dimanyunkan dengan kedua tangan bersidekap di depan dada.
Aksa terkekeh geli melihat ekspresi Aleta. Dengan gemas, dicubitnya bibir Aleta pelan. "Kayak ikan tau gak?" ucap Aksa geli.
"Ih Aksa nyebelin!" gerutu Aleta dengan memegang bibirnya.
"Hehehe maap."
"Gak, pokoknya lo harus dicubit!" kata Aleta yang langsung bangun dari duduknya dan berpindah ke belakang Aksa.
"Rasain!" ejeknya lalu mencubit kedua pipi Aksa keras.
"Eh, Ta! Ya Allah, Aleta!! Sakit oy!" teriak Aksa sambil berusaha menyingkirkan tangan jahil Aleta dari pipinya. Namun, usahanya sia-sia dan justru membuat cubit Aleta semakin keras.
"Syukurin! Makanya jangan jahil." Aleta tertawa pelan sebelum melepas pipi Aksa. Lalu ia memilih duduk dekat dengan Aksa di sisi kanan.
"Puas?" tanya Aksa sambil mengusap kedua pipinya yang memerah.
"Sangat puas!" jawab Aleta riang. Bahkan kedua tangannya direntangkan lebar.
"Dasar!" kata Aksa sambil mengacak-acak rambut Aleta gemas. Dan menghasilkan gerutuan ringan dari Aleta.
"Eh iya, besok sore lo pulangnya cepetan ya! " suruh Aksa mangingat besok siang mereka akan mengadakan turnamen senjata.
"Ha, kenapa?" tanya Aleta bingung. Biasanya Aksa tidak mengaturnya untuk pulang cepat atau telat.
"Gue sama anak-anak ada tawuran. Jadi-"
"Gak boleh!" tolak Aleta sedikit berteriak dan melotot tajam. "Lo mau terluka? Lo mau jelekin nama sekolah kita?"
"Ta, kalau kita gak terima nama sekolah kita justru tercoreng," bela Aksa karena memang benar, jika mereka menolak pasti akan dikatakan pengecut.
"Gak gini caranya, Sa. Ini bahaya, bisa nimbulin korban," kata Aleta masih tidak setuju.
"Terserah deh. Tapi gue gak bisa, Ta. Ini semua kesepakatan dan Elvan udah atur rencana. Gavin dan gue juga udah buat strategi bagus kok jadi lo tenang aja." Aksa tersenyum manis seolah meyakinkan Aleta bahwa mereka akan baik-baik saja.
"Gue pulang dulu ya? Good night, my lady."
Aleta tak menjawab ucapan selamat malam dari Aksa. Ia hanya mampu diam memikirkan apa yang akan terjadi esok. Haruskah dia menghentikannya? Atau ia pulang saja seperti perintah Aksa?
Entahlah, saat ini Aleta bingung. Matanya masih memandang punggung Aksa yang semakin menjauh menuju gerbang rumahnya dan kemudian hilang tepat di depan rumah sebelah.
"Sepertinya menghentikan lebih baik."
........
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉