Kisah ini menceritakan dua pria tampan yang sedang mengejar cinta seorang dokter galak dan cantik.
Jingga Pramudita seorang dokter Obgyn (obstetrics and gynecology) berusia 29 tahun. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, Jingga masih menyandang status single dan takut untuk menikah.
Di waktu yang sama, tiba-tiba ada dua pria tampan sedang mengejarnya. Namun, Jingga tak menghiraukannya karena dia masih belum percaya akan namanya cinta dan laki-laki.
Akankah ada dari salah satu mereka yang bisa menaklukkan hati seorang Jingga pramudita, atau justru ditolak semua?
Ikuti kisah mereka hanya di mengejar Cinta dokter galak.
Sebelum membaca novel ini, lebih baik baca dulu novel pendahulunya dengan judul berbagi cinta : aku tak mau dimadu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Di suatu tempat dengan cahaya remang-remang, terlihat seorang pria tengah tersenyum puas melihat dia telah berhasil mencelakai orang yang di cintai oleh Angkasa.
“ Bagaimana Angkasa? Itu hukuman bagi kamu karena sudah berani-beraninya menyembunyikan identitas aslimu dariku!” Pungkas pria misterius yang dipanggil dengan mister L.
Beberapa hari yang lalu, dia baru mengetahui bahwa Angkasa adalah dalang di balik gagalnya rencananya. Dia tidak mengira bahwa putra manja itu hanya berpura-pura bodoh di depannya, tapi ternyata dia sangat pintar. Apalagi dalam meretas dan memalsukan data, sehingga dia tak bisa menjual dokumen penting perusahaan.
“ Ingat Angkasa, kamu dulu yang menyodorkan bendera perang! Jadi, jangan salahkan aku jika melakukan sesuatu di luar kendali. Karena aku akan menyingkirkan orang yang berani mencampuri urusanku!” tandas mister L dengan tatapan tajam.
Mister L juga sedang mengatur strategi baru untuk menyingkirkan Angkasa. Awalnya dia menganggap remeh pria manja itu, tapi ternyata sekarang dia justru penghalang terbesarnya untuk memiliki harta Hanjaya.
...🌹🌹🌹...
Di tempat lain, terlihat Elia, Runi, Simon, Haikal, dan Reno sedang berkumpul bersama untuk memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa segera menemukan Jingga. Tidak biasanya Jingga menghilang tanpa kabar seperti ini.
Elia mencoba menenangkan Runi yang terus menangisi Jingga. Hormon kehamilan mungkin membuat dia lebih mudah menangis jika terjadi sesuatu, bahkan nonton film yang palsu saja membuat Runi menangis sesenggukan.
“ Sudah, Run. Jangan nangis terus, nanti bayi kamu juga ikut stress karena bundanya nangis terus,” ujar Elia seraya mengusap Pundak Runi.
“ Aku tu sedih dan khawatir tau, El. Emangnya kamu nggak sedih apa sahabat kita hilang dan nggak ada kabar sampai sekarang?” tanya Runi di sela-sela tangisnya.
“ Tentu saja, aku juga merasa sedih dan khawatir. Tapi, menangis juga tidak akan menyelesaikan masalah, Run, “ ucap Elia lembut. Lalu , Runi mulai tenang dan berhenti menangis.
Setelah kondisi tentang, mereka mulai membahas rencana untuk mencari dimana keberadaan Jingga saat ini. Mereka berlima akan berpencar untuk mencari di mana keberadaan Jingga agar cepat menemukannya.
" Kalau begitu, kita mulai beraksi besok. Karena ini sudah terlalu malam," pungkas Reno.
" Kok besok?" seru Elia dan Runi bersamaan.
Mereka berdua sudah sangat khawatir bagaimana keadaan Jingga saat ini, tapi Reno justru mengatakan mereka akan memulai rencana mencari Jingga lagi besok.
" Iya sayang, ini sudah malam. Apalagi kamu sedang hamil tua, tidak boleh terlalu capek," ungkap Reno.
" Tapi Jingga___"
" Jingga adalah wanita dewasa yang pandai ilmu bela diri. Dia pasti akan baik-baik saja, mungkin saat ini dia sedang main petak umpet atau bagaimana," potong Reno.
Dengan wajah kesal, Runi menoel kepala Reno.
" Main petak umpet? Kamu kira Jingga anak kecil? Lagian, buat apa dia main petak umpet? Meskipun Jingga jago bela diri, dia tetap saja wanita. Gimana kalau___"
" Sudah kak, Run. Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi," sela Simon dan di jawab anggukan serempak dari semua orang.
Sebenarnya semua juga khawatir dengan Jingga, mau lapor polisi belum bisa karena hilangnya belum ada 2 x 24 jam. Seharian ini, mereka semua juga sudah berusaha mencari, namun nihil. Tak menemukan titik terang dimana keberadaan Jingga saat ini.
" Karena Runi hamil besar, gimana kalau kita berdua saja yang mencari?" tanya Elia seraya menatap suaminya penuh harap.
Dia benar-benar tak tenang jika belum mengetahui bagaimana kabar Jingga sekarang. Apakah dia baik-baik saja? Atau justru sebaliknya?
" Sayang, kita juga butuh istirahat. Kamu saja tadi, sudah sempat pingsan akibat terlalu kecapekan. Kita berdoa saja, ya. Semoga kak Jingga baik-baik saja. Besok baru kita cari lagi," pungkas Simon.
Tadi siang, Elia memang sempat pingsan saat masih mencari Jingga. Bagaimana tidak capek, selama honeymoon mereka terus-terusan olah raga panas dan juga jalan-jalan, di tambah sesampainya di kota B langsung pergi mencari Jingga sampai belum sempat istirahat terlebih dahulu. Jadi, membuat tubuh Elia drop.
" Kalian tenang saja, Malam ini biar aku sajq yang cari kak Jingga. Lagian juga aku jomblo sekaligus sedang mengejar cintanya. Hitung-hitung mencari calon istri yang hilang," pungkas Haikal.
" Calon istri?" seru Simon, Elia, Runi, dan Reno bersamaan.
" Emangnya yakin sudah diterima? Kok sudah berani-beraninya bilang calon istri! Kalau sampai Jingga denger, habis kamu! "ketus Runi.
Dia tahu sekali bagaimana sifat sahabatnya itu. Selama ini, dia selalu saja menyingkirkan para pria.yang datang mendekatinya. Itu semua bukan tanpa sebab, melainkan ada rasa trauma yang begitu dalam di hati Jingga. Entahlah sampai kapan dia akan bersikap seperti itu, dan mau membuka hatinya kembali.
" Ya, namanya juga berusaha," ungkap Haikal.
" Kalau masih berusaha, namanya pengejar!" tandas Runi.
Bicara dengan ibu hamil tua yang mudah emosi dan sensitif memang harus penuh kesabaran. Karena salah sedikit, bakalan salah dan di ingat terus. Begitulah wanita menurut Haikal.
Setelah itu, Runi pamit untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu, begitupun dengan Haikal yang tetap pergi mencari Jingga.
Selesai membersihkan diri, Elia dan Simon membaringkan tubuh mereka di atas kasur. Beberapa menit kemudian, Elia masih saja terlihat gusar. Matanya belum juga bisa terpejam, karena pikirannya terus memikirkan Jingga.
" Kamu belum tidur, sayang?" tanya Simon saat melihat istrinya masih terjaga.
Elia mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke arah Simon. " Aku nggak bisa tidur!"
" Masih kepikiran soal Kak Jingga?" tanya Simon yang di angguki oleh Elia.
Simon hanya bisa menghela nafas panjang. Dia benar-benar salut dengan persahabatan Elia, Runi dan Jingga yang terlihat seperti keluarga. Mereka sangat peduli dan saling menyayangi satu sama lain.
Simon menenggelamkan kepala Elia ke dalam dada bidangnya. Lalu mengusap pelan puncak kepala istrinya guna menenangkan dan menidurkannya. Sejak menikah jika Elia sesang tak bisa tidur, Simon akan melakukan hal ini. Dan, itu sangat manjur bagi Elia. Dalam sekejap dia akan tertidur, aroma tubuh serta pelukan hangat dari Simon, sudah seperti obat tidur bagi Elia.
Dia yang dulu sering mengalami insomnia, kini sudah tak lagi pernah merasakan hal itu. Tidurnya juga lebih berkualitas dan nyenyak.
...🌹🌹🌹...
Hari demi hari telah berlalu, kondisi tubuh Jingga sudah mulai membaik. Anggota tubuhnya kini sudah bisa digerakkan semua. Akhirnya dia bisa bernafas lega dan bisa segera bebas dari pria ini. Selama dua hari ini, Jingga benar-benar telah menahan emosi dan kesabarannya.
Selama tubuhnya lumpuh, dia sudah seperti boneka hidup yang diam dan patuh saja ketika Angkasa memegang pipinya. Untung saja, dia tak berani berbuat macam-macam, kalau tidak ___ bakalan habis ketika Jingga sudah pulih.
" Kamu sudah bangun?" tanya Angkasa dengan membawa sebuah nampan berisikan makanan.
" Em," jawab Jingga datar.
" Sarapan dulu, ya. Karena sebentar lagi Doni akan datang membawakan obat lagi," ujar Angkasa seraya meletakkan nampan di atas nakas dekat ranjang.
" Bukankah kondisiku sudah membaik? Lalu kenapa masih di suntikkan obat?"
" Aku juga tidak tahu. Aaa ... ," Angkasa menyodorkan sendok berisi makanan di depan Jingga guna menyuapinya.
" Aku tidak mau makan!"
" Kenapa?"
" Karena aku maunya pulang. Jadi, tolong bukakan pintu otomatis itu! "pinta Jingga.
" Kamu makan dulu, setelah itu baru aku antar pulang! "
Jingga benar-benar merasa kesal dengan sikap Angkasa yang terus menahannya untuk tetap tinggal di tempat ini. Andai, dia tahu bagaimana cara membuka pintu otomatis itu. Pasti dia sudah keluar dari kemarin. Jika tidak ingat kalau Angkasa yang sudah menolong dan merawatnya, mungkin Jingga sudah menghabisinya sejak awal.
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote, dan hadiahnya.
Gimana? Sudah ada yang bisa menebak siapa pria misterius itu?
banyak contoh laki² yg baik meskipun dia banyak uang, sangat menghargai.wanita
peran wanitanya bisa memberikan contoh yg baik bagi pembaca dewasa, tidak gampang
kalau pembacanya punya sifat hampir spt peran wanitanya pasti senang
Lanjut dong Thor..nanggung amat siih/Angry//Drool/
di tunggu kelanjutan nya thor biar ga bingung kitaah.
mantap nih visualnya ...😍😍