"Oh My God!! Pasti aku bermimpi, siapa pria tampan itu? Kenapa mukanya mirip sekali dengan aktor idolaku, Luhan?"
"Sebaiknya jaga matamu, Cinta Su!!"
"Doakan saja semoga hatiku tidak goyah, lagipula siapa yang bisa menolak seorang Tuan Muda dari keluarga kaya raya, apalagi wajahnya sangat tampan dan mirip idolaku, Luhan. Bukankah kita sebanding, apalagi banyak yang mengatakan jika aku mirip dengan Jessica Jung!!"
Cinta adalah putri bungsu dari keluarga "Su" sejak kecil dia jatuh cinta pada seniornya yang bernama Steven, namun kedatangan pria tampan dari keluarga Qin menggoyahkan perasaan Cinta untuk sang senior.
Cinta terjerat pesona dan kelembutan si Tuan Muda yang terkenal dingin dan arogan. Mampukah Cinta mempertahankan perasaannya pada Steven, atau justru dia benar-benar berpaling pada Aiden?
Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Bukan Gadis Lemah
Keputusan Aiden membawa Cinta pulang kekediaman keluarga Qin, entah sebuah keputusan yang tepat atau salah. Sejak menginjakkan kakinya di rumah itu semalam, tatapan tak suka jelas sekali Kakek Qin tunjukkan padanya.
Sifat yang Kakek Qin tunjukkan pada Cinta sangat berbanding balik dengan sebelum dia kenal dan berhubungan dengan cucunya, Aiden.
Dulu Kakek Qin sangat hangat dan begitu menyukai Cinta, tapi sifatnya kini berubah 180°.
Bukannya merasa tersinggung, Cinta justru merasa tertantang dengan sikap si Kakek. Bahkan dia berani menjawab semua ucapan tajam dan dingin Kakek Qin yang ditunjukkan padanya dengan begitu santai.
Seolah-olah Cinta ingin menunjukkan pada si Kakek, jika dia bukanlah seorang gadis lemah yang mudah untuk ditindas. Pagi ini contohnya, Kakek Qin memarahinya karena kopi buatannya sangat asin.
"Sebenarnya kau ini bisa membuat kopi atau tidak? Kenapa rasanya sangat asin?!" Bentak kakek Qin marah.
"Maaf ya, Kakek. Tapi aku bukan pelayan di rumah ini. Sejak kecil aku dilayani dan tidak pernah melayani, jadi aku tidak bisa membedakan mana garam dan mana gula." Jawab Cinta dengan santainya.
"Kurang ajar!! Berani sekali kau membantahku!!"
Plakk...
Cinta menahan tangan kakek Qin sebelum menyentuh wajahnya. Dengan santainya Cinta menurunkan tangan si Kakek sambil tersenyum menyebalkan.
"Kakek, wajahku bukan samsak tinju yang bisa dipukul dengan sesuka hatimu. Aku tidak bersalah, jadi aku memiliki hak untuk membela diri. Dan aku kasih tau ya, jika Kakek keseringan marah-marah dan memukul orang. Bukan bibir Kakek saja yang bisa terkena struk, tapi tangan juga." Tuturnya.
"Kau!!" Kakek Qin memegangi dadanya yang tiba-tiba saja sakit. Cinta benar-benar membuatnya terkena mental.
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Marah-marah terus sih, jantungan jadinya. Sebaiknya Kakek duduk dulu dan minum kopinya, rasa asin pada kopi ini bisa meredakan sakit jantung loh."
"Kata siapa kopi campur garam bisa meredakan orang jantungan?!"
"Kataku barusan, sudahlah aku mau membangunkan suamiku dulu. Bye, Kakek." Cinta menggerling kan sebelah matanya dan pergi begitu saja.
.
Cinta mendengus berat saat mendapati Aiden masih tertidur pulas. Gadis itu mendekati pria yang kini telah berstatus sebagai suaminya tersebut, lalu membangunkannya.
"Kak Ai, bangun, ini sudah siang." Ucap Cinta sambil mengguncang lengan terbuka suaminya.
Bukannya menuruti Cinta. Aiden malah menarik lengan gadis itu hingga Cinta jatuh tepat di atas dada bidangnya. "Diam dan biarkan seperti ini. Lagipula ini terlalu awal untuk bangun."
"Tapi Kal Ai, ini sudah siang. Bukankah kau harus bekerja hari ini? Makanya cepat bangun lalu mandi."
"Aku mengambil cuti selama 1 Minggu, kita pengantin baru Nona Muda, jadi mana mungkin aku meninggalkanmu begitu saja. Apalagi kau belum terbiasa dengan suasana dan atmosfer di rumah ini." Tuturnya.
"Kak Ai, kenapa kau begitu romantis? Aku kan jadi terharu."
Aiden menangkup wajah Cinta lalu mencium dan mel*mat singkat bibir ranum kemerahannya. "Ya sudah, aku mandi dulu. Sebaiknya kau siap-siap. Kita sarapan di luar saja."
"Kenapa kita tidak sarapan di rumah saja?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin membuatmu tidak saja." Jawab Aiden.
Cinta tersenyum kemudian menggeleng."Tidak perlu, kita sarapan di rumah saja. Dan Kak Ai tidak perlu khawatir, aku tau bagaimana caranya menghadapi Kakek dan Steven." Cinta mencakup wajah Aiden, meyakinkan pada suaminya jika dia akan baik-baik saja.
"Kau yakin?" Cinta mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Terserah kau saja. Dan bisakah kau menyiapkan pakaian untukku?" Lagi-lagi Cinta mengangguk.
Selepas kepergian Aiden. Cinta pergi ke Walk In Closed milik suaminya itu. Cinta ingin tau apa saja yang ada di dalam ruangan khusu tempat Aiden menyimpan semua barang-barang mewah miliknya.
Puluhan bahkan ratusan kemeja berbagai model dan warna, jas, Vest, celana mulai dari yang bahan sampai denim, t-shirt, tank top, singlet dan cel*na dal*m semua ada di Walk In Closed tersebut.
Tidak cuma pakaian saja yang tersimpan di sana, ada juga sepatu, tas dan koleksi jam tangan mewah pun ada.
Cinta berjalan diantara kain-kain berharga mahal itu. Hari ini Aiden tidak pergi ke kantor, tidak seharunya dia memakai pakaian formal bukan?
Setelah sepuluh menit hanya berputar-putar saja, pilihan Cinta jatuh pada sebuah kemeja berbahan denim lengan terbuka, jeans yang senada dengan warna kemeja denim nya dan tak ketinggalan singlet putih dan cel*na dal*m juga.
Cinta membawa pakaian pilihannya keluar dari ruangan tersebut, dan saat itu Aiden juga keluar dari kamar mandi. Aiden menghampiri istri kecilnya lalu mengambil pakaian di tangannya.
"### Kak Ai pakai ini saja ya?" Ucap Cinta menunjukkan pakaian itu pada suaminya, Aiden mengangguk setuju. Dia tidak menolak pakaian yang Cinta pilihkan untuknya.
Tatapan tidak suka jelas sekali Kakek Qin tunjukkan pada Cinta. Gadis itu dan Aiden baru saja bergabung bersamanya dan Steven di meja makan.
"Apa kalian sengaja ingin membuat kami berdua mati kelaparan karena terlalu menunggu kalian!!" Ucap Kakek Qin dengan sinis.
"Tidak usah membesar-besarkan masalah, Pak Tua!! Ini hanya masalah sepele saja, lagipula sudah sangat biasa aku datang paling akhir. Dan jika kau lapar, kenapa tidak langsung makan saja?!"
"Paman, kau ini apa-apaan, seharunya kau bersikap sopan pada Kakek buyut, dia hanya~"
"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur!!" Aiden menyela cepat. Sorot matanya dingin dan tajam ketika menatap Steven.
"Kenapa kau jadi kurang ajar begini, Ai? Sejak kau mengenal gadis ini, sikapmu pada Kakek menjadi~"
"Berhenti menjadikanku sebagai kambing hitam, Kakek!! Aku sungguh tidak tau apa-apa, kenapa kau malah melimpahkan semua masalah padaku? Apa sebegitu tidak sukanya Kakek padaku? Hiks, aku kan jadi sedih." Cinta menghapus air mata buayanya yang jatuh membasahi pipi nya.
"Yak!! Gadis sialan, berani sekali kau~"
"CUKUP!!" Aiden menggebrak meja lalu bangkit dari duduknya. "Ini meja makan, kenapa kalian malah ribut? Dan kau Pak Tua, memangnya apa salah Cinta, sampai-sampai kau terus saja memusuhinya. Lama-lama di sini membuatku muak!!"
"Paman, kenapa kau semakin kurang aja saja?! Apa ini ajaran istrimu yang tidak tau~"
Byur...
Aiden menyambar segelas air putih yang ada di atas meja lalu melemparkannya ke muka Steven sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya.
"Kalian sudah sangat keterlaluan!! Aku tidak bisa mentoleransi kalian berdua lagi. Segera kemasi barang-barang kalian dan angkat kaki dari sini!! Ini adalah rumahku, dan aku tidak suka orang-orang munafik seperti kalian tinggal di rumah ini!!"
Aiden benar-benar habis kesabaran kali ini. Pria itu sampai mengusir kakek Qin dan Steven yang sebenarnya hanya menumpang hidup padanya. Aiden sangat mual dengan sikap dan perilaku mereka berdua.
Aiden merupakan pewaris tunggal dari semua kekayaan mendiang ayahnya. Semua yang ada di rumah ini adalah miliknya, termasuk debu yang masuk karena terbawa oleh angin.
Steven bukanlah darah murni keluarga Qin, karena ayahnya bukan orang yang berasal dari keluarga terhormat tersebut. Dia memang memiliki hak, tapi hak miliknya tidak lebih dari 10%. Selebihnya milik Aiden.
Kakek Qin bukanlah kakek kandung Aiden, melainkan adik dari kakek Aiden. Kakek kandungnya meninggal 10 tahun yang lalu karena penyakitnya, dan sejak saat itulah Aiden dirawat oleh kakek Qin junior.
Seperti ini, sikapnya sering kali membuat orang lain naik darah. "Oke, Kakek akan pergi!! Tapi ingat, aku pasti akan kembali untuk membalas penghinaan ini!! Steven ayo kita pergi!!" Keduanya berjalan meninggalkan meja makan dengan kesal.
Jika mereka tidak keterlaluan, Aiden juga tidak mungkin sampai hati untuk mengusirnya. "Jangan pikirkan mereka, lanjutkan makan lagi." Ucap Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Cinta. Dan mereka menyantap sarapannya dengan tenang.
-
Bersambung.