NovelToon NovelToon
Kakakku Suamiku

Kakakku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Duda / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 5
Nama Author: Mimi lita

Kakak beradik, menikah?

Apakah bisa?
tentu bisa, hal ini terjadi dan menimpa dua saudara yang ternyata mereka sama sekali tak memiliki ikatan darah.

" Siapa yang melepas hijabku?" Gumam Dinda kebingungan setelah nyawanya terkumpul dari tidur lelapnya.

" Pasti ini ulahnya, Pasti. Tidak ada yang lain." Dinda mendengus yakin.

Dinda mendatangi Andra tersangka utama sambil bersungut-sungut menahan amarahnya. Hijabnya sudah kembali terpasang dengan rapi, tapi tidak dengan wajahnya yang kusut dan awut-awutan.

" Kak, bangun!" Dinda mengguncangkan tubuh Andra tanpa perasaan.

" Ada apa sih? masih malam juga. Argh....!" Andra menggeliat dan mengerang mengumpulkan kesadarannya.

" Kamu membuka hijabku kan?" Dinda memicing mencari kejujuran.

" Iya." Jawaban Andra sangat enteng tanpa beban dan dosa.

" Aku tidak suka ya Kakak membuka hijabku seperti itu. Kakak itu bukan suamiku, tidak boleh melihat auratku!!" Seru Dinda yang mulai meninggi nada bicaranya. Ketidak sukaannya benar-benar kentara.

" Ish, ish, ish!" Andra menggeleng dan terkekeh. Lucu saja baginya melihat Dinda mengamuk dengan hal sepele seperti itu.

" Ibu ustazah, Pagi-pagi sudah marah-marah. Dosa loh Bu." Andra terkekeh geli mengamati raut wajah Dinda yang kaku.

" Apa ibu lupa, jika bukan hanya suami yang bisa melihat aurat wanita? Mahram juga. Ayah, Kakak laki-laki, adik laki-laki, dan paman dari Ayah. Nah aku ini kakakmu Dinda! Apa kamu lupa?" Andra menggeleng-gelengkan kepalanya.

" Memangnya kamu pikir aku ini orang lain? Jangankan rambut, udelmu saja aku paham bagaimana bentuk dan juga tahi lalatnya. Dasar aneh!!"
" Sudah, Kakak mau ke masjid dulu." Andra berdiri dan mengusap pucuk kepala Dinda.

Dan Dinda?
Dinda hanya melongo merasa menjadi mahluk paling bodoh di muka bumi ini. Bagaimana dia bisa lupa jika Andra tidak pernah tau bahwa dia adalah anak pungut? Jelas saja Andra berpikiran jika tidak ada yang salah dalam tindakannya.

Apa yang bisa Dinda lakukan?
Tidak ada. Dinda hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan dan berpura-pura bodoh di hadapan Andra.

" Hehehehe! maaf ya Kak, otak ku sedikit error'." Ucap Dinda yang mengekor di belakang Andra seolah bukan masalah besar yang baru saja terjadi.

Andai saja Dinda tau jika semalam Andra juga sempat mencium keningnya, Apakah yang akan terjadi??
Bisa jadi sekarang sudah terjadi baku hantam dengan Arumi yang berperan sebagai wasit.

" Makanya, jangan apa-apa langsung marah." Kata Andra menasehati.

Flashback off.

" Terimakasih ya Kak, sudah mau membantuku." Kata Dinda yang sekarang sudah siap untuk membesuk Mama pita.

Papa Dimas mengabari jika Mama pita sudah siuman. Dan merindukan cucunya. Andra dan Dinda tentu saja antusias menyambut kabar baik itu dan segera bersiap menuju ke rumah sakit.

🌷🌷🌷

" Wah, cucu nenek!" Sambut Mama pita bahagia melihat kedatangan Arumi.

" Iya Nek, nenek sudah sembuh ya?" Dinda menyahuti dengan suara yang di buat-buat seperti anak kecil.

" Aku senang Mama sudah siuman." Ucap Andra yang kemudian mencium kening Nama pita.

Papa Dimas melihatnya dan hanya bisa menghela nafasnya. Entah apa artian helaan nafasnya, tapi seolah ada sesuatu yang terpendam.

" Kamu tidak ingin mencium Mama Din?" Mama pita menunggu ciuman hangat dari putrinya.

" Apa boleh ma?" Tanya Dinda yang seakan menusuk hati Mama pita.

Jangankan mencium, dulunya Mama pita paling tidak suka jika Dinda mendekat dengannya. Selalu menjauhkannya dan mengacuhkannya. Dinda terbiasa bermanja-manja dengan Papa Dimas yang selalu merentangkan tangannya menunggu Dinda menghambur ke dalam pelukannya.

" Boleh Sayang, Mama juga sangat merindukanmu." Kata Mama pita dengan sendu dan penuh penyesalan akan kesalahannya di masa lalu.

" Cepat!" bisik Andra mendorong bahu Dinda untuk segera mencium kening Mamanya.

Bekal yang Dinda bawa kini mereka nikmati bersama. Hanya lauk sederhana tapi cukup membuat mereka banyak-banyak bersyukur atas kesehatan yang Mama pita dapatkan.
Tibalah waktu Andra mulai membahas tentang uang hasil penjualan rumah mereka. Papa Dimas setuju-setuju saja akan keputusan kedua anaknya.
sampai,

" Pa, Andra tadi pagi bertengkar dengan Mak lampir." Andra mengadu akan apa yang terjadi pagi tadi, berharap banyolannya akan membuat kedua orangtuanya bisa tertawa.

" Bertengkar masalah apa lagi kalian ini?" Lirih Mama pita masih dengan posisi bersandar di ranjang.

" Tadi, Pagi-pagi buta. Dinda terkena amnesia. Dia lupa jika aku ini kakak kandungnya. Dia memarahiku habis-habisan hanya karena aku melepas hijabnya sewaktu dia tertidur. Padahal aku hanya tidak mau tubuh adikku mengempis karena tertusuk jarum pentul." Ucap Andra berharap perkataannya bisa mengundang tawa.

Tapi justru sebaliknya, hawa dingin kian kental terasa terlontar dari tatapan mata ketiga orang selain Andra.
Andra terdiam membaca raut muka ketiganya yang seolah saling bicara dalam diamnya.

" Ada apa? apa aku salah bicara?" Raut muka Andra berubah menjadi tegang.

" Bisa kalian keluar dulu? Mama ingin bicara berdua dengan Papa." Lirih Mama pita dengan suaranya yang pelan.

Hanya menuruti, lantaran menolak pun sia-sia. Dinda sudah menarik tangan Andra sampai keluar ruangan.
" Ada apa?" Desis Andra yang benar-benar tidak tau menau.

Di dalam kamar rawat inap.

" Pa, ini saatnya. Kita harus membicarakan hal ini."

" Tapi Ma, keadaan Mama belum sepenuhnya pulih."

" Pa, mau sampai kapan kita menyimpan rahasia ini. Mama mendengar Andra bercerita seperti itu jadi takut. Bagiamana pun mereka tidak memiliki hubungan darah. Secara agama saja kita sudah salah karena menyembunyikan kebenaran ini."

" Tapi Ma, setelah pengorbanan Andra untuk keluarga kita, Papa tidak sanggup jika harus menyakitinya."

" Pa, sakit atau tidak kita harus mengungkapkan kenyataannya. Mama juga tidak tau sampai kapan Mama bisa bertahan. Mama rasa Mama sudah tidak akan lama lagi bisa berkumpul bersama kalian."

" Ma, Sayang. Jangan bilang seperti itu." Papa Dimas menitikan air matanya. Sedih bila sang belahan jiwa memiliki sisa usia yang tak lagi lama. Hancur remuk hatinya.

" Baiklah, jika itu maumu Ma. Tapi bagaimana bila Andra marah dan meninggalkan kita?"

Mama pita terdiam sesaat memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.

" Apapun itu, Mama sudah siap. Panggilkan mereka Pa. Mama ingin bicara." Pinta Mama pita dengan sendu.

Papa Dimas mengiyakan kemauan Mama pita lalu memanggil keduanya untuk masuk.

" Ndra, Mama ingin bicara hal serius kepadamu Nak." Lirih Mama pita dengan tenaga yang semakin melemah.

" Ada apa ma?" Andra larut dalam suasana sedih yang tiba-tiba.

" Berjanji pada Mama, Apapun yang Mama katakan setelah ini, kamu akan tetap menjadi bagian keluarga ini. Mama hanya ingin menyaksikan keluarga ini rukun dan utuh."

" Ma, jika pertengkaran antara aku dan Dinda menjadikan beban di hati Mama, Andra minta maaf Ma. Andra berjanji akan menjaga keluarga ini sampai kapanpun." Ucap Andra dengan suara yang bergetar. Pikirannya bertumpu pada sumber masalah yang dia kira adalah pertengkaran antara dirinya dan Dinda.

" Kamu janji?"

" Iya Andra berjanji." Jawab Andra dengan menahan tangisannya.

" Mama minta kepadamu, Nikahilah Dinda." Mama Pita terbilang nekat untuk hal ini. Dia langsung memutuskan keinginannya sepihak tanpa berunding.

Papa Dimas sangat terkejut dan hanya bisa merangkul Dinda yang bingung mencerna keinginan Mamanya. Sementara Andra langsung berdiri dan melepaskan genggaman tangannya. Tatapannya kosong dan air matanya lolos begitu saja.

" Ma, aku dan Dinda itu saudara kandung! Pa, ada apa dengan Mama apa ini pengaruh obat?" Andra berseru menyalurkan emosinya.

"...." Papa Dimas menggeleng pelan tak berani menatap wajah Andra.

" Tidak Nak, Mamamu benar. Papa juga mendukung keinginannya." Papa Dimas melepaskan rangkulannya dan berlutut di hadapan Andra dengan air mata yang bercucuran dia meminta Maaf.

" Maafkanlah Papa Nak. Kami selama ini menutupi kebenaran ini darimu. Kamu sebenarnya bukan anak kandung kami." Papa Dimas berlutut.

" Maafkan Dinda juga Kak, Dinda juga sudah tau akan hal ini." Dinda ikut berlutut di hadapan Andra.

Tindakan Papa Dimas dan Dinda bukanya membuat Andra semakin luluh, tetapi Andra justru semakin menolak kebenaran ini. Dia merasa disakiti dan di khianati oleh orang-orang terdekatnya.

" Kalian semua bersekongkol menyembunyikan ini dariku? Tidak! Tidak!" Andra menggeleng.

" Kalian hanya bercanda kan? Ini bukan hari ulang tahunku. Ulang tahunku masih lama. Bangunlah Papa." Andra menggiring Papa Dimas untuk bangun dari posisinya.

" Dek, Dinda, jangan bikin lelucon seperti ini. Tidak lucu!" Andra juga meraih Dinda untuk bangun.

" A... aku anak kalian kan? kalian hanya mengerjaiku kan?" Tanya Andra sambil menangis tak kuasa menahan kenyataan yang menyakitkan.

Semuanya menggeleng dan tak berani menatap Andra.
Andra pergi dengan membawa kekecewaannya dan juga kekesalannya. Amarahnya membuncah mengisi setiap relung kalbunya. Dia berlari meninggalkan mereka semua. Entah kemana perginya tetapi tidak ada yang berani menyusulnya.

Bersamaan dengan itu.

Nit.....!

Nit.....!

Nit ...!

Suara pantauan ritme jantung terdengar berdeda. Kepanikan terjadi, Papa Dimas berlari mencari dokter.

" Ma, Mama.....!!!" Teriak Dinda terdengar histeris.

Apakah yang terjadi setelah ini?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi lita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 17

" Ma..., maafkan Dinda." Lirih Dinda dalam tangisannya.

Tangan Andra dengan setia memberikan usapan-usapan lembut yang menenangkan. Mencari cara agar tangisan adiknya terhenti

...🌷🌷🌷...

Sertttt!!!

Suara merdu ingus Dinda yang sengaja di keluarkanya saat menangis. Dengan ujung kemeja Dinda menyeka ingusnya yang sontak saja membuat Andra seketika melotot dan bergidik jijik.

" Iyuh....!!" Keluh Andra melihat ujung kemejanya ternoda dengan ingus Dinda.

Sengaja, memang Dinda sengaja agar pelukan Andra cepat terurai tanpa ada kecanggungan yang terlihat.

" Dinda! Kamu ini jorok sekali!!" Desis Andra yang kemudian menjitak kepala Dinda.

" Cuci sampai bersih, Kakak tidak mau tau.!" Dengua Andra kesal yang kemudian melemparkan kemejanya ke muka Dinda.

" Katanya sayang sama adiknya? Baru ingus saja sudah seperti itu! Cih,.." Ucap Dinda dengan sengaja untuk mengurai kegugupannya setelah mendapat pelukan hangat dari Andra yang seharusnya di hindarinya.

" Sayang, sih sayang Din. Tapi tidak harus dengan cara yang menjijikkan seperti itu." Sahut Andra yang kemudian masuk ke ruang kerja.

Syukurlah! Dengan begini dia tidak akan sakit hati jika aku jauhi dengan caraku.

Akan terlalu kentara jika aku langsung menjaga jarak sedangkan kami biasanya saling bergumul.

Maafkan dosa-dosa ku yang akan terjadi beberapa hari kedepan ya Rabb. Batin Dinda yang gelisah tak menentu.

Entah mengapa kepulangannya kali ini disertai perasaan yang sungguh tak enak tetapi tidak bisa ia ungkapkan.

" Ada apa ini? Perasaanku tidak tenang." Gumam Dinda yang kemudian mencuci kemeja Andra dengan tangannya sendiri.

Belum selesai mencuci baju Andra, samar-samar terdengar suara tangisan bayi. Siapa lagi kalau bukan Arumi.

Dinda segera berlari memasuki kamar Andra tanpa mengetuknya.

Dinda tercengang rupanya sudah ada Andra di dekat Arumi. Andra tengah mengganti popok Arumi. Ya, bayi itu pup dan menangis.

" Oh, syukurlah!" Dinda mendengus lega dan mengusap dadanya.

" Aku kira tidak ada orang Kak. Aku sampai berlarian." Kata Dinda.

" Uluh-uluh, tantiknya ponakan Tante. Tantiknya tantiknya...!" Dinda menimang bayi mungil yang masih merengek karena rasa yang tidak nyaman di area sekitar pantatnya.

" Cantik dong! Siapa dulu Ayahnya." Ujar Andra menyombongkan dirinya. Dengan telaten tangan Andra membersihkan kotoran di pantat Arumi.

" Dedek pipis ya?" Tanya Dinda yang semakin mendekat kepada Arumi.

" Dia pup!" Jawab Andra.

" Ee?" Dinda menjelaskan lagi apa yang di dengarnya.

Dia hanya tidak begitu yakin akan kemampuan Andra dalam merawat dan menjaga bayi. Di dalam pikiran Dinda selama ini, Mama pita lah yang akan mengurus Arumi. Tapi nyatanya Andra tidak mengijinkannya selagi dia ada di rumah. Andra tidak mau merepotkan Mama pita yang sakit-sakitan.

" Iya Ee, Tai! Kamu pikir ini selai kacang?" Kata Andra sambil mengulurkan tisu basah bekas membasuh pantat Arumi.

" Huek!!" Dinda mual seketika kala melihat noda kuning di atas tisu itu.

" Hahahahaha!!!" Andra tertawa renyah sampai-sampai keluar bulir air mata dari sudut matanya.

Disusul gelak tawa dari bayi mungil yang masih berbaring itu. Seolah keduanya telah berhasil menggoda Dinda.

" Kak ah, jorok!!" Dinda berlari keluar kamar dengan wajah kesal meninggalkan Ayah dan anak yang kompak itu.

" Lihat Tante Dek, Kamu senang kan ada Tante di rumah? Tenang saja, nanti kalau dia sudah jatuh cinta sama kamu, dia akan menjadi babumu Dek. Kita tinggal tunggu waktu saja ya? Bakal ada yang gendong-gendong kamu terus Sayang. Percaya sama Ayah." Kata Andra yang yakin sepenuhnya jika hal yang dia katakan akan segera terwujud.

...🌷🌷🌷 ...

Sore harinya.

Dengan sabarnya Andra merawat Arumi dan seperti sore ini dia dengan luesnya memandikan si bayi yang masih berkulit licin itu. Dinda hanya melihatnya bahkan Dinda belum berani untuk menggendong bayi. Dinda takut jika kuku, atau posisi menggendong yang tidak pas bisa membuat bayi cidera. Sangat berlebihan bukan?

Ya tapi itulah Dinda dia bukanlah anak yang ceroboh. Segala sesuatunya selalu ia pikirkan secara matang.

" Kakak bisa?" Tanya Dinda yang menunggui adegan mandi memandikan itu dengan bersandar di kusen pintu kamar mandi.

" Ya bisalah!" Sahut Andra.

" Kamu pikir selama ini Mama yang mengurus dia?" Tangan Andra menyabuni bayi yang bergerak-gerak seperti kecebong di dalam air dengan kaki pendeknya itu.

" Ya kan Dinda tidak tau Kak. Secara, Kakak kan bekerja pasti sibuk, mana ada waktu? Aku pikir Kakak akan mencari suster."

" Dinda, Kakak tidak ingin waktu kebersamaan Kakak dan Arumi terbuang hanya karena mengandalkan suster. Kakak ingin menjadi Ayah yang baik." Jawaban Andra membuat Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya dan reflek bertepuk tangan lalu mengacungkan jari jempolnya.

" Omo!! Daebak....!!" Seru Dinda masih dengan ketakjubannya.

" Lebay!!" Andra yang sudah selesai lalu bangkit dan membaringkan Arumi di kasur.

Memakaikan minyak telon, dan baju, juga kaos kaki adalah hal gampang bagi Andra.

" Belajar nih! pakaikan baju." Andra mengambilkan baju Arumi.

Sedang Dinda yang diajak bicara hanya berani melihat Arumi sambil berdiri di tepi ranjang tanpa berani menyentuhnya.

" Ini bajunya, ini bedaknya, aku mau mandi." Kata Andra yang melenggang menuju ke kamar mandi setelah menyiapkan baju dan bedak bayi Arumi.

" Ta..... tapi kak!" pekik Dinda bingung.

" Aku tidak bisa!!" Serunya lagi yang tidak berani beranjak dari tepi ranjang karena takut Arumi akan jatuh.

Padahal bayi umur 3 bulan kan belum bisa ngapa-ngapain ya?

Tapi inilah Dinda, dia takut bukan main.

" Sayang, pakai baju sama Tante ya? Jangan nangis.."

"Aduh, ini bagaimana ini?"

" benar tidak ya?"

" Kebalik ga sih?" Gumam Dinda berkali kali.

" Kak, kalau memakaikan celana gimana angkat pantatnya dia?" Teriak Dinda bertanya.

" Ya di angkat pelan pelan Din!" Sahut Andra.

" Kalau kecngklak bagaimana?" Lagi seru Dinda.

" Ya kalau kamu takut, angkatnya pakai excavator aja Din!!" Seru Andra sambil tertawa geli di dalam kamar mandinya.

Kepolosan dan kebodohan Dinda dalam hal-hal kecil seperti inilah yang membuat Andra bisa tertawa lepas kembali.

Tanpa sadar, tawa dan keceriaan Andra kembali kala Dinda menginjakkan kakinya ke kediaman keluarga Pramudya.

" Ayahmu itu ya, nyebelin!!"

" Kamu gitu, kenapa mau jadi anaknya?"

" Enakan nanti aja keluarnya, terus jadi anak Tante. Kamu sih ga sabaran." Ucap Dinda yang mengajak bayi kecil itu bergibah ria.

" Kebiasaan, ngajakin ghibah!" Andra menoyor kepala Dinda.

" Hehehehe....! Aku kira belum selesai mandinya." Sahut Dinda yang cengengesan memamerkan barisan giginya yang putih.

...🌷🌷🌷...

Malam harinya.

" Mama belum pulang kak?" Ujar Dinda sambil menggendong Arumi dan meminumkan susu formulanya.

Bisa gendong nih sekarang?

Ya bisalah, masih ingat dengan ucapan Andra tadi? Dia akan menjadikan Dinda budak setelah jatuh cinta pada Arumi. Sebab itu Andra seharian ini sudah gencar mengajarkan ini itu kepada Dinda yang dengan polosnya iya iya saja. Sudah seperti dayung bersambut.

" Belum" Ucap Andra yang entah mengapa sedari habis magrib raut mukanya berubah lesu.

" Assalamualaikum!!" Seru papa Dimas yang datang tanpa Mama di sampingnya.

"Walaikumsallam!!" Dinda langsung menyambut dan memeluk Papa Dimas dengan senang dan juga hati-hati sebab Arumi yang akan terlelap.

" Kamu kapan nyampe?" Tanya Papa yang matanya berbinar-binar saat melihat Dinda.

" Tadi siang Pa. Pa, Mama mana? Mama tidak di rawat kan?" Cecar Dinda yang khawatir.

" Tidak, Mamamu ada di hotel. Dua hari ini kami akan berbulan madu di hotel." Ucap Papa Dimas dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.

" Ih, Papa. Bahasanya bulan madu. Udah tua kali Pa!" Celetuk Dinda yang malu sendiri.

Berbeda dengan Dinda yang ceria. Andra justru terlihat tak bersemangat.

" Dinda, Tidurkan Arumi di kamar sana. Jangan di biasakan tidur di gendongan nanti manja. Kamu bisa kan?" Andra yang masih sedikit ragu akan kemampuan Dinda dalam mengurus bayi.

" Wih, aku sudah lihai dong!!" Jawab Dinda dengan antusias seolah dia adalah yang paling pandai dan lihai dalam mengurus bayi. Padahal sih dia baru bisa menggendong selama beberapa jam saja.

" Andra, ikut Papa keruang kerja." Kata Papa Dimas dengan raut wajah yang sulit di artikan.

" Iya pa!" Jawab Andra yang mengikuti langkah sang Papa.

" Kamu sudah dapat email-nya?" Tanya Papa Dimas dengan wajahnya yang serius.

" Sudah Pa. Pa, Andra tidak setuju jika Andra terus bekerja di perusahaan kita."

" Andra, jaman sekarang sulit mencari kerja. Kamu tau sendiri kan, Uang pribadi Papa sudah banyak yang tertelan kedalam perusahaan. Rumah ini dan mobil-mobil Papa, juga tanah. Kalau kamu tidak terus bekerja di sana, lalu bagaimana kamu bisa menghidupi anakmu?" Papa Dimas melonggarkan dasinya.

" Pa, perusahaan kita sudah di akuisisi. Dimana harga diriku pa, jika harus terus berada di sana? berbaur bersama orang-orang yang bermuka dua." Kata Andra.

" Tapi Ndra, Dari sekarang, kita hanya punya waktu dua hari untuk mengosongkan rumah ini. Rumah beserta isinya akan di ambil alih oleh pihak kreditur. Juga mobil-mobil Papa." Papa Dimas menunduk memijit pelipisnya.

" Dua hari pa?" Andra tergelak dan kakinya serasa lemas seketika.

" Mamamu jangan sampai tau hal ini sebelum habis dua hari. Setidaknya biarkan aku membahagiakan Mama kalian dengan kemewahan sebelum semuanya di ambil." Kata Papa Dimas.

"..." Andra mengangguk paham. Itulah sebabnya mengapa tadi papa Dimas berkata akan berbulan madu. Dia hanya menutupi kebenaran dari istrinya lantaran tidak mau jika istrinya akan jatuh sakit karena berita ini.

...🌷🌷🌷...

" Kenapa kalian tidak mengajakku bicara soal ini?" Ucap Dinda tiba-tiba yang sudah berdiri di ambang pintu.

" Dinda?" Papa Dimas dan Andra berucap bersamaan.

" Inilah sebab sebelum Dinda kesini Dinda merasa tidak tenang. Di kepala Dinda terus memikirkan papa dan mama. Pa, apapun itu bicaralah pada kami Pa. Jangan Papa tanggung sendiri beban keluarga kita." Ucap Dinda yang sudah sesenggukan dan menghambur memeluk Papa Dimas dari belakang.

" Sayang, Papa hanya ingin kamu fokus pada kuliahmu saja. Maafkan Papa yang tidak bisa memanjakan kamu dengan harta lagi. Kamu jangan marah dengan Papa ya Nak?"

"..." Dinda menggeleng cepat.

" Papa bicara apa?"

" Mau kita miskin atau kaya, harta yang paling berharga buat Dinda adalah kalian semua. Dinda sayang Papa." Ucap Dinda dalan rintih tangisannya.

Terimakasih ya Rabb, kau telah memberikan aku satu Malaikat yang tak pernah merepotkan atau menuntut banyak dari orang tua.

Setelah ini, kemana aku harus membawa istri, anak dan cucuku tinggal ya Rabb? Jerit Papa Dimas di dalam hatinya.

1
Adiva Amalia
Thor aku tunggu novel yang berjudul siswa bandel itu suamiku kalau bisa di novel toon aja karena aku tidak punya aplikasi di fizo
Utamy Utamyy
mewek😭😭😭
Dekqyanties
hadeeeeeuhhh,,,baca kisah ini dari awal mbrebes Mili trus ini air mataaaa😭😭😭,,,othor mah luar biasa❤️❤️
Sagitarius
🤍🤍🤍
Nurjanah Abdullah
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Enung Samsiah
😭😭😭
Enung Samsiah
😭😭😭
Enung Samsiah
ya benar sekali kamu bodoh+min
Renita 85
aku bingung perasaan sering beli rumah,dulu pas keanu meninggal tak ada rumah lah rumah yg didiaminya punya siapa
elf
terimakasih thor krn kau telah menyatukan dinda dg Keanu.. tp aq jg smakin takut membaca smpe hbis.. tkut dinda kmbali brsama Andra.....apa aq berhenti dsni saja y thor agar aq t kecewa...
elf
bawa pergi jauh dinda paaa... jgn beri kesempatan Andra lagi stlah nanti Andra dcampakan nata de coco
elf
aku ingin Keanu menikah dg dinda.. tapi aq sadar novel ini sdh END.. dan aq tkut membaca endingx kalau² dinda kmbali dg Andra...
hati sesak... sangaattt sesak...
elf
y Allah Anda,,, jika ada d hadapanku... ingin ku mutilasi tubuhmu tuk pakan lele...
astagfirullah hal adziim... brkali² ku sebut nama-Mu agar aq t kena hipertensi...
Mimi lita: Hahaha pakan lele. sabar kak, jangan lupa mampir juga cerita satunya TERNYATA AKU PELAKORNYA
total 1 replies
elf
si nanas gila berani²x membandingkan dinda ama derine.. jgn bilang ente mw merayu dinda jg.. dasar belok...
Arum
trima kasih y mimi jln ceritanya bagus,,sampai jumpa lgi d cerita selanjutnya oke👍👍👍👍
Mimi lita: iya Kak, silahkan mampir juga di karya aku yg terbaru. Ternyata aku Pelakornya
total 1 replies
Ndi Lastry Ummu Nidya-Nilam
nyesek banget 😢😢😢😭 asli mewekkkk 🤧🤧
Ndi Lastry Ummu Nidya-Nilam
sedihhh bangettt.... perpisahan ituu menyakitkn ☹😢😭
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
Keanu
ketika pernovelan jahat sama hidup mu,, sini aku peluk online
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
sokor.. gini baru karma is real...
aisyahara_ㅏㅣ샤 하라
pergi aj Dinda.. males banget suami kyk Andra .. sendiri tanpa laki2 juga gak bakalan melarat selama masih mau usaha.. dari pada hidup sama laki2 yg masih terbayang masa lalu nya..moga aj othor nya ngungkapin klo Andra masih suka ma Natasya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!